Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Curhat


Di dalam kamar Naqi...


"Ra aku perhatiin ko kamu itu kaya banyak fikiran, banyak bengongnya. Kenapa?" Naqi yang melihat Cyra berbeda setelah keluar dari kamar kakek pun bertanya. Pasalnya Cyra yang biasanya ceria dan jahil. Kenapa tiba-tiba berubah, sama seperti Cyra pertama kali bertemu dengan Naqi, di mana ia seperti orang yang ketakutan.


Benar sajah Cyra nampak terkejut ketika Naqi bertanya. "Tadi Mas Naqi tanya apa?" balas Cyra yang justru balik bertanya kembali.


"Ish... kamu itu kenapa sih aneh banget, ada yang kamu fikirin?" Naqi kembali melemparkan pertanyaan yang sama dengan tadi sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang mulai dingin.


"Iya Mas, Cyra sedang memikirkan sesuatu."


"Memikirkan apa? Kalo mau cerita boleh ko, curhat lah mumpung Mas belum ngantuk. Siap dengerin curhatan bocil," kekeh Naqi sembari tersenyum tipis. Yang sebenarnya senyumnya itu sangat manis. Cyra sajah tidak berani menatap lama apabila Naqi sudah tersenyum seperti itu, ia takut akan jatuh hati, dan membuat situasi hatinya tidak aman.


"Tapi Mas Naqi degerin beneran yah, nggak boleh tidur duluan," ancam Cyra.


"Ia Nyonyah Ralf, nih melek matanya ko" kekeh Naqi sembari menahan matanya dengan jari jempol dan telunjuk sehingga membuat bola mata yang membesar.


"Tadi waktu Cyra masuk ke ruangan Kakek, Cyra liat ada foto wanita yang pernah Cyra ceritain sama Mas. Ingat nggak yang waktu Cyra mimpi wanita mirip Cyra dan Mas Naqi bilang wanita itu bisa jadi Ibu Cyra? Nah tadi Cyra lihat foto yang mirip dengan wanita itu, tapi waktu Cyra tanya siapa wanita itu, Kakek malah mengalihkan dengan obrolan lain kayak nggak mau kasih tau siapa sebenarnya wanita itu. Cyra merasa Kakek itu tengah menyembunyikan sesuatu deh." Cyra menceritakan apa yang tengah menjadi beban dalam fikiranya.


"Kamu salah lihat nggak, soalnya yang aku kenal Kakek itu bukan tipe orang yang suka main teka teki. Beliau kalo ada masalah langsung disampaikan dan juga kalo ada apa-apa ya dibicarakan. Bukan tipe yang semuanya dia kerjakan atau ketahui seorang diri." Naqi kembali memastikan apa yang di lihat Cyra itu bener.


Cyra diam membisu ia mengingat-ingat kembali semua yang di lihatnya barusan. Namun ia yakin bahwa memang yang ia lihat benar. "Perasaan apa yang Cyra lihat benar Mas, Cyra melihat wanita yang ada dimimpi Cyra."


"Kalo begitu biar nanti Mas coba bantu tanya kan pada Kakek, sekarang biar kamu tidur dulu deh! Besok kamu harus kembali bekerja jadi harus punya setamina penuh.


Cyra pun tidur mengahadap pada Naqi begitupun Naqi menghadap pada Cyra. Naqi menggenggam jari jemari Cyra. Ia ingin menunjukan pada Cyra bahwa ia memberikan dukungan untuk semua masalah yang tengah Cyra fikirkan.


*****


Satu minggu telah berlalu...


Kali ini Qari sudah semakin bisa diandalkan untuk mengerjakan laporan.


"Nona Qari, berhubung Anda sudah bisa mengerjakan laporan seorang diri dan sudah bisa menghandle waktu untuk mengerjakan lapora. Maka mulai besok saya sudah mengajukan cuti." Alzam mengajak ngobrol Qari di tengah-tengah kesibukan.


Qari pun langsung memberhentikan kegiatanya dan menatap ke meja Alzam. "Kamu sekarang percayakan kalo seorang Qari yang cantik jelita juga bisa kerja dengan benar?" ucap Qari dengan sombong.


Sementara Qari semakin dibuat besar kepala dengan pujian Alzam.


Lalu Alzan meninggalkan Qari dan mengantarkan laporan ke ruangan Naqi sekalian akan berpamitan untuk esok ia sudah mulai mengambil cuti.


"Siang Tuan," sapa Alzam dengan sopan.


"Hemz..." Naqi hanya mebalas dengan deheman.


"Ini laporan yang harus Anda tanda tangani dan ini juga mengajuan cuti saya, Tuan." Alzam meletakan tumpukan map yang akan Naqi tanda tangani dan juga form pengajuan cuti untuk dirinya.


"Ko, cepat sekali kamu mengajukan cuti. Apa Qari sudah kamu pastikan bisa mengerjakan semua laporan kamu?" tanya Naqi dengan nada dinginya.


"Sudah Tuan, dan saya bisa pastikan bahwa Nona Qari sudah bisa mengerjakan semua lapotan dengan baik, dan tepat waktu. Beliau sudah bisa mengatur waktunya agar tidak ketinggalan dalam mengerjakan laporan." Alzam menceritakan perkembangan Qari yang sangat pesat, dan memang nampaknya Qari tidak mau dicap sebagai wanita berotak minim.


"Awas yah kalo gara-gara kamu cuti kerjaan jadi terbengkalai. Gajih kamu aku potong," ancam Naqi. "Kamu cuti-cuti ajah nggak usah pake form apa lah itu. Biar aku yang bertanggung jawab, tapi ingat cutinya jangan kelamaan begitu urusan kamu sudah selesai kamu langsung pergi balik kerja."


" Baik Tuan, saya akan mengusahakan semua urusan saya lebih cepat," balas Alzam pasrah sajah. Padahal ia mengambil waktu cuti satu minggu itu juga sudah cuti paling cepat. Namun tetap sajah Naqi meminta waktu dipersingkat. Alzam tetap akan mengambil cuti satu minggu agar lukanya setidaknya sudah mengering. Apabila Naqi marah-marah dengan jangka cutinya yang terlalu lama maka Alzam hanya akan menanggapinya dengan santai dan mendengarkan ocehan bosnya.


Alzam pamit kembali keruanganya. Ia lalu mengambil ponselnya dan menekan nomor adiknya.


[Asallamualaikum Bang,] sapa Tantri dari balik telepon.


[Walaikumsallam De, hari ini Abang sudah izin dengan bos Abang, dan mulai besok Abang sudah mulai cuti. Nanti kamu tolong persiapkan semua keperluan Abang dan kamu selama si sana yah!] Naqi sengaja tidak menyebut rumah sakit pasalnya Qari dari tadi menguping obrolan Alzam dan Adiknya.


[Baik Bang, nanti Tantri akan siapkan semuanya.] Begitu Alzam memutus sambungan teleponya, Tantri langsung menyiapkan keperluan dirinya dan Abangnya nanti di rumab sakit. Dirinya juga sudah meminta izin pada pihak sekolah untuk belajar dari rumah. Tantri lebih jujur pada gurunya karena wali kelasnya justru menjadi teman curhatnya dan tahu bahwa Abangnya tengah sakit. Sehingga Tantri di izinkan untuk belajar dari rumah toh sudah terbukti sekali pun belajar dari rumah, namun Tanti bisa selalu berpretasi. Itu karena Tantri sebagai salah satu murid terpandai dikelasnya.


"Alzam loe mau kemana sih? Ko kayaknya penting banget?" tanya Qari kepo. Begitu Alzam mengakhiri pangilanya dengan sang adik.


"Bukanya saya sudah bilang dari kemarin-kemarin, bahwa saya ada urusan keluarga yang harus diselesaikan," jawab Alzam dengan santai sembari menyimpan ponselnya.


"Enggak mau bisikin gitu urusan keluarganya apa? Kamu mau nikah yah?" tebak Qari, dengan maksud meledek.


"Huhhsssss...." Alzam hanya mendengus kasar. Bahkan dalam fikiranya ia tidak terfikirkan sekali pun untuk menikah. Namun tidak tahu kalo ada jodoh yang menerimanya kelak. Menerima semua kekurangnya. Sebab tidak mudah bagi orang yang memiliki cacat fisik untuk menemukan jodohnya. Mereka harus benar-benar kuat mental dan bisa menerima pasanganya dengan tulus, dan apa adanya.