Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kesepakatan


Setelah izin dengan Fifah, kini Meta menuju rumah sakit yang di katakan oleh pengacara Niko. Tidak butuh waktu lama untuk Meta sampai di rumah sakit itu. Setelah berbincang dengan pengacara Niko akhirnya Meta di izinkan menemui Niko.


"Huhhh... sok paling penting banget sih, gelay deh sama orang-orang kaya gini sok berkuasa mau ketemu ajah harus buat janji dan lain-lain. Pengin gue cekik tuh laki-laki ben-cong," gumam Meta tetapi ia tetap mengekor di belakang pengacaranya Niko. Yah, untung Meta juga mengajak pengcara Fifah. Jadi tidak terlalu di persulit untuk menemui laki-laki itu.


Begitu Meta masuk, tatapan Niko sudah terlihat sangat tidak suka, tetapi Meta tetap bersikap santai, toh dia yakin kalo Niko sebenarnya hanya garing diluar lembek di dalam.


"Gimana Mba kamu sudah berubah fikiran tidak lagi membantu istri saya kan? Tidak lagi ikut campur dengan masalah keluarga saya. Lebih baik urus sajah hidup kamu yang tidak jelas itu. Kadang pake rok kadang pake celana nggak jelas banget, " oceh Niko dengan tatapan yang senis dan mengejek.


"Saya dan hidup saya nggak ada hubunganya dengan Anda, Tuan Niko. Oh iya, saya juga datang kesini mau menawarkan perdamaian. Sesuai yang tadi saya sampaikan di telepon dengan pengacara Anda. Saya juga mau membuat penawaran dengan Anda. Penawaran kerja sama." Meta tidak melanjutkan omonganya hal itu karena Niko yang langsung tertawa dengan renyah sehingga memutus obrolan Meta. "Huh, sekarang saja ketawa-ketawa awas ajah nantu kalo sampe kicep jadi melempem," batin Meta sangat tidak suka dengan kelakuan Niko.


"Hahahaha... sudah gue duga kalo loe datang kesini pasti mau kerja sama dengan gue. Lagian loe nggak usah sok jago ngelindungin wanita sok suci itu. Dia itu wanita yang pandai mengambil hati orang, dan akan memutar balikan fakta. Dia itu bukan wanita baik-baik," ucap Niko menjelekan Fifah.


"Dasar laki-laki mulut lemes. Padahal Fifah tidak pernah menjelekan tuh laki-laki tapi kenapa dia semangat banget buat menjelekan Fifah," ucap Meta tertawa dalam hatinya. Niko mengira kerja sama yang di maksud mungkin Meta pindah pada pihak Niko.


"Begini saja yah Pak Niko, saya akan langsung bacakan saja permintaan kerja sama kita itu tentang apa sajah. Biar tidak salah tangkap juga. Soalnya saya rasa Anda di sini ada salah tangkap dengan maksud kerja sama Kita." Meta pun menarik nafas dalam dan menenangkan pikiranya agar bisa fokus dengan apa yang akan ia sampaikan pada Niko.


"Begini Tuan Niko, saya dan Fifah sudah membaca dengan apa yang Anda mau apabila Fifah ingin bercerai dengan Anda. Mengembalikan uang-uang yang sudah Anda berikan untuk keluarga Fifah. Sedangkan Anda tahu bahwa baik Fifah maupun keluarganya adalah orang yang tidak punya, untuk saat ini, kalo dulu mungkin keluarga Fifah adalah orang yang berada uang sepuluh miliar bagi mereka sangat gampang, tapi untuk saat ini uang itu sangat mustahil untuk di dapatkan. Sehingga kami akan mengajukan damai." Meta tanpa basa basi langsung menyampaikan apa yaang ingin dia maksud untuk kerja samanya.


"Jadi kamu datang kesini cuma untuk hal-hal nggak guna kaya gini," murka Niko, yang ia sangat kecewa dengan apa yang di maksud dengan keja sama dengan dirinya. "Ingan yah, sampai kapan pun aku nggak akan ngelepasin wanita pembaangkang itu begitu saja." Niko kembali memberikan peringatan.


"Kenapa Anda tidak bisa lepasin Fifah, bukanya dia juga tidak bisa kasih Anda keturunan, lalu buat apa dipertahankan. Atau semua bukti-bukti ini akan aku laporkan ke polisi." Meta memberika hasil visum yang Fifah lakukan, tentu kalo orang pandai tahu hukuman pelaku kekerasan dalam rumah tangga berapa lama. Sedang kasus Afifah tidak bisa di bawa kekantor polisi karena memang hal ini bukan kasus pidana, terlebih suami di mana pun wajib lah memberikan nafkah pada istri malah andai dilaporkan bisa-bisa Niko yang bakal kena kasus dengan ancama dan lain sebagainya.


"Terus mau Anda apa dengan bukti-bukti ini?" tanya pengacara Niko sementara Niko langsung diam tidak lagi bringas seperti tadi.


"Saya hanya ingin Tuan Niko memceraikan Fifah, karena selain luka ditubuhnya Fifah juga mengalami trauma, dia harus ada terapi untuk menyembuhkan luka trauma itu, dan Anda tahu bukan bapak pengacara, kalo sudah berurusan dengan trauma sulit untuk mengobatinya. Kalo Tuan Niko memaksa tetap hidup dengan Fifah justru Fifah yang tertekan, dan saya juga takut kalo Tuan Niko kembali melakukan kekerasan apalagi sampai menghilangkan nyawa Fifah, karena dikuasai emosinya. Silahkan kalian pertimbangkan. Foto dan bukti-bukti itu sudah sangat kuat untuk bisa menjebloskan Tuan Niko kedalam penjara. Syaratnya gampang ko agar cukup ceraikan Fifah tidak dengan tuntutan apapun itu, dan kasus kekerasan saya juga akan tutup. Tidak akan saya laporkan Tuan Niko kekantor polisi. Itu tawaran kerja sama dari saya, " ucap Meta dengan tegas dan tidak ada sisi wanita yang biasa dia perankan.


"Baiklah saya akan pertimbangkan Mas, saya akan mencoba mengikuti apa kemauan dari pihak Ibu Fifah." Niko malah tidak langsung memutuskan jawabanya dia justru meminta waktu untuk memikirkanya dulu.


"Enggak bisa di pertimbangkan lagi, kalo mau silahkan pertimbangkan sekarang jangan ulur-ulur waktu. Ini urusanya dengan mental Fifah dan juga nyawa Fifah. Klien Anda sudah teramat kelewatan loh Pak, menyakiti Fifah. Bukan hanya fisiknya melainkan juga batinya. Kalo dibiarkan nanti Fifah pulang-pulang tinggal nama dan Niko masih bisa hidup bebas, Saya tidak terima, saya mau kepusan di ambil saat ini juga." Meta pun tidak mau pergi tanpa mengantongi keputusan yang jelas.


Niko dan pengacaranya terlihat kembali berunding cukup lama mereka mengobrol, dan Meta sedikit tahu dengan apa yang Niko dan pengacaranya obrolkan. Yah, pasti Niko akan tetap tidak mau menceraikan Fifah tanpa uangnya kembali. Mungkin itu yang ada di dalam fikiran Niko. Namun sepertinya sang pengacaara terus memperingatkan Niko dengan hukuman penjara yang akan Niko dapatkan apabila ia tidak mau mengalah.


Nampaknya Zoya juga tidak kalah ikut membujuk Niko. "Kenapa sih Mas Niko semenjak sakit keras kepala banget mana sensitif banget lagi," batin Zoya yang merasa sangat jauh perbedaan Niko itu semenjak Fifah pergi. Zoya mengira bahwa suaminya sudah suka dengan Fifah tetapi ia tidak mau mengakuinya sehingga bawaanya marah-marah terus. Bahkan Zoya sampai hampir nyerah dan ingin meninggalkan Niko juga, karena dirinya yang semenjak kenal Niko tidak pernah di bentak atau pun kena marah, tetapi akhir-akhir ini Niko terus saja menganggap Zoya salah, baik ucapan maupun tingkah laku.


Setelah cukup lama berunding pengacara Niko menghampiri Meta dan pengacara Fifah. "Begini Mas setelah kami rundingkan bersama, maka pihak kami akan mengikuti apa kemauan Fifah untuk bercerai dan tidak menuntut uang klien kami berikan. Namun klien kami mengatakan tidak akan memberikan harta apapun untuk Fifah. Alias Fifah tidak dapat sepeser pun harta Gono-gini," ujar pengacara Niko.


"Oh tidak masalah, buat apa dapat harta kalo ujung-ujungnya di ungkit-ungkit lagi, mending nggak dapat apa-apa sehingga hidup kami tenang," balas Meta dengan melirik pada Niko.


Setelah urusan selesai Meta buru-buru ingin pulang, selain jijih melihat Niko yang sangat tidak tahu diuntung. Meta juga tidak kalah ingin buru-buru memberikan kabar gembira pada Fifah. Pasti Fifah bahagia akan menyusul setatus Cyra.