
Naqi kini sudah sampai di rumah mamihnya. Dia sebelumnya mengirimkan pesan pada Rania, agar dia tidak lagi marah. Tentu berada di posisi Naqi juga serba salah. Dia tidak bisa menolak permintaan mamihnya dan dia juga terlalu takut apabila Rania meninggalkanya.
"Malam semuanya." sapa Naqi dengan menyalami kakek dan mamihnya. "Lagi ngomongin apa sih?" tanya Naqi sembari duduk di samping Cyra.
"Nggak ada yang dibahas, hanya ngobrol santai ajah." jawab kakek sembari matanya masih menonton berita yang disiarkan di televisi.
"Qi, Mamih pengin ngomong sama kamu berdua sajah." ucap mamih dengan menatap tajam kearah anak lelaki satu-satunya.
"Kayaknya penting banget Mih," selidik Naqi, tetapi tetap sambil berdiri mengikuti mamihnya pergi keruangan lain. Sementara Cyra tetap menemani kakek menonton televisi.
Mamih membawa anaknya masuk ke kamar pribadinya, agar obrolan mereka tidak ada yang mendengarnya apalagi papah mertuanya apabila tau apa yang dialami Cyra bisa-bisa marah besar.
"Apa yang terjadi dengan istrimu, kenapa ditubuhnya terdapat banyak luka." tanya mamih dengan mata penuh selidik.
"Jadi mamih sudah tau dengan luka yang dialami Cyra, lalu aku harus berkata apa," batin Naqi bingung.
"Kenapa diam sajah, apa jangan-jangan dugaan Mamih benar, kamu yang melakukan itu semua." tuduh mamih, sebenarnya mamih tau bahwa luka itu bukan perbuatan putranya, terlebih lukanya sebagian udah mengering sehingga otomatis luka itu sudah terjadi sebelum Naqi mengenal Cyra.
"Ya ampun Mih, Naqi mana tega melakukan itu semua. Justru Naqi juga penasaran siapa yang melakukan itu semua. Cyra tidak pernah mau bercerita apa yang terjadi denganya sebelum menikah dengan Naqi." balas Naqi dengan jujur. "Naqi dan Sam sedang memancing Cyra agar ia bercerita mengenai nasibnya, tetapi sampai sekarang belum banyak yang Naqi ketahui. Hanya sajah Naqi curiga dengan keluarga Cyra terutama kedua orang tuanya." tutur Naqi dengan muka serius.
Mamih mengernyitkan dahi, kaget dengan perkataan Naqi. "Kamu jangan bercanda sayang, Tuan Kifayat itu orang terpandang, kaya raya, mana mungkin dia melakukan hal itu pada anaknya." ujar mamih merasa tidak masuk akal dengan tudingan Naqi.
"Awalnya Naqi pikir gitu, tetapi setelah tau fakta-fakta tentang Cyra, Naqi jadi berpikir sebaliknya." terang Naqi.
"Maksud kamu, fakta apa lagi?" tanya mamih makin penasaran.
"Yang Naqi tangkap dari beberapa obrolan aku dan Cyra. Dia tidak mendapatkan keadilan di rumah itu. Bahkan sekolah sajah dia hanya tamat SD dan dilarang keluar rumah selama kurang lebih enam tahun. Dia tidak pernah menghirup udara luar rumah nya." Beo Naqi menceritakan semuanya pada mamih.
"Aneh sekali," lirih mamih, "Tapi apa alasanya Tuan Kifayat melakukan itu semua? Mamih liat Cyra anak yang baik, meski sedikit keras kepala." jawab mamih jujur.
"Menurut penuturan Cyra, dia dilarang keluar rumahnya karena kelainan yang ia miliki." ucap Naqi.
"Mamih makin nggak ngerti kelainan apa lagi maksud kamu sayang?" tanya mamih kembali.
"Cyra itu botak Mih, dia memiliki kelainan. Berbeda dengan wanita lain. Bahkan kepalanya tidak memiliki rambut sehelai pun. Jadi kerudung yang ia pakai hanyalah untuk menutupi kekuranganya. Orang tuanya yang meminta itu, dan Mereka merahsiakan dia dari umum agar orang lain tidak mengetahui kekurangan putrinya, mereka malu apabila semuanya terungkap ke publik." geram Naqi. Akhirnya ia menceritakan semuanya pada mamihnya.
"Pantas sajah Mamih liat Cyra itu beda dengan yang lain, lebih kolot, penampilanya kuno, nggak menarik banget." gerutu mamih.
"Iya Mam, maka dari itu Naqi pengin merubah dia, tapi waktu dan kesempatannya belum ada, Mamih tau kan akhir-akhir ini Naqi sedang sibuk banget di kantor, dalam waktu dekat ini akan meluncurkan produk baru, jadi Naqi harus hendel semuanya agar tidak terjadi kesalahan." tutur Naqi, menceritakan rencananya.
"Kalo gitu biar Mamih yang gantiin kamu, Mamih akan rubah istri kamu biar nggak kampungan." tawar mamih serius.
"Ya udah, kamu tenang ajah kerja ajah yang benar, biar urusan Cyra serahkan ke Mamih. Kalo gitu makan yuk, Mamih udah lapar." ajak mamih, mengakhiri obrolan mereka.
"Aduh aku udah makan Mam, baru sajah." tolak Naqi dengan halus.
"Kalo gitu kamu harus cobain brownis buatan istri kamu dijamin kamu bakal ketagihan. Ternyata dia jago bikin kue kesukaan Mamih loh," cicit mamih, antusias menceritakan kepiawaan Cyra dalam membuat aneka kue.
Akhirnya Naqi mengikuti mamih keruang makan, ia tak bisa menolak permintaan mamihnya. Meskipun perutnya sudah kenyang tetapi dia juga penasaran dengan rasa kue buatan Cyra.
Mamih, Kakek dan Cyra menikmati makanan malam, sementara Naqi menikmati brownis buatan Cyra.
"Memang benar sih, brownisnya enak banget, manisnya cocok." puji Naqi didalam hatinya. Tanpa sadar ia menghabiskan satu potongan besar. Mamih yang melihat pun tersenyum, karena Naqi terlihat sangat menikmati kue buatan Cyra.
"Ehemmm.... gimana sayang rasanya, enak kan kuenya?" tanya mamih dengan nada sindiran.
"E.... enak Mih, manisnya pas, coklatnya pun berasa. Top deh." puji Naqi, ia berkata jujur.
"Nanti Mamih juga akan belajar sama menantu Mamih, bair bisa bikin kue seenak itu." imbuh Mamih, memuji Cyra, sedangkan Cyra hanya menunduk malu, ketika ada orang lain memujinya ia justru malu.
"Perusahan gimana Qi? Apa ada masalah?" tanya kake ingin mendengar laporan dari cucunya langsung. Meskipun kake ada orang kepercayaan yang selalu melaporkan perkembangan perusahaan dan apa sajah yang terjadi dengan perusahaanya, tetapi kake juga selalu memantau sejauh mana Naqi serius memimpin perusahaanya.
"Semuanya berjalan lancar Ke, Naqi juga akhir-akhir ini tengah sibuk dengan peluncuran prodak baru kita." jawab Naqi dengan tenang, ia sudah sangat terbiasa dengan pertanyaan kakek yang seolah mengetes kemampuanya.
Makan malam berakhir dan kini waktunya istirahat. Naqi mengajak Cyra kekamarnya untuk beristirahat.
"Mas tadi sudah ketemu dengan Mbak Rania? Lalu gimana apa dia mau bertemu dengan ku?" tanya Cyra, sudah tidak sabar mendengar cerita Naqi tentang hasil dari pertemuanya dengan kekasihnya.
"Rania menolak bertemu denganmu. Dia bahkan sekarang marah padaku." jawab Naqi sembari melepaskan seragam kantornya.
Cyra pun nampak sedih, ia sangat merasa bersalah. Tentu ia merasa bahwa kehadiranya yang telah membuat Rania marah.
"Maafkan Cyra yah Mas, Karena perjodohan kita. Mba Rania jadi marah dengan Mas Naqi. Kalo diizinkan aku ingin menemui Mba Rania dan membantu meluruskan masalah Ini." lirih Cyra berharap Naqi mengizinkanya.
"Nggak usah, kamu nggak usah susah-susah menjelaskan pada Rania. Biar urusan itu aku yang atasi. Lagian dia marah buka semata-mata karena kamu. Banyak hal yang terjadi dihubungan kita sehingga Rania marah." ucap Naqi ia tidak mau melibatkan Cyra dalam masalahnya dengan Rania.
Naqi sadari memang sifat Rania dan Cyra sangat berbeda. Andai sajah Rania memiliki hati sedikit sajah seperti Cyra tentu masalah mereka tidak akan melebar keman-mana.
...****************...
#Mampir juga yah di novel aku yang lain " Beauty Cloads" ceritanya nggak kalah seru loh..