
Satu minggu telah berlalu baik Rania mau pun Momy Ezah sudah menjalani operasi semuanya tinggal menunggu pemulihan saja, dan semuanya tengah harap-harap cemas dengan hasil operasinya, mereka berharap bahwa hasilnya akan berhasil.
Begitu pun dengan Naqi, yang mengikuti nasihat dari kakek dan mamihnya, ia tidak lagi pergi kemana-mana tidak jelas hanya demi mencari Cyra. Naqi bahkan kini sudah bekerja kembali, dan ruanganya yang seperti gudang sudah si sulap lagi menjadi ruangan sesuai dengan kepribadian Naqi. Simpel, bersih dan rapih.
Ruangan Qari de kembalikan ketempat dulu bersama Mirna, musuhnya karena Qari menganggap Mirna menyukai Alzam. Walaupun musuh tapi kalo soal kerjaan mereka kompak. Sedangkan ruangan Alzam di pindahkan dan di pisah menjadi sendirian, itu karena, agar Qari tidak main mata terus dengan Alzam, sehingga Alzam tidak nyaman dengan sikap Qari. Qari memang genit tingkat atas...
Ketika Mommy Ezah di negara yang berbeda selalu bahagia sehingga hasil pengobatanya berkembang sangat pesat dan menunjukan hasil yang terus menerus sangat memuaskan. Itu semua tentunya karena ada Cyra yang selalu tulus perhatian dan melayani mommy'nya dengan sangat baik. Dan tentu cerita-cerita Cyra yang sangat membuat Mommy tambah semangat lagi, karena dengan cerita Cyra momy bisa tertawa lepas.
Ternyata tidak hanya Cyra yang selalu membuat mommy tersenyum tentu ada Mr Kim yang super baik dan perhatian sama mommy. Sehingga Cyra pun menduga bahwa Mr Kim tengah berusaha mendekati mommy'nya dan akan menjadikan kekasihnya.
Namun tunggu, Mr Kim Cyra pawangnya mommy tidak akan mudah membiarkan Mr Kim mendekati mommy'nya.
Berbeda dengan mommy yang selalu berbahagia karena di kelilingi dengan orang-orang yang sangat menyayangi beliau, hal berbeda justru terjadi pada Rania. Rania paska operasi justru kembali di tinggalkan oleh Luson, dengan alasan sebuah pekerjaan. Sehingga lagi-lagi Rania melewati pengobatanya seorang diri. Hanya sesekali Adam maupun Sam yang dengan suka rela datang menemani Rania. Rania sabar yah, bapakmu memang harus di rante kakinya...
Meskipun Rania masih sangat tertutup, sehingga mereka pun tidak banyak terlibat obrolan. Rania lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca. Kabar kepergian Luson pun terdengar oleh keluarga Tuan Latif.
"Naqi, apa kamu tahu kalo Luson kembali meninggalkan Rania seorang diri di rumah sakit?" tanya mamih di saat mereka tengah sarapan.
Naqi jusru kaget ketika mamih bertanya seperti itu. "Mamih dengar kabar itu dari siapa? Masa sih Luson tega melakukanya?" tanya Naqi heran, pasalnya ia kira Luson sudah tobat.
"Sam bilang seperti itu, dan sekarang Rania sendirian di rumah sakit, kalo ada waktu kalian tengokin kakak kalian yah." Mamih meminta kedua anaknya untuk menegok Rania setidaknya memberikan dukungan untuk kondisi Rania.
"Loh, ngapin sih Mih, biarkan lah kan ada suster dan dokter yang merawat nanti dia besar kepala Mih. Dia nanti ngelunjak karena mengira kita semua sudah menerimanya dan memaafkan kesalahan Rania," ucap Qari, tidak setuju dengan saran dari mamihnya.itu. Terlebih Qari yang seolah memiliki dendam pribadi dengan Rania sehingga menganggp kalo Rania itu akan melakukan hal yang bertentangan dengan keluarga ini.
"Qari, Rania memang salah tetapi dia juga manusia perlu diarahkan oleh kita, jangan kita tinggalkan dia. Rangkul dia dan kita agak ke jalan yang benar. Jangan balas dengan kejahatan pula tidak akan menemukam titik damai. Justru hati kita akan sakit dengan kebencian itu." Mamih dengan suara lembutnya berusaha menasihati Qari di mana Qari memang lebih keras kepala. Mamih hanya ingin semuanya damai baik Qari dan Rania ataupun yang lainya.
Mamih bukan tidak marah dengan sikap dan kelakuam Rania tempo dulu. Yang membuat menantu kesayanganya dan Naqi bercerai. Tetapi mamih berusaha menilai dari sisi yang lain tanpa terus-terusan menghakimi Rania. Ia berusaha bersikap damai dengan hatinya agar tidak terlalu kecewa dengan takdir dari Tuhan.
Setelah mendapatkan nasihat dari mamih Qari pun hanya diam, dan mengatakan akan mencobanya tetapi tidak sekarang-sekarang. Mamih pun memakluminya dan mencoba mengerti dengan perasaan Qari. Baik Qari maupun Naqi pun akhirnya berangkat kerja bersama. Yah kadang mereka memang akur menjadi sodara yang manis, tetapi tidak jarang juga mereka akan berantem dan mengejek satu sama lain dan berakhir dengan diam-diaman dan berangkat maupun pulang kerja secara sendiri-sendiri.
"Hemzzz... pergilah, dan sampaikan salam papah untuk anak itu. Katakan cepat sembuh." Tuan Latif pun akan mengikuti cara Qanita, yaitu memaafkan semua kejadian yang berlalu dan mencoba mengambil hikmah dari semuanya.
"Baik.Pah, nanti Nita sampaikan pada Rania."
*****
Pintu berwarna putih di buka oleh Mamih dengan pelan-pelan, di sana ada Rania yang tengah membaca buku yang Adam bawa. Yah hampir setiap hari Adam mengunjungi Rania, hanya untuk memberikan buku-buku bacaan, terutama tentang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Betapa kagetnya Rania ketika dia tahu bahwa yang datang adalah mamihnya Naqi. Rania langsung menunduk dan menutup buku yang sedang ia baca. Mungkin ia takut dan merasa bersalah sehingga ia seolah seperti maling yang ketahuan mencuri.
"Pagi Rania, gimana kondisinya?" tanya mamih sembari meletakan buah dan bekal makanan yang ia bawakan untuk mengakrabkan diri dengan Rania.
Rania mengangkat wajahnya dan mencoba menatap wajah mamih Qanita. "Alhamdulillah setelah menjalani oprasi sudah sedikit mendingan Tante, perutnya tidak sering melilit seperti sebelumnya," jawan Rania dengan mengembangkan senyum samarnya.
"Alhamdulillah, tapi kamu jangan panggil Tante, panggi mamih saja sama seperti Qari dan Naqi. Kamu juga anakku biarpun hanya sekedar anak tiriku dan jangan canggung, bersikaplah seperti biasa." Mamih mencoba tersenyum, walaupun dalam hatinya tentu tidak baik-baik sajah dan sesak pasti. Ketika mencoba mengikhlaskan sesuatu kenangan buruk bersahabat dengan diri kita pasti hati yang paling sulit untuk menerimanya. Begitu pun dengan mamih yang hanya manusia biasa rasanya pun sama sakit, dan sesak. Bahkan sesekali matanya terasa panas dan ingin menumpahkan air matanya. Namun lagi-lagi mamih memotifasi di dalam dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Rania pun tersenyum dengan ramah. "Terima kasih Min, mau menerima Rania dengan semua kesalaham yang sudah pernah Rania lakuin. Padahal Tuan Latif dan Anda sudah tidak menyetujui hubungan kami dari dulu, tetapi aku justru membenci kalian dan menganggap kalian hanya iri dengan nasib Rania yang dicintai lebih oleh Naqi. Sungguh Rania malu ternyata Anda masih mau memaafkan kesalah Rania yang fatal ini." Tes... Rania pun meneteskan air mata mengingat gimana ia dulu sangat benci dengan orang tua Naqi terutama mamihnya dan kakeknya itu semua karena mereka menolak hubungannya dan Naqi.
"Mamih hanya ingin kamu kedepanya berbuat yang baik. Jangan lagi egois tidak mendengarkan nasihat orang lain. Semua yang menasihati kamu itu karena mereka peduli dengan masa depan kamu, jadikan nasihat mereka bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik lagi." Mamih sedikit lega ketika beliau tahu setidaknya Rania ada penyesalan dan mau mendengarkan nasihatnya. Mamih berharap Rani menjadi pribadi yang lebih baik kedepanya dan memiliki masa depan yang baik pula dengan jodoh yang mau menerima dia apa adanya.
Biarkan kesalahanya sebagai tolak ukur dan pembelajaran hidup bahwa ia pernah berada di jalan yang salah, dan menjadikan pengalamam buruk itu, ilmu yang sangat berharga dan menjadikan dia lebih baik dan lebih baik lagi.
Seribu kebaikan tidak akan menjadikamu layaknya seperti Malaikat, tetapi dengan satu kesalahan cukup membuat orang lain menilaimu layaknya Iblis.
Itulah hukum kehidupan maka berbuat baiklah, karena sekecil apapun kamu berbuat salah, orang lain akan terus mengingatnya dan bukan tidak mungkin mereka akan langsung menilai buruk terhadapmu.