Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Zoya yang Galau


Niko membuka pintu kamarnya dan...


Dia menelan salivanya, manakala melihat tubuh Fifah, yang tengah tidur meringkuk dengan lengeri yang sangat seksi dan tersibak bagian bawahnya.


Niko masuk kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, dan mengakibatkan kegaduhan yang bisa sajah membangunkan Fifah. Niko langsung masuk ke kamar mandi, tubuhnya yang memanas dan burung yang bangun membuatnya memilih mendinginkanya di bawah guyuran air shower yang dingin. Ia memejamkan matanya merilekskan otot-ototnya yang menegang. Ini pengalaman pertama berada satu kamar dengan wanita lain selain Zoya. Biarpun ia sudah menyiakan mental menghadapi situasi ini agar tidak tegang, tetapi ketika dihadapkan langsung dengan setuasi nyata tetap sajah dia tengang. Terlebih tubuh reaksi tubuh dan fikiranya bertolak belakang. Fikiranya tetap ingin setia dan hanya ada Zoya sehingga hubungan dengan Fifah hanyalah layaknya jual dan beli sajah. Tetapi tubuh tidak bisa menolak ketika dihadapkan dengan kemolekan tubuh Fifah rasanya ingin menjamah setiap inci tubuh mulus istri mudanya.


"Ya Tuhan aku harus gimana," erang Niko, dia mengepalkan tanganya dan meninju air yang berjatuhan dari shower.


Fifah yang mendengar percikan air dari kamar mandi pun tersadar, dari tidurnya dan menajamkan pendengaranya....


"Mas Niko? Apa dia sudah pulang?" batin Fifah. "Ko aku jadi deg-degan yah." Fifah memegangi dadanya dan menarik nafasnya agar tidak gerogi. Walaupun Fifah tergolong cewek yang nakal dan sering bergonta ganti teman kencan, tetapi ia tidak pernah sampai melakukan hubungan suami istri. Sehingga ketika Fifah dihadapkan dengan situasi seperti ini jantungnya seolah memompa darah lebih cepat. Fifah merapihkan rambutnya dan memoles wajah cantiknya dengan make up yang tipis agar tidak pucat, tidak lupa ia juga menggunakan minyak wangi yang sangat menggoda, linger terbuka dan sangat tipis sehingga memperlihatkan setiap lekuk tubuh Fifah yang mulus.


Ketika Fifah akan kembali ke atas tempat tidur, tiba-tiba Niko keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna putih menutupi tubuh bagian bawah. perut sixpeck yang menambah kemacoannya. Tangan Niko tengah menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil, sehingga ia tidak tau bahwa sedari tadi Fifah tidak berkedip menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan dihadapapnya.


Fifah menelan salivanya, membayangkan tubuh yang lemah dibawah kukungan tubuh Niko yang kekar dan berisi.


"Oh... Tuhan kenapa suamiku sangat mengoda seperti ini," gumam Afifah dengan menggigit bibir bawahnya.


Niko telonjak kaget, ketika sadar bahwa Fifah dari tadi sudah bangun, bahkan tengah memeperhatikanya tanpa berkedik.


"Ka... kamu udah bangun?" tanya Niko terbata. Rasanya ia pengin menghilang dari situasi seperti ini. Tatapan Afifah sangat menggoda ingin rasanya ia ingin langsung menerkam tubuh molek istri barunya. Namun lagi-lagi fikiran berkatan jangan terlalu gegabah, akan terlihat seperti laki-laki penikmat wanita kalo seperti itu.


"Sudah Mas." Afifah bangun dari duduknya dan mengambilkan baju ganti serta baju dalaman untuk suaminya. "Mau dipakai sekarang apa nanti bajunya?" tanya Fifah dengan suara manja dan menggoda.


"Ma... maksudnya?" tanya Niko, kembali terbata. Bohong, kalo Niko tidak tau maksud dari perkataan Fifah.


"Nggak pengin nyoba istri barunya dulu?" Afifah mendekat kearah Niko. Akalnya sudah hilang terkikis oleh nafsu....


Afifah memainkan telunjuknya diatas dada bidang suaminya yang hanya mengenakan handuk mandi. "Kata orang-orang memuaskan suami adalah ibadah dan pahalanya besar, begitupun suami yang memuaskan istrinya pahalnya besar! Yuk nyari pahala," Afifah berbisik ditelinga Niko dan sengaja mendekatkan bibirnya agar menyetul bagian belakang telinga Niko, sontak tubuh Niko langsung menegang. Laki-laki mana yang bisa menolak rezeki seperti ini terlebih Fifah sudah halal baginya untuk disentuh, bukankah setiap inci tubuh Fifah sudah halal bagi Niko.


Niko langsung mendorong tubuh Fifah ke atas kasur. Tak perduli lagi istri pertama atau istri kedua, ketika tubuh sudah dipenuhi hawa nafsu yang terpenting adalah pelampiasannya. Niko pun sangat terpuaskan oleh permainan Fifah terlebih Fifah masih perawan dan juga pembawaanya nakal seperti Zoya apa bila sudah urusan ranjang akan menjelma menjadi wanita yang nakal dan binal. Zoya dan Fifah sama-sama memiliki sifat itu. Sifat yang sangat Niko sukai. Dia suka dengan wanita yang nakal untuk urusan batin.


Ketika Niko dan Fifah tengah menikmati malam pertamanya berbagi keringat dan kehangatan.


Sakit, perih dan sesak itu yang dirasakan oleh Zoya. Ia sudah mencoba memejamkan mata, tetapi tidak bisa tidur juga. Di pikiranya masih depenuhi dengan adegan-demi adegan suaminya ber cinta dengan Fifah. Dari penampilan Fifah memang melihatkan bahwa Fifah adalah cewek yang Agresif sesuai dengan cewek idaman Niko. Terlebih Fifah masih sangat muda sehingga perminanya pasti lebih liar dari dirinya.


"Kira-kira Mas Niko lagi apa yah? Mereka sudah melakukan hubungan sampai berapa kali? Apa Mas Niko setelah ini akan meninggalkan aku, karena memiliki wanita yang lebih dari aku? Apa Fifah lebih Agresif dari aku?" guman Zoya. Dia membenamkan wajahnya diantara lipatan kakinya. Hanya dia seorang diri yang larut dalam kesedihanya. Bahkan sampai larut malam ia tidak bisa tidur. Mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia menatap foto suaminya yang tengah bertelanjang dada, rasanya nggak ikhlas apabila harus membagi laki-laki yang ada difoto itu dengan wanita lain. Namun, ini lah takdir nggak bisa diminta hanya bisa iklas menjalaninya. Andai ia bisa hamil makan hanya dia yang memiliki Niko. Tidak ada Afifah ditengah-tengah rumah tangga mereka.


Zoya kembali merebahkan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya agar bisa beristirahat. Pikiranya menerawang kembalin membayangkan suaminya dijam segini udah tidurkah atau justru masih berusaha menaburkan benihnya diladang yang baru. Mencoba dan terus mencoba sampai benih-benih itu tumbuh dan berkembang dengan baik.


Tinggalkan Zoya dengan segala kegalauanya. Kita kembali ke Niko yang ngakunya ngga mau bebagi dengab yang lain selain Zoya, tapi kenyataanya disamber juga...


Permainan pertama telah Niko lewati, ia berdoa agar benih yang ditaburnya segera tumbuh, dan membuahkan hasil. Ia merebahkan tubuhnya yang polos kesamping Fifah. Fifah yang masih meringis karena rasa sakit di bagian bawahnya menggit bibir bawah dan mata yang terpejam, serta nafas yang memburu membuat Niko dibuat tak berkutik. Baru sajah beberapa menit yang lalu ia mencapai pelampiasanya, kini tubuhnya kembali menegang karena Fifah.


Niko menatap wajah Fifah tanpa kedip. Entah Fifah sengaja atau tidak gerakan mata dan bibirnya membuat Niko kembali menginginkan haknya.


Niko mendekat ke Fifah membawa tubuh polosnya kedalam pelukanya.


"Apa sesakit itu?" tanya Niko dengan suara serak nan berat.


"Sa-kit dan pe-rih, ta-pi e-nak," jawab Fifah terbata seolah tengah menahan sesuatu.


"Kalo pertama Memang begitu, nanti akan terbiasa kalo sering dicoba. Apa mau mencoba lagi biar nggak terasa sakit lagi?" tanya Niko sekaligus memainkan jurus nambah.


Fifah yang memang masih menginginkan kembali pun menganggukan kepalanya serta bibir yang digigit dan mata yang menggoda.


Sontak Niko langsung beryel-yel ria di dalam hatinya. Ternyata istrinya yang baru justru sangat nakal. Buktinya masih merasa sakit tapi masih mau melayaninya.


Pelampiasan ke dua telah selesai setelah bermain hampir satu jam dengan permainan didominasi oleh Fifah sebagai pemimpin. Awalanya Niko akan menjelaskan setatusnya dengan Zoya, tetapi ketika melihat Fifah yang sangat pandai urusan ranjang Niko takut apabila jujur malah ia akan kehilangan Fifah yang selalu bisa memuasakan dirinya.


Pagi hari menyapa pasangan suami istri baru itu sudah terbangun dan langsung olahraga di atas kasur, kembali membakar kalori....


"Mungkin lain kali aku akan mejelaskan setatusku dengan Zoya tidak hari ini...." gumam Niko sembari memandangi wajah istrinya yang penuh dengan keringat karena kegitan paginya yang banyak membakar kalori....