
Pagi hari sudah menjelang, bahkan sinar matahari mulai menghangatkan bumi. Qari mulai menggeliatkan tubuhnya, "Ah... Aw... pekik Qari ketika tubuhnya menggeliat dan berasa tulang belulangnya lepas semua dari persendianya. Dia coba mengingat apa yang kiranya terjadi dan juga apa yang membuat badan dia sakit sekujur tubuh. Tangannya diangkat meskipun sedikit ngilu di persendianya. Wajahnya meringis menahan rasa sakit itu ia memijit kepala yang berdenyut tidak karuan. Ingatanya terus di putar ke belakang mungkin saja dia mengingat sesuatu.
"Apa aku habis kecelakaan atau habis jatuh dari gedung?" batin Qari, keninganya berkerut, karena otaknya seolah tercuci bersih, sehingga gadis yang masih polos tampa busana di bawah selimut tebal dan terbaring miring di tempat tidur pun tidak ingat apa-apa yang terjadi dengan dirinya.
Qari terus mencoba mengingat apa yang sekiraanya terjadi, dan mengakibatkan tubuhnya nyeri disekujur tubuhnya. Terutama bagian pangkal pahanya. Kepalanya di peras dengan sekuat tenaga agar bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tetap sajah dia tidak bisa mengingatnya. Ia mencoba mengingat lagi, dan yang terakhir dia ingatĀ hanyalah tubuhnya yang terasa panas, gerah dan rasa aneh yang mengakibatkan dia menggedot pintu kamar mandi. Tubuhnya kembali meremang ketika ia mencoba mengingat ingat sekiranya apa yang terjadi selanjutnya. Tubuh meremangnya bukan tanda bahwa gadis itu ingin penyatuan lagi, tetapi karena Qari takut apabila hal buruk terjadi dengan dirinya di kamar mandi sana, di mana dia juga ingat bahwa Deon tengah ada di kamar mandi yang sama.
Selimut tebal Qari simbakkan dan, matanya langsung panas seketika ketika dia melihat tubuhnya di balik selimut tebal itu polos tanpa busana. Dia memang tidak mengingat apa yang terjadi, tetapi Qari tahu bahwa hal buruk baru saja terjadi pada hidupnya.
"Deon... ba-jing-an kamu!" Qari menjerit ingin menghajar laki-laki yang menjadi calon tersangka satu-satunya. Yah, meskipun ingatan Qari seolah buntu dan tidak bisa mengingat lagi setelah tubuh panas yang ia rasakan malam tadi, tetapi dia bukan anak kemarin sore yang tidak tahu arti tubuh telanjangnya, serta tanda merah di beberapa tubuh mulusnya. Serta yang bikin Qari yakin Deon sudah mengambil keperawanya adalah rasa nyeri di bagian sensitifnya, dan juga badan yang pada pegal semua.
Qari mengedarkan pandanganya menjelajahi setiap sudut ruangan, mungkin saja laki-laki durjana itu masih ada di ruangan ini, tetapi Qari tidak melihat ada tanda-tanda bahwa Deon masih berada disekitar dia. Pendengaranya pun ia tajamkan mungkin saja bisa menangkap suara dari kamar mandi atau mana pun yang menandakan masih ada Deon tengah bersembunyi. Namun, lagi-lagi semuanya gagal tidak ada tanda-tanda Deon masih ada di apartemen ini. "Kabur yah pasti Deon udah kabur," batin Qari sembari mengeratkan gigi-giginya sebagai tanda kemarahanya.
"Aku akan buat perhitungan buat kamu Deon!!!" geram Qari di dalam batinya, dia akan mencari Deon sampai ketemu dan akan membuat laki-laki itu menyesal telah mempermainkan hidupnya. Qari tidak akan membiarkan Deon bisa menghirup nafas dengan bebas.
Dada Qari sekarang diisi dengan kebencian, hidupnya sudah hancur karena papihnya, sekarang hidupnya semakin hancur oleh laki-laki yang baru beberapa kali bertemu itu. Kalau Deon menganggap Qari adalah cewek lemah yang bisa ia mainkan begitu saja mungkin Deon belum tahu, bahwa Qari adalah sosok pendendam yang sangat sempurna. Meskipun mamihnya tidak pernah suka apabila anaknya memiliki dendam, tetapi Qari berjanji Deon tidak pernah akan lolos hidupnya. Bahkan nyawa dia sendiri pun akan dia taruhkan untuk membalas dendam pada Deon.
Kepalanya semakin berdenyut hal itu karena Qari yang juga semakin berusaha untuk mengingat sesuatu, tetapi Qari tahu bahwa Deon telah menjebaknya. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa Qari berusaha bangun dari ranjang empuk itu dan membelit tubuh polosnya dengan selimut.
Kamar mandi adalah tujuan utama Qari, dia akan menbersikan jejak-jejak predator itu. Qari tidak sudi tubuhnya masih ada jejak laki-laki ba-ji-ngan itu. Bekas kemerahan yang berada dibeberapa titik di tubuhnya tanpa terkecuali di bagian bukit yang kembar nan menawan miliknya. Tandan menjijihkan itu bertengger dengan angkuhnya, seolah tengah menertawakan Qari yang terus sesegukan mencoba mengingat apa yang semalam terjadi. Pakaianya bahkan berserakan di kamar mandi dengan kondisi basah kuyup.
Tangan Qari terus menggosok tanda kepemilikan yang Deon tinggalkan hingga terasa semakin perih. Wanita itu terus menggosok tanpa sadar dan dengan kemarahan di dadanya. Dia seharus sudah tahu bahwa aksinya justru menambah tanda itu semakin lebar, tetapi karena kemaran sehingga otaknya tidak ia gunakan. Ia baru sadar setelah dadanya semakin perih dan ternyata tanda kepemilikan tadi kini menjadi luka yang sudah mengeluarkan darah segar.
Cukup lama Qari di kamar mandi bakan mungkin lebih dari dua jam. Dia menggosok tanda-tanda menjijihkan itu, hingga merah semakin lebar. Tubuh polosnya terbungkus handung berwana putih, sebenarnya Qari tidak sudi memakai barang-barang laki-laki itu, tetapi karena tidak ada lagi pakaian yang harus ia kenakan sehingga Qari terpaksa membuka lemari milik Deon. Pakaian Deon Qari keluarkan semua sehingga kamar ini tak ubahnya seperti kapal pecah. Bahkan selimut yang ia kenakan untuk membungkus dirinya ia basahi di dalam toilet dan dibiarkan begitu saja.
Satu kemeja yang cukup besar Qari ambil dan celana santai yang terlihat kedodoran bagi dirinya. Masa bodo toh ia akan memakainya hanya beberapa menit setelah ia membeli pakaian ia akan membuang pakaian mahal Deon ke tempat sampai kalo perlu membakarnya.
Mata Qari tertuju pada sebuah kertas yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Bokongnya di letakan di atas tempat tidur. Tangan yang setengah keriput karena terlalu lama terkena air dan juga gerakan tangan yang gemetaran karena kelaparan.
Sepucuk surat yang kemungkinan di tujukan untuk dirinya dan pasti itu tulisan Deon.
"Selamat pagi Baby, terima kasih buat malam indahnya kamu memang wanita luar biasa. Permainanmu sungguh liar, sampai-sampai kamu mampu mengalahkan puluhan wanita yang telah aku nikmati. Permainan kamu nomor satu. (Emot tertawa) dan yang membuat aku semakin puas ternyata kamu masih perawan. Kamu adalah wanita perawan satu-satunya yang pernah aku nikmati. Sebagai imbalan dari permainan kamu yang luar biasa. Aku sisakan kartu tanpa limit buat kamu. Kamu boleh gunakan kartu itu untuk memiskinkan aku dan mungkin kemarahan di dalam dadamu akan hilang dengan tumpukan hartaku yang kamu ambil. (Emot tertawa lagi) Oh iya Baby, karena permainan kamu yang sangat luar biasa aku sempat merekamnya, dan hasil rekaman aku sudah kirimkan ke ponsel kamu. Mungkin kamu akan menyukainya. (Emot tertawa meledek) Aku akan putar vidio itu ketika rindu dengan belaianmu. Baby, aku berharap nantinya kamu adalah wanita satu-satunya yang bisa memuaskan kamu. Aku membayangkan hal itu terjadi dan kamu merengek-rengek meminta terus untuk aku puaskan seperti semalam. Baby, I Love u.
Qari langsungng meremas surat menjijihkan itu. Dia tahu bahwa Deon tengah mengancamnya dan berusah menekanya. "Be-reng-s*k kamu Deon, apa salahku sehingga kamu buat hidupku hancur," jerit Qari sembari tanganya mengkoyak-koyak kertas sialan itu.
Qari ingin membuka ponselnya tetapi dia tidak kuat melihat permainanya sendiri sehingga ia memutuskan pergi dari kamar itu dan meninggalkan kartu sakti milik Deon.
Sebelum benar-benar keluar Qari tentu lebih dulu mengacak-acak kamar laki-laki bajing an itu. Parfum mahal Qari hancurkan semua yang bisa Qari hancurkan sudah ia lakukan. Kamar mandi pun dia masuki lagi dan barang-barang Qari buang.
"Apa aku juga harus membakar apartemen sialaian ini," denguas Qari, seprai bantal sudah berserakan wanita itu acak-acak.
Bahkan ruangan tamu, dapur, ruang makan tidak luput dari kemarahan wanita itu. Dia tahu aksinya hanya di tertawakan Deon dan membuatnya semakin lelah saja tetapi hanya itu yang bisa membuat Qari sedikit puas. Namun Dendamnya sama Deon akan terus ia simpan dengan rapih. Hingga dia bisa membuat laki-laki itu hidup menderita.
#Mohon maaf readers kesayangan, othor up 1 bab lagi, ternyata dari pagi mati lampu jadi kerjaan semua tertundaš