Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Niko dan Fifah menikah


Pagi harinya seperti biasa keluarga Tuan Latif akan sarapan bersama, dan dimeja makan ini biasanya mereka akan berbagi cerita, entah hanya candaan sajah atau pun ketika ada pengumuman yang penting mereka akan sampaikan di momen ini.


"Pagi semua," sapa pengantin baru yang baru sajah turun dari kamarnya, yah dia adalah Naqi dan Cyra.


"Pagi, kamu ada pemotretan lagi Ra?" tanya Kakek ketika melihat Cyra sudah berpenampilan rapih.


"Iya Kek, Alhamdulillah sekarang udah mulai banyak tawaran iklan," jawab Cyra dengan wajah bahagianya.


"Padahal tadinya kita mau ajah kamu buat jemput Qari loh," sela Mamih, yang awalnya ingin mengajak Cyra untuk menjemput anak perempuanya pulang dari luar negri.


"Loh emang Qari mau pulang Mih?" tanya Naqi dengan antusias. Lah wong dia nggak dikasih tau kalo adeknya mau mulih Indo.


"Iya nanti perkiraan sekitar jam sebelas pesawat yang ditumpanginya sampai ke tanah air," jawab Mamih dengan wajah berseri bahagia, karena akan ketemua dengan anak perempuan kesayanganya.


"Emang dia udah wisuda yah Mih, perasaan belum deh." Naqi mengingat ingat kelulusan adiknya.


"Belum, Kakek yang meminta pulang, dan Kakek pengin Qari membantu kamu mengolah perusahaan, agar kamu tidak keteter, sebab Kakek melihat Alzam keteteran mengerjakan pekerjaan kamu," balas Kakek mejawab semua pertanyaan Rio beserta alasan kenapa Kakek meminta Qari pulang ke indonesia.


Wajah Rio langsung memanas ia takut apabila kakek sudah mengetahui perbuatan dirinya. "Jangan-jangan Kakek sudah curiga kalau aku sering keluar kantor untuk menjenguk Rania. Apa jangan-jangan Kakek juga sudah tau hubungan aku dan Rania belum berakhir," batin Naqi, ia mulai tidak tenang dengan niatan Kakek meminta Qari pulang. Naqi tentu tau gimana sifat kakeknya, ia tidak mungkin mengambil keputusan besar apabila tidak ada rencana di dalamnya. Sampai memulangkan Qari padahal dia belum selesai kuliahnya.


Sarapan pagi ini Naqi banyak bengong dan hanya mengaduk-aduk makananya dan sesekali menyuapkan kemulutnya tetapi rasanya tidak berselera ia makan.


Berbeda dengan Cyra yang seperti biasa makan banyak dan sedari tadi hanya menyimak obrolan Naqi dan Kakek. Tanpa berani menyela obrolan mereka.


"Mas, apa Mas Naqi masih sakit? Ko makananya hanya diaduk-aduk ajah, atau makananya kurang suka?" tanya Cyra yang melihat kelakuan aneh Naqi.


"Tidak, hanya sajah mulutnya aga pait, mungkin efek sakit dan minum obat kemarin yah," balas Naqi asal, padahal mulutnya nggak pait sama sekali, malah obat yang disalahin.


"Harus dipaksa makan Mas biarpun pait. sedikit-sedikit yah. Nanti kalo nggak dipaksa malah bisa timbul sakit baru, kaya Mag atau bahkan tipes lebih ngeri kan. Yuk dimakan dikit-dikit ajah yang penting perutnya nggak kosong!" Beo Cyra menasehati Naqi yang kadang kaya anak-anak, butuh dorongan rayuan dan ancaman untuk melakukan sesuatu.


"Betul tuh Naqi, kamu harus paksain makan. Biar pun sedikit, jangan biarkan karena alasan pait kamu nggak makan," omel Kakek membela Cyra dan memarahi cucunya yang bangor, untuk makan ajah harus di suruh-suruh.


"Iya Kek ini makan," jawab Naqi, tetapi malah kakinya menendang kaki Cyra. Yah, karena Cyra, ia di omelin kakek.


Ah... ringis Cyra yang kakinya diinjek Naqi dengan sengaja. "Ish... dia mah dendaman banget, padahal kan niat aku baik kenapa malah aku kena injek," batin Cyra sembari mengusap usap kaki bekas injekan Naqi yang memakai sepatu tentu aga nyeri.


Cyra yang memang anaknya jail pun membalas mencubit perut Naqi.


Aish... ringis Naqi yang merasa perutnya panas karena cubitan Cyra.


"Sakit!" desis Naqi yang hanya bisa didengar Cyra.


"Sama, aku juga sakit. tuh Mas pake sepatu aku nyeker kakinya ya sakit dong!" protes Cyra tapi hanya dengan bisik-bisik sehingga hanya Naqi yang dengar.


"Sukurin!" balas Naqi dengan cuek.


"Awas ajah nanti kalo jemput-jempu atau telpon, mohon-mohon minta bantuan agar aku bantuin biar bisa ke rumah sakit. Cyra bakal kabur nggak mau bantuin! Enak ajah dia yang mulai nggak mau minta maaf," batin Cyra mengutuk kelakuan Naqi.


Selalu seperti biasa Cyra akan perangkat lebih dulu karena memang harus menjemput Meta. Cyra ngehindar juga sih agar tidak diminta berangkat sama Naqi yang super ngeselen, biarpun kadang baik tetapi sering juga Naqi bikin darah mendidih. Seperti pagi ini nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba nginjek kaki Cyra.


*****


Di rumah Niko....


"Kamu benaran yang, mau nikah sekarang, dan pernikahan kalian hanya ijab kabul sajah?" tanya Zoya dengan sedih. Sekuat-kuatnya ia mengizinkan suaminya menikah lagi tetap sajah hatinya sakit menghadapi hari pernikahan suaminya untuk kedua kalinya.


"Iya sayang, kamu nggak ikhlas yah? Kalo kamu nggak ikhlas masih ada waktu buat aku membatalkan pernikahan aku dan Fifah," ucap Niko tidak mau kalo Zoya bersedih.


"Tidak Mas, Zoya bahagia ko, hanya sedih nggak bisa liat acara Mas," jawab Zoya, memang orang tua Niko dan Niko sendiri melarang Zoya datang dipernikahan mereka sebab takut apabila Afifah dan Mamahnya curiga dengan kedatangan Zoya, sehingga mereka menginginkan hanya keluarga inti sajah yang hadir sebagai saksi.


Setelah Zoya mengizinkan, dan memberi restu dengan pernikahan Niko yang kedua, akhirnya Niko beserta kedua orang tuanya menuju rumah sakit tempat Tuan Kifayat dirawat.


Ketika Niko masuk Fifah dan Mamahya sudah menunggu, tak ketinggalan juga Pak Penghulu dan wali hakim sudah datang.


Fifah tampil cantik dengan riasa sederhana dan kebaya hanya alakadarnya. Pernikahan sangat-sangat sederhana dan tanpa menunggu waktu lama akhirnya Niko menikahi Afifah dihadapan Tuan Kifayat yang masih kritis, beliau sudah sadar tapi belum bisa berbicara sehingga wali nikal diserahkah kepada wali hakim pernikahan.


Simpel padat dan cepat acara ijab kabul sudah selesai dan kini Fifah sudah sah menjadi istri Niko. Eh... tepatnya istri kedua Niko.


Niko menyematkan cicin bermata berlian dijari manis Fifah, begitu pun Fifah, dan setelahnya Fifah mencium punggung tangan Niko dengan takzim dan Niko mencium pucuk kening Fifah.


Setelah acara ijab Kabul selesai semua yang bersangkutan segera pulang, karena kondisi Tuan Kifayat yang masih lemah sehingga tidak diperbolehkan mengundang banyak tamu dan berlama-lama diruanganya.


"Fah, dan Nak Niko lebih baik pulang sajah, biar Mamah yang menjaga Papah disini. Ini hari bahagia kalian gunakan untuk kalian nikmata dengan sebaik mungkin." Mamah Daima tau pengantin baru pasti ada ritual khusus dimalam hari,sehingga ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan anak dan menantunya.


"Mamah yakin tidak apa-apa disini sendirian, kalo mamah cape biar nanti Fifah disini sajah, temanin Mamah," ucap Afifah yang tidak tega meninggalkan Mamahnya seorang diri menunggui Papahnya.


"Kamu jangan khawatir, kan Mamah bisa minta tolong maid di rumah untuk menemani mamah disini, kalian senang-senang sajah, Suami kamu pasti cape sudah menyiapkan semua ini. Kini waktunya buat kalian istirahat," ujar Mamah Daima dengan senyum manis agar Fifah tidak mencemaskanya.


Akhirnya Afifah dan Niko pun pulang. Meninggalkan Mamah Daima Dan Tuan Kifayat di rumah sakit.


"Mas kita mau pulang kemana?" tanya Fifah karena jalan yang ia lalui asing bagi Fifah.


"Rumah aku," jawab Niko singkat.


Fifah aga kaget dengan sikap Niko yang tampak jutek, tetapi Fifah mengira bahwa Niko hanya kecapean sehingga sikapnya seperti itu. Karena tidak ingin menambah kemarahan Niko akhirnya Fifah pun diam sajah mengikuti kemana pun Niko mebawanya.


#Bambang Niko jangan jutek-jutek kasian Fifah, bagaimanapun dia istri kamu harus diperlakukan adil donk....