
Pagi hari di rumah Cyra sudah terjadi kehebohan hal itu karena hari ini Meta akan menikahi Fifah. Mendadak sekali, yah semua mendadak semalam Meta mempersiapkan semuanya hingga larut malam untuk mempersiapkan pernikahanya dan kini Meta dan Fifah pagi-pagi sudah bersiap akan menuju ke kantor KUA, karena mereka akan menikah hari ini.
Cyra pun kebagian mengasuh Mesy. Mamih dan Qari pun ikut hadir untuk memhhormati Meta yang akan menikah dengan Fifah. Mereka pun kini sudah siap dan akan beranjak dari rumahnya untuk menuju kantor KUA. Tidak ada acara yang lain yang jelas di kantor ini hanya ada ijab dan kabul saja. Dan untuk resepsi akan diadakan sekitar satu bulan lagi dari sekarang. Cyra di bantu oleh mamah Mia dan juga mommy mengasuh Mesy karena mamihnya akan menikah sehingga anak bayi itu di ambil alih oleh Cyra.
"Kakak Ipar sepertinya sudah cocok tuh," ucap Qari yang baru datang bersama mamih.
Cyra yang kaget dengan ucapan Qari pun langsung menoleh. "Hahaha cocok jadi baby sister yah De," jawab Cyra sembari tetap menimang Mesy sentara emak dan bapaknya tengah bersiap untuk ijab kabul.
"Enggak kok kakak Ipar benaran cocok kalo kakak Ipar punya anak juga, tinggal cari calon suaminya dan bikin deh adonan bareng Mas suami nanti juga jadi, dan aku bakal jadi baby sister untuk anak kalian deh," ucap Qari yang mendaftarkan diri jadi Baby sister tetapi gendong bayi saja tidak bisa.
Sementara Naqi yang penasaran karena Qari dan mamih hampir setiap hari pergi pun hari ini diam-diam menguntit Qari dan mamih. Dia tidak mau menegor lagi karena takut nanti malah Qari tersinggung lagi sehingga lebih baik pergi mengikuti merek untuk pergi kemana sih sebenarnya adik dan mamihnya.
"Siapa yang nikah? Kenapa mamih mengajak Qari ke sini?" tanya Naqi tetapi karena penasaran sehingga Naqi pun turun dan dan ikut masuk ke dalam kantor KUA di mana di sana tengah dilangsungkanya pernikahan Meta dan Fifah. Naqi maju kedepan semakin depan. "Bukanya itu Meta? Nikah dengan siapa dia?" batin Naqi, kedua bola matanya mengawasi ke setiap ruangan.
"Tunggu bukanya itu Cyra? Siapa anak yang tengah Cyra gendong, dan itu Cyra bersama dengan Qari. Berati selama ini memang dugaan aku benar bahwa Qari tahu di mana Cyra," batin Naqi. Dalam dadanya langsung bergemuruh ingin segera menghampiri Cyra. Ia sangat ingin menyapa Cyra, tetapi Naqi juga takut kalo nanti Cyra malah tidak mau ngobrol dengan dirinya.
Sehingga Naqi memutuskan untuk tetap mengawasi Cyra, tidak dari kejauhan tetapi aman untuk mengawasi Cyra yang masih berada di jangkauan Naqi.
Cyra, Qila, dan Qari masih asik mengasuh beby Mesy karena mamih dan daddynya tengah melangsungkan acara ijab kabul.
"Mes, kamu jangan rewel yah, tuh bentar lagi mamih dan daddy kamu sah menjadi suami istri, dan kamu tidak akan diambil sama papah kamu yang jahat itu," ucap Qari, padahal Mesy mana tahu kalo papahnya yang mana. Yang dia tahu hanya daddy Meta yang sejak di dalam kandungan sudah selalu memberikan apa yang Mesy mau.
"La, tolong jaga Mesy dulu yah aku mau ambil Asi dia dulu, kasian kayaknya Mesy haus nih." Cyra memberikan Mesy pada Qila sedangkan Cyra akan mengambil Asip yang sidah Fifah siapkan di tas.
"Awas...!!! Pyaaarr... Ahhhh.... Cyra yang tidak lihat-lihat ketika berbalik sehingga menyenggol petugas yang membawa satu mangkok besar sop yang masih panas. Namun hal itu bisa di cegah karena Naqi yang melihat hal itu langsung menarik Cyra ke dalam pelukanya sehingga punggung Naqi yang justru kena sirapan sop panas itu.
Cyra mejamkan matanya karena kejadian tadi sangat singkat dan hal itu mengakibatkan ia hampir tersiram kuah sop yang masih berasap dengan tebal. "Wangi ini kayaknya aku kenal," batin Cyra ia lalu membuka kedua matanya di mana wajah yang beberapa kali hadir dalam mimpinya, tiba-tiba ada dihadapanya tengah menahan tubuhnya agar tidak terkena kuah sop yang panas itu.
"De, apa yang terjadi sih? Kenapa Naqi ada di sini dan tubuhnya kayaknya terluka?" tanya Cyra dengan polos. Sebab ia tidak tahu dengan apa yang barusan terjadi.
"Abang, kena tumpahan air sop, karena tadi kakak Ipar pas mau ambil Asi buat Meyra tidak melihat sehingga nyenggol petugas yang sedang membawa kuah sop panas. Untung ada Abang yang buruan narik kakak Ipar sehingga Abang yang kena kuahnya, kalo tidak ada Abang. Bisa-bisa kakak ipar yang tubuhnya kesiram air panas itu," ucap Qari menjelaskan apa yang tengah terjadi.
Cyra nampak syok karena ia tidak tahu apa yang terjadi dan tentu tidak tahu harus apa sementara kekacauan tadi sudah dibereskan.
"Met maaf yah gara-gara aku acara pernikahan kamu jadi kacau," ucap Cyra dengan sangat bersalah.
"Tidak apa-apa Ra, lagian kan yang terpenting aku sekarang udah sah jadi suami istri jadi tidak apa-apa kalo harus berakhir seperti ini. Masih bisa makan-makan kok, kan yang tumpah kuah sopnya ajah." Meta tidak mempermasalahkan apa yang terjadi. Sementara Mamih ikut pengantarkan Naqi ke rumah sakit tetapi Qari masih di tempat acara hanya mamih yang menemani Naqi kerumah sakit.
Setelah memberikan selamat pada Meta dan Fifah mereka pun menikmati hidangan yang Meta sediakan untuk tamu undangan, tetapi tidak sedikitpun Cyra ingin menikmati hidangan yang sebagian besar adalah makanan kesukaan Cyra. Pikiranya tengah memikirkan kondisi Naqi sehingga ia tidak selera untuk makan.
Sementara Naqi yang baru sampai di rumah sakit langsung mendapatkan pertolongan pertama karena luka bakar di punggungnya terlebih luka itu lumayan lebar dan parah. Naqi hanya di temanin oleh Mamih.
"Pakaian yang Naqi pakei di lepas semua dan kini ia hanya mengenakan penutup luka bakar, karena air panas yang menyiram punggungnya.
"Kenapa kamu mulakukan ini Naqi, coba kamu lihat punggung kamu terluka parah dan kamu harus menjalani rawat inap dan penyembuhan luka ini tidak sebentar Naqi." Mamih yang sejak tadi pengin negur Naqi tetapi kondisinya belum tepat dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memarahi anaknya yang nakal itu.
"Naqi juga sepontan mam melakukanya karena melihat Cyra yang akan ketumpahan sop itu. Kasihan kalo sampe Cyra yang ketumpahan air panas itu," ucap Naqi dengan sekali-kali ia meringis menahan rasa panas dan pegal di punggungnya.
"Terserah kamu saja lah, tapi yang jelas kamu jangan ngerengek dan jangan susah kalo minum obat tidak ada yang akan merawat kamu jadi jangan manja," ucap mamih yang tahu bahwa Naqi itu dari dulu sulit untuk minum obat dan mamih tidak akan sabar mengurusnya.
Naqi hanya mengangguk dengan pasrah, dirinya pun bingung karena dia tidak bisa minum obat dengan benar tapi kalo mamih tidak mau mengurusnya maka siapa lagi yang dia andalkan untuk mengurusnya meminum obat-obat itu.