
Setiap malam Cyra selalu tidur sendiri sudah dua malam Naqi tidak pulang, ponselnya pun masih tidak aktif dan lagi orang-orang suruhan kakek belum ada yang menemukan Naqi di mana keberadaanya.
Malam ini Cyra kembali terbangun, tetapi bukan karena angin yang masuk dari jendela yang belum di tutup atau tubuhnya yang kedinginan karena tidak mengenakan selimut. Ia sudah menutup jendela dan mengenakan selimutnya. Namun ia bangun karena dirinya yang bermimpi bersama Naqi.
Cyra terbangun. Ia melihat ketempat Naqi biasa tidur masih kosong.
"Ya Tuhan, kenapa aku mimpi seperti itu. Aku mimpi Mas Naqi meninggalkan aku. Apa itu tandanya memang aku akan berpisah dengan Mas Naqi." Cyra mengusap bantal yang biasa Naqi gunakan.
"Aku nggak tau Mas dengan perasaan ini, yang aku tau, aku marah, kecewa, benci, tapi aku juga sayang sama kamu. Apa yang bisa aku lakukan tanpa kamu? Kamu orang pertama, yang memberi arti kebebasan, arti bahagia, arti kasih sayang. Kamu mengajarkan aku untuk mandiri, untuk bekerja sampai berhasil. Sekarang aku sudah berhasil lalu kamu akan pergi. Tapi rasanya itu sangat berat Mas. Katakan Mas kalo kamu di sana juga memikirkan aku. Kamu juga sama di sana mendoakan untuk hubungan kita. Tapi aku juga tidak sanggup kalo terus di samping kamu, sedangkan hati kamu untuk wanita lain. Aku tidak bisa." Cyra tidak tau dia sanggup tidak apabila mendengar keputusan Naqi,.di mana nanti Naqi memilih Rania dari pada dirinya.
Dari pukul dua Cyra tidak bisa memejamkan matanya lagi, sampai pagi menyapa. Kini ia sangat pendiam bahkan kalo sudah pulang kerja ia tidak ikut makan malam, dengan alasan sudah makan. Ketika sarapan Cyra lebih banyak diam. Bahkan dari semalam ia sudah memikirkan apabila Naqi tidak pulang-pulang juga ia akan pindah ke rumah Meta, lalu ia akan membeli hunian sendiri. Ia tidak enak apabila harus terus menumpang di kediaman Tuan Latif yang mewah sementara setatusnya menggantung dengan Naqi.
"Sayang apa kamu belum mendengar kabar dari Naqi?" tanya Mamih pada Cyra yang saat itu baru turun dari kamarnya.
"Belum Mih," jawab Cyra singkat dan tidak ada obrolan lagi. Yah sarapan kali ini hanya ada kebisuan dan lagi mereka sibuk dengan fikiranya masing-masing.
Qari pun, ia menjadi ikut pendiam, ia merasa sangat pusing dengan urusan kantor, belum ketika pulang orang-orang rumah pada dingin dan tidak ada lagi canda tawa yang bisa mengobati setresnya. Dia sangat cape dengan rutinitas ini. Rasa ia ingin menikah saja. Bahkan andai Al mau dia akan mengajaknya kawin lari, pasalnya Qari sudah berulang kali meminta kakenya untuk melamar Alzam tapi kakek selalu beralasan ini itu dan yang lainnya.
Sementara akhir-akhir ini Al dekat dengan Mirna hal itu membuat Qari makin panas hatinya. Pengin rasanya mengajak Mirna untuk duel di ring tinju.
"Mih, Kek, Cyra berangkat dulu yah." Cyra lebih dulu pamit dengan yang lainya. Padahal makananya masih utuh, mungkin hanya dia aduk-aduk saja.
Kakek dan Mamih pun hanya mengangguk. Sementara Qari yang melihat Cyra hampir keluar dari rumahnya pun baru sadar bahwa ia akan berbicara sesuatu dengan kaka Ipar bocilnya.
"Cyra tunggu!! pekik Qari yang ia langsung lari tanpa berpamitan pada kakek karena ia pikir kakek sama mamihnya udah pergi. Hal itu karena di meja makan sangat sepi, sehingga ia tidak sadar bahwa tetuanya masih menikmati sarapan yang rasanya sangat hambar.
Cyra pun seketika itu langsung menghentika langkah kakinya lalu menoleh ke arah Qari.
Qari mendekat dan meminta agar Cyra berangkat denganya. Cyra hanya pasrah saja, toh lumayan juga kan dapat tumpangan dari Nona Qari.
Di dalam mobil Qari...
"Apa Kakek atau Mamih yang meminta kamu untuk menanyakan hal itu pada aku?" tanya Cyra dengan penuh selidik.
"Tidak!! Tidak sama sekali, Kakek maupun Mamih sejak kemarin memang penasran dengan apa yang terjadi di antara kalian, tapi mereka tidak mengguakan aku untuk mencari apa yang terjadi. Aku yang penasaran apa yang membuat Abang tidak pulang ke rumah." Yah, memang itu semua bukan perintah dari tertua, semua yang Qari lakuin karena ia sangat peduli dengan rumah tangga Abangnya dan Cyra.
Qari menilai bahwa selama ini rumah tangga mereka baik-baik saja tapi kenapa tiba-tiba ada badai besar dan awan gelap gulita mewarnai perjalanan rumah tangga itu.
Bagaimana doa Qari yang pernah berdoa ingin memiliki rumah tangga yang harmonis seperti rumah tangga kakanya. Namun kali ini ia menarik kembali doanya.
Cyra nampak diam sejenak.
"Aku sendiri pun tidak tau apa yang terjadi Qari, bahkan aku mengira bahwa pernikahan kami adalah pernikahan yang bahagia, sangat bahagia. Malam itu pun kami masih sangat-sangat bahagia. Sampai sebuah telepon dari nomor asing masuk. Aku tidak menyangka malam kejutan yang Mas Naqi berikan, sedetik kemudian berubah menjadi malam yang paling buruk dan menghancurkan semuanya." Cyra menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
Dia terlalu sakit untuk mengingat kejadian malam itu.
"Apa orang dibalik nomor asing itu adalah nenek lampir alias si Rania?" tanya Qari yang sejak yadi bahkan ia sudah memalkirkan mobilnya di tepi jalan. Hal itu ia lakukan karena ingin lebih fokus mendengar cerita dari bibir mungil Cyra.
Cyra mengangguk bahkan telapak tanganya masih menutup kuat di wajahnya, ia terlalu sakit mengingatnya. Ia juga tidak ingin terlihat lemah dengan menangis dan menangis manakala mengingat kejadian buruk itu.
Qari mengepalkan tanganya. "Sudah aku duga pasti kerjaan nenek lampir, heran deh dia itu senang banget mengganggu rumah tangga orang. Dasar yah pelakor sekarang makin bertebaran saja," sungut Qari.
Qari yang dari dulu tidak suka dengan Rania, menambah kadar kebencianya.
"Kakak Ipar, sudah nggak usah ditangisi lagi tuh laki-laki labil. Kamu fokus saja dengan masa depanmu. Semua urusan Abangku, pasti Kakek sudah merencanakan sesuatu." Qari mengusap pundak Cyra yang masih menunduk.
Selanjutnya Qari kembali melajukan mobilnya ke tempat kerja Cyra. Lalu ia akan kembali bekerja. Setelah tau apa permasalahan di keluarga Abangnya Qari pun akan mencoba membantu untuk mencari solusi yang terbaik.
Walaupun Cyra hanya kaka angkat dan juga umur mereka yang jauh berbeda, tetapi Qari sudah sangat sayang dengan Cyra sehingga ia tidak rela apabila kaka iparnya disakiti juga walaupun yang menyakiti adalah kakak kandungnya.