Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Petunjuk


Setelah Cyra merasa tenang, kini ia kembali masuk ke dalam mobil Meta dengan wajah yang tidak sekusut tadi.


"Udah baikan cin?" tanya Meta untuk mecah obrolan diantar mereka.


"Mendingan Met, aku lemah banget yah Met?" tanya Cyra dengan senyum mengejek di wajahnya. Mengejek dirinya sendiri.


"Enggak lah cin, sekuat-kuatnya orang pasti ada titik lemahnya juga dan you kaya gini sangat wajar, sangat lumrah. I'm ajah kalo di posisi you bakal ngamuk. Sikap you udah wajar ko. I'm justru bangga dengan you. I'm kira you cewek yah lemah dan kurang tegas tapi ketika you dihadapkan masalah seperti ini you hebat you bisa tetap tegas dan santai dihadapan orang-orang, walaupun kenyataanya you rapuh dan butuh bahu buat bersandar." Meta memang berbicara apa adanya, dan menunjukan bahunya untuk bersandar apabila Cyra ingin bersandar di bahu kokohnya.


Cyra yang paham dengan kode dari Meta pun membaringkan kepalanya di pundak Meta. Sementara Cyra memjamkan matanya, ia yang tengah bimbang dengan perasaanya dan kemarahanya.


*****


Di tempat lain Naqi yang sudah bisa mengontrol kemarahanya beberapa harinlalu, kini sudah kembali bersikap biasa dengan Rania. Bahkan Rania juga sudah mau mengikuti kemauan Naqi, yaitu Rania kini tengah berada di rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Butuh perdebatan antara Naqi dan Rania, di mana Rania awalnya enggan mengikuti kemauan Naqi. Ia bersikeras akan pasrah dengan kondisinya.


Namun Naqi pun tidak kalah, ia tetap ingin Rania kembali sehat, setidaknya kalo Rania sehat dia tidak menyesal dengan keputusanya, meninggalkan Cyra untuk memilih Rania.


Di rumah sederhana ini Naqi dan Rania tinggal, dan mengurus perizinan tinggal bersama. Naqi mengaku bahwa ia dan Rania telah menikah, tetapi hanya menikah secara agama. Agar ia tidak di sangka pasangaan mesum. Lagian memang Naqi dan Rania pun tidur secara terpisah. Serta mereka tidak terlibat kontak fisik yang menjurus ke zina.


Setelah pulang dari rumah sakit Rania mampir ke sebuah rumah makan, karena memang ia tidak memasak.


"Sayang, biar aku saja yang turun, kamu di sini saja." Rania menahan Naqi yang memang awalnya akan turun untuk membeli makanan untuk dirinya dan Rania.


"Ok, kalo kamu maunya begitu." Naqi tidak jadi membuka pintu mobilnya. Ia pun meletakan kepalanya di sadaran kursi mobil. "Jujur semakin hari hatiku semakin tidak karuan. Aku semakin tidak bisa melupakan Cyra," gumam Naqi. Ia mengambil ponselnya. Ia melihat laman instagram Cyra mungkin Cyra ada upload sesuatu yang bisa mengobati rasa rindunya pada Cyra, tetapi Naqi dibuat kecewa. Cyra tidak ada ponstingan apapun. Bahkan semenjak dirinya pergi dari rumah Cyra tidak ada posting apa-apa. Banyak penggrmar yang mencari tahu keberadaan Cyra. Namun baik dari Cyra maupun teamnya tidak ada jawaban apa pun.


"Apa yang terjadi dengan Cyra. Apa dia sakit atau kenapa?" batin Naqi kembali bertanya-tanya. Rasanya Naqi andai tidak malu dan Cyra mau, ia ingin kembali lagi dengan Cyra. Menyesal, ia dia menyesal telah mengambil keputusan ini.


Di dalam warung makan.


"Maaf Mba apa ini Rania anak almarhum Ibu Edah? Yang dulu rumahnya di jalan Marbayu?" tanya ibu yang tengah melayani Rania.


"Oh iya Bu, saya Rania? Ibu kenal?" tanya Rania tidak kalah ramah.


"Kenal sedikit Mba, dulu saya dan Ibu sampean adalah teman seperjuangan. Kita sama-sama kerja di satu Bos, tapi saya pulang duluan, dan Mamah kamu masih kerja di sana. Sampe Mamah sampean juga pulang karena hamil sama anak majikan, tapi karena nggak di restui akhirnya ibu kamu dan Papah kamu pulang ke kampung ini. Tapi nggak lama Papah kamu kembali lagi ke Jakarta. Kamu bagaimana udah ketemu belum sama Papah kamu?" tanya sang penjual makanan yang mengaku tahu siapa Papahnya.


"Ibu tau Papah saya. Saya belum bisa ketemu Papah karena saya nggak tau bagaimana Papah saya dan juga tiggal di mana," jawab Rania dengan muka masam.


Sementara Rania setelah membayar makanan yang ia beli, langsung meninggalkan warung rumah makan itu dan ia akan menuju rumah Pak RT. Rania tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu di mana dia akan ketemu papahnya.


"Kenapa Na, kayaknya ada yang membuat kamu sangat bersemangat?" tanya Naqi, pasalnya baru kali ini Rania sehappy ini. Biasanya ia akan lesu dan tidak bersemangat.


"Sayang kita ke rumah Pak RT yah, barusan ibu penjual makanan itu bilang kalo ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai Papah aku. Aku sangat senang mudah-mudah ini petunjuk bahwa aku memang bisa bertemu dengan Papah kandungku." Rania dengan semangat menceritakan apa yang membuatnya se bahagia ini.


"Kamu seriuz apa yang kamu bicarakan? Kamu nggak bohongkan?" tanya Naqi, pasalnya ia juga terlalu bahagia mendengar penuturan Rania.


"Seriuz makanya aku pengin buru-buru menemui Pak RT pengin tahu juga seperti apa Papahku." Rania tidak ingin Naqi terlalu lama membuang-buang waktu lebih baik buruan cepat mengunjungi rumah Pak Rt.


"Baiklah aku juga pengin buru-buru tahu juga bagaimana Papah kamu." Naqi akhirnya langsung melajukan mobilnya menuju rumah Pak Rt dengan Rania sebagai petunjuknya.


Karena memang jarak mereka yang tidak jauh kini Naqi dan Rania sudah berada di depan rumah Pak Rt.


Setelah mengucapkan salam, seorang wanita paruh baya pun keluar dan wanita itu menyambutnya dengan Ramah.


"Mohon maaf, Mba, dan Masnya ada perlu apa?" tanya wanita itu.


"Maaf Bu, saya ada perlu dengan Pak Rt atau Ibu Rt apa yang bersankutan ada di rumah?" tanya Naqi tidak kalah sopan.


"Oh, Bapaknya lagi keluar sebentar ada urusan kepala desa tetangga sebelah dan kalo Ibu RT kebetulan itu saya. Ayo monggo masuk! Di dalam saja ngomongnya biar lebih nyaman." Bu Rt mengajak Rania dan Naqi agar masuk ke dalam rumahnya.


Naqi dan Rania pun mengikuti Bu RT masuk ke dalam rumahnya.


"Terima kasih Bu," ucap Rania yang mana bu Rt meletakan minuman sebagai suguhan.


"Sama-sama ngomong-ngomong kalo boleh tahu Mba dan Masnya ada perlu apa?" tanya ulang Bu RT.


"Mohon maaf sebelumnya kalo kedatangan kami mengganggu. Saya anak Bu Edah yang dulu sempat tinggal di RT sini, tapi sekarang kami sudah pindah ke desa sebelah. Menurut Ibu yang jualan nasi di dekat tanjakan sana ada salah satu laki-laki yang mencari saya dan beliau mengaku Papah saya. Apa beliau meninggalkan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuk saya?" tanya Rania dengan suara bergetar, mungkin saking bahagianya sehingga ia sampai menahan tangisnya.


"Oh iya betul memang beberawa kali laki-laki itu datang kesini. Ibu pikir malah udah ketemu sama kamu Dek, soalnya belakangan sudah tidak datang lagi. Nanti yah ibu ambilkan nomor telponya. Beliau sempat menitipkan nomor telepon ke kami." Ibu RT masuk kedalam rumahnya untuk mengambil nomor telpon dan Rania pun terisak bahagia akhirnya ia sebentar lagi akan menemukan Papahnya. Naqi pun mengusap punggung Rania. Dia pun sama merasa bahagia ketika mengetahui Rania akan ketemu Papahnya.