
Alzam...
Alzam...
"Way cupu, jangan pura-pura bolot deh loe." Qari mengejar Alzan dan mengumpatnya.
Sedangkan Alzam bukan karena tidak dengar, tetapi benar kata Qari ia memang pura-pura tidak mendengarnya.
"Alzam... kalo loe nggak berenti gue pecat yah!" Akhirnya Qari menggunakan jurus ancaman, dan....
Cittt.... Alzam seketika mengerem motor bututnya.
Qari dengan nafas setengah tersenggal, karena mengejar Alzam pun langsung mendekat ke arah Alzam.
Bukkk... Qari memukul bahu Alzam dengan kuat.
"Sengaja banget loe ngerjain gue, kalo nggak mau di tumpangin jangan ngajak! Dasar manusia aneh," omel Qari dengan mata melotot.
"Jadi ini gimana Non Qari mau diantar pulang atau nunggu sopir?" tanya Alzam kembali mengetes.
"Ya ikut loe lah, cupu. Ngapain gue cape-cape ngejar loe tapi gue nunggu sopir," omel Qari.
"Kalo gitu pake jaket ini!" Alzam membuka jaketnya dan meminta Qari memakainya. Lagian dia juga pake kemeja panjang masih tahan dari dinginya malam. Sementara Qari menggunakan kemeja pendek, tipis pula. Jadi Alzam lebih baik mengalah.
"Apaan sih, Ogah banget gue pake jaket loe. Pasti bau Abang-abang ojek, asem, apek. Huekk..." Qari mengumpat sembari menutup hidungnya.
Namun, Alzam tetap memakaikan paksa jaketnya. "Udah nggak usah protes dari pada masuk angin, nanti malah ngak mau kerja kesempatan buat libur. Lagian jaket aku bau wangi ko. Aku orangnya cukup suka kebersihan." Alzam berhasil membuat Qari diam dan pasrah ketika dipakaikan jaket. "Ayo buruan naik, jaketnya udah dipasang." Alzam mengagetkan lamunan Qari.
Qari pun tanpa sepatah kata langsung naik ke motor Alzam. Alzam pun langsung tarik gas dan menuju rumah keluarga Ralf.
"Hemz... jaketnya wangi juga," batin Qari yang justru nyaman dan suka dengan parfum yang di pake Alzam.
"Cupu, kenapa sih loe nggak beli motor ninja atau apa gitu yang kerenan dari ini? Gajih loe kan gede bonus loe juga nggak main-main pasti loe mampu lah beli motor yang lebih keren gitu." Qari memang dari tadi ingin menanyakan hal itu tetapi nggak enak, nah dari pada bengong di perjalanan jadi Qari tanya ajah, daripada mati penasaran kan.
"Kalo mampu Insyaalloh mampu Nona, tapi kembali lagi tujuan mempunyai kendaraan untuk apa? Bukanya motor ini juga masih layak untuk dinaiki, dan lagi lebih hemat bensin dan perawatanya nggak ribet. Jadi kenapa harus beli yang mahal-mahal toh kegunaanya sama," jawab Alzam dengan santai.
"Ya beda lah Cupu, kalo motor sport itu keren dan gagah lah pokoknya maco." Qari membayangkan cowok yang pake motor sport dengan gaya yang maco dan tampang gagah.
"Ah... tau ah..., ngomong sama orang kolot mah nggak bakal sampe. Pikiranya terlalu kuno." Qari memilih mengakhiri perdebatanya dengan Alzam. Padahal sebenarnya ia setuju dengan perkataan Alzam, hanya sajah gengsi Qari itu tinggi.
Perjalanan pun menjadi mencekam tanpa obrolan di antar keduanya. "Nona udah sampai!"
"Iya gue udah tau! Kan gue punya mata, bisa liat sendiri," sungut Qari, ia membuka dompet dan mengambil uang lima lembar berwarna merah. "Nih buat beli minyak wangi biar jaket loe nggak bau!" Qari meletakan uang itu ketangan Alzam dan juga jaketnya Alzam yang sebenarnya wangi ke pundak Alzam.
"Tapi, Nona Qari, saya bukan tukang ojek!" pekik Alzam ketika Qari langsung meninggalkanya begitu sajah.
"Bodo... bagi gue loe ojek. Buruan pulang! Bukanya tadi di kantor loe yang ngeburu-buru gue terus buat pulang. Ngapain lama-lama disini, bikin pemandangan sepet ajah."
"Kalo gitu terima kasih bayaran, dan tipsnya. Nanti kalo Anda butuh ojek lagi bisa kontek saya Nona!" Alzam berkata setengah teriak pasalnya Qari sudah aga jauh meninggalkan dia.
Qari pun hanya mendengus kasar, "Dasar aneh!"
Alzam pun akhirnya memasukan uang senilai lima ratus rebu kedalam dompetnya. Lalu ia mulai melajukan motor bututnya pulang kerumahnya, dan kebetulan rumah Alzam dan rumah keluarga Naqi memang tidak terlalu jauh, pasalnya dulu Allmarhum ayah Alzam adalah sopir dikeluarga Ralf, sampai pada akhirnya ayahnya meninggal dunia, karena kena angin duduk.
Alzam pun sampai di rumahnya, dan disambut oleh adik satu-satunya yang kini sekolah kelas tiga sekolah dasar.
"Abang... Kenapa Abang pulangnya telat?" Tantri langsung menyalami Abangnya dan membantu merapihkan peralatan kerjanya.
"Iya tadi kerjaan banyak De. Kamu udah makan?" tanya Alzam dengan perhatian.
"Belum Bang, Ade mencemaskan Abang, takut Abang kenapa-napa. Abang janji kan kalo Abang akan selalu sehat buat Ade." Tantri terisak. Ia takut kalo Alzam akan meninggalkannya juga. Seperti kedua orang tua mereka, dan Kakak perempuannya. Di mana Ibu mereka sudah meninggal empat tahun yang lalu karena kangker, Kakak perempuan mereka juga meninggal karena pernyakit ganas itu, Kakak mereka justru meninggal sudah sepuluh tahun yang lalu, dan Alzam juga sekarang didiagnosa menderita kangker Ewing Sarcoma Family Of Tumors (ESFT) Yang bersarang di kaki sebelah kirinya dengan setadium 1, di mana penangananya masih bisa dengan kemoterapi, untuk kenekan sel kangker, tetapi dokter sebenarnya menyarankan untuk amputasi, agar sel kangker tidak menyebar ke jaringan lain. Terlebih kangker Ewing Sarcoma adalah jenis kangker yang cepat menyebar. Namun, Alzam pun sekarang memutuskan tengah menjalani pengobatan kemoterapi terlebih dahulu dan menjalani diet sehingga ia selalu membawa bekal makanan dan tidak berani membeli makanan dari luar. Sudah dua bulan ini Alzam didiagnosa terkena kangker Sarcoma. Di rumahnya Tantri lah yang masak, tetapi tidak jarang juga Alzam yang melakukan semuanya. Namun apabila Alzam tidak bisa melakukanya maka Tantri akan menggantikanya. Meskipun umur adiknya tergolong masih mudah yaitu sembilan tahun tetapi ia sudah terampil dan cekatan mengerjakan semua urusan rumah tangga, itu semua karena ia sudah diajarkan mandiri semenjak ia berumur lima tahun di mana saat itu ibunya harus menyerah berjuang melawan pernyakit ganas.
Namun, Alzam berusaha selalu kuat dan akan sembuh. Ia berjanji akan menjaga adiknya sampai dewasa. Cuma Alzam yang Tantri punya begitupun sebaliknya.
"Kalo gitu ayo kita makan! Abang juga sudah lapar sekali nih. Kamu tolong siapkan makanan yah, Abang mau bersih-bersih dulu." Alzam memerintah Tantri agar menyiapkan makan malam yang tertunda.
"Iya, tapi Abang jangan mandi yah! Cukup di lap ajah!" Tantri memang selalu bawel dan memperhatikan hal-hal kecil dengan kesehatan Abangnya. Ia bahkan tidak akan segan-segan marah apabila Alzam memakan makanan yang menjadi pantranganya.
"Abang makanan udah siap!" Tantri memanggil Abangnya yang masih di dalam kamar.
Alzam pun keluar dengan kaos oblong dan celana kolor. Di mana kalo berpenampilan seperti ini Alzam menjadi cowok yang sangat tampan. Tapi kalo bekerja Alzam selalu menjadi orang yang culun dan kaku.
Mereka pun makan dalam damai, dan Tantri pun ia makan dengan menu dan makanan yang sama dengan Adam. Walaupun tidak enak dan alakadarnya tetapi Tantri rela dan tidak pernah protes karena ia ingin kakanya tidak merasa berjuang seorang diri.