Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Perasaan Bersalah


Kita tinggalkan Cyra yang masih menangis, karena percaya pada Naqi, lalu diabaikan oleh suaminya.


Di kamar hotel tempat Rania menginap...


Naqi yang cemas akan terjadi apa-apa dengan Rania pun langsung merangsak masuk ke dalam kamar. Benar saja Rania masih memegangi perutnya dan gelisah dengan kringat bercucuran ditubuhnya. Naqi sedikit tau gimana menyiksanya sakit itu.


"Rania... hai kamu kenapa bisa begini, aku pikir kamu sudah sembuh. Ayo kita ke rumah sakit." Naqi nampak sekali cemas dengan kondisi Rania.


Rania yang tau ada Naqi ia menggenggam tangan Naqi, dan menggeleng lemah.


"Kenapa? Kamu sakit kaya gini harus diperiksa." lirih Naqi, berusaha membujuk Rania, agar mau mengikuti saranya. Pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.


"Aku tidak mau, aku hanya ingin kamu tetap ada disini. Berjanjilah sayang, kamu akan ada di samping aku terus, disisa umur ku." Rania memaksakan berbicara walaupun ia terbata dalam mengucapkanya.


Naqi pun hanya mengangguk, hatinya sakit melihat kondisi Rania, terlebih ia berkata seolah memang umurnya tidak lama lagi. Naqi hanya bisa mengenggam tangan Rania seolah dengan gengamanan itu sakit Rania akan berkurang.


Rania merasakan lebih tenang hatinya ketika ada Naqi di sampingnya. Tanpa dia tau di tempat lain ada hati yang tersakiti karena Naqi lebih memilih datang padanya.


Sedangkan Naqi juga dilanda perasaan bersalah. Naqi bukan tidak peduli dengan Cyra, karena terlalu memikirkan Rania. Naqi hanya menghindari hatinya akan semakin merasa bersalah apabila ia melihat Cyra atau berkata sesuatu pada istrinya. Ia akan lebih sakit ketika melakukan hal itu. Sehingga Naqi lebih memilih ngacuhkan Cyra dan tidak melihat ekpresi Cyra disaat dirinya pergi meninggalkan'nya seorang diri.


Naqi pun sama merasakan sakit, ketika dia dihadapkan dengan kenyataan yang sulit untuk dia jalani. Namun, dia memilih Rania karena dia merasa Rania lebih membutuhkanya. Di posisi Rania pasti sulit. Dengan kondisi dia sakit, tanpa seoarang pun yang ia punya. Disini kepedulian sesama juga Naqi pertimbangkan. Ia rela meninggalkan bahagianya demi sebuah naluri kemanusiaan membantu yang lebih membutuhkan.


Naqi tidak tau sampai kapan Rania akan bertahan, bagaimana kalo memang dia memiliki umur yang tidak panjang. Sehingga di sisa hidupnya ia merasakankesepian. Betapa bersalahnya Naqi andai itu terjadi pada dirinya.


Naqi duduk di samping Rania mengusap rambut hitamnya dan menggenggam tangan wanita itu sampai Rania terpejam sedangkan dirinya, tidak bisa sedetik pun memejamkan matanya. Bayang-bayang Cyra, senyum manis istrinya menjadi momok yang menakutkan untuk ia bayangkan.


"Maafkan aku Ra, maafkan aku. Aku sudah jadi orang yang sangat jahat buat kamu. Aku justru mengabulkan mimpin terburukmu. Aku membuat hatimu patah. Padahal dari awal kamu sangat takut akan datang situasi seperti ini, tapi aku justru memberikan luka itu," batin Naqi tanpa terasa butiran bening lolos dari sudut matanya. Mungkin saat ini juga menjadi titik terendah Naqi. Dia merasa manusia paling jahat yang menghancurkan hati seseorang, terlebih orang itu juga sudah ada di dalam hatinya.


"Tuhan, aku serahkan garis jodohku padamu. Aku hanya berusaha mengikuti kata hati. Semoga diakhirn nanti jodoh darimu adalah yang terbaik." Naqi mencoba menyerahkan semuanya pada tangan tuhan. Ia akan mengikuti saja bagai air mengalir.


Malam ini Naqi pun tak bisa memejamkan matanya. Rasa sesal dan bersalah membuat pikiranya terus menerawang jauh disana. "Bagaimana dengan Cyra, dia tengah apa sekarang? Apakah dia bisa tidur atau sama seperti dirinya yang sampai pagi hampir menyapa ia masih belum bisa memjamkan matanya sama sekali.


****


Cyra menekan nama Meta, hanya nama itu yang ada di otaknya. Mungkin dengan kehadiran Meta ia sedikit terhibur. Yah, mungkin Cyra kira bahwa Meta adalah sosok badut yang bertugas menghibur hatinya.


[Hemz...apa Cin, ini masih pagi you, bisa tidur lagi. I'm juga masih ngantuk.] Meta mungkin mengira bahwa Cyra menghubunginya untuk menanyakan jadwal pemotretanya.


[Met... Meta... aku... hihihihi...] Cyra justru tangisanya pecah. Hal itu membuat Meta langsung terbangun, serasa terkena airan listrit ribuan'an volt. Ia lansung duduk bahkan nyawanya seketika langsung mengumpul.


[Cin, you kenapa? Apa ada sesuatu terjadi sama you?] tanya Meta dengan sangat panik dari sebrang sana.


[Met, aku butuh kamu.] hanya itu yang Cyra bisa ucapkan. Lidahnya seolah kaku dan sulit berkata panjang. Cyra langsung mengirimkan lokasi dirinya berada.


Sementara Meta di sebrang sana, ketika lihat lokasi yang Cyra kirimkan langsung pikiranya jelek. Bahkan ia mengira bahwa Cyra dijebak oleh seseoranga yang ingin menikmati kemolekan tubuh anaknya. Pikirannya entah mengapa membayangkan Cyra yang enggak-enggak.


Meta langsung menyambar hoodie'nya dan mengabil kunci mobilnya. Mobil baru yang ia beli baru beberapa minggu yang lalu. Yah semenjak ia menjadi manager Cyra pemasukanya semakin menjamin. Sehingga ia kini bisa memiliki sebuah mobil, walaupun bukan mobil mewah, tetapi Meta memilikinya tanpa kredit sehingga itu membuatnya sudah berasa jadi orang paling kaya.


Saking paniknya pikiran Meta, karena Cyra yang mengirim lokasinya di hotel. Ia tanpa sadar masing mengenakan sarung. Begitu sampai di loby hotel Meta baru sadar bahwa ia masih mengenakan sarung. "Astaga, cin gara-gara loe telpon gue lagi tidur. Gue sampe lupa nih sarung masih nempel. Untung sarung coba kalo boxser gambar petrik apa tidak runtuh kelaki-lakianku." Meta menepuk jidatnya.


Setelah bertanya pada petugas hotel, akhirnya Meta diantarkan ke kamar Cyra. Meta masuk kamar itu dengan sejuta pertanyaan yang membuatnya bergetar menahan takut apabila melihat pemanadangan yang tidak sepatutnya ia lihat.


Pikiran Meta semakin buruk ketika pakaian Cyra berserakan di lantai dengan dalaman yang tercerai berai. Segitiga bermuda yang ada di pojok, kacamata dengan warna hitam juga tidak jauh dari segitiga bermuda berwarna sama. Namuan, kelopak bunga juga tidak kalah berantakan menambah kamar hotel itu bak kapal pecah.


Meta membekap mulutnya ketika melihat gimana penampilan Cyra.


"Cin, ini ada apa? Siapa laki-laki berengsek yang membuat kamu jadi begini?" Meta mengeratkan gigi-giginya dan telapak tangan pun ikut mengepal, rasanya ia ingin membuat babak belur pada laki-laki yang membuat anaknya jadi sekacau ini.


Meta mendekat dan Cyra pun bangun dengan berusaha memegang selimutnya agar tidak menunjukan aset kembarnya yang bahkan besarnya hanya sebesar jeruk medan.


"Setop Cin!!! you tetap tidur saja. You jangan buat antena I'm langsung mengeluarkan aliran listrik. You mungkin lupa kalo I'm juga laki-laki yang bisa saja khilaf dan membuat you menyesal nantinya." Meta meminta Cyra mengerti berada di posisinya. Di mana ia juga cowok bisa langsung bernafsu ketika melihat yang tidak seharusnya ia liat.


"Katakan pada I'm siapa laki-laki yang buat you begini. Biar I'm sunat lagi tuh burung puyuhnya. Biar tau rasa tuh laki." Meta nampak sangat geram ingin segera tau siapa laki-laki yang berani menyakiti anak angkatnya itu.