Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Hasil Belanjaan Cyra dan Mamih


"Hallo," sapa Sam dengan ramah ketika melihat nama Raina, kekasih dari sahabatnya menelepon


.


"Sam, kamu hari ini ada waktu nggak? Aku ada hal penting yang ingin dibahas dengan kamu?" tanya Rania pada Sam. Rania memang tidak suka berbasa basi, sehingga apabila ada apa-apa ia selalu langsung pada topik tujuanya menelepon Sam.


"Jam berapa Na?" tanya balik Sam.


"Aku ngikutin kosong waktu kamu saja. Kamu ada waktunya jam berapa, biar nanti aku yang nemuin kamu," jawab Rania agar dia tidak mengganggu waktu Sam. Tentu Rania tau bahwa Sam adalah seorang Dokter yang waktunya banyak menolong orang.


"Oh, kayaknya nanti sekitar jam tujuh malam kerjaan sudah selesai Na. Emang nggak apa-apa kalo malam?" tanya Sam.


"Ya udah nggak masalah nanti jam tujuh kita ketemuan di cafe P. Gimana?" tanya Rania memastikan.


"Ok, kalo gitu nanti kita kontekan lagi yah. Aku lagi praktek nanti dihubungin lagi," pesan Sam sebelum ia menutup telponya.


Kini Rania sedikit lega, karena setidaknya apabila memang Sam menyukai Cyra. Maka ada kesempatan untuk kerja sama untuk memisahkan Naqi dan Cyra setelah tujuan Naqi tercapai.


***


Kini mamih dan Cyra telah sampai di rumah setelah melewati perjalanan pulang yang memakan waktu cukup lama sebab bertepatan dengan jadwal pulang kerja.


"Mih, apa mau dipijitin oleh Cyra?" tawar Cyra  yang melihat mertuanya sepertinya sangat kelelahan.


"Apa kamu nggak cape? Kamu kan juga baru pulang nanti kamu kecapean lagih," ujar mamih tentu mamih pula merasa tidak enak apabila harus merepotkan Cyra.


"Enggak ko Mih, lagian Cyra juga kan dari tadi nggak ngapa-ngapain yang lebih cape Mamih yang bolak balik memilihkan belanjaan Cyra. Anggap sajah sebagai ucapan terima kasih dari Cyra untuk Mamih." Cyra mendekat dan hendak memijit mamih.


"Ya udah kalo kamu tidak cape, boleh deh dipijat lagian badan Mamih lumayn pada pegel-pegal." Pada akhirnya mamih menerima tawaran Cyra untuk memijitnya.


Cyra pun mulai memijit mamih dengan pelan dan enak, itu semua dirasakan oleh mamih.


"Pijitan kamu enak juga sayang," puji mamih. Tentu sajah enak dulu di rumahnya Cyra sering memijet mamahnya. Apabila mamah cape dan itu pasti memanggil Cyra untuk memijatnya.


Hampir satu jam Cyra memijit mamih, sampai terdengan suara Naqi yang ternyata sudah pulang kerja.


"Assalamualaikum,' sapa Naqi ketika memasuki rumah besar itu.


"Bi, ko sepi rumah Mamih dan Cyra belum pulang memang?" tanya Naqi pada salah satu maid yang berada di rumahnya itu.


"Sudah ko Den. Tadi kayaknya Non Cyra ke kamar Mamih," ujar maid yang bekerja di rumah mereka.


Naqi pun penasaran sedang apa Cyra di kamar mamih dan dia mengintip ke kamar mamih. Dengan perlahan ia membuka pintu dan Naqi melihat Cyra tengah memijit mamihnya.


"Loh Mamih kenapa?" tanya Naqi kaget takutnya ada apa-apa dengan mamihnya.


"Enggak apa-apa ko Mas, hanya kecapean sajah. Kesenengan belanja sampai badanya pada pegel semua. Jadi Cyra tawarin untuk memijat Mamih," jawab Cyra dengan tersenyum.


"Oh, kirain sakit. Ya udah Mas mau ke kamar dulu mau bersih-bersih setelah itu kita makan malam," pamit Naqi yang di balas anggukan oleh Cyra dan mamih.


"Ya udah pijatnya. Kamu urus keperluan suami kamu dulu. Dosa nanti kalo nggk ngurusin suami."  Nasihat mamih pada menantunya.


Tentu Cyra ikutin perintah mamih dari pada ketahuan bahwa mereka hanyalah sepasang suami istri diatas kertas. Pada kenyataanya mereka melakukan semuanya sendiri-sendiri. Cyra menyusul Naqi ke kamarnya, tetapi hanya berdiam diri duduk di atas kasur.


"Loh, kamu sudahan memijat Mamihnya?" tanya Naqi heran.


"Sudah, Mamih yang nyuruh aku kesini. Kata Mamih aku suruh melayani suami. Memang melayani suami gimana sih Mas?" tanya Cyra dengan polosnya.


Naqi malah tertawa dengan lepas, ketika mendengar pertanyaan Cyra, tentu tertawa. Istrinya bahkan belum tau melayani suami itu apa. Sebenarnya untuk melayani suami luas pengertianya, tetapi kali ini Naqi ingin mengerjai Cyra.


"Kamu belum tau kalo melayani suami itu apa?" tanya Naqi mengetes ekpresi istrinya.


Cyra hanya menggelengkan kepalanya, tentu tambah bingung dengan pertanyaan Naqi.