
Sementara Naqi di rumah sakit tidur pun tidak bisa terlentang karena luka yang ada di punggungnya. Sementara Cyra dan yang lainya sekarang sudah pada kembali ke rumah karena acara ijab kabul Meta dan Fifah sudah pada selesai. "Jadi begini yah dulu Cyra ngerasainya tidur pun tidak enak," gerundel Naqi yang sejak tadi tidur pun tidak enak, dan semuanya terasa nyeri bahkan perut lapar pun rasanya mau makan sulit. Duduk salah, tidur pun salah. Naqi sekarang merasakan apa yang dulu Cyra rasakan.
Mamih menemani Naqi tetapi tidak bisa banyak melakukan apa-apa. "Bang nanti kalo mamih pulang duluan gimana, di rumah juga akhir-akhir ini kakek sedang tidak enak badan. Jadi mamih harus banyak-banyak mengurusnya. Kamu tidak apa-apa kan Bang kalo di rumah sakit sendirian. Apa mau di temanin sama Qari?" tanya mamih yang tidak enak terlalu meninggalkan mertuanya yang memang beberapa hari ini kesehatanya tengah kurang bagus.
"Tidak apa-apa Mam, biarin Naqi sendiri di rumah sakit, dari pada bersama Qari yang ada bukanya sembuh malah makin parah Mam, tau sendiri kan gimana cerobohnya anak mamih yang itu. Lebih baik Naqi sendiri di rumah sakit, biarkan nanti juga ada perawat yang datang merawat Naqi kan?" ucap Naqi yang merasa lebih aman di rawat oleh suster dari pada adiknya sendiri.
Selain Qari yang memang memiliki dendam pribadi terhadap dirinya Qari juga anaknya celedor sehingga luka bakar ditubuhnya bisa-bisa makin parah.
"Ya udah, tapi nanti kamu kalo ada apa-apa kalian langsung hubungin mamih yah, biar mamih tidak khawatir dengan apa yang terjadi dengan kalian." Mamih biarpun tidak merawat Naqi tetapi tetap ingin memastikan apa yang terjadi dengan anaknya itu baik-baik saja.
Naqi pun hanya mengangguk, menandakan tahu apa yang mamihnya perintahkan itu.
Cyra dan yang lain kini sudah sampai di rumah setelah mengadakan acara pernikahan Meta dan Fifah. Mamah Mia pun sejak tadi memberikan nasihat terhadap Meta agar jangan langsung menjadikan anak lagi dari Fifah, setidaknya gunakan alat pencegah kehamilan di mana Mesy masih kecil sehingga masih butuh kasih sayang apabila Mesy memiliki adik lagi pasti akan mengurangi kasih sayang pada Mesy.
Yah Meta pun tidak masalah akan hal itu, toh dia juga tidak ingin langsung buru-buru memiliki anak lagi, karena memang hamil dan melahirkan itu membutuhkan tenaga yang banyak. Pengalamanya menemani fifah hamil dan melahirkan Mesy banyak sekali mengajarkan pelajaran yang sangat berharga buat Meta.
"Ra, aku perhatiin kamu itu sejak tadi seperti bingung kenapa?" tanya Fifah dengan berhati-hati sebab takut menyinggung perasaan adiknya yang sedang sensitif. Buktinya sejak tadi Cyra hanya banyakan diam dan tidak melakukan apapun itu.
"Aku kefikiran Naqi kak, kalo aku menengok Naqi kira-kira kalian marah tidak?" tanya Cyra dengan berhati-hati sebab dia takut keluarganya menolak untuk dekat kembali dengan Naqi.
"Loh kenapa kami marah? Itu semua terserah kamu dong Cyra, semua keputusan ada di tangan kamu. Lagian kamu sekarang bukan Cyra yang umurnya delapan belas tahun lagi, tetapi kamu adalah Cyra yang sudah bisa memilih mana yang baik dan mana yang jelek buat kamu," ucap Fifah.
Cyra pun melihat ke arah mommynya, Cyra takut kalo mommy akan kecewa dengan keputusanya itu. "Mom, kalo Cyra merawat Naqi, apakah mommy akan marah pada Cyra?" tanya Cyra meminta izin pada wanita yang telah melahirkanya. Yang saat ini memegang haknya seratus persen penuh karena Cyra saat ini adalah miliknya seutuhnya.
Tuan Latif akan dengan tangan terbuka menerima cucunya dan anaknya apabila mau bertaubat. Seperti Luson dia memang tidak tinggal di rumah itu lagi tetapi kali ini ia sedikit bertanggung jawab terutama dengan Rania. Dia setiap satu bulan sekali datang untuk memberikan nafkah materi pada Rania. Yah, semua kebutuhan Rania, selama ini Luson yang mencukupinya.
Setelah Cyra mengantongi izin terutama dari mommy dan tentu Meta, sebagai mamih angkatnya. Cyra pun setelah bertanya sama mamih di mana Naqi di rawat datang seorang diri. Yah Cyra tidak mau di antar oleh Meta yang memang sedang berbahagia dengan setatus pengantin barunya.
"Ya Tuhan, semoga keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang terbaik dan semoga aku tidak kecewa untuk kedua kalinya." Cyra berdoa terlebih dahulu, sejak sebelum mengambil keputusan ini pun Cyra sudah berdoa berkali-kali ia tidak mau salah dalam mengambil keputusan.
Cyra masuk keruangan di mana di sana ada Naqi yang tengah beristirahat. "Mam, maaf yah gara-garaCyra, Mas Naqi mau menolong Cyra sekarang justru Mas Naqi harus mengalami seperti ini," ucap Cyra di mana kebetulan mamih masih di kamar itu, belum pergi pulang kerumahnya.
"Tidak apa-apa sayang. Memang itu sudah jalan takdir darinya kali, sehingga dia sekarang harus mengalami seperti ini. Tapi mamih percaya kalo kamu sudah datang dan mengurus Naqi pasti dia akan cepat sembuh," ucap Mamih sekalian meledek Cyra.
"Maksud mamih apa? Memangnya kalo orang lain yang menjaganya Mas Naqi tidak cepat sembuh?" tanya Cyra, hanya berbasa basi, sebenarnya Cyra sudah tahu apa maksud dari ucapanya mamih barusan. Mamih memang tidak pernah membahas apapun dengan Naqi, tetapi mamih juga sangat berharap bahwa Naqi dan Cyra masih memiliki garis jodoh.
Sehingga ketika Cyra datang dan mamih sangat senang itu tandanya masih ada kemungkinan bahwa Cyra akan berjodoh lagi dengan putranya. Menantunya akan kembali menjadi Cyra seperti selama ini dia katakan bahwa menantunya itu hanya Cyra. Mamih selama Cyra dan Naqi berpisah seolah setengah kebahagiaanya pun ikut pergi, tetapi dengan Cyra yang masih ada peduli dengan Naqi. Mamh kembali bahagia dan sangat berharap bahwa suatu saat putranya dan Cyra akan kembali menikah, tetapi menikah karena dasar saling mencintai bukan seperti dulu nikah karena perjodohan.
"Ra, mamih nitip Naqi, kamu tidak keberatan kan? Soalnya mamih mau pulang. Kakek akhir-akhir ini lagi kurang sehat. Jadi mamih harus mengawasi takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mamih nitip Naqi yah kalo ada apa-apa kamu bilang ajah yah sama Mamih dan semoga Naqi tidak susah minum obatnya. Tapi kalo susah kamu pasti punya jurusnya biar dia mau minum obat." Mamih sebelum pulang memastikan semuanya aman untuk anaknya.
Cyra pun tidak keberatan mamih tinggal ia hanya dengan Naqi, toh dulu Cyra juga sering melakukanya. Merawat Naqi ketika tengah kurang sehat.
"Bukanya masih ada Qari, biar nanti kalo Qari pulang kerja, aku minta kesini ajah biar rame di rumah sakit. Kalo ada Qari pasti lebih ramai dan bisa buat teman bergadang nanti," batin Cyra membayangkan adik iparnya nanti akan menemani dirinya menjaga Naqi.