Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Permintaan Rania


Seperti janji Cyra kemarin, pulang kerja Cyra menyempatkan mengunjungi toko buku, ia membeli banyak buku cerita untuk teman barunya. Lalu ia pun menyempatkan diri mengunjungi teman barunya untuk memberi hadiah dan juga bercerita untuk menghibur mereka. Mereka tidak seperti kita yang ingin liburan bisa kemana sajah asalkan ada uangnya. Mereka harus melawan rasa bosan, dengan fasilitas seadanya yang ada di rumah sakit. Maka dari itu ketika ada relawan, yang dengan suka rela datang untuk berbagi cerita mereka sangat antusias.


Baru juga sampai di halaman rumah sakit, ponsel Cyra berbunyi. Tidak butuh lama Cyra mengangkat ponselnya.


"Iya Mas, nih Cyra udah duluan sampai di rumah sakit," jawab Cyra begitu mengangkat telpon dari Naqi, seolah tau bahwa Naqi mencarinya untuk mengajak kerumah sakit.


"Loh kenapa dia tau kalo aku meneleponya untuk mengajak kerumah sakit?" batin Naqi heran dengan Cyra, "Apa dia selama ini punya indra ke enam," lanjut Rio masih penasaran.


"Ya udah Mas kesana sekarang," Naqi langsung memutuskan sambungan teleponya dan bergegas menyusul Cyra ke rumah sakit. Seharian ini ia cemas, memikirkan Rania yang tengah menjalani oprasi, tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak sebab, Naqi mulai takut apabila kakek ternyata sudah mengetahui hubunganya dengan Rania.


Naqi langsung bergegas meninggalkan ruangnya dan menuju rumah sakit.


Sementara Cyra mengayunkan kakinya dengan tegas melewati setiap lorong rumah sakit. Cyra membuka pintu ruangan khusus untuk penderita kangker pada anak-anak. Kebetulan di dalam ruangan juga sedang ada teman-teman relawan, dan Cyra pun ikut bergabung dengan mereka. Sebelum masuk keruangan itu Cyra tentu sudah lebih dulu membersihkan diri dan menseterilkan badannya, agar tidak ada firus yang bisa sajah menempel ditubuhnya dan justru membahayakan para pasien itu sendiri. Mengingat para pasien kangker memikiki daya imun yang rendah sehingga rentan terkena firus.


Para anak-anak hebat itu menyambut antusias Cyra, terlebih Cyra membawa banyak buku bacaan. Cyra membagikan pada anak-anak itu tak lupa ia pun bercerita tentang kisah yang terdapat dari buku yang ia bawa. Hanya ini yang bisa Cyra bagikan, cerita yang menurut mereka sangat menarik, dan mereka akan melupakan sakitnya sejenak. Bahkan rasa lelah dan bosan karena harus terus-terusan meminum obat mereka tinggalkan sejenak.


****


Naqi turun dari mobilnya dan bergegas menuju rungan Rania. Ia sudah tidak sabar melihat kekasihnya. Naqi menapakan kakinya dengan pelan-pelan, bahkan saking pelanya seolah tidak menimbulkan bunyi. Naqi mendekat keranjang pasien di mana Rania tengah istirahat, ia sedikit lega setidaknya itu menandakan bahwa Rania baik-baik sajah. Oprasinya lancar dan sekarang tinggal masa penyembuhanya.


Rania yang merasa ada yang menggenggam tanganya pun terbangun. Ia menyesuai fungsi retina matanya. Rania memegang kepalanya aga sedikit pusing.


"Kenapa sayang? Kamu pusing?" tanya Naqi dengan cemas.


"Enggak Sayang, dokter Adam tadi bilang, kalo sedikit pusing itu wajar, karena memang efek samping anastesi ada yang berefek pusing," jawab Rania dengan lirih


"Terus hasil oprasinya gimana? Aku belum bertemu dengan Adan, jadi belum menanyakan kondisi kamu pada dia." Naqi berbohong, bukan belum ketemu dengan dokter Adam, tetapi memang ia yang tidak mau menemui Adam.


"Oh... oprasi lancar Mas dan juga untuk jaringan sel tumor sudah dibersihkan, dan sekarang tinggal menunggu proses penyembuhanya. Setelah itu menjalanin kontrol rutin sajah sih." Rania pun menjelaskan kondisinya.


"Syukur lah, akhirnya kamu bisa kembali sehat. Rasanya aku sudah sedikit tenang sekarang," cicit Naqi.


"Sayang, gimana kalo untuk sementara waktu kita tidak saling bertemu dulu? Aku ingin fokus dengan pengobatanku." Rania mencoba mengikuti saran Adam. Walaupun dalam hatinya masih berat apabila tidak bertemu dengan Naqi.


Naqi terbelalak mendengar penuturan Rania. "Maksud kamu apa sayang? Kamu ingin kita pisah? Setelah semua pengorbanan yang aku lakukan sama kamu, tapi kamu ingin kita berpisah begitu?" tanya Naqi suaranya naik satu oktaf.


"Bukan begitu sayang, kamu jangan salah tangkap. Aku hanya lelah apabila harus ditambah dengan kerunyaman hubungan kita, Aku hanya ingin fokus untuk kesembuhanku tanpa ada kisah-kisah percintaan yang rumit. Bukankan kamu yang bilang kalo kamu sudah mendapatkan warisan itu, kamu akan kembali pada aku, maka aku juga maunya kamu kembali pada aku ketika kamu sudah yakin bahwa hanya ada aku dan kamu dalam hubungan kita. Enggak ada istri kamu yang membuat aku sering emosi, dan mempeburuk pengobatanku," ucap Rania dengan sangat pelan. " Kamu tahu kan sayang apa mau aku?" tanya Rania dengan lembut agar Naqi tidak salah paham lagi.


"Apa semua ini Adam yang minta?" tanya Naqi dengan mata menerawang kedalam kedua mata Rania.


Rania serba salah, bingung mau menjawab apa? Sebab memang yang Naqi bilang ada benarnya Rania mengikuti saran dari Adam.


"Jadi bener Adam yang meminta kamu untuk mundur dariku," sungut Naqi, dengan geram dan seolah matanya mengeluarkan percikan api peperangan.


"Bukan sayang, ko kamu bisa menebak Adam yang membujuk aku untuk melakukan ini. Adam bahkan sangat profesional. Tidak sekali pun ia menyinggung kamu sayang, padahal sudah berkali-kali aku meminta kejelasan dari dia perihal kesalah pahaman di antara kalian. Namun, dia tidak pernah mau bercerita. Apabila dia kesini selain membahas kesehatanku dia juga membahas tentang hal lain." Rania justru menutupi semua tentang Adam, dan memberikan penilaian positif dengan laki-laki itu, seolah Rania tidak mau apabila Naqi menjelek jelekan Adam.


"Tentang hal lain apa? Apa kamu sudah merasa nyaman dengan dokter mesum itu dan mencoba lepas dari ikatan kita?" Naqi lagi-lagi mencecar Rania dengan tudingan yang sangat di luar nalar Rania.


"Sayang ko malah kamu jadi menuduh kemana-mana! Padahal aku melakukan ini demi kesehatan aku dan juga hubungan kita. Aku nggak mau, karena kamu keseringan mengujungi aku. Membuat Kakek kamu curiga, dan rencana kamu untuk menjadi pewaris utama perusahaan Kakek kamu gagal. Bukan itu tujuan kamu menikah dengan istrimu itu. Kalo gagal bukanya kamu sendiri yang rugi," sungut Rania.


Niat dia hanya ingin bebas dar Naqi justru terjadi ketegangan diantara mereka. Kenapa sekarang- sekarang untuk berbicara hati ke hati, antara dirinya dan Naqi sangat susah. Pasti berujung salah paham dan diam dengan bertumpuknya masalah baru.


"Aku nggak nuduh yang, hanya aku mencoba berfikir rasional sajah. Tiba-tiba kamu meminta kita menjaga jarak, apa itu tidak mencurigakan?" jawab Naqi dengan tertawa sinis.


Rania menarik nafanya dalam dan membuangnya secara perlahan. Rasa nyeri dibagian perut bagian bawahnya masih sangat terasa. Namun, Naqi malah menambah dengan ketegangan beban fikiran baru yang membuatnya terpancing emosinya.


"Terserah kamu mau berfikir apa, yang jelas tuduhan kamu semuanya salah! Aku sudah memikirkan matang-matang keputusan ini dari jauh-jauh hari. Bahkan sampai tidak bisa tidur karena mengambil keputusan ini, tapi nampaknya kamu masih salah tangkap. Jadi semua terserah kamu, yang jelas aku melakukan ini demi kesehatanku dan kebaikan kita semua," lirih Rania, ia membuang pandanganya keluar jendela.


Naqi pun pada akhirnya menyetujui kemauan Rania, tapi ia berjanji akan tetap mengawasi Rania dari kejauhan, dan yang paling penting ia tetap akan memenuhi janjinya. Setelah tujuanya tercapai, Naqi akan menemui Rania dan akan menikahinya. Sesuai janjinya pada Almarhum ibunya Rania, bahwa ia akan terus menjaga anaknya.