
Cyra dan Qari pun melanjutkan obrolan para cewek, membahas apa? Entahlah mereka bahkan membahas apa saja yang melintas di otaknya.
Suara dengkuran halus terdengar dari arah Naqi. Yah laki-laki itu udah langsung menyusuri lautan mimpi. Tubuhnya sudah sangat lelah dengan semua yang terjadi di keluarganya khususnya hari ini. Ia sebagai Abang dan sekaligus anak paling tua tentu harus bisa menghadapi semuanya.
"Dih, enggak ada malu-malunya ada calon bini malah ngorok," beo Qari ketika mendengar dekuran yang lebih kencang dari abangnya.
Cyra hanya tersenyum tipis, dia udah hampir satu tahun tidur bersama dengan Naqi tentu sudah sedikit banyak tahu dengan kebiasaan mantan suaminya itu.
"Kakak ipar, emang abang kalo tidur gitu?" tanya Qari kepo dan penasaran. Ah... lebih tepatnya dia bisa meledek abangnya sih. Aib abangnya adalah senjata bagi Qari.
"Iya begitu deh, selain ngorok juga kalo pagi suka ken-tut mana bau banget lagi," adu Cyra pada adik iparnya. Badanya ia rebahkan dan selimut tebalnya ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Ia juga ngantuk ingin merajut mimpi menyusul mantan suaminya.
"Iuh... Jijai banget tuh laki," ucap Qari dia belum tahu nikmatnya menikah semua keburukan pasangan menjadi daya tarik tersendiri tidak jarang sebagai obat kemarahan.
Seperti Cyra dan Naqi. Ketika Cyra marah kadang hal-hal sepele tetapi lucu bisa mengobati marah mereka. Tapi juga godaanya juga sebanding dengan pahalanya.
Setelah membahasi keburukan Naqi yang Qari dapatkan dari info kakak iparnya mereka berdua pun ikut berangkai mimpi. Naqi yang awalnya hanya akan memastikan Qari dalam keadaan baik-baik saja, tetapi karena badan yang sudah sangat lelah mereka pun akhirnya tidur dalam satu kamar.
****
Rania tanpa ada yang tahu sejak awal pertengkaran Qari dan Luson sebenarnya mendengar. Dia menguping semua kejadian yang menimpa Luson. Rania juga sangat tidak setuju dengan papahnya, kenapa malah membuat Rania berada disuatu sulit seperti ini. Tanpa Luson sadari pembelaanya dia terhadap Rania, malah menjadi hubungan Rania dan Qari semakin memanas.
Seharusnya andai papahnya sayang dengan Rania tidak akan membawa Rania ke masalah yang runyam. "Qari dan Naqi pasti semakin membenci aku," ucap Rania sejak tadi tidak bisa tidur. Ia bingung harus bagai mana. Tinggal di rumah ini juga sebenarnya ia sangat terpaksa, hal itu lagi-lagi karena Luson yang memaksanya.
"Aku sepertinya harus menemui Adam besok. Aku akan meminta Adam menikahi aku saja. Terserah aku tidak di restui oleh keluarganya setidaknya yang menjalani kehidupan ini aku dan Adam. Seenggaknya kalo aku menikah dengan Adam aku akan pergi dari rumah ini dan tidak akan membuat Qari dan Naqi cemburu lagi.
Rania merasa setelah ia bertemu dengan papahnya justru yang ada dia kembali di buat semakin banyak masalah. Dulu ia sangat ingin bertemu ayahnya agar bisa membantu keluar dari masalah-masalahnya tetapi malah justru sepertinya masalah-masalah itu datang bertubi-tubi setelah ia tahu siapa papahnya.
****
Deon melalui orang suruhanya pun tahu bahwa Qari tengah ada masalah dan saat ini Qari tengah lari menenangkan diri. Deon pun kembali menyusun rencana, mencoba masuk dengan kelemahan Qari. Mungkin saja ia akan berhasil ketika masuk di saat situasi seperti ini. Deon akui Qari memang sangat sulit didekati. Dengan materi, ketika banyak cewek di luaran sana baru ditunjukan kartu dengan warna gelap akan berlomba-lomba mencoba mendekatinya. Qari justru seolah enggan untuk berdekatan dengan dirinya. Dia tetap cuek dengan sifatnya yang jutek. Materi tidak bisa meluluhkan hati Qari. Ketampanan, karisma dan wajah pun sepertinya tidak mempan di hadapan Qari sehingga wanita itu tetap cuek dengan dirinya. Lagi-lagi ketika Deon bosan dikejar-kejar wanita karena tubuh atletis, wajah tampan, dan tubuh yang sempurna. Qari malah seolah tidak melihat itu semua.
Deon sudah meminta orang kepercayaanya mencari tahu siapa Alzam, bagai mana kriteria cowok yang di sukai wanita yang sudah masuk dalam daftar incaranya. Bukan incaran untuk di jadikan kekasih atau pasangan hidup menuju hari tuanya, tetapi incaran untuk ia bisa mainkan seperti dulu kakaknya menjadi mainan orang tuanya. Deon tidak akan jahat apabila bukan keluarga Qari dulu yang memulainya. Dia hanya melanjutkan kisah yang sudah mereka tuliskan.
Bahkan wajah Qari banyak terpasang di kamarnya, seolah Deon adalah pengagum rahasianya. Sebelum Deon tidur ia terlebih dulu mengirimkan kata-kata romantis. Mungkin saja dengan keisenganya mengirim pesan bisa berlanjut ke hubungan yang lebih serius lagi. Maksudnya seriuz untuk memiliki kesempatakan yang sangat baik untuk menghancurkan Qari.
****
Pagi hari Cyra yang memang sudah biasa bangun lebih awal untuk melaksanakan kewajibanya sebagai seorang muslim. Setelah melaksanakan kewajibanya ia membuka ponselnya. Semalam ia sudah bertukar kabar sama mommy bahwa ia menginap dengan Qari, bahkan Cyra mengirim foto dirinya dengan Qari, sudah pasti tujuanya agar mommy percaya bahwa ia memang sama Qari bukan hanya berduaan dengan Naqi. Meskipun momynya sudah sangat percaya dengan dirinya yang pastinya bisa dipercaya.
Cyra memainkan ponselnya sembari menunggu adik dan kakak yang masih terlelap itu. Namun justru Cyra ikut kembali terlelap.
Pukul delapan suara deringan dari tiga ponsel secara bersamaan mampu membangunkan ketiganya.
"Astaga, keajaiban apa ini tiga ponsel semuanya berdering bersamaan," rutuk ketiganya hampir bersamaan, dan suara nyaring dari ke tiga ponsel itu berhasil membuat Naqi, Cyra dan Qari bangun seketika.
"Halloh Mih, kenapa?" tanya Naqi dengan suara serak khas bangun tidur dan mata masih sangat berat untuk ia buka. Dia baru tidur menjelang pagi, dan jam delapan masih sangat kurang bagi Naqi.
"Abang, kamu di mana? Dan adik kamu juga di mana? Kenapa ini sudah jam delapan kamu belum pulang?" tanya mamih terlihat cemas dari nada bicaranya.
"Ini mam aku sama Qari dan Cyra ada di hotel, semalam ada salah paham sedikit dengan Luson jadi aku dan Qari memutuskan tidur di hotel malas liat Luson ada di rumah," jawab Naqi, yah memang benar kok dia menginap di hotel juga karena malas di rumah ditakutkan masih ada Luson. Yang ada moodnya nanti jadi kembali rusak kalo lihat Luson.
"Ya udah mana alamat hotelnya mamih mau ketemu dengan anak mamih, Qari dan Cyra," ujar mamih tanpa menyebut dirinya.
"Loh... Loh... Kok anak mamih jadi ganti, bukanya anak mamih itu Abang sama Qari," protes Naqi tentu ia tahu bahwa mamihnya hanya iseng. Namun apa salahnya ikut meladeni keisengan mamihnya.
"Iya itu dulu, sebelum kamu di coret dari KK (Kartu keluarga) Sekarang berhubung kamu udah di coret jadi di ganti Cyra," jawab Mamih sangat mengandung provokasi pertikaian diantara keluarga.
"Astaga Mih, jahat banget ih," ujar Naqi dengan suara dibikin mengiba.