
"Bagaimana pun, Niko tidak boleh tahu bahwa Mesy adalah darah dagingnya. Gue sudah terlanjur sayang sama anak itu," gumam Meta, tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya apabila Mesy diambil oleh Niko. Sehingga Meta memutuskan untuk menikahi dulu Fifah secepatnya setelah menikah baru resepsi dan rencananya Meta akan tetap mengundang Niko, ia ingin tahu kalo dia bisa punya anak dengan Fifah. Biarkan Niko tahu bahwa Fifah memiliki anak dengan dirinnya di luar pernikahan, bagi Meta tidak masalah yang terpenting dia menangisi ucapanya tempo lalu, yang menuduh bahwa Fifah itu mandul.
Meta pun begitu jam pulang kantor berbunyi langsung beranjak pulang dengan tergesa sehingga ia lupa bahwa Qila belum bulang. Yah, biasanya memang Qila dan Meta selalu pulang dan berangkat bersama. Karena memang Qila juga tinggal di rumah Meta masih bersama dengan Fifah.
Begitu Meta pulang sang pemilik tahta tertinggi tengah di kerumunin oleh nenek dan tantenya sementara Mamihnya tengah menonton TV. Kapan lagi bisa santai-santai seperti nyonyah. Mumpung masih di rumah Cyra, dan Mesy memiliki baby sister yang siap menjaga setiap saat justru Cyra akan marah kalo anaknya di ambil sama mamihnya. Jadi Fifah hanya boleh gendong Mesy kalo anak usia empat bulan itu haus dan lapar baru akan diberikan sama ibu kandungnya kalo tidak maka Cyra akan tetap menguasai bayi itu seolah dia adalah yang melahirkanya.
"Uluh ini anak perawan Daddy happy bener karena ada Bucannya," tegor Meta begitu pulang seperti biasa akan menemui Mesy lebih dulu. Bucan (Bunda Cantik) paggilan Mesy sama Cyra adalah Bucan.
"Tumben Ded, udah pulang?" tanya Fifah sembari menyodorkan air minum untuk Daddynya Mesy.
"Iya semuanya gara-gara omongan Cyra, aku jadi kefikiran kamu sama Mesy terus," jawab Meta sembari melirik kearah Cyra. Sontak saja Cyra heran kenapa malah dia yang di salahkan. Sedangkan dia dari tadi tidur dan begitu bangun langsung bermain dengan si cantik Mesy kenapa bisa-bisa dia disalahkan.
"Tunggu! Kenapa jadi aku yang kamu salahin Met? Aku ajah dari tadi di rumah tidur sama Mommy. Iya kan Mom? (Mommy mengangguk dengan yakin, karena memang dari tadi putrinya tidur bersama dengan dirinya) Nah tuh Mommy pun mengangguk. Lalu kenapa bisa kamu pulang lebih awal kefikiran Mesy dan kaka Fifah dengan alasan aku. Meta mah cari gara-gara sama aku karena udah lama nggak berantem kayaknya deh," dengus Cyra dengan jengah.
"Bukan itu cin, I'm kefikiran omongan you yang tentang Niko kalo tahu Mesy anaknya. Makanya I'm kefikiran pengin buru-buru nikahin Fifah dulu dan setelah itu baru mungin selanjutnya akan diadakan resepsinya." Meta sudah yakin bahwa besok mereka akan menikah dan semuanya ia lakukan biar Mesy tetap aman di tangan dia dan Fifah, tanpa ada Niko yang datang mengacaukan semua rencananya.
"Fah kita nikah besok yuk!" Meta tidak ada angin dan tidak ada hujan pun mengajak Fifah untuk menikah besok hari. Alhasil semua yang ada di ruangan itu pada kaget termasuk mamah Mia yang langsung melotot kearah Meta.
"Met, Mamah tau kamu pengin nikah tapi ya enggak kaya mau BAB juga Met, masa sekarang ngajak nikah besok. Nikah juga harus ada persiapan Met. Jangan kayak anak kecil pengin beli permen deh Met. Beri waktu buat mempersiapkan semuanya, karena penghulu juga mau nikahin orang harus ada persiapanya dan ada data yang harus di isi segala macam," sungut mamah Mia yang justru ikut naik darahnya dengan kelakuan Meta. Mau nikah udah kayak mau tamasya.
"Enggak apa-apa Mah, biar Meta yang urus sore ini juga, memang niat Meta pulang lebih awal itu biar Meta bisa mempersiapkan semuanya sekarang, karena Meta tahu nikah memang butuh persiapan segala macam." Meta pun tanpa menunggu jawaban dari Fifah langsung ersiap akan pergi untuk mengurus pernikahanya.
"Tunggu Met, ngomong-ngomong kamu sudah pulang, tapi kok Qila belum pulang, memang Qila ada lembur?" tanya Mamah Mia, ketika mengabsen, tetapi anaknya satu lagi belum pulang.
"Oh, astagah Mah, Qila ketinggalan di kantor," pekik Meta dengan menepuk keningnya sendiri. "Kenapa aku bisa-bisanya lupa sama Qila yah," oceh Meta, ia bingung harus bagai mana sedangkan ia akan pergi ke kantor KUA.
"Coba kamu telpon dia ajah Met, tanya sekarang Qila pulang naik taxi ajah biar nanti kalo dia nggak bawa uang baya di rumah ajah, jangan naik kendaraan lain, bahaya." Fifah meminta agar Meta menelepon Qila, lagian itu juga kan karena kesalahan Meta. Yang pulang asal nyelonong ajah tanpa ngecek Qila sudah masuk mobil atau belum, bisa-bisanya berangkat dan pulang tiap hari bersama bisa-bisanya dia pulang kelupaan Qila masih ketinggalan di kantor.
Sesuai yang ibu negara perintahkan Meta pun menelepon Qila dan bilang pada Qila agar pulang naik taxi saja karena Meta sudah tidak bisa balik lagi ke kantor untuk menjemput Qila, dan Qila pun tidak keberatan pulang dengan menggunakan Taxi.
"Huh coba ada cowok bisa kali kalo lagi ditinggalin kaya gini sama Meta, minta jemput pulang bareng sama pacar. Ini punya pacar perhatian hanya di bulan-bulan awal jadian makin kesini chat pun tidak pernah di balas. Jangankan di balas di baca saja tidak pernah," dengus Qila sembari membuka pesan seminggu lalu yang Qila kirim ke Sam disaat Qila memergoki Sam jalan dengan wanita lain. Padahal Qila hanya bertanya lagi di mana dan dengan siapa? Qila juga bertanya kenapa sekarang tidak pernah memberi kabar. Dan Sam hanya membalas dia sedang sibuk, padahal Qila barusan melihat Sam tengah jalan dengan wanita lain. Sejak saat itu Qila tidak lagi bertukar kabar dengan Sam lagi. Ingin Qila mem'blok nomor ponsel kekasihnya itu yang di saat awal jadian menjadi laki-laki paling baik dan penuh perhatian, namun begitu memiliki mainan baru Qila diabaikan.
Qila berjalan ke pinggir jalan dan menyetop taxi yang lewat, dia pun sesuai yang Meta bilang pulang naik taxi, padahal tadinya ia ingin pulang naik ojek. Namun takut kalo ketahuan naik ojek bisa di ceramahin oleh Meta tiga hari tiga malam. Secara kebawelan Meta lebih dari segala-galanya. Mamah Mia ajah kalah bawelnya sama Mata kalo lagi ceramah.
Tepat di lampu merah lagi-lagi mata Qila menangkap pemandangan yang sangat menyakitkan. Andai ia tidak cinta rasanya tidak akan sesakit ini, tetapi kenyataanya dia sudah suka sama Sam. Namun yang miskin akan kalah dengan yang berduit. Mungkin begitu pikiran Qila.
Sam dan wanita yang sama beberapa hari lalu Qila lihat naik motor, hal yang jarang Sam lakukan selama ini, tetapi dengan wanita itu Sam melakukanya naik motor dan terlihat saling menikmati bercengkrama dan mengobrol satu sama lain saling berbagi cerita. Qila hanya memperhatikan dari dalam mobil. Mungkin apabila hal seperti ini terjadi dengan yang lain Sam sudah di labrak dan setidaknya di mintai kejelasan, tetapi Qila tidak bisa melakukanya. Selain ini adalah pengalaman pertama ia jatuh cinta, Sam juga sudah mengisi hati Qila. Sehingga Qila bingung harus melakukan apa. Qila memperhatikan wanita itu yang tinggi kurus dan cantik. Qila menatap ke tubuhnya sendiri, dan tertawa terkikik ketika melihat tubuhnya yang kecil pendek dan kurus. Yah, dilihat dari tubuh Qila memang jauh dari sempurna tetapi bukan berarti Qila bisa ditinggalkan begitu saja, setidaknya berikan Qila kejelasan agar dia tidak berharap terus.
Qila mengusap air mata yang menetes dari ujung matanya. Rasanya ia sangat panas hatinya. Lampu merah pun seolah mendukung ke Sam. Sehingga Qila merasa lampu merah kali ini sangat lama dan sangat panas suasanya.
"Tuhan kuatkan aku untuk tetap menjaga hati ini agar tidak sakit, biarkan dia yang memang bukan jodohku pergi dengan yang lain dan, hati ini tetap utuh tanpa terluka sedikit pun," batin Qila. Selanjutnya ia kembali membelah jalanan ibu kota menuju rumah di mana ia tinggal bersama bersama Cyra dan yang lainya.
*****
Sudah hampir satu bulan Sam memang selalu pulang dan pergi menggunakan motor hal itu untuk mempermudah antar jemput Yola dan menghemat waktu di jalan apabila menggunakan mobil maka mereka akan sering telat untuk kerja.
Tentu Yola tidak tahu bahwa sebelum dekat dengan dirinya Sam sudah memiliki kekasih dan hubungan mereka lumayan harmonis. Bahkan tidak sekali pun nampak ketegangan diantara mereka. Sejak Yola hadir baru Sam merasa Qila itu berbeda dan mulai mencari-cari alasan agar bisa meninggalkan Qila tanpa ketahuan bahwa Sam lah yang telah menduakan cinta mereka.
"Sam kita mau pulang atau kemana dulu?" tanya Yola dengan tangan sudah menyusup ke dalam balik jaket kulit yang tengah Sam gunakan. Sam pun yang tengah mengemudi konsentrasinya menjadi terpecahkan tidak bisa fokus kejalanan karena tangan-tangan Yola yang mulai bermain diatas dada bidangnya.
"Enaknya gimana?" tanya Sam sengaja ingin menggoda Yola sekaligus mengetes Yola itu seperti apa, apakah lebih baik dari Qila atau justru Qila tetap yang terbaik.
"Mampir dulu sepertinya akan sedikit membuang penat," balas Yola, yah tanpa harus di jelaskan lagi tentu Sam tahu mampir dalam arti apa, terlebih tangan-tangan Yola di dalam sana sudah berani menjelajah ke area yang seharusnya tidak di jamah dengan bebas oleh tangan-tanganya.
Sam yang selalu digoda konsentrasinya semakin dibuat tidak bisa terkendali lagi bertepatan di jalan yang menikung dan kondisi dia menaiki motor cukup kecang.
Ciiiitttttt... Srakkkk... Braaaagggg...
Terjadi kecelakaan beruntun yang diakibatkan motor yang Sam taiki tiba-tiba hilang kendali. Dan mengakibatkan kendaraan yang di belakangnya pun ikut hilang kendali sehingga terjadilah kemacetan yang parah.
Baik Yola mupun Sam keduanya tidak sadarkan diri setelah motor yang ia tumpangi hancur menghantam pembatas jalan dan dua penumpang itu mental kejalanan dengan luka yang cukup parah.
"Kenapa Pak, ko tiba-tiba macet, kayaknya tidak ada perbaikan jalan ataupun apa-apa kok macet sih?" tanya Qila yang sejak tadi sempat tertidur, tetapi sudah bangun karena kemacetan yang lumayan parah.
"Tidak tahu Neng, tapi kayaknya ada kecelakaan Neng tadi sempat ada benturan keras dan sekarang banyak ambulance, itu," tunjuk supir taxi yang memang ada beberapa mobil ambulance berlalu lalang.
Qila pun langsung menyenderkan kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat berat dan mencoba kembali memejamkan matanya, tetapi rasa ngantuk itu sudah menguai entah kemana dan kini Qila membuka kaca jendela melihat keluar jendela yang mana mobil taxi yang ia tumpangi sudah mulai berjalan dengan perlahan.
Qila terus melihat ke luar jendela dan ingin melihat apa yang membuatnya macet. "Benar apa yang dikatakan sopir taxi bahwa terjadi kecelakaan beruntun," batin Qila, tetapi Qila seolah melihat motor yang barusan di tumpangi oleh Sam dan wanitanya tadi.
Qila mengusap kedua bola batanya dan mengerjapkan berkali-kali apakah ini mimpi atau tidak. Ia melihat sekali lagi sepeda motor itu kebetulan jalan padat sehingga taxi dalam lajunya sangat pelan. "Betul itu motor yang tadi dokter Sam dan wanita itu taiki tapi kenapa bisa separah itu, lalu di mana penumpangnya?" tanya Qila dalam batinya ia mencoba mencari-cari sosok Sam barang kali ada diantara kerumunan orang-orang yang ada di sekitar kejadian, tetapi Qila tidak melihat Sam maupun wanita itu. "Kalo benar itu motor yang Sam gunakan berati itu tandanya Sam itu menjadi korban dalam tabrakan tadi?" batin Qila, mulai tidak tenang.
Qila mencoba menarik nafasnya dalam dan mencoba mengatur nafasnya agar tidak kalut dan akan mencoba mencari tahu nanti apabila sudah berada di rumahnya. Bisa jadi itu hanya montor yang sama yang di taiki Sam dan Sam saat ini masih sehat-sehat sajah. Qila mencoba menenangkan perasaanya agar tidak kecewa lagi nantinya.
Perjalanan kantor ke rumah yang biasanya hanya makan waktu tiga puluh menit, karena ada kecelakaan bisa sampai satu jam lebih dan itu cukup membuat punggung panas.
Qila masuk kerumah dengan lesu, hal itu karena ia mencari info kecelakaan beruntun barusan yang terjadi, belum ada info up date dari kepolisian. Sementara hati Qila semakin tidak tenang karena sejak tadi dia menghubungi Sam tetapi tidak ada jawaban pula.
"Kamu marah atau benci sama aku silahkan Sam, tapi setidaknya kalo kamu sehat dan tahu aku menelepon kamu tolong angkat telponya, aku hanya mau memastikan bahwa bukan kamu korban kecelakaan tadi," bisik Qila di depan layar pintarnya.
Cyra yang tahu Qila sudah pulang tetapi dengan wajah yang masam pun menghampiri Qila. "Kamu kenapa La, kok pulang-pulang wajah ditekuk gitu?" tanya Cyra sembari menepuk bahu Qila untuk menyadarkan sahabatnya dari lamunanya itu.
"Itu Ra, tadi di jalan aku lihat seperti motor Sam terlibat kecelakaan, tapi ketika aku hubungi Sam untuk menanyakan kebeneranya telpon aku tidak diangkat-angkat, aku cari info korban kecelakaan pun belum ketahuan ada berapa orang dan siapa saja. Aku takut kalo Sam masuk jadi korban kecelakaan itu Ra," isak Qila sembari air matanya yang sejak tadi dicoba ditahanya agar tidak jatuh, tetapi ternyata Qila tidak sekuat itu air mata itu jatuh juga akhirnya.