Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kandang Gorila


Adam pun tersenyum mendengar jawaban dari Luson. "Ternyata laki-laki itu nggak mau juga kekasihnya terjadi apa-apa," batin Adam masih mengira bahwa Luson adalah kekasih dari Rania, sedangkan Rania adalah selingkuhan Luson. "Tapi kalo laki-laki ini kekasih baru Rania di mana Naqi. Apa laki-laki itu juga ditinggalkan Rania demi pria ini. Atau memang ini adalah kekasih sesungguhnya Rania? Ah rasanya aku makin kesal saja di buatnya oleh kisa cinta Rania." Adam yang memang masih panasaran kisah Rania menerka nerka apa yang kiranya terjadi dengan mantan tunanganya itu.


"Baik lah, kami akan persiapkan semua, begitu kondisi Rania sudah bisa menjalani operasi kami akan melakukanya segera. Makin cepat makin baik." ucap Adam. Dan tidak lama kemudian dia memerintahkan suster untuk membawa Rania kekamar rawatnya.


Rania pun di dorong oleh suster untuk kembali menjalani perawatan di rumah sakit ini, dan Luson pon mengekor di belakang suster dan Rania. Adam di ruanganya pun kembali terlintas fikiranya dengan Rania. Yang dari tadi Adam perhatikan tidak banyak berbicara kecuali diajak berbicara dan itu mengenai kesehatanya, jawabanya pun hanya seperlunya saja. Sehingga Adam semakin bingung apa yang terjadi dengan Rania.


****


Naqi terbangun pukul setengah dua sore. Ia melihat jam di pergelangan tanganya.


"Udah jam setengah dua kenapa orang-orang ini tidak ada yang pulang. Apa mereka kalo kerja kaya gini sekarang, seenak jidatnya." Naqi yang kesal karena terlalu lama menunggu sehingga ia mengumpat tidak suka dengan cara Qari bekerja. Tanpa Naqi sadari bahwa Qari dan Alzam tengah meeting.


Naqi pun mengambil ponselnya dan segera meng'deal nomor adiknya itu. Tersambung tetapi tidak di angkat. "Lagi kemana sih nih anak kenapa tidak di angkat telpon dari gue, apa dia masih marah sama gue. Ah... tapi itu bukan kebiasaan Qari, dia anaknya tidak seperti itu," batin Naqi sebentar menyalahkan Qari sebentar juga membela adiknya itu.


Ketika Naqi masih bingung dengan Qari yang tak kunjung pulang ke kantor. Mirna yang akan mengantarkan laporan pun masuk ke ruangan Qari.


"Ya Tuhan, Tuan Anda sedang apa di sini?" tanya Mirna masih dengan jantung yang memburu, karena kaget tiba-tiba ada Naqi di ruangan Qari.


"Loh memangnya saya nggak boleh di tempat kerja saya, bebas kan saya di mana saja," ucap Naqi dengan dingin. Dia lagi mikirin Cyra malah Mirna tanya yang tidak penting.


"Ah bukan itu Tuan, saya hanya kaget, dan sepertinya saya tadi salah bertanya," jawab Mirna sembari buru-buru meletakan lapora-laporan yang ia bawa untuk Qari tanda-tangani.


Mirna akan kembali ke ruanganya tetapi Naqi buru-buru menahanya.


"Eh... Mir, kamu ke sini coba," ucap Naqi sembari menggerakan jari tanganya supaya Mirna mendekat. Mirna pun mendekat ke arah Naqi.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mirna dengan sopan.


"Ngomong-ngomong Qari dan Al kemana kenapa aku dari jam sebelas kesini mereka udah pada nggak ada di ruanganya apa setiap hari kerjaan dia seperti ini?" tanya Naqi dengan jengah.


"Oh, tentu tidak Tuan. Nona Qari dan Alzam sedang ada meeting di luar kantor. Kemungkinan selesai (Mirna melihat jam di pergelangan tanganya, dan menghitung waktu meeting Qari dan Al yang memang membahas banyak proyek sehingga membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dari biasanya) Selesai sekitar jam tiga kalau tidak jam empat," jawab Mirna.


"Terus ini kenapa ruangan aku bisa jadi berantakan seperti ini, siapa yang bikin ruangan rapi menjadi seperti kandang gorila begini Mir?" tanya Naqi, yah, walaupun ia sudah tahu bahwa pelakunya adalah adiknya sendiri.


"Oh... kalo soal itu Nona Qari Tuan. Beliau cemburu apabila Alzam berada satu ruangan dengan saya. Sehingga meja Alzam di pindahkan ke ruangan Anda dan Alzam sudah hampir satu bulan ini bekerja di ruangan ini," jawab Mirna menceritakan yang sebenarnya terjadi.


"Loh emang kamu ada hubungan sama Alzam, kenapa Qari bisa marah sama kamu sampai sebegitunya?" tanya Naqi lagi. Mirna bahkan tidak boleh pergi sebelum ia mendapatkan jawaban yang memuaskan dirinya.


"Tidak dong Tuan, mana mungkin saya suka sama laki-laki incaran Nona Qari, bisa-bisa saya di gantung lagi. Apa yang terjadi dengam saya dan Alzam ya murni berteman tidak ada niat apa-apa lagi," ucap Mirna dengan raut wajah yang sedih, karena semuanya mengira bahwa ia dan Alzam memang ada hubungan sepesial padahal mah antara dia dan Alzam dari zaman Qari masih kuliah di luar negri mereka sudah akrab.


"Ok-ok aku tahu kamu, kalo gitu kamu lanjut kerja lagi ajah biar Ibu bos kamu nggak marah-marah melulu liat kerjam kalian!"


"Baik Tuan. Kalo begitu saya pamit dulu Tuan." Mirna dengan menundukan tanganya dan ia pun mengundurkan diri hendak kembali bekerja.


Sementara Naqi yang merasa tidak mungkin menunggu Qari sampai pulang sedangkan bisa jadi sampai dua jam lagi atau lebih. Naqi pun mencari tahu siapa lagi kira-kira yang tahu di mana keberadaan Cyra. "Kira-kira Sam tau nggak yah kemana Cyra pergi? Sementara dulu Sam itu juga mencintai Cyra. Apa jangan-jangan ada sam di balik ini semua. Apalagi Meta bilang kalo Cyra sakit. Jangan-jangan yang mau merawat dan menjaga Cyra adalah Sam.


Yah, target selanjutnya Naqi akan mencari Sam untuk memitanya informasi mengenai istrinya. Di mana Naqi sangat berharap bahwa Sam bisa memberikan informasi yang Naqi yakini bahwa Sam tahu di mana keberadaan Cyra.


Naqi kembali mengambil telepon genggamnya dan dia mencoba mendeal nomor Sam.


[Hallo, tumben loe telpon gue Qi?" ucap Sam dengan santai, yah pasalnya sejak kasus dirinya kabur dengan Rania. Naqi tidak pernah menghubungi Sam lagi.


[Ada yang pengin gue tanyakan sama loe, sekarang ada di mana? Biar gue nyamperin loe." Naqi bersiap akan segera pergi lagi, kali ini menemui Sam. Dia tidak akan pernah menyerah sampai benar-benar Naqi bisa menemukan Cyra dan memohon bahkan kalo perlu bersujud. Naqi akui dia sudah benar-benar jatuh cinta dengan Cyra sehingga ia rela mencari sampai mana pun untuk menemukan istrinya itu.


[Gue ada di rumah sakit, biasa. Loe kalo mau kesini yah kesini ajah biasanya juga langsung kesini kan," balas Sam tidak keberatan sama sekali.


Naqi pun langsung memutuskan sambungan teleponya, ketika sudah mengetahui Sam ada di mana, dan ia pun kembali menembus jalanan ibukota, dan kini tujuanya adalah rumah sakit Sentra Internasional di mana Sam dan Adam bekerja, dan tentunya tempat Rania di rawat juga.


#Kira-kira ketemu sama Adam nggak yah tuh Naqi, and kalo ketemu sama Adam bakal adu kekutan lagi nggak, secara kayaknya Adam gemes banget sama suami macam Naqi.