
Setelah berpamitan dengan Kakek dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih, serta meminta maaf karena sempat salah paham dengan Kakek Ipek pun berpamitan akan kerumah Tuan Kifayat. Ia akan menjemput Qila untuk menepati janjinya dulu yang pernah ia dan Qila ucapkan.
Kakek pun mengerti atas kesalah pahaman yang Cyra lakuka. Hal itu wajar karena ia tandanya Cyra sangat peduli dengan keluarganya. Tuan Latif pun mengingatkan agar tetap berhati-hati dalam melakukan keputusan sebab bisa jadi orang terdekat Cyra memanfaatkan momen ini. Di mana Cyra tengah kosong, dikiranya terlalu banyak cabang.
Cyra pun sementara waktu meminta izin untuk tinggal di rumah Meta. Hal itu Cyra lakukan karena apabila ia tidur di kamarnya dalam fikiranya masih memikirkan Naqi. Yah, kakek pun tahu bagaimana perasaan Cyra sehingga Kakek tidak keberatan dengan rencana Cyra.
Cyra keluar ruangan Kakek, setelah berpamitan, dan melihat mamih, sang mantan mertua, yang tidak pernah akan bisa Cyra anggap mantan mertua. Bagi Cyra Mamih adalah mertu terhebat, terkeren dan terluar biasa.
"Sayang, kamu ngomongin apa saja dengan Kakek apa kamu membahas perceraian dengan anak Mamih?" Mamih langsung menghampiri Cyra dan tanpa aba-aba memeluk Cyra dengan erat lalu menuntunya untuk duduk di sofa.
"Maaf Mih, Cyra memang membahas hal itu. Maaf apabila selama menjadi menantu Mamih, Cyra banyak melakukan kesalahan. Cyra minta maaf," ucap Cyra dengan menunduk.
Mamih justeru langsung memeluk Cyra dengan kuat dan menangis terisak seolah tidak rela apabila Cyra bercerai dengan Naqi. "Tidak sayang, bukan kamu yang seharusnya minta maaf. Mamih yang seharusnya minta maaf. Tolong maafkan Naqi. Mamih gagal mendidik anak Mamih, Mamih malu anak Mamih tega menyakiti hati istrinya, Mamih malu Ra. Maafin Mamih yah." Mamih dengan bersungguh-sungguh meminta maaf dengan Cyra.
Cyra tidah bisa berkata-kata. Iya Mam, Cyra paham dengan perasaan Mamih. Cyra sudah Maafin Mamih. Malahan jauh sebelum ini semua terjadi. Mungkin Cyra dan Mas Naqi akan bercerai sebentar lagi ketok palu. Karena semua urusan Kakek yang selesaikan, sehingga dengan kekuatan Money semuanya lebih cepat beres. Percayalah Mamih adalah yang terbaik sekali pun aku dan anak Mamih tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi Cyra tidak akan melupakan Mamih, Cyra akan selalu menjadi mantu Mamih, kecuali kalo Mamih yah menginginkan jarak diantara kita." Cyra pun tidak kuasa menahan air matanya. Bagi Cyra ini hal terberat ketika harus memberikan jarak diantar mereka yang sudah dia sayang. Selain merelakan Naqi untuk Rania. Cyra juga harus berjarak dengan Mamih dan Qari.
"Tidak... itu tidak mungkin terjadi. Mamih hanya ingin kamu yang jadi anak menantu Mamih seorang. Bukan Rania atau pun siapa itu," elak Mamih yang tidak suka ketika Cyra mengatakan seperti itu.
"Tapi kenyataanya bukan Cyra yang Mas Naqi pilih Mih. Cyra... (Cyra menjeda ucapany) Cyra tetap sayang Mamih." Cyra tidak bisa mengatakan hal yang lain. Ia tidak tega apabila menyakiti Mamih dan membuat Mamih bersedih. Biarlah kali ini Cyra yang sakit dan tersakiti. Ia tidak mau membuat Mamih ikut merasakan apa yang Cyra rasakan. Bagaimana sakitnya Cyra di campakan Naqi bergitu saja. Sedih, marah, dan lain sebagainya, tapi Cyra hanya ingin menjadikan kesedihanya seorang diri.
Setelah berpamitan pada Mamih dan berkangen-kangenan akhirnya Cyra berpamitan juga. Meskipun terlihat jelas keberatan Mamih dengan keputusan Cyra, tetapi mamih tidak bisa mencegat kemauan Cyra.
Cyra akhirnya keluar dengan wajah sembab. Dan penuh dengan kesedihan. Dengan berjalan sangat loyo Cyra menuju mobil Meta yang masih terpalkir di depan rumah mewah Tuan Latif.
"Ya Allah cin, you nggak diapa-apain kan sama mereka? You masih utuhkan? You nggak ada yang lecet kan? Mereka ngomong apa sampe bikin you nangis." Meta sangat cemas dengan kondisi Cyra. Dia bahkan dengan sabar menunggu walaupun sampai lebih dari empat jam. Entahlah mereka membahas apa kenapa bisa menghabiskan waktu yang sangat lama untuk sebuah pembahasan.
"Met, antarin aku kerumah Tuan Kifayat yah!" Cyra tidak menjawab pertanyaan Meta melainkan menggantinya dengan obrolan lain.
"Kifayat? Siapa itu cin? Sepertinya nggak asing nama itu?" ucap Meta mencoba menginggat di mana ia mendengar nama itu.
"Orang tuanya Fifah," jawab Cyra dengan pandangan lurus kedepan. Dia sangat kecewa dengan orang yang ia anggap Papah itu. Mulai saat ini Cyra akan membalaskan sakit hati orang tuanya. Terutama membalas apa yang telah Mommynya alami sampai buta dan sakit parah karena kelakuan aki-aki tua ****** itu.
"Ah, iya I'm pernah denger dari Fifah. Maklum cin faktor U belok dikit sudah lupa." Meta terkekeh dengan isi otaknya yang sudah harus di upgrade biar memorynya nggak full lagi.
Sepanjang perjalanan Cyra menjadi sosok yang pendiam dia tidak banyak berbicara sejak keluar dari ruangan kakek Cyra memang tidak fokus dengan sekeliling, di tambah dengan obrolan sama mamih membuat Cyra semakin pusing.
"Cin, you baik-baik saja kan? You nggak diapa-apakan sama mereka kan? Kok I'm lihat you semakin murung sih?" Meta mengulang pertanyaannya pada Cyra. Pertanyaan yang tadi Cyra tidak jawab. Entah karena ingin menghindar dari ke kepo'an Meta atau Cyra tidak ingin membahasnya lagi.
"Met, kamu mau kan bantu aku. Aku lagi banyak masalah dan harus diselesaikan dalam waktu satu bulan. Karena satu bulan lagi rencananya aku tidak akan tinggal di Indonesia lagi.
Ciiiiiiittttt... Meta langsung menginjak pedal remnya dengan sekuat tenaga, hampir ajah Cyra terbentur dasbord mobil untung ia memakai sabuk pengaman, sehingga keningnya nggak sampai benjol.
"Met... hati-hati dong, aset ini," dengus Cyra dengan mengusap keningnya yang hampir saja mencium dasbord depan.
"Iya maaf, abisan you bikin I'm jantungan. Emang you enggak kasihan sama I'm. You mau ninggalin I'm emang I'm salah apa? You jangan pergi yah, Please." Meta mengeluarkan jurus rayunya dengan wajah memohon, memelas dan mengemis, agar Cyra tidak jadi meninggalkanya.
Namun sekeras apa pun usaha Meta untuk membujuknya, sepertinya itu akan sia-sia. Buktinya Cyra justru semakin ingin cepat permasalahanya selesai. Cyra ingin Meta mengurus perusahaanya. Dari pada jadi MUA artis mungkin lebih menjanjikan memilih mengurus perusahaan Cyra.
Cyra pun tersenyum misterius. Yah, kini ia punya ide.