Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Mencoba Mengenalnya


Di rumah sakit yang sama dengan Tuan Kifayat dirawat...


Tok...


Tok..


Tok...


Suara pintu kamar Rania di ketuk, dan Adam langsung masuk tanpa menunggu persetujuan dari penguhuni kamar itu.


"Selamat Sore Nona Rania, perkenalkan saya dokter Adam. Dokter yang akan menangani Anda nanti." Adam masuk, langsung menghampiri Rania dan tanpa basa basi langsung memperkenalkan dirinya.


Rania mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan dokter Adam. "Apa-apan sih ini dokter SKSD banget (Sok kenal sok deket)." dengus Rania, wajahnya terlihat tidak suka dengan kehadiran Adan.


"Kenapa muka Anda kaget begitu, eh... kaget atau Anda nggak suka dengan kedatangan saya?" kelakar Adam mencairkan perkenalan mereka, "Jangan kaget karena saya kesini untuk menjadi teman Anda. Anda jangan merasa gimana-gimana, saya memang sering melakukan pendekatan ini terhadap pasien-pasien saya, bahkan pada pasiren anak-anak pun saya sering melakukan pendekatan ini. Saya melakukan ini agar pasien saya tidak menganggap saya sebagai dokter, melainkan mengangap saya sebagai temanya, karena terapi kesembuhan yang terpenting bukan hanya dari obat-obatan yang mahal dan fasilitas rumah sakit yang memadai. Namun, juga fikiran yang happy dan tenang adalah kunci kesembuhan yang tidak bisa dihidarkan. Karena itu aku selalu mendekatkan diri sebagai teman agar para pasien saya happy dan mereka bisa menjalani pengobatan tanpa beban," oceh dokter Adam mencoba mendekatkan diri pada Rania. "Fiiuh... mulut berbusa buat ngedeketin nih cewek," dengus Adam di dalam hatinya.


"Apa cara Anda berhasil?" tanya Rania akhirnya mau membuka mulut.


"Sembilan puluh persen berhasil, dan sepuluh persen gagal. Gagal... karena pasienya sombong (yang ini Adam mengatakanya berbisik) sehingga aku nggak bisa jadi temanya. Dan pasien itu sekarang menyesal," kekeh dokter Adan, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit candaan yang mungkin garing, tetapi setidaknya biasa menjadikan isi ruangan lebih hangat.


"Anda terlalu PD (percaya diri) Tuan Dokter." desis Rania dengan senyum mengejek.


"Anda salah Nona Rania. Kadang ada banyak seseorang yang memiliki masalah batin, ingin bercerita tetapi ia bingung mau bercerita pada siapa. Pada keluarganya mereka tidak mungkin, kenapa? ada sebagian yang merasa apabila bercerita pada keluarga bukanlah solusi yang tepat. Sehingga mereka lebih baik memendam kisah itu. Yang tanpa disadari kisah itu lah yang menghambat kesembuhanya. Banyak ko pasien saya yang justru mereka lebih terbuka dengan saya dari pada keluarganya. Entah berapa banyak cerita yang saya dengar dari kisah-kisah mereka. Bagi saya sepele hanya mendengarkan dan mengerti perasaan mereka. Tetapi asal Anda tau Nona, hal sepele itu bagi para pasien sudah masuk perbuatan yang mendorong dia untuk sembuah. 99% mereka yang bercerita dengan saya merasa lega dan tenang setelahnya. Karena mereka akhirnya bisa mengeluarkan semua unek-uneknya tanpa takut rahasinya terbongkar. Sedangkan apabila mereka cerita dengan keluarga atau pun teman bahkan sahabat bisa sajah rahasia mereka akan bocor." Dokter Adam melakuka pendekatan dengan Rania, dengan cara yang sangat halus sehingga Rania tanpa sadar akan menerima nasihat-nasihatnya tanpa merasa diikut campuri masalah pribadinya.


Dokter Adam berharap Rania sendirilah yang mendekat padanya, dan menceritakan kehidupanya yang rumit. Sebab Adam yakin Rania di dalam hatinya hampa, ingin memeiliki teman untuk membagi kisahnya. Teman yang bisa mengerti dan mendengarkan kisahnya. Orang seperti Rania hanya butuh pengertian dan pendekatan tanpa memaksa, karena semakin dipaksa dan disalahkan justru ia akan semakin ingin menunjukan bahwa ia juga benar.


Rania merenungi setiap omongan Adam, "Benar juga kata Adam, apabila kita bercerita dengan orang yang mengenal kita, maka cerita kita akan selalu mereka ingat, tetapi apabila bercerita dengan orang yang tidak dikenal rahasia kita bisa aman, karena belum tentu ketika kita ketemu lagi dengan orang itu mereka bisa mengenali kita, apalagi ingat cerita kita, sehingga rahasia kita bisa aman," batin Rania membenarkan omongan Adam.


"Lalu mereka yang sudah bercerita pada Adan, kebanyakan cerita apa?" tanya Rania mulai kepo dengan kisah-kisah pasien Adam.


Rania tertawa mulai nyaman dengan gaya pendekatan Adam. "Berati Anda sangat baik Dok, sampai banyak disukai dengan pasien-pasien Anda, berati Anda bintang diantar para dokter disini," ucap Rania memuji kepedulian Adam.


"Oh, tentu itu benar!! Sehingga kalo saya tidak tugas banyak pasien yang sedih, termasuk Anda Nona. Sebentar lagi Anda terdaftar menjadi pasien saya, jadi saya bisa menerawang bahwa Anda akan sangat nyaman dengan saya dan selalu mencari-cari saya untuk curhat," kelakar Adam dengan gaya kesombonganya.


"Oh yah, Anda yakin banget bahwa saya akan menjadi teman Anda, gimana kalo saya menolak menjadi teman Anda," papar Rania masih malu-malu untuk mengakui bahwa Rania juga tertarik dengan menjadi teman Adam.


"Ya, kalo nggak mau jadi teman, kalo Anda mau, mendaftar jadi pacar atau calon istri juga boleh. Kebetulan tiga hari yang lalu tunangan saya meninggalkan saya padahal penikahan kami akan dilaksanakan rencananya tiga bulan lagi. Jadi kalo mau melamar jadi calon istri nanti diperhitungkan," kelakar Adam. "Loh ko jadi aku yang curhat, (Adam menutup mulutnya dengan telapak tanganya) maaf Nona suka kebablasan juga nih mulut pengin curhat, soalnya masalah itu beberapa hari ini mengganggu pikiran saya," lirih Adam.


Hahahaha...


Rania tertawa lebar seolah benar-benar terhibur oleh lelucon Adam, tanpa Rania tau itu adalah kisah nyata percintaanya yang sangat memprihatinkan. Seorang dokter Adam yang tampan, dan taat beribadah, sayang anak-anak dan pasien tapi ditinggal kabur tunanganya. Huhu sedih...


"Pantas sajah Anda disukai anak-anak, kisah asmara Anda lucu," ejek Rania.


"Wah... wah... wah... hati-hati Nona nanti kesemsem sama dokter Adam, banyak yang patah hati karena cintanya ditolak.".Adam tak henti-hentinya melontarkan candaan yang garing.


"Hahah kenapa Anda menolaknya, seharusnya menerima biar bisa segera mendapatkan pengganti tunangan Anda," usul Rania sembari masih terkekeh samar.


"Gimana mau menerima, yang mengatakan cinta anak-anak yang masih dibawah umur, sepuluh tahun bahkan ada yang masih delapan tahun, pedofil dong saya kalo menerima mereka. Sekalinya udah boleh dipacari yang melamar saya janda dan nenek-nenek....(Omongan Adam terpolong oleh Rania)


"Hahahaha udah-udah Dok, jangan cerita lagi perut Saya sakit tertawa terus," Rania terpingkal-pingkal mendengar candaan Adam...


"Tertawalah bersama saya Rania, jangan dengan suami orang, karena itu hanya tawa sesaat, dibalik tawamu ada tangisan dari orang yang kamu sakiti," batin Adam sembari tersenyum kecut...


Bahkan asisten rumah tangga yang Naqi tugaskan untuk menemani Rania ikut tertawa, dan memuji dokter Adam, sebab selama Rania dinyatakan sakit baru kali ini majikanya tertawa sebahagia ini.


#Ya ampun dokter Adam baik banget sih, rumahnya di mana biar othor melamar jadi calon bini....