Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kesabaran Cyra


Tengah malam Cyra terjaga, dan dia melihat Naqi tengah duduk di samping Rania.


"Mas," panggil Cyra dengan memegang pundaknya.


Naqi terlonjak kaget, ketika merasakan pundaknya di pegang Cyra. "Kamu udah bangun?"


"Udah Mas, biar Mas istirahat dulu, Cyra yang gantian jaga Mba Rania," ucap Cyra dengan suara lirih agar tidak membangunkan Rania yang tengah tertidur dengan pulas.


"Biar, nggak apa-apa Mas yang jaga sajah, kamu balik istirahat lagi sana," tolak Naqi tak kalah pelan.


"Mas, besok Mas kerja, bukan akhir-akhir ini Mas sedang sibuk-sibuknya. Nanti kalo kurang istirahat malah ikutan sakit, siapa yang akan jaga Mba Rania kalo Mas juga ikutan sakit. Biar jaga Mba Rania, Cyra sajah yang jaga. Kalo Cyra kan besok tidak ada kerjaan bisa istirahat kalo siang hari. Sedangkan Mas mana bisa istirahat." Cyra tak menyerah membujuk Naqi agar beristirahat.


"Baiklah-baiklah Mas istirahat, dasar gadis keras kepala," cicit Naqi sembari mengelus punda Cyra. "Mas titip Rania yah, nanti kalo butuh sesuatu bisa bangunkan Mas." Naqi pun pada akhirnya menuju sova tempat Cyra barusan tidur dia merebahkan tubuh lelahnya, dan benar sajah tidak butuh waktu lama sudah terdengar nafas teratur menandakan Naqi telah tertidur dengan pulas.


Cyra menghampiri Naqi dan memasangkan selimut diatas tubuh kekarnya. Cyra sadar tidak bisa berharap lebih dengan perasaan Naqi. Bagi Cyra dengan kebaikan Naqi padanya saat ini, sudah lebih dari cukup, maka dia juga tidak berani meminta Naqi untuk memperlakukan lebih dari sekedar adik dan kaka.


Setiap hari wajah tampan dan lelahnya yang menjadi pemandangan dikala tidurnya. Menjadi menyejuk dikala gundahnya. Karena kehadiran Naqi dalam kehidupanya telah banyak memberikan pengalama yang sangat berarti.


Cyra kembali duduk di samping ranjang Rania yang juga tengah tertidur dengan pulas.


"Apakah nasib Rania juga sama dengan aku tidak memiliki keluarga yang peduli dengan hidupnya? Kenapa dia sakit begini tetapi tidak ada sanak sodara yang menemaninya?" batin Cyra bertanya-tanya dengan nasib kehidupan Rania.


Cyra menatap wajah sayu Rania tergambar kesedihan dibalik tubuh ringkihnya. Entah apa yang terjadi dalam kehidupanya. Cyra pun tidak banyak mendengar kisah kehidupan Rania. Terlebih Rania yang selalu menganggapnya musuh karena ia menganggap Cyra akan merebut Naqi darinya.


Rasa takut kehilangan Naqi yang mebuat Rania selalu membenci Cyra. Apapun yang Cyra lakukan selalu salah di mata Rania.


Dalam kesunyian kamar hanya Cyra yang terjaga, Cyra menatap keindahan malam ibu kota dari balik jendela rumah sakit, dari lantai empat terlihat keramaian jalanan ibu kota. Meskipun sudah menunjukan waktu dini hari, di mana sebagian orang telah tertidur dengan lelap tetapi jalanan masih sangat ramai. Seolah penghuninya tidak pernah tertidur.


Cyra mendengar ranjang pasien berdenyit, dan ia melihat Rania yang berusaha bangun. Cyra pun langsung bergegas menghampiri Rania dan hendak membantu untuk bangun.


"Biar Cyra bantu Mba," ucap Cyra dengan suara lirih takut menimbulkan kegaduhan dan Naqi pun terbangun.


"Awas...!" Rania menampik tangan Cyra yang hendak membantunya. "Tidak perlu aku bisa meminta bantuan sama kekasihku. "Sayang... sayang..." ucap Rania dengan angkuh sembari memanggil Naqi.


"Mba, Mas Naqi baru sajah istirahat, kasihan dia besok juga harus kerja. Kalau tidak istirahat nanti malah sakit," lirih Cyra agar Rania tidak lagi memanggil-manggil Naqi dan membuat Naqi terbangun.


"Ini pasti kerjaan kamu kan? Kamu sengaja membuat Naqi tidur agar kamu terlihat perhatian dengan aku, lalu aku akan menerima kamu, dan kamu memanfaatkan kebaikanku untuk merebut Naqi dariku," oceh Rania dengan geram, ia mengeluarkan semua kecemasanya di depan Cyra.


"Maaf sebelumnya kalo kehadiran saya membuat kecemasan dalam hidup Mba, tapi bukankan saya sudah berjanji bahwa ketika waktunya tiba, saya akan meninggalkan Mas Naqi, dan Mba Rania bisa kembali dengan Mas Naqi tanpa terganggu dengan kehadiran saya. Bahkan saya pun telah berjanji pada Mas Naqi bahwa ketika waktu itu tiba aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian berdua." Cyra tak berputus asa meyakinkan Rania bahwa yang dia fikirkan hanyalah kecemasan sajah.


Rania tidak membalas apapun perkataan Cyra, ia berusaha turun. Cyra dengan sigap membantu Rania.


"Udah aku bisa sendiri," ujar Rania, enggan menerima bantuan dari Cyra.


"Nggak apa-apa Mba biar Cyra bantu, anggap sajah saya orang lain yang nggak Mba kenal kalo Mba enggan menerima bantuan karena saya istri dari kekasih Anda," balas Cyra, tetap membantu Rania yang hendak ke kamar mandi. Pada akhirnya Rania pun mau dibantu oleh Cyra.


"Engga apa-apa Mba, biar Cyra bantu nanti Mba kenapa-kenapa lagi. Mas Naqi sudah mengamanahkan Anda pada saya. Nanti apabila ada apa-apa Mas Naqi bisa marah pada saya." Cyra kekeh akan membantu Rania.


"Terserah lah, dasar keras kepala!" runtuk Rania membiarkan Cyra ikut masuk kedalam WC untuk membantunya.


Kini Rania telah kembali keranjangnya.


"Ada yang bisa dibantu lagi Mba?" tanya Cyra dengan lembut.


Rania hanya menggeleng lemah, ia terus memegangi perutnya yang terasa nyeri. Cyra yang melihatnya pun iba, tetapi tidak bisa membantu apa-apa.


"Mau saya panggilkan dokter atau suster Mba?" tanya Cyra lagi, tidak tega dengan Rania.


"Engga usah, bawel banget sih kamu itu," bentak Rania, yang merasa terganggu dengan oceha Cyra.


Cyra pun hanya bisa melihat Rania yang terus merintih merasakan nyeri diperutnya. Sampai pada akhirnya Rania kembali tertidur setelah lama terjaga.


"Mas... Mas... bangun udah jam lima." Cyra membangunkan Naqi, dengan menggoyangkan badanya.


Hmz... gumam Naqi, ia mengrejapkan pandanganya menyesuaikan dengan cahaya lampu yang terasa silau dimata.


"Mas Cyra mau ke mushola dulu untuk sholat Subuh," ucap Cyra ketika Naqi telah bangun dan duduk di sova dengan muka bantalnya.


"Pergilah, biar Rania aku yang jaga," ucap Naqi.


******


Cyra kembali ke kamar rawat setelah ia menunaikan ibadahnya. Cyra langsung menuju sova, karena untuk menjaga Rania sudah dilakukan oleh Naqi.


"Aku pulang dulu yah sayang, nanti ada Sam yang jaga kamu dan juga Bibi juga nanti akan kesini menjaga kamu selama aku tidak ada. Sam nanti akan melaporkan apapun perkembangan dari kamu. Hari ini hasil pemeriksaan kamu semalam akan keluar biar nanti Sam yang sementara mengambilnya. Aku sekarang harus kembali kerumah dan harus bekerja," ucap Naqi berpamitan pada Rania.


Rania hanya mengangguk lemah.


Kini Cyra dan Naqi tengah berada di dalam mobil. Meskipun berat meninggalkan Rania seorang diri tetapi Naqi juga tidak bisa berbuat banyak untuk tetap menemani Rania.


"Mas, maaf sebelumnya kalo Cyra lancang. Cyra hanya ingin tau memangnya keluarga Mba Rania kemana? Kenapa sepertinya nggak ada keluarganya yang menjenguk ketika Mba Rania sakit?" tanya Cyra dengan lembut agar tidak menyinggung Naqi.


Naqi pun menghirup nafas dalam dan membuangnya kasar. Ia akan menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga kekasihnya itu.


Bersambung...


...****************...