
Meta yang mendengar penuturan Cyra pun heran, dia sebenarnya mengerti arah pembicaraan Cyra, tetapi Meta tidak menyangka bahwa Naqi tega melakukan hal itu, nggak mungkin Naqi rela meninggalkan Cyra demi perempuan lain. Itu kira-kira yang ada difikiran Meta.
Sebab Meta tahu selama lima bulan terakhir Naqi menunjukan sifat yang sangat melindungi Cyra, tidak hanya itu Naqi juga selalu mewujudkan apa yang Cyra inginkan. Meta berfikir bahwa pertengkaran kemarin- kemarin akan membaik, tetapi Meta salah justru Naqi semakin membuat Cyra kecewa.
"Maksud you apa sih cin? Sekarang Naqi memilih kekasihnya? Berarti hubungan you sama Naqi akan berakhir begitu saja?" tanya Meta kaget, yah sangat kaget tentu. Padahal Meta melihat ada cinta di sorot mata Naqi untu Cyra, tetapi kenap fakta berbeda.
Meta menunjukan perbedaan dengan melihat reaksi Fifah, yang justru ia mendukung dengan perceraianya dengan suami Fifah. Ketika dengar kata cerai diantara Naqi dan Cyra seolah ada hati yang tidak ikhlas.
"Udah you nggak usah jawab dulu, kita ngobrol di rumah saja. Akhirnya Meta pun melajukan kendaraanya meninggalkan istana kakek Latif dan melaju menuju rumah sederhana Mpok Mia.
Seperti ketika berangkat, pulangnya pun Meta lebih cepat dari jadwal biasanya. Yah karena kondisi malam hari yang lenggang sehingga ia bisa menambah lagu mobilnya.
Begitu sampai di rumah, Meta langsung pergi ke dapur guna membuatkan Cyra teh hangat, agar menghangatkan tubuhnya dan juga pikiranya.
Cyra sangat penasaran dengan sosok wanita yang tadi sore Meta ceritakan. Cyra mengedarkan pandanganya. Sepertinya tidak ada wanita itu.
"Minum dulu Cin tehnya, biar kamu rileks dan bisa cerita-cerita." Meta menyodorkan satu gelas teh hangat buat Cyra dan juga satu cangkir kopi hangat untuk dirinya.
"Met, sore tadi kamu bilang bahwa kamu menolong wanita yang mengalami kekerasan dari suaminya, sekarang dia ada di mana dan kondisinya bagaimana?" tanya Cyra penasaan. Pasalnya dulu ia juga mengalami kekerasan hanya bedanya kalo dirinya pelakuknya papahnya sendiri. Kalo wanita ini suaminya. Cyra setidaknya sedikit bersyukur bahwa Naqi tidak pernah membuatnya terluka. Naqi selalu lembut meskipun ia sama-sama menyakiti Cyra juga hanya berbeda cara menyakitinya. Tapi ternyata disakiti batinya juga sangat tidak enak bahkan semuanya terasa tidak baik-baik saja.
"Oh... ada di kamar dia lagi istirahat, dan semua bukti udah kami kantongi tinggal menjebloskan tuh laki ben-cong ke dalam BUI. Tau nggak cin sebentar lagi I'm bakal jadi Papih," ucap Meta dengan penuh semangat.
"Hah..." Cyra tampak kaget tidak tau maksud dari omongan Meta. "Kamu jadi Papih, ngadon sama siapa?" tanya Cyra sepontan hanya itu yang ada difikiranya, mewakilkan pertanyaan yang sangat mengganjal.
"Ist... you mah cin, I'm nggak ngadon tapi cewek yang gue bantu itu lagi hamil dan baru satu bulan. You liat deh penampilan I'm ada yang aneh tidak?" tanya Meta dengan wajah menunjukan kebahagiaan.
Cyra mengamati Meta dari atas sampai bawah, kembali lagi keatas. "Perasaan biasa ajah Met." Cyra tidak menemukan perbedaan di tubuh Meta.
"Ish... you coba liat baju tidur I'm!" Meta masih belum mau menyerah mengetes Cyra bahwa dirinya berbeda malam ini.
Ok, Cyra kembali mengamati Meta, memang ia juga penasaran.
"Apa sih Met, kayaknya biasa ajah, toh kamu kalo soal warna apa ajah kamu pake warna baju itu, bahkan model yang aneh-aneh pun kamu pakai, yang hanya celana satu jengkal dari belah'an paha bahkan yang dadanya belahanya sampai ujung kamu biasa ajah," dengus Cyra yang tau bahwa selera pakaian Meta memang unik, tetapi anehnya banyak yang meniru.
"Ini loh cin you tau kan?" Meta mengangkat kedua tanganya keatas yang kali ini Cyra langsung tertawa lepas.
Hahahaha....
Hahahaha....
"Sejak kapan kamu selera pakaianya kaya gini?" Yah, kali ini Cyra paham dengan maksud Meta. Di mana sangat terlihat sekali ternyata pakaian yang Meta pake kekecilan bahkan ketika Meta mengangkat kedua tanganya bajunya terangkat sampai keatas pusarnya. Dari situ Cyra tertawa dengan lepas.
"Iya ini karena bumil maksa aku make baju ini. Padahal aku tadi pulang dari rumah sakit sengaja beli buat dia, tapi malah dia minta aku pake beginian. You tau cin, I'm mau duduk serasa make kemben sempit. I'm takut nih celana sobek pas I'm duduk. Ngeri sobek dibelahan belakang, mana kalo duduk rasanya burung I'm di rem'as-rem'as nyeri cin." Meta berbisik. Yang justru hal itu semakin membuat Cyra tertawa makin kecang, ia bahkan memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terus dengan cerita Meta.
"Siap-siap ajah Met, tuh bumil nyuruh kamu pake lingering yang transparan." Cyra semakin tertawa geli mana kala membayangkan penampakan Meta mengenakan lingeri transparan yang ia lihat beberapa hari lalu di Mall yang sengaja di pasang di patung manekin.
"You mah cin, jangan sengaja nakut-nakuti I'm kaya gitu." Meta menepuk Cyra agar jangan berpikiran kotor.
Bahkan Cyra lupa tadi ia akan curhat dengan kegundahan hatinya. Setelah melihat kelakuan emaknya Cyra sedikit terhibur dan lupa dengan masalahnya dengan Naqi.
"Tapi serius loh Met kalo orang ngidam harus diturutin kalo nggak diturutin anaknya bisa-bisa ileran terus. Kamu nggak mau kan kalo anak kamu nanti ileran terus." Cyra makin menjadi-jadi nakutin Meta, bagi Cyra tampang cemas Meta sangat lucu. Padahal itu hanya mitos belaka, nama anak bayi ya sangat wajar ngences atau ileran, karenq ia belum bisa menelan dan dalam tahap tumbuh gigi memang biasanya seperti itu.
"Udah ah cin, nanti malah beneran gue didandanin aneh-aneh sama tuh cewek. Cantik sih cin ceweknya, pokoknya bikin hati berdesir kalo liat tuh cewek." Meta akui setiap berdekatan dengan Fifah rasanya hatinya girang dan happy terus.
"Ah... aku jadi penasaran Met pengin lihat cewek itu. Sebagai mana cantiknya sampe bisa menggoyahkan pendirian Meta," oceh Cyra sembari berdiri agar mereka langsung ke kamar Meta untuk bertemu dengan cewek itu.
"Apa tidak ganggu dia cin. Dia tadi lagi istirahat," jawab Meta, takut mengganggu istirahat bumil.
"Ya jangan dibangunin Met, cukup aku liat saja bagai mana cantiknya dia, sampai bisa membuat hati kamu berdesir." Cyra terus memaksa ingin melihat cewek yang Meta tolong itu.
"Ya udah yuk tapi you jangan berisik yah, takut ngeganggu dia istirahat." Meta memberikan peringatan dini agar Cyra tidak membuat kegaduhan.
"Iya Met... iya... iya... takut banget, mentang-menyang sudah ketemu calon pawangnya sampe ketakutan gitu," ledek Cyra, semakin senang meledek Meta.
Mereka pun naik ke kamar Meta di mana di sana Fifah tengah istirahat dangan selang infus menancap di tangan sebelah kirinya.
Begitu Cyra masuk kamar, ia belum sadar dengan sosok wanita yang tengah meringkuk di atas kasur, yang biasanya sering menjadi tempatnya untuk istirahat ketika pulang ke rumah Meta. Semakin mendekat dan melihat wajah Fifah yang terpejam. Cyra sedikit curiga.
Cyra membekap mulutnya begitu ia menyibakan helaian rambut yang menutup sebelah wajah Fifah.
Cyra mundur pelahan denga air mata sudah mengintip dari sudut matanya.
"Cin you kenapa? Apa you kenal dengan dia?" tanya Meta dengan wajah kaget juga melihat reaksi Cyra itu.
"Apa cewek yang kamu tolong namanya Afifah?" tanya Cyra dengan air mata sudah jatuh.
"You kenal dengan Fifah?" tanya balik Meta, yang sudah mewakilkan jawaban dari pertanyaan Cyra.
Cyra pun tidak bisa membendung air matanya ia bingung dengan ini semua.