Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Terlefon dari Rania


"Mas nanti kita main ke rumah orang tuaku mau nggak?" tanya Cyra, sebab ia ingin mengetahui apa yang terjadi dengan keluarganya selama ia keluar dari rumah itu. Bagaimanapun mereka adalah keluarga Cyra jadi ia merasa harus tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu.


"Nanti ajah Ra, sekalin kondangan. Sekarang itu aku lagi sibuk banget dengan urusan kantor. Kamu tau sendiri kan lusa aku keluar produk yang barusan kalian bikin iklan. Jadi lagi nggak sempet untuk ngurusin yang lain." Naqi dengan halus menolak permintaan Cyra. Sebenarnya Naqi pun ingin datang kerumah itu untuk menyelidiki mimpi Cyra. Naqi bahkan masih sangat kefikiran dengan mimpi Cyra yang tempo hari. Namun, karena masih ada urusan pekerjaan tengah menggunung ia pun harus menahanya, tetapi dilain waktu ia akan mencoba untuk menginap di rumah itu. Bukankan mereka mertuanya, otomatis Naqi dan Cyra juga bisa menginap sesuka hati. Kecuali, apabila ada rahasia yang disembunyikan, mungkin mereka akan keberatan dengan kedatangan anggota lain yang tidak diinginkan.


"Ya udah nggak apa-apa Mas. Cyra juga siapa tau nanti ada panggilan iklan lagi, soalnya barusan sutradara menawarkan kerja sama. Apabila ada tawan iklan lagi, mereka mau pake jasa aku loh Mas." Cyra dengan semangat menceritakan pengalamanya tadi.


"Wah bagus dong," balas Naqi, tetapi tangan dan matanya terus fokus ke leptop. Yap, Naqi sedari tadi sibuk dengan laporan pekerjaanya.


"Iya Mas, malahan Meta, dia mau jadi manajer Cyra loh," pekik Cyra girang, maklum yah Cyra itu usianya masih delapan belas tahun, jadi masih ada sifat kekanakanya yang tidak sengaja ia lakukan. Biarpun biasanya ia bersikap dan bertutur kata seperti perempuan dewasa, tetapi jiwa bocahnya tidak bisa bohong, masih ada walau tidak dominan.


Naqi pun hanya menggeleng melihat kegirangan Cyra. Yah Naqi tau betul gimana perasaan Cyra sekarang, makanya dia tersenyum dengan tingkah yang tersembunyi, yang tanpa sadar bertingkah seperti anak kecil. "Ngomong-ngomong Meta yang mana?" tanya Clovis tentu ia tidak tau yang mana namanya Meta.


"Mas Naqi nggak kenal Meta? Tapi Meta kenal Mas loh, dan barusan Meta juga bilang kalo Mas yang nunjuk Meta langsung buat bimbing Cyra," ucap Cyra dengan penuh semangat.


Naqi pun nampak berfikir menginggat-ingat dengan nama yang Cyra sebut. "Oh dia itu yang cowok tapi berpenampilan cewek bukan?"


"Iya itu betul, itu namanya Meta Mas, dia orangnya baik banget dan, mau membantu Cyra. Bahkan dia mau jadi manajer Cyra. Padahal dia kan juga sibuk, tapi dia mau meluangkan waktunya buat mengatur jadwal Cyra nantinya, baik banget kan dia itu." Cyra tak henti-hentinya memuji Meta.


Tanpa terasa kini mereka telah sampai di rumah. Mereka pun berjalan beriringan memasuki rumah besar yang mereka tempati. Siapa pun yang melihatnya tidak menyangka bahwa mereka hanyalah sepasang suami istri diatas kertas. Terutama ketika melihat keakraban mereka dan perlakuan Naqi maupun Cyra yang sangat lembut mengira mereka adalah best couple.


Setelah menyapa kakek dan mamih mereka masuk ke dalam kamar untuk bebersih dan istirahat sembari menunggu jam makan malam. Di mana saat makan malam dan sarapan adalah waktu yang sangat diwajibkan oleh kake untuk berkumpul dan bertukar cerita sehingga keharmonisan keluarga selalu tercurah dari keluarga besar mereka


***


Dering telpon terdengar dari gawai milik Naqi.


Namun, Naqi tengah berada di dalam kamar mandi. Cyra mengintip siapa nama dibalik telfon Naqi. "Ternyata Mba Rania," batin Cyra, tetapi Cyra tidak berani mengangkat telefon tersebut. Akhirnya Cyra memilih memberi tahukan Naqi bawa ada telepon dari kekasihnya.


Tok... tok.. tok... Cyra mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya, apa Ra?" tanya Naqi dari dalam kamar mandi. Tentu Naqi sudah tau bahwa yang mengetuk pintu Cyra.


"Mas, ada telefon dari Mba Rania." Cyra memberi tahu niatanya mengetuk pintu.


Tidak lama Naqi membuka pintu dan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang ke bawah. Naqi memang selalu cuek dengan hal itu, dan lagi-lagi Cyra yang akan menutup matanya. Karena malu ketika melihat pemandangan indah itu.


"Mana?" Naqi menyodorkan tanganya meminta ponselnya.


Cyra pun memberikan posel Naqi yang sebelumnya berada dalam genggamanya.


"Hallo sayang," sapa Naqi dengan mesra dan hal itu dilakukan di depan istrinya. Sakit? Mungkin itu yang dirasakan Cyra.


"Mas bisa kesini. Aku sakit dan tidak ada yang menolongku," rengek Rania dengan manja.


"Sakit, sakit apa sayang? Sudah berobat belum?" tanya Naqi dengan panik.


Sementara Cyra di belakang Naqi menguping setiap obrolan antara suaminya dan kekasihnya itu. Kepo? Tentu Cyra ingin tau apa yang terjadi dengan Rania. Terlebih Naqi nampak panik.


"Aku belum tau sayang sakit apa, tapi sudah dua hari ini badan aku demam dan tubuh aku lemes. Tidak nafsu makan juga," tutur Rania menceritakan apa yang ia rasakan.


"Terus kenapa kamu baru kasih kabar aku sekarang sih yank," balas Naqi makin panik. "Tunggu aku kesana, sekalian telefon Sam untuk periksa kamu. Tapi aku nggak bisa menginap soalnya nanti Kakek curiga," ucap Naqi memberitahukan Rania bahwa ia tidak bisa menginap.


"Kamu tega sayang, membiarkan aku seorang diri dirumah ini, dengan kondisi sakit," rengek Rania, ingin Naqi menginap di rumahnya.


"Nggak bisa Ran, nanti Kakek curiga kalo aku keluar dan tidak pulang. Kakek itu bukan orang yang bisa dengan mudah dibodohi." balas Naqi. Ia langsung mematika sambungan telponya. Tidak mau terlalu berdebat yang hanya akan membuang-buang waktu. Naqi lalu bergegas mengenakan pakean dan akan kerumah Rania segera.


Cyra iba dengan Rania, tentu Cyra mendengar percakapan atara Naqi dan Rania. Cyra membayangkan apabila Rania di rumah seorang diri tentu sangat berbahaya terlebih ia tengah sakit.


"Mas aku ikut," ucap Cyra dengan yakin.


"Apaan sih Ra, aku itu mau ke rumah Rania," jawab Naqi tanpa menoleh kearah Cyra.


"Iya aku tau, dan aku dengar percakapan Mas dan Mba Rania. Cyra tau Mba Rania sakit kan? Dan meminta Mas menemani di rumahnya malam ini?" ucap Cyra dengan mendekat kearah Naqi.


"Nah itu tau, jadi kamu jangan aneh-aneh deh. Kita itu menikah hanya di atas kertas dan kamu jangan ikut campur dengan urusan aku dan Rania karena aku bukan milikmu," ucap Naqi dengan Nada begitu mencemaskan Rania.


"Iya Mas, Cyra tau dan Cyra juga selalu ingat hal itu. Disini Cyra hanya ingin membantu Mas Naqi agar bisa menginap di rumah Mba Rania sajah. Soalnya Cyra juga nggak tega kalo Mba Rania seorang diri di rumahnya dalam keadaan sakit. Itu terlalu berbahaya buat Mba Rania. Maka dari itu Cyra ingin menawarkan bantuan sama Mas Naqi," ucap Cyra dengan nada yang sangat lembut. Berbeda dengan Naqi yang barusan berkata dengan setengah membentak pada Cyra.


"Maksud kamu apa? Bicara langsung sajah aku tidak banyak waktu," balas Naqi dengan jutex, Difikiranya terlalu mencemaskan Rania yang tengah sakit. Sehingga tanpa sadar ia berkata dengan nada meninggi.


Untung sajah Cyra pukan tipe orang yang


gampang sakit hati dan down hanya dengan nada bicara atau pun perkataan seseorang.


Bersambung......


...****************...