
"Terus gimana Mas, Cyra nggak mau ah bohong terus," protes Cyra tidak mau membohongi mamih dan kakek lagi, dosa besar kalo bohong kan.
"Ayo lah Ra, lagian bohong juga buat kebaikan kan," bujuk Naqi tidak setuju dengan rencana Cyra yang ingin mundur dengan rencananya.
"Kebaikan apa Mas? Cyra nggak liat ada kebaikan dari kebohongan Mas disini. Justru kalo kita berbohong terus yang ada malah situasinya makin susah untuk jujur, dan ketika kita jujur yang lain sudah susah untuk percaya, karena kebohongan kita sudah terlalu banyak," lirih Cyra agar Naqi menyudahi kebohonganya sebelum semuanya makin sulit.
"Aku melakukan kebohongan ada sebab Ra! Semua aku lakuin agar Kakek dan Mamih percaya bahwa waktu semalam kita keluar memang menginap di hotel, dan apabila nanti aku mau menjenguk Rania aku bisa menggunakan alasan yang sama, agar Kakek dan Mamih tidak melarang. Kamu juga harus bantuin aku agar Kekek tidak curiga," ujar Naqi berharap agar Cyra mau membantunya lagi.
"Jadi semua ini yang aku lakuin semata-mata agar Mas bisa menemani Mba Rania di rumah sakit?" tanya Cyra tanpa terasa air matanya jatuh, terlalu sakit hatinya ketika ia melewati kebohongan demi kebohonga hanya demi membantu suaminya bisa selalu ada di samping kekasihnya yang tengah sakit itu.
"Ya iya lah, memang menurut kamu aku melakukan kebohongan ini buat apa?" tanya Naqi, dengan nada meninggi.
"Engga Mas, ya sudah semua terserah Mas Naqi sajah, tapi kalo suatu saat Kakek dan Mamih tidak percaya sama kita lagi, itu bukan kesalah Cyra, yang terpenting Cyra sudah mengingatkan Mas Naqi." Cyra lalu menutup teleponya dan meletakan benda pintar itu di sova. Sedangkan ia kembali keatas ranjang. Menumpahkan sesak didadanya. "Memang aku ini siapa, aku hanya dibutuhkan disini untuk menyatukan dua kekasih itu bukan? Jadi ayo lah Cyra jangan sedih. Kamu hanya bekerja sama dengan Naqi, untuk memuluskan cinta Naqi dan Rania. Dan anggap sajah maskawinmu yang sepuluh milliar adalah bayaran dari perjanjian nikah selama satu tahun ini." Cyra mencoba menenangkan perasaan sesak dihatinya.
"Kebahagiaanku bukan di rumah orang tuaku, dan juga bukan di sini ternyata. Kebahagiaan di sini hanya sementara. Aku tidak boleh terbuai dengan semuanya. Semua bahagia yang aku rasakan hanya setahun. Maka nikmati setelah itu lepaskan dan memulai hidup yang baru. Bayaranku sudah besar maka jangan ada harapan lebih lainya," Cyra lagi-lagi mencoba menyadarkan dirinya.
*****
Di kantor Naqi menatap ponselnya. "Lah Cyra kenapa? Apa aku ada salah ngomong? Bukanya dia yang mau membantu aku buat tetap berasama Rania, tapi kenapa dia kaya marah gitu. Ah teraserah lah toh aku udah berkata jujur dengan dia," gerutu Naqi dan dia kembali melanjutkan pekerjaanya. Tidak mau ambil pusing dengan kelakuan Cyra. Namun Naqi juga penasaran dengan Cyra.
"Apa aku telpon lagi yah," tanya Naqi pada hatinya sendiri. Naqi pun memutuskan menghubungi lagi ponsel Cyra.
"Ko enggak diangkat-angkat," batin Naqi, tetapi ia pun kembali menghubungi Cyra.
****
Mamih masuk ke kemar Cyra dengan membawa sebungkus salep untuk menantunya.
"Sayang kamu kenapa? Apa kamu ada yang dirasakan selain sakit dan pegal-pegal?" tanya mamih cemas dengan kondisi menantunya.
"Tidak Mih, Cyra hanya lemas ingin istirahat," balas Cyra dengan lemah. Padahal hatinya yang merasa sakit karena ulah anaknya.
"Ya udah kalo kamu mau istirahat lagi, tapi sebaiknya kamu pake salep ini dulu biar nanti cepat sembuh luka di 'itunya' kamu." Mamih lagi-lagi menunjuk ke arah ke'malu'an Cyra.
"Cara pakenya gimana Mih?" tanya Cyra polos.
"Kamu oleskan di lukanya yang membuat sakit. Apa mau mamih bantu?" tanya mamih sembari meledek.
"Apaan sih Mih, Cyra bisa sendiri ko." Cyra menolak dan langsung bergegas ke kamar Mandi. Namun, di kamar mandi Cyra hanya jalan bolak balik tanpa melakukan apa yang mamih minta. " Lagian apanya yang di obati kan anaknya nggak ngobrak abrik goa milik Cyra... mamih... mamih ada ajah.
Mamih mendengar suara ponsel Cyra berdering. Ia melihat nama Naqi terpampang dilayar depan.
"Rania? Ngapain kamu bahas wanita itu dengan istri kamu? Apa jangan-jangan kamu masih berhubungan dengan wanita itu, Naqi?" Mamih, yang mengangkat telepon Cyra langsung memberondong pertanyaan pada Naqi.
"E.... enggak Mam, tadi itu Cyra salah paham, gara-gara semalam Sam bahas Rania, dan tadi Naqi berusaha jelasin tapi malah Cyranya marah gitu." Naqi terbata menjelaskanya karena kaget, kenapa malah mamih yang mengangkay telpon Cyra.
"Ko bisa Mamih yang ngangkat telpon Cyra, anak itu kemana lagi. Nambah-nambah kesalahan sajah," gerutu Naqi sembari mengacak-acak rambutnya.
"Awas yah, kalo kamu masih berhubungan dengan wanita itu, dan buat istri kamu menangis. Mamih nggak akan segan-segan buat perhitungan sama kamu. Biarpun kamu anak Mamih, tapi Mamih nggak suka kamu sakiti menantu Mamih." Mamih mengancam Naqi.
"Baik Mih, Naqi nggak akan kecewain Cyra. Tadi Naqi itu hanya merasa bersalah karena tanpa sengaja membahas Rania , dan tiba-tiba Cyra memutuskan sambungan teleponya.
"Ya, iya lah dia marah, suaminya ngebahasnya mantan," dengus mamih kesal.
"Ya udah, tolong sampaikan salam Naqi sama Cyra yah Mih, bilangin jangan marah, nanti malam diajakin cari yang enak-enak lagi." Naqi mencoba mengambil hati mamih agar tidak marah lagi. Lalu Naqi memutuskan teleponya.
"Ya Tuhan hampir sajah rahasiaku ketahuan sama Mamih," gumam Naqi sembari mengelus dadanya.
Sedangkan mamih kembali meletakan ponsel Cyra. "Apa Cyra lesu gara-gara Naqi membahas Rania," batin mamih, ia duduk di tepi ranjang menunggu Cyra keluar dari kamar mandi.
Tidak lama Cyra keluar kamar mandi.
"Udah?" tanya mamih.
"Udah Mih," jawab Cyra.
"Duduk sini!! Mamih mau tanya sesuatu," pinta Mamih sembari menepuk sisi ranjang.
Cyra mengikuti kemauan mamih, dengan perlahan Cyra duduk. Meskipun hatinya bertanya-tanya kenapa mamih terlihat seriuz sekali. "Kenapa sih Mih, kayaknya seriuz sekali?" tanya Cyra dengan penasaran.
"Apa kamu lesu, dan tidak bersemangat gara-gara Naqi membahas Rania, mantanya?" tanya mamih dengan lembut.
"Loh, ko Mamih tau, kalau aku ada rasa kesal Mas Naqi yag bahas Rania," gumam Cyra dengan menunduk memainkan jari-jemarinya.
"Sayang, Rania itu masa lalu Naqi. Mereka sudah tidak ada hubungan apapun. Bahkan Naqi sekarang sedang belajar mencintai kamu. Mamih harap kamu sabar dan menunggu cinta Naqi. Mamih yakin perjuanganmu nggak akan sia-sia." Mamih menjelaska panjang lebar dan menguatkan Cyra agar tidak lemah, serta mengelus punggung menantunya dengan lembut.
"Bukan Mih, Mas Naqi bukan tengah berusaha mencintai aku. Dan asal Mamih tau mereka berdua tengah memperjuangan cinta mereka, agar tetap tumbuh dengan subur. Aku akan sabar Mih, tapi bukan untuk mendapatkan cinta Mas Naqi. Aku akan sabar sampai perjanjian nikah kita selesai. Tapi Cyra berjanji, Cyra akan tetap menjadi anak Mamih. Disini Cyra baru mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Maka Cyra akan anggap Mamih seperti Mamah Cyra selamanya " gumam Cyra dalam hati. Sedih, sakit, tapi itu sudah ia jalani dan ia sudah berjanji sanggup untuk menyelesaikan surat perjanjian itu, nggak ada lagi alasan untuk mundur, kecuali Naqi sendiri yang menginginkanya.
Bersambung .....
...****************...