
Pulang kerja Qari sesuai yang Cyra katakan bahwa ia langsung pulang kerumah sakit, tentu setelah izin dengan mamih dan kakeknya. Mamih tentu tidak masalah setelah tahu bawa Qari tidak pulang kerumah melainkan pulang ke rumah sakit guna menemani Abangnya yang sedang tidak sehat itu.
"Kakak Ipar," pekik Qari ketika baru masuk ke ruangan Abangnya, di mana di sana seperti di dalam rumah hantu horor suasananya.
"Cuih si biang kerok, obat nyamuk datang," ucap Naqi dengan bergumam sementara Qari masih bisa mendengarnya.
"Apa kamu bilang Bang? Biang kerok? Obat nyamuk? Gue juga malas Bang kalo bukan kakak Ipar yang minta gue kesini. Malas gue ketemu loe," oceh Qari, sembari bibirnya bersungut-sungut. Qari tahu bahwa Abangnya tidak suka ketika dirinya ada di ruangan yang sama, hal itu karena Abangnya ingin lebih banyak menghabiskan waktu berduaan bersama Cyra, kakak Iparnya. Namun hal itu malah membuat Qari senang, karena tandanya ia bisa mengerjai Abangnya.
"Udah, udah kalian adik kakak tapi kenapa tidak pernah akur sih. Lagian Qari benar kok Mas, Cyra yang minta Qari agar kesini buat nemanin Cyra karena kalo hanya Cyra di sini rasanya jenuh dan tidak ada temanya untuk ngobrol. Mas Naqi tidak keberatankan kalo Qari nemanin Cyra di sini?" tanya Cyra mencoba melerai Naqi dan Qari. Adik kakak yang tidak pernah akur itu.
"Iya tidak apa-apa kok, lagian bukanya kita udah biasa dari dulu selalu seperti itu berantem tapi saling kangen," ujar Naqi, yang di sambut tawa renyah oleh Qari.
"Hahaha... kayaknya Abang ajah deh yang kangen sama aku. Kalo aku sih ogah banget kangen sama Abang," dengus Qari tetapi hanya didengar oleh Cyra. Berabe kalo Naqi sampe dengar tidak akan selesai dengan peperangan adik dan Kakak itu.
Siang tadi sudah ada dokter yang memeriksa luka Naqi dan untuk sementara waktu Naqi memang belum di izinkan untuk pulang hal itu karena bisa saja lukanya malah pecah dan akan mengakibatkan luka yang lebih parah lagi. Sehingga untuk beberapa hari kedepan Naqi disarankan untuk tetap berada di rumah sakit. Tentu Cyra dan Qari yang bergantian merawatnya, karena mamih harus mengurus kakek dan Rania di rumah yang masih harus mendapatkan pengawasan dengan kesehatanya.
"Oh iya Mas, kamu sudah tahu belum dengan Sam yang kecelakaan dan dia juga di rawat di rumah sakit ini loh?" tanya Cyra untuk mengakrabkan diri pada Naqi maupun Qari.
"Hah, Sam kecelakaan di mana kok bisa?" tanya Qari dengan antusias.
"Belum, aku malah belum tahu kalo Sam kecelakaan, kamu kata siapa Sam kecelakaan. Bukanya dia baik-baik saja?" tanya Naqi, bahwasanya dia juga tidak tahu Sam kecelakaan.
"Kemarin, kecelakaan bareng teman satu profesinya kalo tidak salah namanya Yola. Dan sekarang mereka di rawat di rumah sakit ini juga," ucap Cyra.
"Iya Qila teman Cyra juga, tetapi mereka sudah pisah, dan penyebabnya mungkin karena hadirnya Yola diantara mereka sehingga Qila merasa Sam berubah dan setelah di telusuri karena ada Yola. Sehingga Qila memilih mundur, tetapi kasihan juga Sam jadi tidak ada yang mengurus. Terakhir aku dan Qila meminta suster untuk mengurus Sam, dan kami yang menamggung biayanya tetapi tidak tahu suster itu masih mengurus Sam atau sudah ganti. Soalnya semua yang ngurus kan Qila." Cyra mencoba menceritakan apa yang Sam alami.
Sementar Naqi jadi teringat kisahnya hampir sama dengan kisah Sam. Namun yang pantut Naqi sukuri Cyra masih mau mengurusnya meskipun tidak mau untuk berbalikan dulu menjalin hubungan, tetapi setidaknya Cyra masih peduli dengan dirinya.
Naqi pun tidak habis fikir kenapa Sam tega melakukan itu semua, sedangkan yang Naqi tahu Sam itu tipe laki-laki setia tidak sedikit pun Sam pernah berhianat. Namun kenapa sekarang Sam tega melakukan itu pada teman Cyra. Yah walaupun Naqi belum kenal dengan Qila yang banyak di bilang anaknya pendiam itu.
Cyra benar-benar merawat Naqi dengan baik, dia tidak ada dendam sedikit pun dengan apa yang pernah Naqi lakukan pada dirinya, dari makan Cyra menyiapkan dengan sangat telaten dan juga menyiapkan obat-obatan yang Naqi butuhkan. Cyra tidak mengeluh. Justru semua kebutuhan Naqi Cyra yang penuhi dan Qari di dalam kamar itu hanya sebagai pajangan alias obat nyamuk, teman Cyra untuk ngobrol karena semua kerjaan sudah di kerjakan oleh Cyra.
"Ternyata begini yah Ra, yang kamu rasakan dulu, di mana dulu juga kamu merasakan seperti ini. Punggung kamu luka karena air panas. Aku masih keingat ketika kamu harus susah payah untuk bisa tidur, dan kamu bisa melewati itu semua, kamu hebat Ra," ucap Naqi dengan mengacungkan jari jempolnya.
"Iya dan saat itu Mas Naqi yang ngerawat Cyra, tanpa Mas Naqi yang jutek tapi perhatian mungkin Cyra tidak akan cepat sembuh. Itu karena Mas Naqi juga yang mau malam-malam memanggil dokter Sam untuk mengobati Cyra, meskipun harus berantem dengan Mba Rania," kekeh Cyra ketika mengingat kejadian itu, ia tidak akan melupakan hal itu, di mana dari sana titik awal Cyra memulai kehidupanya yang baru. Kehidupan yang tidak mudah, tetapi berkat orang-orang baik disekitarnya, Cyra bisa melewatinya dan kini dia sudah sama dengan yang lain. Tidak ada lagi yang membuli dan menghinanya.
Naqi pun tersenyum ketika ia mengingat momen-momen itu. Dia tidak pernah berfikir bahwa gadis dihadapanya sekarang berhasil mencuri hatinya dan menempati sebagian besar isi hatinya.
"Kakak Ipar, sudah sini duduk dan makan. Biarkan Abang makan sendiri, keenakan dia semua-semua diurusin sama kakak Ipar, nanti ngelunjak," ucap Qari yang melihat Cyra menyuapi makan Abangnya, sebenarnya tidak masalah kalo Cyra melakukan itu hanya saja bukan Qari kalo dia tidak iseng. Sehingga Qari memutuskan untuk mengerjai Naqi. Benar saja ketika Qari berbicara seperti itu Naqi langsung bersungut menunjukan wajah marahnya. Dan Qari hanya terkekeh karena berhasil mengerjai Abangnya yang sok manja. Qari pun beranjak dari duduknya. "Makanya nggak usah cari-cari kesempatan. Biasanya saja makan apa-apa sendiri sekarang ada kakak Ipar manja," sungut Qari yang langsung disambut dengan mata melotot oleh Naqi.
Hehehehe... tawa renyak Qari kapan lagi ngerjain kakaknya yang galaknya minta ampun, kalo tidak lagi sakit, biasanya Qari yang ditindas oleh Naqi, dan sekarang Naqi lagi sakit maka waktunya Qari yang menindas Abangnya itu.
Sementara yang Cyra lihat adik dan kaka itu sangat manis akur dan saling membantu, tetapi pada kenyataanya mereka saling mengejek dan memperolok. Dari dulu sampai sekarang dua kakak beradik itu akan terus mencari celah untuk menjatuhkan. Namun apabila berjauhan, mereka akan saling kangen.
Setelah memastikan Naqi sudah minum obat dan sudah makan, kini tinggal Cyra dan Qari yang makan malam. Setelah itu mereka akan istirahat di rumah sakit saling bergantian untuk istirahat dan menjaga Naqi.