Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Gudang di Dalam Kantor


"Qari, yah aku coba tanya sama Qari, dia pasti tahu di mana Cyra berada. Enggak mungkin Qari tidak tahu di mana kakak iparnya di sembunyikan. Secara mereka lebih dekat dari pada aku dengan Qari." Naqi kali ini akan mencoba menemui Qari, karena adiknya biasanya selalu bisa di andalkan dalam mencari informasi apapun. Ia akan mencoba mendekati Qari. Setidaknya berusaha dulu agar tidak penasaran.


Naqi pun langsung menghidupkan mobilnya dan menuju kekantor milik Tuan Latif. Lagi, perjalanan yang biasanya ia tempuh dengan cepat ketika semua ia butuhkan seperti ini perjalanan menjadi sangat lama. Emosi Naqi tambah menjadi-jadi ketika ternyata perjalanan ke kantor justru terjadi kemacetan yang panjang.


"Sial...(Naqi memukul setir mobilnya) kenapa malah macet seperti ini sih. Mana sebentar lagi jam makan siang. Masa iya gue sampai sana harus nunggu lagi Qari selesai makan siang," gerundel Naqi semakin di buat kesal oleh jalanan ibukota. Yah, ketika emosi di nomor satu kan jalanan yang tidak tahu apa-apa pun menjadi sasaran kemarahan Naqi.


Entah siapa lagi yang akan menjadi pelampiasan Naqi nantinya. Padahal dulu Naqi analah sosok laki-laki baik, sabar dan rajin bahkan ia sama Alzam sajah tidak pernah berbeda pendapat itu semua karena Naqi memang baik dan tidak membedakan atasan dengan bawahan. Namun entah kenapa sekarang Naqi menjadi sosok yang gampang marah, gampang menyalahkan orang lain, tanpa melihat diri sendiri seperti apa. Dan juga Naqi tidak memiliki pendirian. Seolah Naqi yang sekarang berbeda dengan Naqi yang dulu.


Ayo Naqi cepat kamu sadar bahwa apa yang kamu lakukan itu salah semakin kamu memaksa ingin hidup bersama Cyra semakin Cyra terpaksa, justru kamu menyiksa Cyra.


Sementara ini di kantor Ralf Grup...


"Nona Qari, Anda tidak lupakan jam satu Anda dan Pak Alzam ada rapat di Rasa Restaurant, dengan salah satu klien kita." Mirna sebagai sekretaris Qari mengingatkan jadwal rapat pada Qari hal itu di lakukan karena Qari memang yang pelupa. Tetapi tidak pernah mau ngaku bahwa ia pelupa itulah Qari.


Jadi semenjak Naqi pergi dan Qari naik jabatan ke tempat Abangnya. Alzam menjadi asisten Qari. sedangkan Mirna yang dulunya menjadi sekretaris Naqi, tetapi sejak Qari pulang ke Indonesia dan di berikan wewenang untuk membantu perusahaan yang Mirna di pindahkan ke bagian lain. Sementara bagian sekretaris di pegang Qari. Kini semuanya kembali keposisi yang dulu, di mana Mirna di tarik lagi menjadi sekretaris Qari dan kerja satu ruangan bersama Alzam.


Namun karena Qari yang memang menyukai Alzam kedekatan Mirna dan Alzam yang memang sudah lama menjadi partner kerja tentu lebih akrab dan banyak ngobrol dan bercanda.


Namun, namanya juga Qari perintahnya tidak bisa di tentang sehingga baik Alzam maupun Mirna hanya pasrah saja yang penting ibu bos ngak uring-uringa terus. Toh yang terpenting Alzam dan Mirna itu murni perteman dan lagi Mirna sebenarnya sudah ada teman laki-laki yang berniat memperistri, tetapi karena satu dua pertimbngan sehingga mereka masih merahasiakan hubungan keduanya. Sementara Alzam pun masih dengan pendirianya bahwa ia ingin fokus dengan adik tercintanya. Alzam belum terfikirkan dengan penawaran Qari yang ingin Alzam menikahinya. Sehingga semua yang Qari lakukan Alzam tetap tidak meresponya, toh nanti kalk Qari sudah menemukan peria yang lebih dari Alzam dia akan berpaling dengan sendirinya.


"Iya aku inget, lagian kan aku masih muda mana mungkin hal sepenting itu aku bisa lupa," jawab Qari ketus, yah Qari memang selalu seperti itu dengan Mirna. Dia kalo diingatkan jawabnya seperti itu, iya ingat-ingat, tetapi ketika tidak diingatkan dan dia lupa pasti Mirna yang jadi bulan-bulanan Qari. Mirna kalo sama Qari benar ajah bisa salah, apalagi salah ya udah makin jelas di salahkan. Itulah Qari, tetapi sejauh ini hanya mulutnya yang berisik seperti petasan, hati nya mah Qari baik dan Royal. Buktinya kalo ada meeting di luar Qari sering membawakan makanan baik Alzam maupun untuk Mirna. Dan juga uang bonus selalu dapat sama dengan Alzam sehingga Mirna tidak merasa di bedakan.


Karena memang meeting yang di laksanakan jam satu maka jam sebelas baik Qari maupun Alzam sudah bersiap akan berangkat ke lestoran yang di tuju, biar sekalian makan siang dulu dan tentunya biar sekalian jalan-jalan dengan calon suami begitu kira-kira yang difikiran Qari. Sementara Alzam ya sama kaya Alzam yang dulu tetap lurus dan jarang merespon meskipun Qari selalu merayu dan ngegombal buat Alzam. Bagi Alzam itu hanya hiburan saja mungkin.


Kita kembali ke Naqi,. Setelah melewati kemacetan yang cukup panjang, akhirnya Naqi sampai juga di kantor kakeknya. Benar perkiraan Naqi bahwa ketika ia sampai karyawan sudah pada berhamburan istirahat.


"Sial!!! Gara-gara macet gue sampai kantor pas istirahat, tetapi Naqi tidak menyerah dia berjalan setengah berlari menuju ruanganya yang sudah pasti di tempati oleh adiknya. Naqi sangat berharap kalo Qari belum keluar istirahat. Naqi melihat jam di pergelangan tanganya. Masih jam setengah dua belas ada kemungkinan adiknya belum keluar. Biasaanya ia akan keluar makan jam dua belas begitu pun setidaknya Qari masih ada harapan bahwa dia masih ada diruanganya. Naqi kembali mempercepat langkahnya dan juga mata yang memindai ke segala arah takutnya Qari pergi tidak berpapasan dengan dirinya.


Begitu sampai di depan ruangan dirinya dulu. Naqi langsung masuk keruangan itu, tetapi Naqi dibuat kaget dengan penampakan ruanganya yang baru ia tinggalkan satu bulan yang lalau tetapi ketika di tempati sama Qari menjadi super berantakan. "Apa-apaan ini kenapa ruangan gue jadi berantakan seperti ini. Meja siapa ini kenapa bisa ada meja kerja orang di masukan ke ruangan gue," pekik Naqi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Niatnya mencari Qari untuk mencari tahu kabar Cyra tetapi justru dibuat syok dengan penampakan ruanganya yang jadi seperti gudang. Semua meja ada dan semua barang juga ada di sana. Naqi masuk semakin dalam, mengapati ruanganya yang dulu selalu tertata dengan rapih dan bersih, tetapi kali ini ketika adik ceweknya yang menempati kenapa jadi kumuh dan tidak tertata. Bahkan di lihatnya pun sangat pengap.


"Heran aku, kenapa mereka bisa kerja dengan ruangan yang super berantakan seperti ini sih," gerunsel Naqi lagi-lagi sembari mengecek ke setiap sudut ruanganya.