
Naqi sepanjang perjalanan yang biasanya selalu mendengarjan musik untuk menghilangkan rasa bosanya, kali ini ia tidak menginginkanya, karena dengan suasana sepi ia bisa mendengar oceha Cyra yang selalu ia bilang berisik, tetapi sungguh kali ini ia sangat rindu dengan keberisikan Cyra, dari mana ia bisa menemukan suara yang tidak bisa diam seperti Cyra. Hanya Cyra, yang memilikinya, yah hanya Cyra yang memiliki suara bawel itu.
Tanpa terasa kini Naqi sudah berada di lapangan yang berada di pinggiran kota Jakarta, dan seolah memang alam tengah berpihak pada Naqi. Di lapangangan dulu tengah ada pertandingan bola, seolah Naqi tengah De Javu dengan semua kenangan manis itu bersama Cyra. Dan tentu di lapang banyak berjajar grobak jajanan kaki lima yang selalu menghipnotis Cyra.
"Ini pasti kalo ada Cyra dia udah girang bukan kepalang, bahkan ia akan langsung lari membeli makanan kesukaanya." Naqi lagi-lagi tertawa sendiri setiap mengenang semua kelakuan Cyra yang benar-benar seperti bocil, tetapi tidak bisa memungkiri sisi dewasanya bahkan melebihi siapa pun. Bahkan Rania yang jelas lebih tua dari dirinya sajah kadang tidak sedewasa Cyra cara berfikirnya.
Naqi berjalan perlahan kearah lapangan dan membeli beberapa makanan terutama makanan yang paling digemari oleh Cyra di mana biasanya Cyra akan membeli makanan wajib yaitu cilok dan beberapa makanan lainya. Lalu Naqi mencari tempat yang sekirang kosong untuk ia duduk melihat pertandinga bola yang sedang berlangsung.
Naqi akhirnya menuju tempat yang dulu menjadi tempat ia dan Cyra menonton pertandingan bola bersama. Tidak banyak yang bisa Naqi lihat dari pertandingan saat ini itu semua karena di dalam fikiranya dipenuhi dengan wajah Cyra, wajah antusias Cyra ketika melihat pertandingan bola yang di dominasi lawak dari pada permainan yang seriuz.
"Ra aku sekarang sedang menonton pertandingan bola di lapangan tempat kita dulu pernah nonton bola bareng, aku juga beli makanan kesukaan kamu Ra, ada cilok dan makanan yang lain Ra, kamu nggak kangen Ra makan cilok di sini bareng aku," lirih Naqi justru bergumam tidak jelas dan justru tidak menonton pertandingan bola yang ada di hadapanya. "Ra, pulang Ra aku kangen banget sama kamu!"
****
Di negara yang berbeda....
Nginnnggg... tiba-tiba telinga Cyra berdenging kencang, "Aduh kok telinga aku tiba-tiba berdengung sih, kata orang ketika telinga kita berdenging ada yang lagi ngomongin, biarin ajah omongin aja terus nanti juga keselek," batin Cyra di mana tinggal menunggu hari mommynya akan mejalani oprasi mata. Dan tinggal menunggu pemulihan juga Cyra dan mommy'nya bisa keluar dari rumah sakit. Tetapi tidak keluar dari pengawasan manusia es si Mr Kim, yang justru semakin posesif, semua yang dilakukan Cyra selalu bertentangan apa yang Mr Kim mau, sehingga kalo ada yang bilang dia kaya anjing dan kucing. Yah, itu bener sekali Cyra dan Mr Kim seperti anjing dan kucing fersi kutub utara.
****
Uhuhkkkk... uhuuukkk... Naqi yang lagi asik menimati cilok tiba-tiba tersedak ia buru-buru meraih botol air minum yang ada di sampingnya.
"Kenapa tiba-tiba keselek gini yah, perasaan ciloknya nggak pedes aku juga ngunyah sudah lembut banget baru ditelen," batin Naqi. Ia melanjutkan menonton bola hingga selesai sepanjang menyaksikan bola matanya selalu berkeliarana kesana kemari, berharap diantar para penonton ada sosok Cyra juga. Yah, meskipun itu terkesan mustahil dan memaksa, tetapi itulah harapan Naqi, harapan agar dalam ketidak sengajaanya dia bisa bertemu dengan Cyra.
Naqi pun mengikuti cara Cyra ia mentlaktir orang-orang yang ada disana, yah para pemain bola itu Naqi memberikan uang untuk membeli makanam di sekitar, sama seperti Cyra dulu, dan Naqi meminta didoakan agar istrinya segera kembali.
"Ya Tuhan ternyata rasa seperti ini bahagianya ketika bisa berbagi dan orang-orang itu dengan antusias menyambut pemberian kita. Naqi kembali ke tempat duduknya tadi dengan perasaan bahagia. Sungguh walaupun berbagi hanya sedikit dari harta yang ia miliki tetapi rasanya sudah bahagia.
Tanpa terasa matahari sudah mulai tenggelam dan kini malam pun mulai menyapa, Naqi memutuskan untuk pulang. Pencarian hari ini tidak membawa hasil apapun. Padahal pagi tadi ia terlalu bersemangat bahwa ia pasti akan menemukan Cyra. Tetapi setelah ia berkeliling bahkan harus beradu jotos dengan Adam, Naqi belum menemukan informasi apapun dengan Cyra.
"Aku harus mencari Cyra kemana lagi Tuhan, tolong tunjukan aku jalan agar aku bisa bertemu dengan Cyra. Apapun akan aku lakukan asal Cyra kembali dengan aku Tuhan," Naqi akan selalu berusaha dan tidak akan pernah menyerah.
Bahkan ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya apabila ia hidup tetapi tidak memiliki tujuan apapun setelah Cyra pergi dan semua kehidupanya seolah gelap gulita.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang kini Naqi sudah berada di rumah Tuan Latif, Naqi tadinya ingin pulang kerumahnya di mana dulu ia dan Cyra pertama kali menikah memutuskan tinggal di rumah itu. Naqi ingin melihat semua barang yang pertama Cyra bawa, mengenang semuanya untuk menjadikan kenangan indah bersama Cyra, tapi Naqi belum berdiskusi dengan mamihnya, ditakutkan wanita itu tidak mengizinkan Naqi untuk tinggal seorang diri di rumah itu.
Naqi masuk kerumah mewah itu dengan loyo, kebetulan semua keluarganya tengah makan malam termasuk Qari, adik yang tadi siang ia cari dan tunggu di runganya sampai tertidur tetapi tidak kunjung nongol juga. Namun tidak termasuk Luson yah, entah laki-laki itu masih kakek anggap anak atau tidak, pasalnya dia tidak pernah ada dalam acara apapun.
Naqi akan memasuki kamarnya dan tidak ingin makan bersama keluarganya.
"Naqi, dari mana kamu? Apa begini cara kamu menghormati orang tuamu?" Suara bariton dari Tuan Latif, mengagetkan Naqi yang akan melewati meja makan.
Seketika itu juga Naqi berhenti berjalan, dan berdiri mematung. "Naqi habis mencari Cyra kek," jawab Naqi dengan suara pelan dan menunduk.
"Untuk apa kamu mencari dia? Udah Kakek bilang biarkan dia pergi dan mencari kebahagiaanya. Kenapa kamu sulit sekali mendengarkan apa yang kakek katakan Naqi. Kalo kamu sayang, cinta dengan Cyra bukan begini cara kamu. Semakin kamu menarik dan memaksa Cyra hidup sama sama kamu semakin kamu menyiksa dia. Kamu ngerti nggak sih apa yang Kakek bilang," ucap kakek tetapi beliau tidak sedikit pun melihat kearah Naqi.
Semua yang ada di meja makan makan pun menghormati ketika Tuan Latif sedang berbicara, tidak ada yang tetap makan. Baik mamih maupun Qari menghentikan makanya dan juga menunduk seolah mereka juga tengah dinasihati oleh kakek.
"Baik Kek, Naqi akan berusaha melepas Cyra, tetapi Naqi masih ingin hidup bersama Cyra Kek, Naqi masih mencintai dia," lirih Naqi masih berusaha untuk bernegosiasi dengan perintah kakek.
"Cinta dan sayang hanya akan kamu dapatkan kalo kalian berjodoh, berdoalah sama Tuhan agar kalian masih ada garis jodoh. Percayalah, kalo kalian masih berjodoh sejauh apapun Cyra pergi pasti ujungnya akan kembali sama kamu."
#Noh Naqi dengerin nasihat Kakek, orang tua kok dilawan....