
"Kenapa?" tanya Naqi, ketika pintu mobil di tutup dengan suara kencang. Nada bicara berbeda dengan dulu ketika Cyra menutup mobil dengan keras. Dulu Naqi akan perotes ketika Cyra membanting pintu mobilnya, kali ini justru kebalikanya, ia bertanya dengan santai. Walaupun jantung sempat akan copot karena kaget.
"Ada paparazi," jawab singkat Cyra, tangan fokus memasang seatbelt.
"Di mana?" mata Naqi mengawasi sekitar, kali ajah memang ada dan mereka akan membidik foto mereka secara diam-diam dan menjadikanya new gosip. Mengingat Cyra yang banyak penggemarnya.
"Udah ayo jalan, ceritanya sambil jalan ajah. Nanti mereka keburu ngejar lagi!" titak Cyra tidak mau Naqi bertanya terus.
Naqi langsung menyalakan kendaraanya dan menginjak pedal gas dengan dalam. Meninggal kerumunan orang yang kepo dari balik jendela rumah asri itu.
"Seriuz paparazi, siap di mana?" tanya Naqi ulang. Karena keburu-buruanya sampai-sampai kata-kata indah sebagai sapaan selamat pagi bagi calon pendamping hidupnya yang ia sudah cape-cape hafalkan semalam hasil copas diinternet pun lupa begitu sajah.
"Meta, dan yang lainya, dia kayaknya udah mencium kalo kita dekat lagi," jawab Cyra.
"Loh bukanya bagus, lagian aku juga serius kok Ra, aku janji tidak akan seperti dulu lagi. Kamu adalah wanita satu-satunya yang membuat aku galau selama satu tahun. Mencari kamu kaya orang gila, tapi enggak ketemu juga, masa pas ketemu enggak di perjuangkan. Aku harus tunjukin dong kalo aku seriuz," balas Naqi, ini adalah jalan pertama mereka berdua tetapi sudah langsung membahas yang seriuz.
"Mas, kan kata Cyra jalanin dulu. Jangan langsung bahas seriuz-seriuz masih banyak yang perlu di yakinkan. Terutama hati Cyra. Bohong kalo enggak kecewa sama perlakuan Mas tempo lalu sama Cyra. Dan itu masih membekas di hati Cyra. Kita jalanin dulu ajah jangan buru-buru rujuk. Takutnya Mas di tengah jalan menemukan yang lebih baik dari Cyra, dan mengabaikan kembali Cyra. Atau mungkin Cyra yang malah menemukan pengganti Mas Naqi dan nerima Cyra apa adanya," jawab Cyra dengan santai, tetapi tidak bagi Naqi, hatinya sakit ketika mendengar hal itu. Kesalahanya memang sangat fatal.
"Iya Ra kita jalanin ajah, lagian juga baru ke temu," balas Naqi seolah-olah ia baik-baik saja. Padahal di hatinya tidak ada kata-kata baik-baik saja.
Obrolan ringan yang di selingi candaan pun menemani perjalanan pagi ini. Meskipun Naqi melihat bahwa Cyra masih mebatasi diri denganya. Obrolan lebih didominati Naqi yang memulainya. Tidak masalah Naqi memakluminya, dan ia akan memperjuangan Cyra sesuai janjinya pada diri sendiri.
Begitu sampai di tempat kerjanya yang sebelumnya Cyra beritahu pada sopir pribadinya. Ia bersiap untuk turun. "Terima kasih yah," ucap Cyra, sebelum benar-benar turun dari mobil mantan suaminya.
"Buat?" tanya Naqi singkat, memancing obrolan, setidaknya agar ia bisa lebih lama mengobrolnya sedikit sebelum Cyra benar-benar turun dari mobilnya.
"Udah mau repot-repot ngantar Cyra kerja."
"Oh, kan udah dibilang sebagai ucapan terima kasih, seharusnya aku yang ngucapin terima kasih sama kamu, karena udah mau cape-cape ngerawat aku. Mana susah buat minum obat. Berubah jadi galak plus bawel kalo sudah di minta minum obat. Kalo perawatnya galak pasti aku lama sembuhnya untuk perawatnya baik jadi sembuhnya lebih cepet," ujar Naqi mumpung jam masih pagi, masih ada waktu untuk mengobrol dengan dengan pujaan hati yang masih di tahap pendekatan itu. Manfaatkan waktu biar makin dekat, itu perinsip Naqi.
Cyra terkekeh ringan setiap melihat mamih dan Naqi beradu mulut ketika Naqi harus minum obat, biarpun ujungnya Naqi meminumnya, tetapi mulutnya akan terus mengoceh, "Emang susah banget yah kalo nelen obat," tanya Cyra yang masih penasaran dengan kelemahan mantan suaminya itu. Awalnya Cyra mengira bahwa laki-laki yang ada di sampingnya hanya pura-pura tidak bisa minum obat, untuk menarik perhatian Cyra atau mungkin mamih.
"Ish...(Desis Naqi, sembari membuang nafas kasar) Kan aku udah bilang. Obat itu pait dan biarpun obatnya kecil, anehnya setiap mau di telan, nih tenggorokan seolah ada sensornya tidak mau menelen dan alhasil obat itu mental jadi seisi mulut pait sama obat. Dicoba lagi kaya gitu lagi sampe mulut rasanya pait semua, kalo tidak merasakanya mah memang terlihat seperti mengada-ada, tapi memang seperti itu yang aku rasakan," adu Naqi dengan suara yang prustasi.
"Iya-iya tau, hanya aneh ajah, lain kali jangan dibiasain, coba ajah terus nanti juga terbiasa," pesan Cyra dengan nada bijaknya.
"Baik ibu dokter," jawab Naqi, tatapanya yang dalam dan senyum terbaiknya menggambarkan bahwa ia sangat kagum dengan Cyra, tidak menghakimi kelemahan Naqi.
"Udah ah, ngobrol terus nanti malah telat lagi," ucap Cyra sembari tangan kananya membuka pintu. Naqi lupa hendak mengulurkan tanganya, masih terbawa dengan kebiasaan ketika Cyra saat masih menjadi istrinya, setiap hendak keluar mobil, maka Cyra akan mencium tanganya. Namun untung Naqi buru-buru tersadar bahwa setatusnya saat ini hanya mantan yang tengah mencoba kembali merajut benang yang terputus, Naqi segera menarik tanganya sebelum Cyra sadar dan ia malu karena Cyra sudah pasti menolak uluran tanganya, mengingat setatusnya saat ini tidak seperti satu tahun silam, sebelum kesalahanya merusak hubungan sakral mereka.
"Ra, nanti pulang jam berapa?" tanya Naqi sebelum Cyra benar-benar turun dari mobilnya. Cyra kembali menoleh ke arah Naqi, sedangkan tubuhnya sebagian udah ia angkat hendak turun dari mobil mewah itu.
"Kenapa mau jemput? Kayangnya enggak usah deh, soalnya biasanya Meta jemput, takut malah nanti kenal omel gara-gara kebanyakan alasan pulang sama Mas Naqi. Mereka belum tahu kalo kita deket lagi. Cyra masih takut kalo mereka tidak setuju dengan hubungan kita yang kembali dekat," tolak Cyra suranya terdengar berat.
"Oh, iya tidak apa-apa Mas tau kok. Yah udah semangat kerjanya yah," balas Naqi tangan kananya diangkat guna memberikan semangat.
Cyra membalasnya dengan senyuman terbaiknya, lalu keluar dari mobil. Namun baru beberapa langkan meninggalkan mobil Naqi, ia kembali dan menggedor kaca mobil Naqi.
Naqi yang sudah menyalakan mobilnya dan hendak kembali menyusuri jalanan ibu kota yang sudah lumayan padat di jam orang- berangkat kerja maupun sekolah, Naqi pun kembali mematikan mesin mobil, kaca jendelanya ia turunkan, kedua matanya melirik ke kursi sampingnya di mana tadi Cyra duduk mungkin saja ada benda Cyra yang tertinggal sehingga wanita itu kembali lagi.
Namun di atas korsi kosong bawah juga kosong tidak ada benda apapun yang tertinggal. "Kenapa?" tanya Naqi badanya ia dekatkan ke arah jendela.
"Nanti aku puang jam empat," balas Cyra, tetapi buru-buru wanita itu berlalu masuk ke dalam gedung tempatnya bekerja.
Senyum kemenangan pun tersungging dibibir Naqi. "Yes... Yes...Yes..." sorak Naqi kedua tanganya dikepalkan dan berjingkrak di atas kursi di balik kemudinya sehingga mobilnya pun ikut gerak naik turun, saking kencangnya ia berasorak gembira di dalam mobil. Mungkin bagi yang melihat mobil itu tengah bergerak naik turun, isi otaknya bisa-bisa bertrafeling ke hal yang membuat gerah.
"Terima kasih Ra kesempatanya, aku janji akan sangat menjaga kamu. Tidak akan mengulang kesalahan yang dulu, dan kamu adalah wanita satu-satunya di hati aku. Aku akan menjaga kamu layaknya seorang ratu," janji Naqi dalam batinya.
Pagi ini ia pun merasa sangat bahagia. Sehingga ia berencana menelaktir Assistennya 'Alzam' dan Mirna, sekretarisnya. Sementara Qari tidak masuk daftar sebab uang dia juga lebih dari cukup untuk sekedar makan di lestoran mewah. Tidak hanya telaktir makan sepertinya, bonus juga harus ia bagikan karena hatinya yang sedang bahagia itu. Qi, ingat othor juga bagi bonus yah, tanpa kebaikan hati othor Cyra tidak akan mau sama kamu.....