
Setelah selesai berpakaian kini Cyra dan Naqi turun kebawah bersamaan....
"Gimana kondisi kamu, udah baikan? Kata Bibi kemarin kamu sakit?" tanya Kakek yang penasaran dengan kondisi cucunya, tetapi nampaknya pagi ini sehat-sehat sajah.
"Udah baikan ko Kek, semalam Sam sudah periksa dan sudah kasih obat pula," jawab Naqi, sembari menarik kursi untuk duduk.
"Mih kata Mas Naqi, dia kalo minum obat harus ditumbuk, Mamih ada alat buat numbuknya?" tanya Cyra sebelum mengikuti Naqi untuk duduk.
"Iya dia nggak bisa minum obat butiran, nanti Mamih ambil dulu alatnya," ujar Mamih sembari pergi ke dapur guna mencari alat penumbuk obat yang dimaksud.
Sementara sambil nunggu mamih, Cyra menyiapkan makan untuk Naqi.
"Makasih Ra," ucap Naqi, yang berhasil membuat Cyra kaget, tumben bilang makasih biasanya sajah diem ajah, dan mungkin ini ucapan makasih pertama Naqi. Biasanya harus disindir dulu baru Naqi akan mengucapkan kata-kata sakral itu.
"Sama-sama Mas."
"Kamu nggak makan Ra?" tanya Kakek ketika Cyra justru masih menyiapkan obat untuk Naqi.
"E... ini nanti Kek, lagi nyiapin obat untuk Mas Naqi dulu, buat pagi sama siang biar nanti di kantor tetap minum obatnya, soalnya ka masih ada demamnya sedikit," jawab Cyra dengan seulas senyum tipis diwajah.
Tidak lama mamih datang dengan membawa satu set alat penumbuk obat.
"Nih, Mamih sengaja beli beginian buat dia, karena anak itu nggak bisa minum obat butiran," ejek Mamih sembari menunjuk ke arah Naqi.
"Wah, berati semalam itu pertama kalinya Mas minum obat butiran yah?" tanya Cyra sembari terkekeh, ada rasa bangga sudah membuat Naqi mencoba hal yang baru pertama kali ia lakuin.
"Ya kan semalam udah dibilang," balas Naqi jutek.
"Tapi kalo kata Cyra sih, Mas sembuh itu bukan karena obat-obatan ini tapi karena kerotan yang semalam itu."
"Terserah lah, yang jelas gara-gara kerokan itu punggung aku jadi nggak karuan merah merah nggak jelas," sungut Naqi.
"Siapa yang kerokan Ra?" tanya Mamih, kepo dengan pembahasan pasutri itu.
"Mas Naqi Mih, malam-malam muntah, Cyra kerokin sajah dan habis itu bisa tidur nyenyak sampe pagi," jelas Cyra.
"Kerokan yang pake koin itu Ra dipunggung?" tanya Kakek aga heran.
"Iya Kek, kaya gitu biar anginya keluar," balas Cyra dengan percaya diri menjabarkan manfaat kerokan.
"Wah kamu hebat Qi, Kakek ajah seumur hidup belum pernah ngerasain kerokan. Banyak yang bilang berhasil buat nyembuhin masuk angin, tapi Kakek takut terlebih umur Kakek sudah tua, jadi aga takut mencoba hal-hal begituan," tutur Kakek, memuji keberanian cucunya.
Sarapan pun selesai dan Cyra lagi-lagi menyiapka semua keperluan Naqi.
"Ini obatnya, udah Cyra siapin ditambah madu sedikit, jadi nggak terasa pait," ucap cyra sembari menyodorkan cawan kecil berisi obat yang telah ditumbuh, dicampur air dan madu sedikit. "Dan ini buat yang dikantor, Cyra juga bawakan madunya, nanti Mas tinggal seduh sajah! Ingat Diminum yah, jangan sampai diabaikan atau dibuang, nanti yang ngerasain sakit dan nggak enak badan Mas sendiri ko," oceh Cyra panjang lebar, agar Naqi mengikuti saranya meminum obat-obatan itu.
"Iya, Cyra. Mas emang nggak bisa minum obat butiran tapi bukan berati Mas nggak mau minum obat kaya anak kecil, kalo udah ditumbuh gini juga pasti diminum ko," balas Naqi dengan jutex.
"Iya tuh Naqi kamu kalo dibilangin sama istri kamu jangan kaya gitu jawabnya. Itu tandanya Cyra peduli dan sayang sama kamu," sela Mamih yang tidak suka mendegar perkataan Naqi.
"Iya-iya maaf. Lagian kan Naqi juga bukan anak kecil lagi yang apa-apa harus diatur," balas Naqi tetap melakukan pembelaan.
"Yah kamu memang bukan anak kecil lagi, tapi kelakuan kamu sama kaya anak kecil, apa-apa harus diingatkan dulu baru mau ngejalaninya," ucap Kakek ikut memojokan Naqi.
"Ya udah Kek, Mam, Cyra pamit dulu ada pemotretan soalnya hari ini jadi Cyra berangkat lebih dulu ajah." Cyra berpamitan lebih dulu guna melerai perdebatan mereka, setelah bersalaman dengan Kekek, Mamih dan Naqi. Cyra bergegas jalan keluar rumah dan meminta Pak Kurso mengantarkanya kerumah Meta.
"Pagi Pak Kurso, kita kerumah Meta dulu yah!" ucap Cyra selalu ramah dengan siapa pun.
"Baik Neng."
Cyra menuju ruang makan yang ternyata Meta tengah sarapan bersama Mamah Mia.
"Pagi Mah, Met," sapa Cyra sembari memberikan salam dan Cipika-Cipiki.
"Tumben udah sampe mari?" tanya Meta dengan logat gemulainya.
"Udah dong, kan Cyra mah anak rajin," jawab Cyra dengan sombong dan bangga.
"Berati nyidir I'm nih, kalo Meta itu malas, Heh...?" ledek Meta dengan kedua mata dipelototkan.
"Udah ah, itu udah ditungguin Nak Cyra, jangan ngoceh ajah nanti malah kesiangan!" ucap Mamah Mia, agar Meta segera menyelesaikan rituan sarapanya lalu berangkat kerja, karena Cyra sudah menungguninya.
"Yuk cin, I'm udah diusir sama Mpok Mia," kekeh Mas Wawan sembari menarik tangan Cyra agar Mamahnya nggak ngejitak dia.
Cyra pun hanya ngikuti Meta ajah mengekor dibelakang Meta.
"Hehe kenapa sih kamu suka ledekin Mamah Mia begitu, dosa loh. Mamah sendiri diledekin," ucap Cyra jiwa ceramahnya keluar.
"Enggak apa-apa, seneng ajah liat Mamah marah gitu, lagian Mamah mah nggak beneran marah cin dia itu hanya pura-pura ajah," ucap Meta yang sudah tau kebiasaan ibunya.
Mereka pun pergi kelokasi pemotretan dan kerja dari pagi sampai sore.
Cling... hp Meta bunyi menandakan ada pesan masuk.
"Met, Cyra pemotretan di mana? Pulang jam brp? Nanti kalo udah mau pulang kabarin aku yah! " Begitu kira-kira pesan dari bos besar alias Naqi.
"Bos besar bukanya, suami Cyra yah, ngapain dia nanyain Cyra? Bukanya kata Cyra hubungan mereka kurang harmonis? Ah tau lah semakin membuat aku pusing ajah dengan kisah percintaan anak muda ini," batin Meta kembali bekerja, sebenarnya kerjaan Meta adalah make up artis, namun karena Cyra belum ada manajer jadi diambil alih dulu sama Mas Wawan, untuk mengatur jadwal-jadwal Cyra.
Perkerjaan pun selesai Meta langsung mengirim pesan sama Bos besar. "*Bos Cyra udah mau pulang dan di pemotretan di setudio SETP di jalan Flamboyan, 5*!" begitu kira kira pesan yang Meta tulus untuk bos besarnya.
Disebrang sana, Naqi yang baru membaca pesan dari Meta langsung meluncur ke alamat yang Meta kirimkan, kebetulan jalanan masih lancar dan jarak dari kantor Ralf grup pun tidak jauh sehingga cuma butuh waktu lima belas menit Naqi sudah sampai ke depan gedung yang dimaksud oleh Meta.
"Mana Cyra sama Meta ko lama banget belum keluar," batin Naqi yang sudah datang lebih dulu dan tengah menunggu Cyra.
Sementara Cyra didalam tengah membantu Meta membereskan alat-alat make upnya.
"Cin, you duluan ajah, biar nanti I'm naik taxi ajah." Meta yang tau bahwa Bos besar akan jemput Cyra pun meminta Cyra untuk lebih dulu pulang, pasti Bos besar udah nunggu. Meta takut kalo dia kena marah Bos besarnya.
"Enggak apa-apa Met, aku bantu kamu, kan ini sebentar lagi," balas Cyra santai sebab ia tidak tahu bahwa Naqi tengah menunggunya. Salah siapa Meta tidak boleh ngasih tau kalo Naqi jemput. Jadi deh Cyra santai sajah. Mungkin rencana Naqi mau ngajih kejutan.
Setelah semua alat make up rapih, mereka pun berjalan menuju palkiran. Begitu Cyra dan Meta keluar gedung...
"Tiiiiitttttt.. suara kelakson nyaring dan panjang dari mobil Naqi. Cyra tentu hapal itu mobil siapa tetapi santai dan tidak ingin menghampiri Naqi, padahal dia sudah melihat mobil Naqi, dan justru Cyra membuang muka....
"Dih, sombong banget tuh anak mentang-mentang udah jadi artis," gerutu Naqi dengan memanyunkan bibirnya.
Tiiittttttt.....Naqi kembali membunyikan kelaksonya berharap kali ini Cyra mengahmpirinya, andai tadi dia belum mengenali mobilnya pasti sekarang dia tau bahwa maksud dari bunyi kelakson adalah untuk dia. Meta yang tau Bos besar udah mulai kesal pun penyikut Cyra, yang masih acuh dengan suara kelakson mobil Naqi.
"Cin, tuh suami you, panggil-panggil you," bisik Meta dengan menunjuk mobil Naqi.
"Biarin ajah aku lagi malas, palingan dia jemput aku mau ajak ke rumah sakit, aku mau pulang naik taxi ajah! Lagi mode ngambek sama dia," dengus Cyra tetap cuek tidak bergeming dari berdirinya.
"Bener-bener nih artis baru udah sombong banget, dikira mau minta tanda tangan kali," cerocos Naqi mengutuk kesombongan Cyra yang nggak mau menghampiri mobilnya....
#Minta disamperin Ayang!!! Bukan di kelaksonin doang, nggak peka banget sih si ayang Naqi ini...