Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kepuasan


Proses syuting yang ternyata melelahkan telah usai. Kini Cyra dan Meta tengah bersiap akan pulang. Cyra dengan sangat telaten membantu mengemasi semua peralatan Meta. Pekerjaan yang biasanya Meta lakukan seorang diri, kini lebih ringan karena ada Cyra yang membantunya.


"Cyra," panggil sang sutradara.


Cyra yang merasa ada yang memanggilnya langsung menoleh kesumber suara.


"Ah, iya Pa, ada yang bisa dibantu?" tanya Cyra dengan ramah.


"Ah, saya hanya ingin berkata, nanti apabila saya membutuhkan jasa kamu untuk mebintangi iklan atau syuting, apapun itu apa kamu bisa bergabung lagi dengan team kami?" tanya sutradara dengan wajah yang seolah memohon.


Hati Cyra seketika itu juga langsung merasa berbunga-bunga dan sangat bahagia. Inilah momen yang sejak dulu ia impikan.


"Tentu Pa, dengan senang hati saya mau dan juga siap dengan tawaran Bapa," jawab Cyra antusias.


"Bagus lah, kalo begitu nanti saya harus hubungi siapa, apabila ada panggilan kerja sama?" tanya Sutradara dengan senyum mengembang di wajah lelahnya.


Cyra melirik ke Meta seolah bertanya maksud dari pertanyaan sutradara tersebut.


"Oh, kalo soal itu Bapa bisa hubungi I'm," jawab Meta mewakili Cyra yang seolah meminta bantuan.


"Ok... ok... nanti saya akan hubungi you Met."


Sang sutradara pun kembali ketempatnya.


****


Kini tinggal Meta dan Cyra yang berada di ruangan itu.


"Terima kasih yah Met, sudah bantu aku," ucap Cyra dengan mengusap dadanya, seolah benar-benar telah terbebas dari masalah yang teramat besar.


"Sama-sama, lagian memang you nggak ada meneger atau bahkan asisten gitu?" tanya Meta heran dengan Cyra yang sesuatunya dikerjakan sendiri.


Cyra menggeleng lemah. Tentu juga ia belum kefikiran sampai sana. Terlebih ini hari pertama ia memulai karirnya, akan langsung diterima menjadi model pendatang baru sajah sudah sangat bersyukur.


"Ya udah mana nomer hape you? Biar I'm yang jadi meneger you, tapi gajihnya dobel yah!!" Meta dengan senang hati menawarkan diri menjadi meneger Cyra.


"I... ini serius Met?" tanya Cyra, dengan terbata. Mimpi apa ia semalam sehingga seolah keberuntungan mengikutinya sepanjang hari ini.


"Iyah, mana?" tanya Meta, sembari menyodorkan tanyanya meminta ponsel Cyra. Cyra pun merogoh tasnya dan memberikan ponselnya pada Meta.


"Ini posel you?" tanya Meta dengan membolak balikan posel Cyra.


"Iya, kenapa Met?" Cyra tentu heran kenapa Meta seolah aneh melihat ponselnya.


"You anak orang kaya? Ko hape you keren banget, pengeluaran terbaru dan yang punya hape ini cuma pejabat dan pembisnis. Pokoknya orang-orang yang cara dapatin duitnya dengan ngedipin mata," ucap Meta sembari berbisik.


Cyra jadi penasaran memang berapa harga kisaran hapenya. Secara dulu waktu beli dengan mamih, Cyra tidak menanyakan detail harganya.


"Memang harganya berapa?" tanya balik Cyra yang justru ikut kepo dengan harga hapenya.


"Lah kan you yang punya, kenapa jadi tanya ke I'm," jawab Meta aneh.


"Soalnya hape ini dibelikan oleh mamihnya su..." Cyra dengan sepontan menutup mulutnya agar tidak keceplosan dengan setatusnya yang telah menikah. Bisa-bisa Meta curiga. Lama kelamaan ia akan tahu bahwa Naqi adalah suaminya.


"Su... siapa ayo bilang." Mita menodong Cyra untuk bercerita, karena dirinya sudah sangat kepo.


"Oh ya udah you harus banyak bersabar, karena memang sebuah komitmen itu tidak mudah, banyak kendalanya." Meta dengan sangat lembut menasehati Cyra.


Meta dengan jari-jari lentiknya cekatan memindahkan nomer ponsel Cyra kedalam gawainya.


"Nih udah selesai, I'm sudah save nomer you, and you juga sudah save nomer I'm," ucap Meta dengan menyodorkan kembali posel milik Cyra.


Kini mereka pun berjalan beriringan menuju palkiran dan mereka akan berpisah di palkiran.


"Sekali lagi makasih yah Met, tanpa bantuan kamu, mungkin sekarang aku sudah gagal dan pulang dengan kekecewaan," ucap Cyra dengan sangat tulus.


"Iyah, santai ajah udah jadi tugas I'm membantu kamu. Tuan Naqi sendiri yang menunjuk I'm untuk membantu kamu, jadi mana berani I'm setengah-setengah ngerjainya. Lagian suatu kebanggan I'm ditunjuk langsung sama big bos," ucap Meta dengan sangat happy.


Akhirnya Cyra dan Meta berpisah, dan Cyra memasuki mobilnya.


"Kenapa lama sekali pulangnya," cecar Naqi yang ternyata sudah lama menunggu Cyra di dalam mobil.


"Loh ko Mas Naqi ada disini?" tanya Cyra, tentu sajah kaget kenapa tiba-tiba suaminya ada mobilnya.


"Iya nungguin hasil kerjaan kamu, gimana hasilnya memuaskan tidak?" tanya Naqi dengan kepo. Seolah ia benar-benar peduli dengan hasil iklan yang dibintangi Cyra.


"Alhamdulillah Mas, sutradara menyukainya dan mereka juga memperbolehkan aku tampil seperti ini, tanpa harus berhijab," balas Cyra dengan sangat bahagia, sembari menunjukan tampilanya yang apa adanya.


Naqi pun sempat terhipnotis dengan wajah Cyra, yang makin cantik karena make up natural yang Meta poleskan di wajah Cyra belum sempat dihapus.


"Syukur deh, berati nanti kamu nggak usah pakai hijab lagi, karena mulai sekarang kamu akan terkenal dari kekuranganmu, justru kekurangan itu yang sebentar lagi akan mengantarkan kamu kepopularitasan yang selama ini kamu impikan." Naqi pun ikut senang dengan berita yang Cyra bawakan. Tentu dibatin Naqi pun ia bangga dengan metal Cyra yang sngat kuat.


Disaat orang lain malu dengan kekurangan yang dimilikinya, tetapi justru Cyra malah dengan bangga menunjukan dan ingin membuktikan bahwa kekuranganya tidak menghalang-halangi niatnya menjadi sukses.


"Oh iya Ra, tadi ada orang suruhan dari keluarga kamu yang mengantar undangan pernikahan kaka mu. Apa selama ini kamu tau hubungan kakamu?" tanya Naqi kepo.


Sebab seperti seolah berita pernikahan dadakan. Yang tiba-tiba ada info bawa Fifah menikah.


"Maksud Mas, Ka Afifah akan nikah?" tanya Cyra kaget. Ya jelas kaget, terlebih ia tau bahwa selama ini kakanya belum mau nikah. Sehingga papahnya dulu selalu menekan Cyra untuk menikah dengan calon orang-orang kaya agar bisa membanti bisnis keluarga yang akan gulung tikar.


"Ya memang Kaka kamu ada berapa? Hemz?" tanya balik.


"Ya, cuma Ka Fifah," jawab Cyra dengan polos.


"Nah, berati yang mau nikah juga Fifah," ucap Naqi.


"Tapi ko, seperti aneh yah Mas, padahal dulu Ka Fifah itu paling nggak mau ketika ada calon suami yang meminangnya. Namun, sekarang justru langsung ada undangan menikah, jadi ingin tau alasanya menikahinya," ucap Cyra ingin tau apa yang terjadi dengan keluarganya selama ia keluar dari rumah itu.


Apalagi Cyra selama menikah dan keluar dari rumah orang tuanya belum sekalipun main. Serta orang tuanya tidak ada yang memperdulikan kabarnya.


Disini lagi-lagi Cyra merasa sedih karena ternyata ia tak pernah dipedukan. Tanpa sepengetahuan Cyra justru orang tuanya berharap paska pernikahan, Cyra mendapatkan kemalangan dan nasib yang buruk.


Gimana kira-kira reaksi papah Cyra kalo ternyata anak yang selama ini ingin ia singkirkan, justru bernasib baik paska pernikahanya?


...****************...


Sembari menunggu kelanjutan kisah Cyra mampir yuk kekarya ka betie Author namanya ka Mekha Chan judulnya "My Bos My Berondong" kuy ramaikan yah...