
"Aku tunggu di palkiran sekarang!!! Kita pulang!!!" Itu pesan yang Naqi kirimkan pada Cyra. Cyra yang membanca pesan itu pun sontak langsung ngegerutu, mengumpat Naqi. Cyra langsung berpamitan dengan teman-teman kecilnya dan juga teman sesama relawan.
Begitu keluar dari ruangan, Cyra langsung berhambur, mengayunkan kakinya dengan gesit. Ia tidak mau nanti ditinggal oleh Naqi.
Cyra langsung membuka pintu mobil Naqi dan merangsak masuk, kemudian menutup pintu dengan keras.
Boook.....
Bukan... bukanya marah, tetapi ia lupa dan kebablasan membanting pintu mobil Naqi.
Naqi yang tidak sadar bahwa Cyra masuk pun kaget...
"Wey santai Nona...! Kamu marah?" tanya Naqi dengan mata melotot.
"E... enggak Mas. Itu tadi dipintu ada minyaknya jadi kelepasan nutupnya abis licin," elak Cyra.
"Minyak? Minyak dari mana? Emang nih mobil jual gorengan sampe ada minyaknya!" Naqi makin melotot.
"E....enggak juga, maksud aku tangan aku ada kringetnya, iya itu. Tadi mau ngomong itu, tapi lidahnya kepeleset jadi nyebut minyak," balas Cyra dengan menggaruk-garuk punggung lehernya yang nggak gatel.
"Awas yah berani marah sama aku, berani banting-banting pintu mobil aku bakal aku tuntut kamu," ancam Naqi sembari mengacungkan kaca mata yang hendak ia pake, kearah Cyra.
"Wew, dituntut soal apa?" batin Cyra. Cyra pun tertawa mendengan ancaman Naqi. Sebegitu lawaknya hidup Cyra bisa dituntut karena nuntup pintu mobil keras.
"Naqi yang mendengar Cyra menertawakan dirinya, menoleh ke Cyra dan kembali memelototkan matanya.
Cyra langsung membekap mulutnya dan mencoba menahan tawanya. Dari pada disuruh pulang jalan kaki.
Naqi pun melajukan mobilnya, setidaknya ia bisa meluapkan kekesalanya dengan Rania kepada Cyra. Yah, Cyra menjadi korban kemaran Naqi dengan Rania.
Tidak sampai lama mereka telah sampai di rumah. Begitu membuka pintu, terdengar suara tawa ramai di ruang keluaraga.
"Wah, ini pasti Qari udah sampai," batin Naqi, ia langsung masuk ke dalam dan meninggalkan Cyra yang mengekor dibelakanganya.
"Hai... Tuan Putri udah sampai," ucap Naqi sembari merentangka tanganya, dan Qari pun langsung menghambur kedalam pelukan Abangnya, dan bergelayut meminta gendong di depan. Meskipun mereka adalah Tom and Jerry, tetapi kalo berjauhan serasa menjadi anak yang akur dan penuh denga kasih sayang. Mamih dan Kakek pun tersenyum. "Paling keakuran ini cuma bertahan beberapa menit sajah," kekeh Mamih dalam hatinya.
"Abang... aku kangen banget," ucap Qari sembari badanya masih bergelayut ditubuh Naqi, kaki Qari melingkar diperut abangnya.
"******, turun! Berat yet!" umpat Naqi yang baru sajah bilang kangen udah saling mengumpat.
"Ya ampun mulutmu Bang, kasar sekali bahasanya," protes Qari padahal dirinya juga kalo ngomong dibelakang kakeknya lebih tidak terkontrol. Ia pun akhirnya melompat menurunkan badanya.
"Naqi, ngomongnya jangan dibiasain kaya gitu dong!" ucap Mamih membela Qari.
"Baru dateng, jangan caper dulu, atur setrategi biar nggak keliatan nikung!" runtuk Naqi kesel dengan kelakuan adeknya, yang dari dulu sifatnya selalu senang apabila Abangnya tertindas.
"Biarin aku suka kamu tersolimi," ejek Qari.
Qari pun menggeser Naqi dengan kasar dan melihat Cyra yang bersembunyi dibelakang Abangnya.
"Ini Istri loe?" tanya Qari pada Naqi.
"Menurut loe siapa?" tanya balik Naqi.
"Cantik sih cantik tapi kelakuanya bar-bar nggak ada lawan. Abang kira loe kuliah diluar negri pulang bisa jadi prinsess kelakuanya. Anggun dan bersahaja, tapi malah makin menjadi. Pantes lah Kakek nyuruh kamu pulang. Kamunya kuliah nggak dapat ilmu dapat masalah doang!" ejek Naqi, yang ceplas ceplos.
"Heh... sembarangan loe kalo ngomong Bang, sekate-kate. Gue pulang ke Indo karena diminta bantuin ngurus perusahaan yang loe urus itu. Kakek bilang loe nggak becus ngurus tuh perusahaan, makanya kakek minta gue bantuin loe. Secara otak gue lebih berlian dari pada otak loe yang seuprit itu.
Kakek yang tau betul kelakuan cucunya kalo udah ketemu pun membiarkan mereka beradu argumen masing-masing. Kakek memikih kembali keruangan kerjanya. Mamih pun nggak mau kalah menarik Cyra agar meninggalkan Naqi dan Qila yang sedang berantem.
Mamih dan Cyra mengendap-endap meninggakkan adik kaka itu.
"Udah di sini ajah kita makan, dari pada dengerin dua anak itu kalo berantem suka lupa waktu," kekeh Mamih.
"Loh kenapa nggak dilerai Mih? Malah ditinggalin nanti kalo terjadi sesuatu gimana?" tanya Cyra khawatir, sebab baru kali ini orang tua membiarkan anak-anaknya berantem. Kalo diluaran sana adik kaka beranten, emaknya setres Mih. Lah ini malah asik ngunyah makanan.
"Enggak, nanti juga berhenti sendiri kalo udah cape. Mereka mah udah biasa kaya gitu. Itu cara mereka menunjukan kepeduliannya satu sama lain, Kalo dilerai malah Mamih yang pusing. Mending di tinggalin nanti juga nyusul kesini kalo udah lapar," tutur Mamih dengan santai dan justru menikmati makan malam tanpa terganggu dengan suara anaknya yang masih saling tuding. "Udah kamu makan ajah! Percaya sama Mamih suami kamu bakal baik-baik sajah," kekeh Mamih yang melihat kecemasan di wajah Cyra.
Cyra pun pada akhirnya mengikuti saran Mamih, ia ikut menikmati makanan lezat yang ada di atas meja makan. Makanan sepesial buat penyambutan Qari, tetapi yang disambut malah masih pada kangen-kangenan.
"Loh ko makan nggak ngajak-ngajak sih Mih?" ucap Qari, sembari menuju meja makan menghanpir Mamih dan Kaka Iparnya.
"Tuh kan laper mah udahan berantennya," bisik Mamih pada Cyra, disambut dengan kekehan kecil oleh Cyra dan Mamih.
"Udahan berantemnya. Kalo udah sinih makan! Isi energi dulu takutnya nanti mau lanjut adu kekuatan diring tinju," kekeh Mamih menggoda anaknya.
Naqi pun tak mau kalah menyusul adiknya dan berbaur dimeja makan mengikuti jejak mereka yang sudah dulu menikmati hidangan lezat ini.
"Ngapain loe, ikut-ikut gue, Kangen yah?" ledek Qari.
Huek.... Naqi berlaga memuntahkan sesuatu, "Najis banget gue kangen sama loe, biang masalah," runtuk Naqi.
"Mas udah ah, ini meja makan nggak sopan." Cyra mengusap tangan Naqi dan memintanya duduk disebelah Cyra. Lalu Cyra mengambilkan menu buat makan suaminya.
Entah mengapa Naqi mengikuti perkataan Cyra dan duduk diam meski pun matanya masih menatap sinis ke arah Qari yang menjulurkan lidahnya mengejek Abangnya.
"Mih, Abang udah punya pawang!" bisik Qari sembari terkekeh.
"Hush... kamu juga jangan kaya gitu, udah buruan ikut makan, udah kenyang baru adu jotos sanah di taman belakang," ucap Mamih, mendukung perkelahian antar anaknya.
Mereka pun menikmati makan malam, kecuali Kakek yang memang kalo sudah di ruangan kerja tidak ada yang bisa ganggu.
"Kaka Ipar, emang kerja di mana? Apa satu kantor dengan Abang Naqi?" tanya Qari kepo dengan Kaka Iparnya.
"Oh tidak, saya bekerja sebagai model," jawab Cyra dengan lembut, bahasanya pun sopan, membuat Qari jadi malu karena ia kalo berbicara nyablak, alias sekate-kate, no filter.
"Loh... Kok Kakek izinin Kaka ipar jadi model? Padahal aku dari dulu ingin ikut kelas model, tapi Kakek tidak mengizinkan, dan memintanya kuliah bisnis. Hal yang paling membosankan." Qari pun bersungut mengingat ucapan Kakeknya.
"Kakek itu tau De, kamu itu Tomboy, jalan ajah kamu fales gimana mau jadi model. Udah paling bener pilihan Kakek kamu bisnis dan kerja di kantor kalo ada yang macem-macem nilep duit perusahaan atau Partner kerja yang nakal. Aku udah punya Herder jadi tinggal aku lepas kamu buat cabik-cabik mereka," kekeh Naqi.
Mas..... Cyra kembali mencoba meminta Naqi mengontrol candaanya. Lagi, Naqi pun luluh dengan Cyra dan memilih melanjutkan makananya yang tinggal beberapa kali suap lagi.
Qari dari sebrang meja, menahal mulutnya agar tidak menyemburkan makananya, karena menertawakan Naqi yang sudah punya pawang. "Haha rasain, sekarang aku bisa menindasmu Bang, kamu udah ada pawang jadi nggak bisa macam-macam sama adikmu yang cantik ini," kekeh Qari dalam hati.
#Ketahuan kan Naqi punya sifat jahil dari mana adik sama Abang sama-sama bikin darting....