Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Aki-Aki Peot


Naqi mengulurkan tangan begitu Cyra keluar dari mobilnya. Obrolan di dalam mobil tadi lebih banyak membahasi Meta yang uh lala....


"Apa?" tanya Cyra heran kenapa Naqi mengulurkan tanganya begitu.


"Gandengan, takut ilang. Dulu ajah ke supurmarket ajah gandengan terus," goda Naqi, mengingat pertama kali Cyra keluar rumah yang ada nempel terus karena takut hilang.


"Ish... itu kan dulu, katro banget yah, sampe liat gedung tinggi-tinggi ajah aku sampe keheranan," kelakar Cyra, memang lucu sih ketika dirinya pertama kali diajak keluar oleh Naqi, bahkan Naqi sampe heran kenapa ada yang seantusias Cyra hanya untuk keluar rumah.


"Tidak katro dan tidak juga lucu. Untuk pertama kali pasti wajar banget kok," ujar Naqi sembari tanganya di naik-turunkan seolah ia tengah berjalan dengan bergandengan.


"Ingat kata Meta 3M! Kalo ketahuan Meta kita digantung dan ingat ada malaikat yang siap catat dosa kita," ujar Cyra mencoba mengingatkan Naqi. Benar saja begitu diingatkan akan Meta, laki-laki itu langsung menurunkan tanganya. Dan berjalan bersama Cyra. Sebenaranya Naqi juga hanya ngetes ajah sih, ternyata memang mantan istrinya itu masih sama dengan dulu.


"Ra... Nikah lagi yuk!!" ucap Naqi perjalanan menuju kamar hotel Qari sehingga Naqi otaknya rada cari ide agar ada obrolan yang menjurus.


"Hahah... Kamu itu kenapa sih Mas? Kamu bukan lagi tidur sambil jalan lalu ngigo kan?" tanya Cyra sembari Menatap matanya ke arah Naqi. "Ah tidak, Mas Naqi masih melek kok," batin Cyra.


"Enggak atuh Baby, aku ceritanya lagi melamar kamu gitu," jawab Naqi dengan santai ya kalo pun belum di terima besok-besok di coba lagi dengan cara yang lebih romantis lagi. Di kapal pesiar penuh bunga-bunga mungkin, biar lebih terlihat berkelas.


"Baby apan sih. Udah panggilnya nama ajah kayak biasa Cyra, Ra, atau apa lah. Baby-baby sakit kepala Mas," ujar Cyra, sembari tanganya manekan bel kamar yang sudah Qari beri tahu.


Tidak lama wanita yang sudah membuat Qari bergadang sampai hampir jam tiga pagi pun keluar dengan wajah kusut, rambut singa dan mata sembab. Cyra langsung memeluk Qari. "Kamu enggak apa-apa Dek?" tanya Cyra, cemas ketika melihat kondisi Qari yang sangat memprihatinkan.


"Kenap-kenapa Kak, makanya Qari pergi dari rumah ya itu karena ada apa-apa dengan aki-aki peot," jawab Qari sampai-sampai ia mungkin lupa kalo mereka masih mengobrol di ambang pintu sampai Naqi tertahan di luar tidak bisa ia masuk ke dalam sanah.


"Aki-aki peot itu papih loe," ucap Naqi, yah niatnya hanya menghibur mengajak berantem gitu. Karena Naqi buka tipe yang romantis apalagi sama Qari, cara menghibur ya ngajak berantem. Meskipun dalam hati Naqi ia juga sangat setuju bahwa panggilan Qari memang sangat cocok aki-aki peot. Tinggal menunggu karmanya datang perlahan-lahan.


"Amit-amit gue sebenernya ogah banget punya bokap kaya dia. Bisa kali yah Bang kita tuker tambah. Sama Mr Kim enggak masalah lah," ucap Qari yang sebenarnya pengin menjodohkan Mr Kim dengan sang mamih. Karena bagi Qari laki-laki dingin itu menarik. Kaya Alzam yang sudah berhasil mengambil hatinya yang enggak lain karena sikap dinginya yang membuat hati bergetar-getar pengin di serbu sama Bambang Al.


"Asik lagi Ra punya bokap kaya dia bisa digodain juga, Mana kalo cowok cool kan gantengnya nambah pokoknya cowok yang dingin itu idaman," jawab Qari dengan gaya genitnya, sontak Cyra heran sama adik iparnya itu. Kenapa bisa cowok dingin punya karisma sendiri. Sulit komunikasinya, tidak banget. Kalo Cyra lebih suka dengan cowok rame seperti Meta atau Naqi. Enak diajak bercanda. Lah kalo Mr Kim si Cyra ngelawak dikatain gila.


"Udah-udah masuk ke kamar sanah di luar kaya gini kayak petugas lagi ngegerebeg pasangan mesum. Lagian benar kata Cyra cowok dingin itu mana enak dijadiin pasar. Enakan yang receh bisa diajak ngelenong," Naqi pun melerai perdebatan tidak berfaedah itu. Lagian adiknya aneh-aneh ajah suka cowok dingin. Kaya Alzam apa coba menariknya Alzam kaku kayak kanebo kering.


Dua gadis itu pun mengikuti perintah Naqi masuk dan langsung duduk di atas kasur yang empuk. Sementar Naqi kebagian di atas sova. Untung sova panjang dan empuk sehingga Naqi bisa merebahkan badanya barang sejenak.


"Luson ngomong apa emang sama kamu Dek, lain kali jangan kabur napa cape tau enggak nyariin kamu," ucap Naqi mengalihkan obrolan si Kim dan Alzam.


"Mungkin dia lagi mabok," ucap Qari tidak mau lagi membahas si Luson yang sangat menjijihkan itu.


"Sakit hati kamu sudah Abang wakilkan, dua tinjuan sampai bibir dan hidungnya mengeluarkan darah, Abang rasa sudah cukup buat pemananasan, tetapi kalo dia macam-macam lagi mungkin liang lahat pantas buat dia." Naqi menceritakan apa yang Naqi lakukan pada Luson, tujuanya tentu agar Qari sadar dan paham bahwa Abangnya akan membela adiknya terus selama adiknya di jalan yang benar.


"Sekarang dia gimana? Emang Abang tahu apa yang Luson katakan?" tanya Qari, bahkan tidak nampak iba atau rasa kasihan di wajahnya, dia biasa saja ketika mengetahui ada perkelahian Abangnya dan Luson.


Sikap berbeda di tunjukan oleh Cyra, dia terlihat terkejut dan lebih ketika Naqi bicara peristirahatan terakhir. Cyra tahu sifat buruk mantan papih mertuanya karena baik mamih, Naqi maupun Qari suka bercerita dengan kebiasaan buruk masa lalu papah mertuanya.


"Mungkin di bawa kerumah sakit, atau malah diobati sendiri. Tenang dia masih Aman. Tinjuan yang Abang berikan hanya sebagai salam peringatan. Enggak mungkin dia langsung mati," tetang Naqi. Yah, meskipun tidak ia jelaskan Qari juga tahu bahwa papahnya tidak akan mati dengan hanya dua buah tinjian.


"Aduh, sayang banget Qari enggak ada di sana, kalo ada kan bisa ikutan sekalian kasih bonus satu di pipi," oceh Qari sembari mengepal-ngepalkan telapak tanganya, tanda dia juga gatal ingin memberi bonus pada papihnya. Tadi dia terlalu sakit hatinya, sehingga lupa memberikan bonus buat aki-aki peot itu. Malah langsung pergi begitu saja, rugi banget membiarkan pipinya masih mulus.


Namun setidaknya abangnya tahu mana yang bisa membalaskan sakit hati adiknya. Naqi menghadiahi bonus untuk laki-laki yang selama ini di sebut papih.


Cyra sedikit tahu masalah apa yang membuat Qari harus sampai kabur dari rumahnya. Cyra sempat berfikir takutnya Qari kabur karena Naqi, yah wajar Cyra memiliki fikiran sampai sana terlebih Naqi dan Cyra jarang akur. Alias bentar-bentar baikan nanti setelahnya saling umpat dengan kata-kata didengar oleh orang lain akan terlihat seperti umpatan kasar. Meskipun bagi mereka kata-kata yang dia ucapkan adalah kata-kata biasa sajah. Sekarang Cyra sedikit lega karena ternyata bukan Naqi penyebab Qari pergi, melainkan papihnya. Justru Cyra sedikit ada nilai plus karena Naqi peduli sekali dengan adik maupun mamihnya. Itu tandanya ada kemungkinan Naqi juga akan bisa melindungi dirinya nanti.