
"Gimana dokter, apa saya sudah boleh pulang?" tanya Naqi begitu dokter selesai memeriksa luka di punggungnya.
"Sebenarnya saran saya, lebih baik Anda di rawat lagi sampai dua atau tiga hari kedepan sampai luka Anda benar-benar sembuh," ucap dokter, tidak langsung menerima permintaan Naqi untuk diizinkan pulang dan melakukan perawatan di rumah saja. Sedangkan Naqi sudah tidak betah di rumah sakit, di mana bau obat dan lingkungan yang menurut Naqi sangat horor, itu alasan Naqi selalu merengek agar diizinkan untuk pulang. Bukankan baik di rumah maupun di rumah sakit sama saja yang terpenting ia istirahat dan tidak melakukan pantrangan yang dokter berikan agar lukanya cepat kering.
Dua hari di rumah sakit saja sudah membuat mood Naqi sangat buruk, bagai mana kalo sampai ia menambah sampai tiga hari untuk menjalani rawat inap di rumah sakit itu lagi. Bukanya memang seperti itu tugas dokter merawat sampai benar-benar sembuh lalu baru mengizinkan pasien untuk pulang setelah sakit pasien, sangat besar kemungkinan untuk sembuh. Namun Naqi sebagai pasien tidak memperdulikan hal itu yang terpenting ia bisa diizinkan untuk pulang, dan melakukan rawat jalan, demi moodnya agar tetap bagus.
"Dok ayo lah Dok, izinkan saya pulang, saya sudah tidak kerasan banget di rumah sakit, tidak enak banget dok tinggal di rumah sakit itu," protes Naqi, ia tidak kehilangan akal, terus merayu sampai dokter mengizinkan dirinya istirahat di rumah.
Sementara Cyra hanya berdiri di belakang sang dokter, memperhatikan bagai mana usaha Naqi merayu dokter. Cyra rasa tidak perlu ia ikut-ikutan usaha membantu Naqi agar segera pulang.
Dokter yang barusan memeriksa Naqi tidak langsung menjawab, tetapi memeriksa ulang luka Naqi dan memastikan apakah bisa apabila di lakukan rawat jalan sesuai yang Naqi minta. "E... gini saja deh Pak, saya izinkan Anda pulang, tapi dengan syarat bapak harus istirahat dengan total, tidak boleh banyak gerak, tidak boleh terkena air dulu lukanya, tidak boleh bekerja terlalu cape dan masih banyak panterangan yang lainya, yang bapak harus patuhi. Apa bapak sanggup?" tanya dokter dengan nada tegas, memastikan apakah Naqi ingin sembuh atau tidak.
"Baik Dok, saya pasti akan mematuhi apa yang Anda katakan," jawab Naqi apa salahnya ia bersikap manis di depan dokter, tujuanya tidak lain agar dokter mengizinkan dirinya pulang.
Dokter tampak mengerak-gerakan kepalanya naik turun sebagai tanda bahwa jawaban dari Naqi cukup memuaskan, sehingga dokter tidak perlu takut, karena itu tandanya Naqi mau berusaha untuk sembuh. "Baiklah setelah nanti mengurus adminiterasi dan semua urusan rumah sakit selesai, nanti akan ada suster yang datang untuk mecabut peralatan medis yang menempel ditubuh Anda, Tuan Naqi. Tapi ingat Anda benar-benar mematuhi semua pantrangan yang saya berikan yah," ucap Dokter sebelum meninggalkan ruangan Naqi.
Naqi mengangguk sebagai jawaban dari dokter. Dan senyum kemenangan pun terpancar dari wajah Naqi. Naqi melempar pandanganya ke arah Cyra yang masih setia berdiri di belakang dokter.
"Nona, Anda ikut saya yah, biar saya jelaskan kondisi sodara Anda, dan cara merawatnya nanti ketika di rumah," ujar sang dokter. Yah, Cyra memang mengaku bahwa Naqi adalah sodaranya, toh memang kenyataanya dirinya dan Naqi masih memiliki ikatan darah walaupun tergolong sodara jauh.
"Baik dokter," balas Cyra sembari menunduk sebagai tanda bahwa Cyra menghormati orang yang sedang berbicara dengan dirinya.
Cyra pun setelah pamit dengan Naqi mengikuti sang dokter, untuk mendengarkan arahan yang akan dokter katanya. Meskipun nanti ketika di rumah bukan Cyra lagi yang merawat Naqi, melainkan asisten rumah tangga yang akan menjaga Naqi, dan Cyra akan kembali ke aktifitasnya.
Cyra duduk di kursi depan dokter, setelah sang dokter meminta Cyra untuk duduk. "Jadi gini Nona, sebenarnya melihat luka pasien yang masih basah sangat rentan untuk di rawat di rumah, tetapi karena pasien yang memaksa dan menerima resikonya jadi kami tidak bisa lagi untuk memaksa agar pasien tetap menjalani rawat inap di rumah sakit ini. Namun kami sangat berharap Anda bisa merawat pasien dengan sangat baik, terutama luka di punggungnya. Karena apabila salah penanganya lukanya akan semakin parah. Apa Anda tidak keberatan apabila harus merawat pasien di rumahnya?" tanya Dokter dengan nada yang tegas dan bisa dimengerti dengan baik.
Cyra nampak berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Dokter. "Tidak Dok, saya tidak keberatan," jawab Cyra dengan singkat dan tegas.
Cyra juga tidak sungkan bertanya apabila ada yang kurang paham.
"Bagai mana Nona apa ada pertanyaan lagi?" tanya sang dokter memastikan apakah Cyra sudah benar-benar paham apa masih ada kendala yang masih belum di mengerti.
"Sudah Dok, nanti apabila saya bingung, bolehkan saya menghubungi Anda?" tanya Cyra, yah walaupun pertanyaan itu hanya basa basi semata.
"Tentu Nona, dengan senang hati saya akan membantu Anda," jawab Dokter dengan ramah. Setelah Cyra rasa cukup pembahasan denga dokter, Cyra pun pamit, guna melanjutkan untuk mengurus segala biaya adminiterasi dan menebut obat-obatan untuk Naqi.
Kerekettt... Suara pintu ruangan rawat Naqi yang di buka oleh Cyra setelah mengurus semua biaya adminitrasi sampai menebus obat.
"Gimana Ra, aku sudah benar-benar boleh pulang kan?" cecar Naqi, begitu ia melihat Cyra masuk keruanganya.
Cyra nampak menunjukan wajah BTnya, "Mas Naqi itu kenapa sih, kenapa harus pengin pulang buru-buru? Luka Mas Naqi itu masih sangat basah dan rawan untuk di rawat di rumah, Cyra takut malah nanti luka Mas Naqi, parah lagi kaya luka Cyra dulu yang harus beberapa kali kembali mengeluarkan darah karena perawatan yang salah," oceh Cyra, sebenarnya Cyra lebih setuju dengan saran dokter agar Naqi di rawat lebih lama di rumah sakit, toh kalo sudah benar-benar sembuh ia bisa bebas melakukan kegiatan apapun. Dari pada harus berpura-pura baik padahal masih terasa sakit di punggungnya.
"Aku bosen banger Ra, ini pengalaman pertama aku harus jadi pasien di atas ranjang yang sangat menyeramkan ini." Naqi tidak berputus asa setelah tadi dia mengunakan jurus ibanya untuk merayu dokter, kali ia gunakan jurus yang sama untuk mendapatkan simpati dari Cyra, yang menurutnya Cyra lebih mengerikan dari seorang dokter sekali pun.
Cyra pun hanya mendengar alasan klise Naqi dengan jengah. "Kalo begitu bersiaplah, sebentar lagi kita pulang," ucap Cyra dengan nada memerintah.
...****************...
Teman-teman sembari nunggu kelanjutan kisah Naqi dan Cyra, mampir yuk ke novel karya bestie othor, ceritanya nggak kalah seru loh.
Kalian ketik ajah judulnya di laman pencarian karya kaka Muda Anna, jangan lupa bawa gift, like dan tinggalkan komen yah...