Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Tamu Dadakan


"Kenapa kamu baru bilang sekarang Rania? Ini bahkan sudah siang, dan mamih harus siapin apa buat keluarga Adam?" tanya Mamih heboh. Ketika Rania mengatakan bahwa nanti sehabis Isa Adam dan keluarganya mau datang kerumah ini. Memang Rania tidak mengatakan Adam akan datang untuk apa, tetapi mamih tahu betul bahwa Adam datang ke rumah ini pasti ada maksud lain yang tersirat untuk meminta izin untuk menikahi Rania. Terlebih mamih sudah dengar juga bahwa Rania itu dekat dengan Adam, dokter penanggung jawab yang menangani sakitnya.


"Mamih jangan repot-reppot Adam juga hanya silahturahmi kok, dan Rania juga baru tahu hari ini. Makanya Rania baru kasih tahu mamih sekarang," balas Rania, berpura-pura tidak tahu, agar tidak ketahuan dia yang merencanakan ini semua. Yah kalo ketahuan Rania yang merencanakan ini semua pasti akan terlihat Rania sebagai cewek murahan. Mungkin seperti itu pikiran Rani.


"Ya udah deh, biar nanti Mamih coba hubungi toko kue langganan mamih, dan juga catring makanan sama beli buah saja tidak apa-papa kan? Lagian kamu bilangnya dadakan jadi kan mamih tidak bisa mempersiapkan banyak menu penyambutan." Mamih pun sembari berbicara, tanganya meraih ponselnya dan juga mulai menghubungi catering dan toko kue langanannya untuk memesan pesanan kuenya, dan juga meminta bibi membeli buah, dan meminta bibi mebuat puding untuk cuci mulut setelah tamu menikmati makan besar.


"Iya Mih, ini Rania juga terima kasih banyak sama mamih karena mamih selalu perduli sama Rania, padahal kita bukan anak dan mam...(Suara Rania terputus, ketika mamih meletakan jari telunjuknya di depan bibir dan bibirnya di monyongkan membentuk bibir bebek) Yah mamih tidak mau Rania membahas yang tidak penting itu. Seperti dirinya dan Rania bagi mamih itu sangat tidak penting. Yang terpentung mereka saling terbuka tidak ada yang saling menjatuhkan.


"Jangan bahas yang tidak seharusnya di bahas," lirih mamih, agar Rania tahu bahwa belajar ikhlas itu sulit apalagi kalo sampai mengungkit yang sudah ia coba ikhlaskan jangan ada akan mengorek luka yang sudah hampur mengering.


Rania mengangguk lemah kemudian ia pun berpamitan untuk ke kamarnya, seperti biasa ia akan istirahat siang hari, karena memang itu yang di anjurkan oleh dokter. Maka dari itu Qari selalu iri dan menyebutnya tuan putri. Wajar, bagi dia iri seperti itu, karena memang Rania dan dia sangat berbeda, di mana Naqi dan kakek akan langsung menasihati dia apabila ia malas kerja atau bekerja dengan tidak sesuai target mereka. Sementara Rania hidupnya terlalu enak. Qari ingin beli ini dan beli itu, harus kerja banting tulang dan perlakuan dia di perusahaan kakeknya juga sama, menerima gajih sesuai jabatanya. Tidak bisa gadis bar-bar itu menilap uang sesuka hatinya, meskipun perusahaan itu milik kakeknya.


Sebelum memberi tahu mamih tentu Rania sudah lebih dulu memberi tahu kakeknya. Meskipun Rania dan kakeknya itu tidak terlalu dekat dengan dirinya. Namun berhubung ia tinggal di rumah kakeknya sehingga mau tidak mau dia juga harus ada sopan santun dengan kakeknya itu.


*****


Seperti yang Rania bilang, bahwa akan ada yang datang. Betul saja setelah Isa. Tiga unit mobil memasuki rumah keluarga Tuan Latif, dan tentu yang menerima menyambut tamunya itu hanya mamih dan kakek. Yah hal itu karena Naqi masih belum bisa pulang dan menyaksikan lamaran kakak tirinya itu. Hal itu karena dia memnag masih banyak pekerjaan di kantornya. Dia mengejar agar besok bisa libur dan mengajak Cyra jalan-jalan pake motor metic keliling Jakarta. Seperti yang ia lihat di persimpangan lampu merah tadi pagi.


Rania pun di dalam kamarnya sudah dan-dan dengan wajah yang semakin terlihat segar dan tentunya cantik. Maka dari itu Adam tidak bisa berpaling dari Rania karena memang dia cantik, meskipun wataknya bertolak belakang dengan watak dia. Namun dari situ Adam seolah tertantang dan ingin merubah sifat buruk Rania. Mungkin hanya Adam yang justru memiliki sifat yg aneh itu. Kalo kebanyakan orang lebih baik cari yang sudah jelas tabiatnya baik, dan tidak harus banyak mengajari. Kalau Adam berbeda, dan itu sebabnya Adam mau menikahi Rania.


Satu demi satu acara pun terlewati dan Adam sudah di terima dengan baik oleh keluarga Tuan Latif. Setelah memastikan bahwa Rania mau menerima cinta Adam apa adanya. Baik kakek dan Abi'nya Adam pun mulai mencari tanggal yang baik, untuk pernikahan mereka.


"Kamu mau menikahnya kapan Rania, Adam?" ucap Tuan Latif agar bisa memperhitungkan tangal yang menurutnya pas dan tentunya setelah Adam dan Rania lagi-lagi setuju dengan pemilihan dari kakek.


"Lebih cepat lebih baik Kek," ucap Adam dengan yakin dan seolah sudah sangat siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.


"Sama kayak Mas Adam saja Bi, Lebih cepat lebih baik," jawab Rania, dengan menekan ke gugupanya.


"Kalo gitu, minggu depan kayaknya baik, gimana kalo menurut Anda calon besan?" tanya Abi dengan suara yang lebih hangat berbeda dengan Abi berbicara dengan Rania. Rania pen mengelus dadanya, terlebih Umi dari Adam tidak ikut, dengan alasan ada sodara yang menginap di rumah mereka.


Sebenarnya Rania sudah tahu bahwa itu semua hanya alasan saja karena mereka memang tidak menyetujui pernikah Adam dan Rania. Kelopak mata Rania sebenarnya sudah panas dari tadi. Tetapi karena ia mencoba menahanya dan tidak ingin membuat acara ini kacau. Kasihan pada mamih yang sudah dengan suka rela menyiapkan penyambutan dadakan ini dengan menu penyambutan yang luar biasa sepesial.


"Gimana Rania, Adam?" tanya Kakek lagi.


Baik Rania dan Adam pun mengangguk secara bersamaan. Memang keinginan mereka juga lebih cepat lebih baik.


"E... Tapi Rania ingin pernikahan kita diadakan secara sederhana saja Bi, Kek," ucap Adam. Dan itu memang kesepakatan mereka ber dua. Bagi Rania dan Adam sah secara agama dan negara. Terlebih keluarga Rania yang sil-silah keluarganya tidak jelas. Bahkan nasab dia saja jatuhnya ke ibunya, karena menurut kakek pernikahan Ibunya dan Luson karena sudah hamil diluar nikah.


Dan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya Luson menikahi ibunya Rania dengan nikah sirih dan mereka tinggal di desa.


Entah gimana malunya keluarga Adam apabila mereka tahu bahwa Rania adalah anak di luar pernikahan dan semua bisa mereka ketahu ketika ijab kabul tiba di mana Rania bernasab pada Ibunya bukan Luson papahnya.


Setelah acara selesai dan mereka akan menikah di minggu depan. Rania masuk ke dalam kamarnya dan menumpahkan sesak di dadanya yang sejak tadi ditahanya.


Entah pernikahan apa yang akan ia jalani nanti bersama Adam, jadi istri ke dua. Keluarga besar suami tidak merestui. Dan harus berbagi suami.


"Ya Tuhan apa ini hukuman yang harus aku terima dari Engkau, sakit Tuhan," isak Rania sembari melihat dari balik jendela mobil Adam dan keluarganya pergi. Bahkan Rania sepertinya ragu bahwa yang datang adalah keluarganya Adam di mana di sana seolah mereka hanyalah orang-orang yang dibayar untuk meramaikan niatnya menemui keluarga Rania. Yah tujuanya agar seolah-olah keluarganya setuju dengan niatnya menikahi Rania.