Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Doa Niko yang Terkabul


"Kamu juga hebat, sama seperti mereka. Nggak pernah mengeluh meskipun hidup kamu keras." Naqi akui semakin tertarik dengan Cyra yang selalu ceria dan tidak pernah ia mengeluh.


Cyra seketika menoleh kearah Naqi, dan tersenyum manis. "Mas Naqi hanya tau Cyra sekarang, dulu Cyra pun pernah mengalami masa-masa sulut, di mana Cyra malu apabila ada yang tau kekurangan Cyra. Maka dari itu Cyra sering berpindah-pindah sekolah, salah satunya alasanya ya malu lah kalo teman-teman sudah tahu bahwa Cyra memakai kerudung hanya untu menutupi kekurangan Cyra. Dulu bahkan Cyra malu apabika maid di rumah Papah pun melihat Cyra tanpa kerudung, sehingga kemana-mana selalu berhijab bahkan sampai tidur pun Cyra enggan untuk melepasnya." Cyra mengambil nafas sejenak untuk melanjutkan ceritanya, dan mengatur nafanya agar tidak sesak ketika mengenang masa-masa terpuruknya.... "Namun, lambat laun Cyra belajar menerima takdir. Mau sampai kapan Cyra kaya gini terus, malu dengan kondisi Cyra, apa dengan menutupi kekurangan Cyra orang-orang akan berhenti mengolok-olok Cyra, engga kan! Maka dari itu Cyra mulai membuka diri untuk bisa bersosialisasi dengan Cyra yang baru, Cyra yang memiliki perbedaan dengan yang lain. Untuk pertama pasti Cyra malu dan bahkan tidak berani melihat reaksi orang-orang. Cyra hanya menunduk dan mengalihkan pandangan dari orang-orang yang mengajak berbicara dengan Cyra. Namun semuanya terasa biasa dan sampai pada sekarang, Cyra sudah acuh dengan tatapan-tatapan banyak pasang mata yang seolah memperolok perbedaan Cyra." Cyra bercerita panjang lebar agar Naqi tahu bahwa dia juga pernah mengalami dititik tidak percaya diri.


"Kalo boleh tau, orang-orang yang pertama kali kamu menunjukan kekuranganmu itu siapa?" tanya Naqi dengan hati-hati agar Cyra tidak tersinggung.


"Para maid dan pekerja di rumah Papah, tetapi ketika Papah tau keputusan Cyra yang ingin berpenampilan apa adanya, alias tidak memakai hijab. Papah marah dan melarang Cyra untuk melakukan itu. Yah dari situlah awal mula Cyra tidak diizinkan keluar rumah, bahkan untuk sekolah. Orang tua Cyra tidak mau kalau Cyra mempermalukan mereka, dengan kekurangan Cyra, dan alasan itu pula yang waktu pernikahan kita Mas Naqi marah-marah karena Mas mengira bahwa Cyra menipu Mas. Eh... tapi memang benar yah Cyra menipu Mas Naqi," kekeh Cyra, mengingat Naqi yang marah-marah karena merasa tertipu.


"Haha.. waktu itu pantas lah Mas marah, kan Mas belum tau cerita kamu," bela Naqi.


"Tapi sekarang gimana Mas, masih malu nggak kalo liat Cyra berpenampilan begini?" tanya Cyra, pengin tahu perasaan Naqi dengan penampilanya.


"E... enggak sih, udah biasa Ra. Kayak yang biasa ajah nggak ada bedanya dengan wanita yang berambut," jawab Naqi sembari memperhatikan Cyra.


"Berati itu namanya Cyra berhasil tampil dengan diri sendiri," ucap Cyra bangga.


Naqi pun hanya terkekeh samar, setidaknya ketika dengan Cyra ia bisa melupakan ketegangan dengan Rania barusan. Perjalanan pulang mereka diselingi dengan cerita-cerita ringan sehingga tidak terasa mereka sudah sampai di rumah.


*****


Di rumah sakit tenpat Tuan Kifayat dirawat....


Niko datang setelah membaca pesan dari Afifah. Begitu melihat Fifah dan Mamah Daima, Niko langsung menghampiri mereka.


"Maaf Mah, baru bisa datang, soalnya baru baca pesan dari Fifah barusan," ucap Niko sembari berjabat tangan dengan calon mamah mertuanya.


"Enggak apa-apa Nak Niko, Mamah juga terima kasih kamu sudah mau meluangkan waktu buat melihat kondisi Papah." Mamah Daima, tidak bisa menahan kesedihanya.


"Mas.... Hihihi... Papah terkena serangan jantung, dan kini kondisinya masih kritis," ucap Fifah dan langsung menghambur kepelukan Niko.


Niko pun dengan terpaksa memberikan pelukanya untuk Fufah, meskipun ia sebenarnya tidak terbiasa dengan pelukan wanita lain selain Zoya, istri yang paling ia cintai.


"Kamu yang sabar yah Fah, doakan terus agar Papah bisa melewati masa kritis ini," ucap Niko menguatkan Fifah.


"Nak Niko, berhubung Papah Fifah sedang sakit dan belum tahu kondisinya membaiknya kapan. Gimana kalo pernikahan kalian dilangsungkan di rumah sakit ini sajah, dan untuk undangan yang sudah tersebar dan semua persiapan pernikahan kita batalkan. Kira-kira Niko keberatan tidak?" Mamah Daima menyampaikan hasil runding antara dirinya dan Afifah barusan.


Awalanya tentu Fifah tidak mau untuk membatalkan resepsi dan pernikahan ala princess kerajaan yang ia sudah siapkan dengan sangat sempurna, tetapi mau bagai mana lagi kondisi Paphnya lebih penting. Belum lagi Afifah yang sudah jatuh cinta dengan Niko tidak ingin menunda pernikahan mereka sehingga dengan berat hati Fifah pun memilih menikah sederhana di rumah sakit, di mana Papahnya dirawat.


Niko tentu tidak keberatan, terlebih ini adalah pernikahan yang Niko inginkan. Memang sebelumnya Niko sepat berdoa bahwa ia ingin pernikahan yang sederhana sajah yang terpenting adalah sah. Toh tujuanya menikahi Fifah adalah hanya untuk mendapatkan seorang anak. Keturunan dari darah dagingnya, yang Zoya nggak bisa hadirkan ditengah-tengah kebahagiaan pernikahan mereka.


"Niko ikut Mamah sajah, lagian yang terpentingkan kesehatan Papah, untuk resepsi bisa disusun ulang lain waktu, yang terpenting Papah sehat dulu," balas Niko dengan sopan agar tidak terlihat raut wajah bahagianya. Karena pernikahan mewahnya dibatalkan.


"Alhamdulillah kalo kamu tudak keberatan," ucap Mamah Daima dengan lega.


"Kalo gitu kapan kita menikahnya Mah?" tanya Niko yang justru pengi buru-buru dilangaungkanya pernikahan itu.


"Mamah ngikut kalian sajah," jawab Mamah pasrah gimana Niko dan Fifah.


"Fah, kamu maunya kapan?" tanya Niko pada Fifah yang masih memeluk Niko, padahal Niko tengah menahan Senjatanya agar tidak meminta haknya lagi. Kalo dipeluk terus biarpun tidak cinta, namanya laki-laki ya tegang-tegang juga....


"Fifah juga terserah Mas Niko sajah." Afifah pun sama menyerahkan semua keputusanya pada calon suaminya. Toh sudah tak ada pernikahan impian untuk apa perhitungkan dengan matang, mungkin itu pemikiran Fifah.


"Kalo Mas penginya besok gimana?" tanya Niko pada Fifah, yang sejak tadi menempel dipelukanya.


"Ya sudah Mamah setuju sajah, toh hanya ijab kabul sajah dulu, lebih cepat lebih baik melihat kondisi Papah yang seperti ini memang lebih baik disegerakan sajah pernikahan kalian." Mamah sudah setuju sekarang giliran Afifah.


"Fifah juga setuju sajah Mas, mana yang terbaik buat kita, Fifah ikutin sajah," jawab Afifah ikut dengan keputusan Niko dan Mamahnya.


"Baiklah kalo gitu besok kita menikah, nanti semuanya Mas yang urus kaliana tinggal terima beresnya sajah," ucap Niko.


Pada akhirnya mereka beristirahat dengan alas apa adanya. Mamah Daima dan Afifah tidak pernah menyangka bahwa nasibnya akan terjun bebas kedalam lembah kesusahan dalam waktu singkat. Malahan mereka harus merasakan tidur di rumah sakit dengan alas seadanya. Kemewahan yang selalu ia banggakan ternyata tidak ada gunanya lagi ketika seperti ini.


#Makanya jangan sombong pas Othor kasih diatas, ngerasain juga kan gimana rasanya jadi rakyat jelata, eh tunggu masih ada kesusah lain yang othor siapkan buat kalian.....