Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Suami Idaman


"Halloh" suara sapaan dengan suara serak nan berat terdengar dari balik telepon. Suara itu kalo bukan ciri-ciri oranv habis nangis ya habis tidur.


Naqi dan yang lain tentu senang ketika teleponya diangkat, pasalnya itu tandanya Qari baik-baik saya, dan Naqi tidak harus keliling penjuru kota Jakarta buat cari bocah nakal itu.


"Dek, kamu di mana? Ini Abang kamu, nyariin kamu kenapa nomor ponsel kamu mati?" tanya Cyra memberitahukan apa yang terjadi, Naqi pun hanya mendengarkan saja meskipun sebenarnya ia sudah ingin sekali memaki Qari, karena sudah berhasil membuatnya cemas. Bahkan sampai jam satu lewat ia belum tidur sama sekali demi mencari adik nakalnya.


"Aku lagi tidur Kak, tidur di hotel baru ajah mimpi udah dibangunin lagi," jawab Qari tanpa dosa.


Naqi yang gemaznya sampai diujung kepala pun, langsung menyambar ponsel Cyra.


"Astagah Qariii... kamu bener-bener yah, bikin cemas Abang ajah. Ini Abang lagi di rumah Cyra, cari kamu kesana kemari enggak ketemu. Hape juga kenapa nomernya beda-beda. Kaya mau masang togel ajah kamu nomer hape banyak gini. Kamu sekarang ada di hotel mana? Biar Abang susul," pekik Naqi tidak peduli kalo kuping Qari langsung pecah.


"Lagian kenapa juga di cari, orang Qaqi males tidur di rumah ada nenek lampir sama aki-aki peot," jawab Qari dengan jutek, tetapi tangan yang satu lagi ia gunakan untuk mengusap telinganya karena triakan Abang durjananya sehingga kupingnya langsung pada membengkak.


"Kamu enggak ngomong Dek kalo mau tidur di hotel buat nenangin pikiran. Kalo kamu ngomong, telpon atau kirim pesan, Abang enggak bakal secemas ini sama kamu. Lain kali jangan kaya gini napa Dek. Abang udah janji sama mamih kalo bakal jaga kamu terus, jadi hargai Abang kamu," ucap Naqi kali ini dengan nada yang serius malah cenderung sangat menghayati sehingga baik Cyra maupun Meta tahu bahwa di balik sifat Naqi yang selalu berantem sama Qari memang ada sosok Abang yang sangat menyayangi adiknya dan bertanggung jawab penuh dengan adiknya.


"Iya maaf Abang, abis tadi Qari sebel banget sama aki-aki itu. Jadi Qari pergi ajah. Taunya ngantuk banget, jadi pergi kehotel dan ketiduran juga," ucap Qari mencoba mencari alasan. Padahal ia sejak tadi boro-boro tidur. Masih menangisi ucapan Luson. Padahal mungkin saja Luson itu ngomong kaya gitu karena setegah mabuk, sehingga ia seolah tidak sadar dengan perkataanya, tetap bagi Qari rasanya tetap sakit. Sehingga air matanya terkuras terus dari balik kelopok matanya.


"Kamu sekarang di mana? Biar abang ke sana buat pastikan kamu baik-baik saja," ucap Naqi. Yah, mana bisa ia tenang sedang dia belum melihat adiknya benar-benar ada di hotel atau di mana, bahaya kan kalo dia benar-benar tidak ada di hotel. Hanya sekedar memastikan kalo di hotel ada ya Naqi tinggal pulang dan membiarkan Qari menenangkan fikiranya.


"Di hotel 'Tidur Nyenyak' Bang, kenapa emang? Mesti banget yah Bang di pastiin kesinih," ucap Qari dengan malas, Abangnya terlalu menghawatirkan dirinya.


"Ya udah Abang kesana sekarang!" ucap Naqi, ia mematikan sambungan teleponya dan buru-buru menyalakan mobinya hendak menuju hotel 'Tidur Nyenyak' yang barusan Qari ucapkan. Yah nama hotelnya adalah 'Tidur Nyenyak'


"Eh... Eh... Tunggu! Loe mau bawa gue kemana?" tanya Meta sambil memegang tangan Naqi, agar ia menghentika mobilnya yang bahkan sudah maju beberapa meter.


"Ikut cari Qari kan?" tanya balik Naqi, heran bukanya dia yang heboh mau ikut cari Qari.


"Batal!! Gue keinget sekarang malam jum'at bini sayang kalo dianggurin," ucap Meta, lawak banget. Di mana bisa dia malam jumat sendirian sedangkan yang lain baru malam kamis.


Meta buru-buru keluar. "Awas loh, kalian nggak boleh deket-dekatan ingat 3M (Menjaga jarak satu meter, menolak kalo diajak macam-macam, meminta tolong kalo predator mulai mencurigakan) satu lagi ingat dosa-dosa! Dosa ditanggung masing-masing dan neraka itu panas," ucap Meta sebelum benar-benar pergi meninggalkan Cyra dan Naqi di dalam mobi. Tidak ada salahnya mereka pergi berduaan. Lagian Naqi dan Cyra sudah besar. Sudah tahu mana yang boleh dilakukan dan tidak, sehingga Meta tidak lagi harus cape-cape jadi security mereka.


"Pindah depan Ra, masa aku kaya sopir," ucap Naqi. Sembari menepuk kursi yang kosong. Mana panas bekas bohong Meta.


Cyra pun mengikuti perintah dari Naqi, enggak enak juga duduk di belakang sendirian. "Ngomong-ngomong emang hari ini malam jum'at yah?" tanya Naqi, mobilnya sudah membelah jalanan ibukota kembali.


"Perasaan bukan deh hari ini kan baru hari rabu dan berati malam kamis dong," jawab Cyra sama dengan tebakan Naqi.


"Tapi kok tadi Meta bilang kalo hari ini malam jum'at?" tanya Naqi lagi, sebenarnya pembahasan tidak terlalu penting sih tapi biar lah buat menghilangkan ngantuk. Jujur matanya seolah sudah di gelayuti oleh bantal dan kasur yang empuk. Tapi gara-gara adiknya, Naqi harus menghilangkan bayangan-bayangan yang mengganggu dimatanya.


"Kayak enggak tau Meta ajah, dia sejak nikah sama Fifah kan setiap malam dia anggap malam jum'at," jawab Cyra cepat. Dan memang benar kok yang dikatakan Cyra dua orang itu udah bener-bener cocok banget. Bahkan sudah sering Meta itu di omelin gara-gara diotaknya ngadon terus. Bahkan anaknya dititip-titipkan biar dia bisa berduaan sama emaknya Mesy.


Naqi yang baru paham dengan ucapan Cyra pun terkekeh renyah. "Ternyata Meta juga laki-laki normal yah, aku pikir dia rada-rada belok," ujar Naqi, siapa sih yang enggak punya pikiran ke arah sana, kalo Meta itu setiap gayanya menunjukan kelainan. Namun kalo sudah kenal betul seperti Cyra, Qila dan yang lainya Meta itu sosok suami idaman banget pokoknya. Tidak pernah berkata kasar, berbuat kasar. Ya meskipun galak-galak dikit lah. Tapi di jamin dia itu penyayang abis.


Contohnya barusan Meta itu hanya mengetes Naqi ajah dia sebenarnya sudah punya rencana tidak akan ikut. Mana mungkin dia bisa membiarkan Fifah mengurus Mesy sendirian. Pasti Meta tidak tega. Dan juga sudah jadi kebiasaan Meta kalo dia akan ikut bergadang kalo Mesy bangun dan membiarkan Fifah tidur. Suami idaman banget kan Meta.


"Sembarangan kamu Mas, dia normal kok. Memang gayanya itu rada-rada ngeselin tapi hatinya dia itu baik banget. Malah aku pengin kalo punya suami itu kayak Meta, baik penyayang enggak pernah marah, pokoknya sifat kaya Meta laki-laki idaman lah," ucap Cyra sembari matanya berbinar membayangkan jodohnya seperti Meta.


"Kalo gitu nanti Mas, berguru deh sama Meta, bair bisa seperti dia," ucap Naqi sembari melirik nakal pada Cyra.


...****************...


BESTIE mampir yuk ke karya othor yang baru...


Tekan fav, like komen, bawa kopi sama bunga biar semangat up yah...