Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Tinggal di Kampung


Di saat Cyra memikirkan untuk menata masa depanya yang lebih baik. Di sisi lain Naqi yang baru tiba di kampung halaman Rania pun tengah merapihkan rumah peninggalan orang tua Rania. Rumah yang cukup sederhana tetapi sangat nyaman untuk Rania, sebab di rumah itu ia di lahirkan dan di rumah ini pun ia dibesarkan, tetapi di rumah ini juga dulu ia menghantarkan ibunya keperistirahatan terakhirnya.


"Ibu, Nia kangen sama Ibu," lirih Rania termenung di kamar ibunya. Memutar semua memori'nya bersama ibunya. Di mana ibunya sering menceritakan sosok ayahnya. Sampai pada saat ia dan ibunya memutuskan mencari keberadaan ayahnya. Hanya bermodalkan nekad.


Namun nasib berkata lain bukanya ia menemukan ayahnya dan bisa bekumpul bersama dengan bahagia, tetapi justru ia harus mengalami nasib yang semakin buruk. ibunya mengalami tabrak lari dan tidak lama berjuang untuk sembuh, ibunya justru meninggalkan dia seorang diri untuk selama-lamanya.


Tanpa sempat ibunya memberitahukan sosok ayahnya lebih detail. Sehingga sekarang Rania ingin mencari anggota keluarga satu-satunya pun sulit. Bahkan sekarang Rania pasrah apabila sampai ia meninggal belum bertemu ayahnya.


Padahal andai boleh di minta, Rania sebelum meninggal ingin sekali tahu siapa ayah kandungnya, dan ia juga ingin mendapatkan pelukan dari ayahnya. Lalu ia akan bertaya kenapa ayahnya tega meninggalkan ia dan ibunya begitu saja.


Apakan ayahnya tidak mencintai ibunya, atau ada alasan lain yang Rania tidak tahu.


Naqi yang melihat Rania melamun pun menghampirinya. Memang ini bukan pertama kali Naqi datang ke rumah ini. Dulu waktu ibunya Rania meninggal dunia, Naqi pun ikut mengantarkan jenasah ke rumah duka, dan juga Naqi yang meminta Rania untuk mengikutinya ke Jakarta.


Kini ia dan Rania kembali lagi setelah dua tahu lebih mereka menjalin kasih. Naqi kembali kerumah ini untuk menepati janjinya bahwa ia akan menjaga Rania.


"Kenapa? Kamu kangen sama Ibumu?" tanya Naqi yang memilih duduk di bangku yang telah usang, sedangkan Rania duduk di ranjang yang tidak terlalu empuk.


Rania mengangguk dengan wajah masam. "Aku hanya memikirkan bagai mana sosok ayahku. Apa dia tidak ingin menemuiku sebagai anaknya. Apa ia tidak menganggap aku sebagai anak mereka sehingga dia tidak mencariku?" tanya Rania entah ia bertanya pada siapa, pada dirinya sendiri atau pada Naqi.


Yang jelas ia benar-benar bingung. Bagaimana kehidupanya kedepanya. Setelah ia memutuskan bersama dengan Naqi, ternyata hatinya pun tidak merasa nyaman. Ia masih gundah, masih bingung dengan isi hatinya.


"Apa kamu tidak memiliki beda peninggalan apa pun yang bisa kamu gunakan untuk mencari tahu bagai mana ayahmu. Atau petunjuk yang bisa membawamu untuk menemukan ayah kandungmu?" Naqi pun bingung mau membantu apa sebab selama ini Rania sendiri tidak memiliki apapun yang bisa ia gunakan untuk mencari ayahnya. Selama ini petunjuk Rania hanya Ibunya yang mengenali wajah ayahnya, tetapi petunjuk itu sekarang sudah meninggal. Yang otomatis petunjuk itu hilang, yang menunjukan semakin sulit ayahnya untuk di temukan kembali.


Terjadi kebisuan diantara mereka lagi. "Lalu rumah sakit di kota ini di mana? Kamu harus mengecek kondisi kesehatanmu Nia. Kamu nggak boleh mengabaikan sakitmu. Nanti malah makin parah. Aku nggak mau pengorbananku sia-sia. Aku ingin kamu sembuh. Lalu kita akan memperjuangkan cinta kita bersama-sama. Kita pasti bisa meluluhkan sifat kakek dan pendirianya. Kamu harus semangat karena ini semua butuh dukungan juga dari kamu." Naqi akan mulai fokus dengan Rania. Ia tidak mau bersedih terus. Bukankah pilihan ini datangnya dari dia. Jadi dia tidak mau terpuruk.


Naqi bertekad akan menunjukan ada kakeknya bahwa ia juga bisa bahagia dan sukses sendiri. Sukses diatas kaki sendiri.


"Tapi bagaimana kalo aku sudah berobat mati-matian, uang kita habis dan aku juga tidak sembuh. Apa tidak lebih baik uang yang kita punya di simpen saja dan untuk sakit aku berobat atau tidak hasilnya akan sama ko sayang." Rania justru berbanding terbalik dengan pemikiran Naqi. Ia pasrah dengan takdir Tuhan, tampa mau berjuang.


"Kamu ngomong apa sih Nia, kenapa kamu jadi lemah begini? Kamu tahu kan kalo aku memilih kamu itu karena ingin kamu kembali bersemangat dan sembuh, agar kita bisa hidup bersama-sama. Kalo kamu mati dan membiarkan semuanya hilang begitu saja percuma dong aku memilih kamu dan menghancurkan pernikahan aku." Naqi berbicara dengan nada yang lebih tinggi ia kesal dengan sifat pasrah yang Rania miliki. Di mana Rania yang dulu yang selalu semangat untuk melewari segala kelemahanya.


"Kamu sudah cinta yah sama istri kamu yang tidak memiliki rambut itu?" tanya Rania, denga. nada mengejek.


"Kamu kenapa ngomong kaya gitu. Enggak sepantasnya sesama makluk hidup kamu berkata begitu. Dia juga memiliki perasaan Nia, kalo mendengar kamu ngomong kaya gitu kasian dia, kekuranganya kamu perolok. Lagian masalah aku suka atau tidak sama dia aku fikir bukan urusan kamu. Seharusnya kamu bangga dong aku sudah memilih kamu. Tunjukan kamu memang layak untuk aku perjuangkan jangan malah seolah kamu aku pilih tetapi membuat aku menyesal telah memilih kamu." Naqi tentu marah dengan ucapan Rania, Naqi tahu betul bagai mana menjadi Cyra yang tidak gampang dengan kukuranganya. Berdiri beda agar tidak dibedakan. Namun Rania malah berkata seperti itu dihadapanya.


"Abisan aku kesal sama dia bukanya dia udah janji tidak akan main hati menikah sama kamu, tapi aku lihat baik kamu maupun dia malah berat untuk berpisah. Mana Naqi yang dulu yang dengan lantang menolak pernikahan dengan wanita itu dan kamu kan yang menggebu untuk berpisah juga dengan wanita itu. Aku kabulkan keinginan kamu, tapi malah kamu murung kamu uring-uringan nggak jelas. Kamu milih aku bukan karena cinta Naqi, tapi hanya karena kasihan ia kan. Kamu kasihan dengan aku yang pernyakitan ini." Rania pun sama mengeluarkan unek-uneknya, yang sejak kemarin mengganjal dibenaknya. Terutama melihat Naqi yang makin beda tingkah lakunya. Rania merasa asing hidup dengan Naqi.


Naqi yang mendengar ucapan Rania pun tersulut emosinya. Ia sangat kesal dengan yang diucapkan Rania padahal yang diucapkan gadis itu benar adanya, dirinya sudah suka dengan Cyra, dan memilih Rania hanya kasihan saja, karena tidak ada lagi sanak sodara yang mau merawat Rania. Benar yang dikatakan Rania bahwa sikapnya beda, sebab dia memang sudah mencintai Cyra sehingga untuk memulai lagi dengan Rania ada perasaan bersalah dan berbeda untuk perlakuanya. Naqi justru sekarang merasa sangat jauh dengan Rania. Tidak seperti dulu yang sering melibatkan kontak fisik. Bahkan untuk ciuman berpelukan, Naqi merasa berdoa karena telah menghianati Cyra.


Naqi yang kesal ingin membalas ucapan Rania pun akhirnya pergi dari kamar itu. Ia ingin menenangkan diri dari Rania. Dari pada di samping Rania membuat ia makin pusing.


Rania yang melihat sikap Naqi pun tersenyum dengan sinis. "Kalian yang mulai bermain api, kalian juga yang akan tetbakar," degus Rania dengan suara hanya ia seorang yang mendengarnya pasalnya Naqi sudah jauh pergi meninggalkan dia seorang diri di kamar almarhum ibunya.


Rania kembali mengingat masa lalunya bersama ibunya, agar fikiranya tidak dipenuhi dengan Naqi yang makin membuat ia kecewa.