
Pesta malam ini di tutup pukul sebelas malas. Itu pun Fifah dan Cyra, sang tuan rumah dan ibu hamil sudah lebih dulu tidur. Malam ini Qari dan Alzam tidak menginap, di karenakan memang pagi-pagi mereka harus kembali bekerja. Setelah Qari dan Al pulang di susul dengan Sam yang pulang. Sam pun tidak menginap karena pagi-pagi Sam ada praktik.
Kini tinggal Qila dan Meta yang masih berjaga. Setelah membereskan sisa kekacauan pesta kecil-kecilan yang Cyra adakan untuk perpisahanya besok pagi yang ia akan memulai petualanganya yang baru. Qila pun pamit dengan Meta untuk beristirahat dengan kedua temanya yang lebih dulu mengarungi lautan mimpi.
Meta pun ikut mereka beristirahat, sebab besok pagi-pagi ia akan mengantarkan Cyra sampai bandara. Selagi ketiga team tidur satu ranjang, sementara Meta tidur di sofa. Bukan tidak ada kamar lagi. Ada banyak kamar di rumah baru Cyra, tetapi karena mager Meta pun lebih memilih merebahkan tubuhnya di sofa toh ia mah tidur di post ronda dengan di gulung nyamuk pun jadi.
Pukul empat alarm dari tiga ponsel pun saling bersahutan. Sehingga saling berlomba membangunkan penghuni rumah yang tengah tertidur pulas.
"Aduh, siapa sih yang pagi-pagi bikin gaduh saja," batin Meta yang merasa tidurnya terganggu oleh suara nyaring yang membengkakkan telinganya.
Sementara itu dari sudut ruangan terlihat seseorang yang terus terkekeh, melihat Meta yang mengumpat dan tidurnya terganggu. "Sukurin, salah siapa di bangunin dari tadi nggak bangun-bangun malah asik mencetak pulau," gerutu Cyra sembari tak henti terkekeh dengan ulah jahilnya yang berhasil membangunkan Meta.
Yah, bukan Cyra namanya kalo dia tidak bisa mengerjai orang lain. Entah dari siapa dia bisa sejahil ini. Terutama dengan Meta, yang sudah berkali-kali dijahilinya tetapi tidak pernah marah sekali pun.
Meta sembari bermalasan pun membuka matanya dan nampak kaget pasalnya ia tidak merasa menyalakan alarm apalagi sampai tiga ponsel. Rasa ngantuknya seketika lenyap, ketika melihat sosok yang sangat ia kenal tengah terkekeh di pojok ruangan.
"CYRA...!!!" pekik Meta dengan suara khas mendayunya. Cyra yang tahu bahwa Meta sudah sadar dengan keisenganya pun langsung memasang kuda-kuda untuk kabur. Begitu pun Meta yang tahu lawanya akan kabur nggak mau kalah. Ia pun memasang kuda-kuda untuk mengejarnya.
Yah pagi ini sebelum Cyra pergi untuk terakhir kalinya saling berkejar-kejaran dan terjadi kehebohan di rumah Cyra. Fifah dan Mamah Mia yang tengah menyiapkan sarapan pun hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan calon suaminya dan adik rasa anaknya. Yah, Cyra manjanya melebihi adik, bahkan sudah serperti anak buat Fifah. Sama seperti Meta yang menganggap anak pada Cyra, terlebih Mamah Mia menganggap Cyra adalah anak paling bontot. Ada yang berani senggol anak bontot, siap-siap wajan melayang. Begitu gambaran Mamah Mia melindungi anak bontotnya.
Baik Fifah, maupun Qila tidak ada yang berani melerai dua anak manusia yang saling kejar-kejaran. Biarkan memang sudah jadi kebiasanyaa kalo nggak jahilin Meta, Cyra bisa uring-uringan. Walaupun berakhir dengan saling baikan dan berjanji nggak bakal mengulainginya lagi, tetapi bukan Cyra namanya kalo janji-janji itu hanya untuk mengambil simpati Meta.
"Ampun... ampun..." Cyra tak henti meminta ampun dan dibebaskan dari hukuman Meta. Yah hukuman gelitik adalah paling ampuh untuk menghukum Cyra yang super jahil, tetapi jahilnya hanya untuk Meta.
Setelah merasa cukup pemanasan otot pagi ini, dari olahraga lari sampai olahraga mulut dan otot perut. Cyra dan Meta pun pergi ke kamar masing-masing. Mereka membersihkan diri dan akan langsung mengantar Cyra untuk terakhir kalinya ada di negara ini.
"Ra, pasti aku bakal kangen banget sama kamu. Momen-momen kaya gini yang nggak akan aku dapatin dari yang lain. Aku inget banget gimana kamu dulu pertama jadi anak aku, yang dari wajah kamu kayak ketakutan dan kamu percayain semua jadwal sama aku. Mulai saat itu rezekin aku makin lancar, dari yang nggak ada mobil dan sekarang aku malah pengin beli mobil lebih dari satu pun sangat mampu. Tidak hanya materi yang kamu bawa untuk aku, tapi rasa sayang dan perhatian kamu bikin aku jadi lebih semangat lagi buat menjadi yang lebih baik lagi," gumam Meta di dalam kamarnya sembari menatap foto Cyra yang tengah berpose terakhir mengambil gambar untuk sebuah brand pakaian ternama. Tanpa terasa air mata Meta kembali menetes. Ini padahal bukan perpisahan untuk selama-lamanya, tetapi Meta entah sudah berapa liter air mata yang terbuang.
Yah, Meta di dalam kamar sana, buru-buru menghapus air matanya dan menyimpan kembali foto Cyra. Pokoknya iya melakukanya secepat kilat. Dia tidak ingin ucapan Cyra menjadi kenyataan. Bagi Meta, Cyra sudah seperti adik, anak sendiri di saat Cyra panas dan merasa tidak baik-baik saja hati Meta sakit dan ia bisa merasakan apa yang Cyra rasakan.
Meta buru-buru membuka pintu kamarnya dan ternyata Cyra masih mematung di sana. "Astaga Meta kamu habis nangis lagi?" tanya Cyra sembari memperhatikan wajah Meta yang sembab dan merah. Bekas aliran air mata juga masih membekas dengan jelas.
"Apaan sih, you itu nggak tau cin, perasaan I'm itu hancur banget ditinggal you." Meta membela diri bahwa ia menangis karena memang Cyra yang akan pergi.
"Aku itu heran loh Met, sebanarnya kamu makan apa kenapa air mata kamu banyak sekali. Menangis dari semalam tapi nggak habis-habis juga. Sehari kamu produksi berapa liter air mata?" goda Cyra. Cyra bukan tidak sedih, ia sama bersedih juga dengan apa yang ia alami. Terlebih mereka adalah penyemangat dirinya. Tanpa mereka semua, Cyra tidak akan menjadi seperti ini. Di mana sebenarnya hati Cyra juga lemah dan tidak setegar yang mereka lihat. Tetapi karena ada teman-teman yang selalu mendukung, baik dari segi fisik dan kekurangan yang lain. Sehingga Cyra bisa mewujudkan mimpi-mimpinya.
Cyra sedih, tetapi ia tidak ingin orang lain liat kesedihanya. Ia ingin mencontohkan ketegaran pada mereka. Kalo Cyra sedih pasti yang lain akan sedih juga.
Selain itu Cyra juga pergi bukanya dengan tujuan menjemput kebahagiaanya, sehingga ia tidak harus bersedih dan bersedih terus.
Meta yang mendengar ucapan Cyra pun langsung melotot. Dan, terulang lagi kejar mengejar....
"Ahhhh... Mamah..." Cyra berlari dari tangga sehingga yang melihat ngeri takut kakinya keseleo dan nyungsep.
"Cyra... Awas jatoh." Baik Mamah Mia, Fifah, dan Qila yang tengah berada di depan meja makan memekik ngeri melihat Cyra yang lari dari lantai dua menuju lantai satu yang melewati tangga yang cukup tinggi.
"Cin..." Tidak ketinggalan Meta juga dari ujung tangga memekik dengan menggigit kedua jari tanganya, ketakutan melihat anaknya takut nyungsep.
Begitu sampai di meja makan Cyra langsung memeluk Fifah, yang masih syok di samping Mamah Mia berdiri, Karena khawatir adiknya kenapa-kenapa. "Kak Fifah calon suami kamu itu kenapa cengeng sekali sih. Dari semalam nangis terus tuh, coba kaka belikan balon atau permen cap kaki gitu, biar dia nggak nangis terus," adu Cyra pada Fifah, sementara Meta berjalan dengan loyo dari atas melewati satu per satu anak tangga. Hal itu disebabkan karena khawatir si bocil kenapa-kenapa. Padahal justru yang lari malah ketagihan ingin lari lagi dari atas tangga yang lebih tinggi lagi.
Yah, pagi-pagi Cyra membuat prank buat penghuni rumahnya. Pasti semuanya akan sangat merindukan momen-momen seperti ini, yang hanya Cyra yang bisa bikin heboh pagi-pagi.