Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Terjebak Satu Tempat


Deon tak ayal bangun juga dari duduknya, manakala Qari yang tidak bisa diam menggebrag-gebrag pintu besi itu terus. Niatnya mau mengerjai gadis cengeng itu, tetapi malah sepertinya dia yang terkena karmanya lebih dulu. Kupingnya di buat bengkak oleh tingkah nyelenehnya gadis itu.


"Dasar gadis aneh," oceh Deon sembari berjalan ke arah pintu besi yang tertutup dengan rapih. Dan tentu ocehanya juga tidak didengar Qari, bisa perang dunia kalo dia dengar. Pintu itu tidak akan bisa di buka dengan tangan kosong hal itu karena dia yang meminta security untuk menguncinya dari dalam.


"Apa kamu tidak bisa diam, gadis bar-bar!" Teriak Deon, tetapi juga Deon mencoba berpura-pura membantu membuka pintu besi itu. Meskipun dia tahu bahwa pintu itu tidak bisa terbuka. "Kamu liatkan pintu itu susah buat di buka?" Deon, pura-pura mendorong pintu itu kuat. "Pintu itu terkunci dari dalam," imbuh Deon, lalu ia beranjak kembali ke tempat duduknya. Niatnya mengacuhkan Qari. Bagaimanapun caranya Qari harus masuk kedalam perangkapnya, itu yang ada dalam otak Deon. Namun laki-laki itu harus bersikap cool dan menjaga image sebab Qari yang memiliki kelakuan nyeleneh tidak suka liat laki-laki bar-bar juga, itu menurut orang-orang yang ia tugaskan untuk mengawasi Qari.


"Ini pasti loe yang ngelakuin, kan loe yang terakhir masuk," oceh Qari ia mengikuti laki-laki itu, tepa di belakangnya dengan kaki di hentak-hentakan seperti anak kecil yang sedang marah. Bagaimana kalo dia terjebak di sini dan Abangnya Naqi tahu kalo dia tidak masuk kerja. Bisa kena omel dia, belum kalo ngomong enggak ada tandinganya, pedesnya. Begitu pikiran Qari oleh sebab itu dia ingin buru-buru keluar dari tempat itu, dan kembali kekantornya.


Niatnya hanya pergi sebentar untuk menenangkan fikiranya saja yang sedang cemburu buta dengan Mirna dan Alzam, tapi malah terjebak di atap gedung ini. Mana dengan laki-laki angkuh sok kaya lagi.


Bruk... tubuh Qari yang hanya sebatas dagu laki-laki itu menabrak punggung laki-laki itu ketika ia tengah mengocek, mengumpat, menyalahkan pria itu, karena gara-gara dia, kini ia harus terkurung di sini entah sampai kapan lagi. Qari yang menunduk mengikuti laki-laki itu terus sajah berjalan hingga tanpa di duga ia menabrak Deon yang berhenti tiba-tiba. Sontak saja Qari yang tidak tahu langsung menabrak punggungnya.


Deon berbalik, Qari yang panik karena ternyata dia sudah sedekat itu dengan pria yang tadi ia asik maki-maki. Tidak ada bisa menghindar lagi ketika laki-laki itu maju dan Qari yang merasa posisinya tidak aman pun mundur.


Buuuggg... Qari mentok ke tembok. Tubuhnya seketika meremang ketika tangan laki-laki itu sebelah kanan di letakan diatas pundaknya dan sebelah kiri juga di letakan diatas pundak Qari. Gadis itu tidak bisa kabur terlebih posisi mereka yang enggak aman bahkan untuk bernafas sajah seolah oksigen tiba-tiba memusuhinya. Sehingga Qari merasakan sesak di dadanya, karena pasokan oksigen yang menipis.


Hidung Qari ternodai karena mencium parfum dari laki-laki itu yang berhasil membuainya. Parfum yang sangat wangi membuat Qari sulit berkonsentrasi. Jelas itu parfum mahal tidak sembarangan orang bisa membelinya bahkan harganya yang berpuluh-puluh juta karyawan seperti Qari akan berfikir ulang.


Qari memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar mesum," ucap laki-laki itu tetapi badanya malah semakin dihimpitkan, sampai Naqi seolah benar-benar tidak bisa bernafas.


"Si... siapa yang mesum," ucap Qari terbata, enggak terima dong, dia disangka mesum sementara sejak tadi saja yang membuatnya terhimpit ke dalam keadaan tidak menguntungkan seperti ini adalah dirinya. Kenapa jadi menuduh Qari yang mesum.


"Elo, loe kan membayangkan sesuatu sampai merem-merem dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang loe bayangkan dengan gue. Ciuman? Atau malah memandu kasih di atas kasur dk kamar hotel yang empuk dengan lampu remang-remang menjadi pencahayaan seadanya?" tanya Deon dengan nada menggoda.


"Dih, kepedean. Boro-boro membayangkan memandukasih dengan loe, berciuman juga ogah gue," balas Qari, nada ketus dan juteknya lebih banyak Qari tunjukan untuk pria yang mencoba menghimpit terus badannya. Fikiran Qari mencoba berfikir fokus. Entah minyak wangi apa yang Deon pakai sampai-sampai membuat Qari tidak fokus dengan apa yang akan diperbuatnya.


Qari mendorong tubuh yang bahkan pakaian mereka sudah menempel. Namun ternyata usaha Qari sia-sia tubuh laki-laki itu malah seolah tidak bergeser sedikit pun.


Qari memiringkan segera kepalanya agar telinganya menjauh dari bibir yang seolah sudah menyentuh daun telinganya itu. Deon menyeringai penuh makna melihat penolakan dari Qari. "Baiklah nona kecil, kita bermain-main dulu dengan hidupmu yang menyedihkan sepertinya sangat menyenangkan," gumam Deon dalam hatinya matanya tertuju dengan leher jenjang Qari yang mulus. Ia menelan salivanya, sebagai kode bahwa tubuhnya menginginkan tubuh wanita malang itu.


"Qari," jawab Qari jutek dan singkat, nadanya bicara Qari menandakan bahwa ia tidak menyukai kelakuan Deon.


"Hai, Qari perkenalkan namaku Deon. Nama kita kayaknya kalo di tulis di surat undangan pernikahan akan terlihat sangat serasi sekali, Deon dan Qari. Eh tapi ngomong-ngomong nama panjangnya siapa biar aku tahu jadi nanti kalo mau nulis di undangan atau ijab qabul aku sudah hafal," ujar Deon tentu hal itu hanya candaan semata mana mungkin Deon mau menikahi anak dari musuh terbesarnya.


Tujuanya bermain-main dengan Qari hanya satu, membuat wanita itu yang menginginkan kematianya sendiri. Sama seperti kakaknya yang mengakhiri hidupnya karena depresi gara-gara orang tua wanita yang ada dihadapanya sekarang, seperti anak kucing kampung yang tengah kedinginan, seperti itu Deon melihat Qari.


"Mimpi loe ketinggian, nama kita tidak akan di tulis di satu undangan pernikahan. Karena nama loe cocoknya di tulis di batu nisan," jawab Qari, benar-benar tidak ada sedikit pun ketakutan ditunjukan dari sikap Qari. Wanita itu seolah menantang dengan apa yang dilakukan Deon.


"Hahaha... gue suka ga loe Qari, sumpah loe tuh wanita idaman banget," ucap Deon, tentu ucapan itu hanya isapan jempol belaka, mana mau juga Deon menikahi Qari apa lagi dia adalah anak dari orang yang ingin dia bunuh nomor satu yang ada di dunia ini.


Namun Deon tidak memungkiri pesona Qari memang beda dari wanita-wanita yang pernah ditemuinya. Qari beda keperibadianya yang bar-bar apa adanya dan bukan pemuja pria-pria tampan dan kaya raya, sudah bisa mendapatkan penilaian plus dari Deon. Andai wanita lain yang terkurung dengan dirinya saat ini, pasti kata-katanya dibikin semanis mungkin. Setelah itu ia akan cari-cari perhatian, sampai Deon merasa mual dibuatnya.


"Tapi gue, enggak suka loe, titik," ucap Qari sembari mencoba mendorong dada Deon agar beranjak dari depanya, rasanya pengap sekali. Qari benar-benar tidak bisa berfikir dengan jernih gara-gara minyak wangi Deon yang membuatnya terhinotis. Rasanya Qari ingin bertanya minyak wangi apa yang dia pakai kenapa bisa seharum ini, dan membuat fokus fikiranya filang.


"Gila nih laki-laki makan batu apa, kenapa dadanya keras banget," ucap Qari, dalam batinya.


"Kalo nanti kamu yang suka duluan gimana?" goda Deon.


"Enggak mungkin, hal itu enggak mungkin terjadi, lagian gue udah punya cowok," jawab Qari dengan jutek.


"Oh... ya... ya... laki-laki yang buat loe nangis tersedu-sedu itu kan?" tanya Deon nadanya benar-benar mengejek.


Qari langsung menatap tajam ke arah Deon. "Loe, dengar tangisan gue, jadi loe hanya pura-pura menelepon tadi," ujap Qari semakin dibuat kesal oleh Deon, matanya menajam seiring kecewanya dengan laki-laki yang baru diketahui namanya itu.