
Di ruangan rawat yang sempit, Tantri dengan cekatan dan gesit merapihkan semua barang yang ia bawa untuk keperluan selama Abangnya dirawat. Sementara Qari bingung mau membantu apa. Semuanya sudah diambil alih Oleh Tantri.
Tidak lama perawat datang untuk memindahkan Alzam ke ruang VIP pesanan Naqi. Tantri dengan tubuh kecilnya membawa dua tas besar di pundaknya dan kedua tanganya membawa tas kecil yang bisa di jing-jing.
Qari hanya membawa tas kecil entah lah isinya apa.
"Qari, kamu tega banget yah biarin Tantri bawa itu semua. Kamu bantuin dong 'PA'." Naqi menoyor kepala Qari yang seolah tidak ada isinya membiarkan Tantri membawa barang-barang besar itu.
"Loh ko Qari sih, lagian mana Qari tau kan dia nggak minta bantuan," jawab Qari polos. Naqi yang mendengar jawaban adiknya itu pun pengin getok kepalanya itu.
"Sini, biar tasnya Kaka Naqi yang bawa." Naqi pun langsung mengambil alih tas besar dari pundak Tantri.
"Apa tidak berat Kak, dan merepotkan nanti?" tanya Tantri dengan sungkan.
"Tidak. Udah ayo buruan!" Mereka pun berjalan mengekor di belakang ranjang Alzam yang didorong oleh perawat dengan sangat berhati-hati agar tidak mengakibatkan goncangan yang kuat, dan bisa menyebabkan sakit pada tubuh Alzam.
Kini Alzam pun sudah berda di kamar barunya yang lebih luas dan hanya terdiri dari satu pasien, yaitu Alzam saja. Tidak seperti di kamar yang lama, di mana satu ruangan terdiri dari beberapa pasien sehingga sangat menganggu. Mana sempit, tidak ada tempat untuk duduk apa lagi rebahan.
Di ruangan VIP justru terdapat sofa, Tv dan fasilitas yang lebih baik. Setelah barang-barang tersimpan dengan rapih di lemari kabinet yang tersedia di pojok ruangan itu.
Tantri mendekat pada Abangnya.
"Abang gimana? Ada yang dirasakan? Atau ingin sesuatu?" tanya tantri denga lemah.
Alzam menggelengkan kepala lemah. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa dirinya tengah panas dingin menahan bekas potongan dikakinya yang sangat menyiksa, setelah anestesi perlahan hilang, segala jenis sakit ia rasakan.
Tantri mengusap keringat yang ada didahi Alzam, padahan ruangan ber-AC dan udara pun sejuk tetap keringat sebesar biji jagung pun bermunculan. Bukan karena ketakutan tetapi memang Alzam tengah menahan rasa sakit yang sulit untuk dijabarkan, sampai keringat besar-besar itu bermunculan.
Tantri tau bahwa abangnya tengah tidak baik-baik sajah. Ia pun menggenggam tangan Alzam dengan kuat, hanya itu yang bisa bocah kecil itu lakukan. Menguatkan, memberi sinyal bahwa Alzam tidak sendiri, ada sang adik yang selalu ada untuk saling berbagi. Alzam dan Tantri pun saling bertatapan dan menguatkan satu sama lain.
Qari dan Naqi yang melihat kondisi Alzam, sangat kurus dan sayu pun iba, dan merasa bersalah. Kenapa orang terdekatnya sakit sampai badanya habis seperti itu mereka tidak peka. Apa Alzam yang terlalu pintar menyembunyikan sakitnya, dan perubahan fisiknya, atau justru mereka yang tidak peka dengan orang-orang disekitar.
Di tengah pemandangan yang sangat mengharukan ponsel Naqi berbunyi, dan ternyata itu pangilan dari istri bocilnya.
"Astaga aku lupa, kalo janji mau jemput si bocil," ucap Naqi sembari menepuk jidatnya.
"Kenapa Bang?" tanya Qari kepo, dengan urusan sang abang.
"Gue lupa mau jemput bocil, dia udah nungguin. Gue pergi bentar jemput bocil yah. Alzam, Tantri Kaka keluar dulu bentar, nanti balik lagi. Kalian ada ingin nitip sesuatu?" tanya Naqi dengan mengusap pundak Alzam.
"Tidak usah Kak, lagian semua kebutuhan sudah dibawa dari rumah," tolak Tantri dengan lembut. Alzam pun menggeleng menandakan ia juga tidak ada yang ingin di beli.
"Baik lah, aku pergi dulu. Kalian baik-baik yah kalo ada apa-apa langsung hubungi Kakak saja yah Tantri, jangan sungkan dan jangan merasa tidak enak, karena Kakak ikhlas melakukan ini semua." Selanjutnya Naqi pun hendak keluar.
"Abang..." pekik Qari, dan Naqi pun menghentikan langkahnya lalu berbalik menengok kearah Qari, seolah bertaya ada apa?
"Dih... beli ajah sendiri, loe yang laper kenapa gue yang susah," dengus Naqi, padahal dalam hatinya tidak masah kalo hanya meminta makanan, tetapi kalo dengan Qari lain di mulut lain di hati. Naqi pun kembali melangkah pergi.
"Wah, awas loe Bang..." umpat Qari, kesal dengan Abangnya.
"Kakak, kalo Kaka lapar, mau ke kantin tidak apa-apa biar Abang Al, Tantri yang jaga."
"Ah tidak ko, aku tadi cuma iseng ajah," elak Qari. Malu lah masa kalah sama anak kecil dari tadi kan Tantri juga tidak terlihat makan apa-apa, dan dia tidak mengeluh apa pun.
****
Di lain tempat....
Cyra yang sejak tadi menunggu pun sudah mulai jenuh. "Kemana sih Mas Naqi, kenapa lama sekali. Biasanya dia kalo udah janji itu pasti lebih dulu nungguin. Kenapa malah sekarang ngaretnya kelewatan," gerutu Cyra sembari memainkan kakinya, karena jenuh menunggu suaminya.
Tidak lama Naqi datang dengan mobil mewahnya. Cyra pun berekting kesal dengan memanyunkan bibir mungilnya dan wajah yang ditekuk.
Naqi pun terkekeh dengan kelakuan istri bocilnya. "Kenapa wajahnya dibikin cantik gitu, pengin di cium?" kelakar Naqi.
Cyra langsung menarik bibirnya dia gigit ke dalam.
"Sekarang malah godain pengin digigit," goda Naqi lagi.
"Apaan sih Mas itu, aku itu lagi kesal. Mas Naqi jemputnya lama banget! Kalo memang sibuk atau lagi ada acara apa, bilang saja, jangan malah minta tungguin tapi lama banget. Untung tadi nggak ada yang culik Cyra. Kalo Cyra diculik gimana?" omel Cyra.
"Hahahaha.... Si Nyoyah sudah bisa ngomel-ngomel. Ada kemajuan yah sekarang. Biasanya diem ajah, kalem. Sekarang mah ngomelnya udah kaya ibu-ibu komplek lagi gosipin anak tetangga." Naqi tertawa renyah dengar omelan Cyra. Bukanya takut atau didengar minimal, ini malah terkesal lucu.
Cyra pun akhirnya membuang pandangan ke luar jendelan, tidak mau melanjutkan marahnya. Ektingnya sudah gagal. Naqi bukanya merasa bersalah malah tertawa renyah, mengejeknya.
"Kita kerumah sakit yah. Malam ini kita bermalam di rumah sakit lagi. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Naqi menarik perhatian Cyra lagi.
Cyra seketika langsung menoleh ke arah Naqi. Meminta jawaban atas ucapanya. "Aku pikir sudah berhenti drama bohongnya, ternyata masih lanjut. Apa ini babak baru lagi?" batin Cyra, ia mengira bahwa kerumah sakit akan menjenguk Rania. Yang sebelumnya Naqi berkata bahwa Rania ingin fokus dengan kesembuhanya dulu, dan meminta Naqi menjaga jarak.
"Alzam, assistenku sakit. Aku hanya ingin ikut menjaganya. Kasian dia tidak ada sodara lain selain adiknya yang masih kecil. Sebagai bentuk sayang dan peduli kami pada dia, aku putuskan untuk ikut menjaganya selama proses penyembuhan. Kerjaan juga nanti aku boyong semua ke rumah sakit. Kenapa, kamu pikir akan menginap dengan Rania?" tanya Naqi dengan meledek.
"Ah... tidak hanya kaget ajah," elak Cyra, dengan wajah memerah karena menahan malu, salah tebak.
"Cie... cemburu yah..." Naqi meledek Cyra. "Ada yang mulai suka kayaknya...?" Naqi makin senang menggoda Cyra yang wajahnya makin memerah.
"Enggak yah... biasa ajah..." elak Cyra lagi sembari pura-pura acuh.
"Bener juga nggak apa-apa," kekeh Naqi sembari menoel-noel lengan Cyra, tetapi Cyra acuh dan bahkan pura-pura tidur, agar Naqi tidak meledeknya terus. Hal itu justru membuat Naqi makin senang menggodanya. Kini Naqi merasa lebih nyaman dengan Cyra. Bahkan sekarang tidak canggung apabila saling memuji atau meledek. Naqi pun sering menunjukan kepedulianya dengan Cyra. Yah, walaupun masih jaim dikit. Namun, dalam hatinya masih ragu dengan perasaanya antar Rania atau Cyra. Sehingga Naqi masih menahan tidak terbawa dengan perasaanya pada Cyra, hal itu untuk melindungi agar Cyra nantinya tidak terlalu sakit apabila harus berpisah darinya.