
Pukul sembilan Rania sudah selesai menjalani oprasi dan sekarang bahkan sudah kembali kerawat inap, tinggal merasakan nyeri di bagian luka sayatan karena efek samping anastesi regional yang sudah mulai berkurang.
Adam seperti biasa selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Rania dan berbagai cerita, apa lagi sekarang Rania pasti lagi merasan nyeri karena bekas syatan oprasinya, sehingga Adam ingin meghibur dan memberi dukungan.
"Pagi... Ibu Rania, gimana keadaanya ada keluhan?" sapa dokter Adam dengan sopan.
"Pagi Bapak Adam, lagi merasakan nikmat karena obat anastesi sudah berkurang," balas Rania sembari meringis menahan kenikmatana itu.
Adam terkekeh karena Rania masih sempet meledeknya. "Apa aku setua itu, sampai Ibu Rania panggil aku Bapak?" runtuk Adam, agar Rania teralihkan dengan candaanya.
"Ya apa aku juga setua itu sampai Bapak Adam panggil aku Ibu Rania," Beo Rania tidak mau kalah.
"Baiklah-baikla, Nona Rania," ucap Adam mengalah, kasian kan kalo sampai bikin anak orang marah perihal panggilan, jadi Adam mengalah sajah.
"Ish... Dok panggil Rania sajah seperti biasa," protes Rania karena tidak suka Adam memperlakukanya dengan formal.
"Baiklah-baiklah Rania!"
"Dok, boleh aku bertanya?" ucap Rania dengan serius.
"Aduh kenapa aku jadi deg-degan yah," balas Adam dengan bercanda dan tangan kananya memegangi dadanya.
"Dok... " lirih Rania "Aku seius dari kemarin malam pikiranku terganggu dengan masalah ini!" imbuh Rania dengan raut wajah memelas.
"Ok... bertanyalah, kalo aku bisa jawab pasti aku jawab, tetapi kalo tidak bisa menjawab, aku akan mencari jawabanya pada Mbah google," kekeh Adam.
Sekarang Rania baru tau ternyata Adam orang yang sangat seru, pantas sajah disukai sama banyak pasien terutama anak-anak. Tampaknya dirinya juga sudah mulai nyaman dengan Adam. Sebenarnya Rania ingi tertawa, tetapi rasa nyeri diperutnya akan bertambah, apabila ia tertawa akan sangat menyiksa sehingga ia lebih baik menahanya.
"Kenapa sih dokter Adam bisa sampai berantem sama Naqi? Lalu apa sebelumnya dokter Adam juga tau kalo aku kekasih Naqi, dan Naqi yang sudah beristri?" tanya Rani benar-benar berharap Adam bisa menjawab pertanyaanya sehingga ia bisa tenang, karena tidak lagi dibuat penasaran dengan masalah Adam dan Naqi.
Adam menarin nafas dan juga menarik tempat duduk, lalu ia duduk di samping ranjang Rania dengan Rania yang menghadap kepadanya.
"Pertanyaanmu berat banget Nia, berasa aku lagi ujian," kekeh Adam. "Dijawab dari yang mana dulu nih?" tanya Adam, agar ia bisa menyusun jawabanya.
"Haha... ternyata kamu suka bercanda juga yah," ledek Adam. " Baiklah pertanyaan pertama. Kenapa aku bisa berantem sama Naqi, itu sebenernya hanya salah paham, dan kami sudah menyelesaikanya, alasanya aku nonjok dia karena dia itu ngeselin jadi aku kasih bonus terapi kekuatan dikit lah," kekeh Adam. Padahal pada kenyataanya sampai sekarang masalah mereka belum ada penyelesaian, hanya Adam tidak mau menambah pikiran Rania. "Lanjut jawaban dari pertanyaan kedua. Apa aku tau kamu kekasih Naqi yang sudah beristri. Awalnya aku belum tau yah, tapi setelah kejadian malam itu dan pernah mergokin Naqi di kamar ini, aku jadi tau bahwa kamu adalah kekasih Naqi, yah laki-laki yang sudah beristri, tapi aku mau tegaskan tugas saya disini dokter, buat menyembuhkan sakit! Bukan buat ikut campur urusan orang. Jadi aku nggak mau ikut campur urusan kalain, pekerjaanku sudah berat nggak mau lagi ditambah berat dengan memikirkan yang bukan masalah saya." Adam berakting agar Rania tidak merasa diikut campuri masalah pribadinya. Padahal memang niat dia mengambil alih merawat Rania karena ingin menyadarkanya bahwa jalan yang dia ambil salah.
"Lalu pendapat Anda gimana? Setelah tau setatus saya sebagai kekasih pria beristri? Apa aku salah dan mereka benar?" tanya Rania dengan nada bergetar seolah akan menangis.
"Baiklah, karena kamu yang meminta aku untuk menilai semua masalah kalian, dan secara tidak langsung kamu mengizinkan saya ikut dalam masalah kalian. Penilaian yang aku beri berdasarkan aku sebagai orang yang nggak kenal kalian yah,... tidak sedikit pun aku membela si A atau B bahkan C. Aku berusaha netral dan menurut pandangan penilaian saya." Adam berhenti sejenak untuk melanjutkan penilaianya.
"Iya Dok, saya percaya dengan Anda."
"Kalo dibilang salah semua menurut aku salah, tapi sekali lagi aku tidak tau detail kronologinya gimana cuma aku nilai dari luar sajah tanpa harus menguliti dalamnya. Naqi salah karena sudah beristri tapi masih menjalin kasih dengan wanita lain, kalo dalam islam sudah jelas dosa. Cyra salah, karena sebagai istri membiarkan suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain, sama-sama dosa, dan kamu juga salah karena sudah tau kekasihmu beristri tapi kamu masih menerimanya, jelas kamu juga nggak luput dari dosa. Seharsnya ada yang berani tegas salah satu, agar tidak berlarut-larut. Semakin lama hubungan ini dijalani semakin sulit untung ngeurai masalahnya," ujar Adam dengan sangat hati-hati agar Rania juga masih bisa menerima nasihatnya tanpa merasa dipojokan.
"Aku pun bingung Dok, aku tidak ada orang yang perduli selain Naqi, semuanya pergi meninggalkan aku. Ayahku entah kemana menurut ibuku semenjak ibu mengandungku Ayah pergi ke kota ini tetapi tidak pernah kembali ke desa kami. Ketika aku dan Ibu menyusul kekota ini justru Ibu mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, meninggalkan aku seorang diri. Saat ini hanya ada Naqi yang aku punya. Maka dari itu aku tidak bisa lepas darinya karena hidupku sudah aku putuskan bersama Naqi." Rania dengan terisak menceritakan kemalangan dalam hidupnya.
"Maaf Rania bukanya aku ikut campur dengan malah kamu, itulah alasan aku tidak mau ikut campur dengan masalah orang lain. Aku tidak tau alasan kamu tetap bertahan dengan Naqi, tetapi aku sebagai teman kamu menyarankan lebih baik kamu pelan-pelan melepaskan diri dari Naqi. Enggak harus langsung menarik diri untuk lepas, pelan-pelan sajah, percaya asal ada kemauan pasti ada jalan. Kamu sekarang anggaplan aku sebagai temanmu sehingga kamu tidak sendirian. Kalo kamu mau anggap lebih juga boleh," ledek Adam dengan menaik turunkan alisnya.
"Anda jangan macam-macam Dok, masa isa saya lepas dari laki-laki beristri malah masuk kelaki-laki yang sudah bertunangan," sungut Rania, mengira bahwa Adam sudah bertunangan. Padahal dipertemuan pertama Adam sudah bercerita bahwa tunanganya kabur entah kemana.
"Ko kamu bisa bilang aku sudah beetunangan, perasaan orang-orang udah tau kalo aku J-O-M-B-L-O yang ditinggal tunanganya kabur," ucap Adam sembari menekankan kata jomblo
"Jadi cerita Anda yang kemarin-kemarin bener, kalo Anda ditunggal kabur calaon istri," kekeh Rania, dengan membembekap mulutnya menertawakan nasib Adam yang menyedihkan.
"Haha.... sebegitu lawaknya hidupku, sampai ditinggal kabur tunangan. Pokoknya kalo diingat sangat menyedihkan," ucap Adam sembari wajahnya dibikin menyedihkan dan hendak menangis, dan mereka pun semakin akrab bercerita hal-hal yang receh, sampai seputar kesehatan Rania.
"Nia aku balik tugas dulu yah, nanti kamu sekali-kali keluar taman, biar ketemu banyak teman-teman, bosen juga kan di dalam kamar terus. Keluar kamu biar tau kalo di rumah sakit ini ada dokter yang sangat tampan." Adam memainkan alisnya.
"Oh baik lah, aku akan berjalan-jalan keluar kamar, pengin ketemu dokter tampan juga siapa tau bisa jadi pengobat rindu." Rania menimpali candaan Adam. Tentu Rania tau dokter tampan itu sekarang ada dihadapanya.
"Ok kalo gitu besok ketemuan di taman yah, aku akan bilang sama dokter tampan agar mengunjungi fans barunya di taman," ucap Adam.
Rania pun terkekeh dan Adam berpamitan karena ia sudah harus bekerja kembali.
#Adam i lope lope sama kamu deh....