
Begitu Naqi membuka pintu, dan menutup kembali ia hendak berjalan meninggalkan kamar rawat Rania.
Prok....
Prok...
Prok...
(Suara tepuk tangan dari Adam...)
Naqi seketika menghentikan langkahnya dan menoleh kesumber suara...
"Ternyata begini kelakuan pewaris tunggal keluarga Ralf? Tega menduakan istri demi wanita lain? Rendahan sekali cara Anda Tuan?" Adam mendekat ke arah Naqi yang kaget dengan keberadaanya. (Sebelumnya Adam mencari tahu siapa itu Naqi, sehingga Adam pun kaget ketika mengetahui bahwa Naqi adalah orang terpandang dan tersohor, tapi sayang kelakuanya jauh dari pikiran orang diluaran sana)
"Jaga mulu Anda dokter Adam! Anda tidak tau apa-apa. Jangan sok tau dan ikut campur urusan orang lain!" balas Naqi dengan geram dan setengah berbisik dengan mengeratkan giginya sehingga menimbulkan suara gemelutuk. Andai ini bukan di dalam rumah sakit pasti Naqi sudah melayangkan tinjuan.
"Saya tidak mau ikut campur urusan Anda, dan saya juga tidak peduli dengan kehidupan Anda! Saya hanya peduli dengan nasib wanita-wanita Anda. Selingkuh itu mudah yang susah itu setia, Tuan. Kenapa Anda sebagai orang pandai memilih yang mudah dilakukan? Kalo saya akan mengambil yang susah, tantanganya lebih berasa!" bisik dokter Adam, bukanya dia takut dengan kemarahan Naqi yang makin menyalang, justru seolah dokter Adam malah menantangnya.
"Itu bukan urusan Anda, mau selingkuh atau setia itu hidup saya. Lagian istri dan kekasihku tidak keberatan dengan semua keputusan saya," bela Naqi tidak mau terima ucapan Adam.
"Bukanya kekasih Anda selalu tidak suka dengan istri Anda? Itu tandanya dia keberatan! Dan lagi, istri Anda bukan tidak keberatan dengan pelakuan Anda, tapi dia sudah malas dengan sikap Anda itu tandanya, dia tidak peduli dengan nasib Anda. Anda bos besar Bung, pake akal Anda, JANGAN BODOH, masa mau kalah sama NAFSU!!!!" Adam berlalu meninggalkan Naqi yang selalu tidak mau di nasehati. Percuma!!!
Naqi pun semakin kesal dengan ucapan Adam. " Sialan dokter itu, sok ikut campur urusan gue!!" Naqi pun ikut meninggalkan lorong rumah sakit. Kepalanya semakin terasa mau meledak. Ditambah dengan ocehan Adam yang nggak bermutu, makin menjadi sakitnya.
Naqi memasuki mobilnya dan menutup pintu mobik mewah itu dengan kasar, bahkan andai pintu mobil bisa berkata. Ia akan menjerit kesakitan, dan untung sajah pintunya tidak patah karena ulah Naqi.
"Siap dia berani-beraninya menasihati aku," gerutu Naqi sepanjang perjalanan ia selalu sajah mengumpat apa sajah yang membuatnya kesal. Padahal biasanya Naqi akan lebih sabar menghadapi setiap masalah, tetapi kali ini ia lebih sensitif, seperti wanita yang lagi datang bulan. Karena mengemudi dengan kecepatan yang tidak wajar akhirnya Naqi sampai rumah lebih cepat dari biasanya. Bertepatan Naqi yang baru pulang, ternyata Cyra juga tidak lama menyusul dibilakangnya. Naqi keluar mobil sembari memijat pelipisnya. Sakit kepalanya menjadi-jadi.
Cyra tidak lama pun turun dibelakang Naqi, Cyra masih enggan berbicara sama suaminya, sehingga ia memilih menunduk dan menunggu Naqi duluan untuk masuk. Namun sayang Naqi lebih dulu melihat Cyra sehingga Naqi lebih dulu menyapanya.
"Ra, kamu baru pulang?" tanya Naqi, sembari meringis menahan sakit kepalanya.
"U... udah Mas," jawab Cyra singkat dan terbata.
Naqi hendak melangkah, tetapi kepalanya justru semakin berdenyut. " Aduh kenapa malah makin sakit begini sih!" runtuk Naqi yang merasa lemah di depan Cyra, ia tidak ingin terlihat lemah.
"Mas Naqi kenapa?" tanya Cyra dengan cemas ketika melihat Naqi yang seperti menahan sakit dan hendak terjatuh.
"K... kepalaku sakit Ra, tiba-tiba sajah sakit banget," jawab Naqi dengan lemah.
"Ya udah ayo Cyra tuntun biar nggak jatuh." Cyra membantu Naqi memapahnya sampai ke kamar. Di rumah terlihat sepi biasanya kakek dan mamih ada di ruang tamu atau keluarga tetapi kali ini kosong.
Cyra merebahkan badan Naqi yang berat itu di ranjang dengan sangat hati-hati. Naqi langsung memijat pelipisnya yang terus berdenyut.
"Mas, aku panggil dokter Sam yah? Mungkin ini efek semalam Mas kurang tidur."
Naqi mengangguk dengan lemah, dan memejamkan matanya. " Mungkin benar kata Cyra aku kurang tidur sehingga badanku drop," gumam Naqi.
"Mas bajunya di ganti dulu yah biar nggak gerah," ucap Cyra sembari membawa baju ganti yang lebih santai.
Naqi lagi-lagi menurut bak anak kecil, ikut sajah apa kata orang tuanya.
Cyra dengan telaten membukakan kemeja suaminya dan menggantinya dengan kaus oblong yang lebih nyaman.
"Makasih yah Ra," ucap Naqi lirih ketika Cyra hendak merapikan pakaian kotor suaminya keranjang pakaian.
Cyra lalu menghubungi dokter Sam agar segera memeriksa Naqi. Setelahnya Cyra turun ke bawah hendak membuatkan sup jahe agar bada suaminya hangat.
"Sore Mih," sapa Cyra ketika melihat mamih baru keluar dari kamarnya,
"Sore, kamu udah pulang sayang, kapan kamu pulangnya?" tanya Mamih, terlihat kaget karena mengira menantunya belum pulang.
"Udah Mih, baru ajah. Kakek kemana Mih, kayaknya sepi." ujar Cyra sembari mengedarkan pandanganya mencari sosok kakeknya.
"Oh biasa masih kerja, kakek kalo di rumah kan lebih banyak di ruangan kerjanya," balas Mamih dengan melitik ruangan kerja kakek.
"Mih, Mas Naqi lagi sakit, di kamar sekarang lagi istirahat," ujar Cyra memberi tahu mertuanya, bahwa anaknya tengah sakit.
"Hah Naqi sakit! Sakit apa?" tanya Mamih dengan panik.
"Tadi ngeluh kepalanya yang sakit Mih," jawab Cyra.
"Kamu buruan panggil Sam!" Mamih langsung melesat ke kamar Naqi guna melihat putranya.
Cyra pun melanjutkan ke dapur.
****
Mamih membuka pintu kamar dengan perlahan, dilihatnya Naqi yang tengah tertidur pulas. Mamih pun kembali menghampiri menantunya.
"Ko cepet Mih?" tanya Cyra yang melihat mamih udah turun lagi dan tengah menghampiri dirinya di dapur.
"Naqi lagi tidur," ucap Mamih singkat.
"Mungkin Mas Naqi sakit, karena kecapean semalam nggak tidur kali Mam, ditambah kerja seharian jadi badan drop," ucap Cyra, sembari tangan-tanganya dengan cekatan tetap memotong sayuran dan menyiapkan semua keperluan untuk memasak.
"Iya paling begitu," balas Mamih masih memperhatika Cyra yang asik mengolah bahan makanan untuk Naqi.
Ditengah kesibukan Cyra, Sam pun datang.
"Sore Tan, Ra, katanya Naqi sakit Tan?" Sam menyapa Mamih dan Cyra yang sedang asik di dapur.
"Iya dok, yuk Cyra antar ke kamar, tadi sih kata Mamih, Mas Naqi lagi istirahat," ucap Cyra dengan ramah. Kebetulan pas Sam datang kerjaan Cyra sudah selesai.
"Bisa sakit juga ternyata dia," kelakar Sam.
"Bisa atuh dok, namanya juga manusia," balas Cyra dengan tertawa renyah.
Cyra membuka pintu kamar dengan sangat pelan, benar sajah Naqi masih tidur dengan nyenyak.
"Mas... Mas. Dokter Sam sudah datang, diperiksa dulu yuk!" Cyra dengan sabar membangunkan Naqi.
Hemz...
Naqi mengrejapkan matanya dan melihat sekeliling, tetapi rasa sakit di kepalanya semakin berdenyut dan terasa semakin kuat sajah....
#Nah loh, sakit apa kamu ayang Naqi....