Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Penjelasan Sam


"Pengobatan apa yang kira-kira bisa Rania lakukan?" tanya Naqi dengan tidak sabar.


Sam menarik nafas dalam, dan akan menjelaskan tentang pengobatan apa yang sekiranya bisa Rania lakukan. "Metode pengobatan tumor akan disesuaikan dengan jenis, ukuran, letak, dan jinak atau ganasnya tumor. Penanganan tidak diperlukan jika tumor tergolong jinak, berukuran kecil, dan tidak bergejala. Namun, dokter akan menganjurkan pasien menjalani pemeriksaan berkala agar perkembangan tumor terpantau.


Jika tumor bersifat jinak tetapi berukuran besar dan menekan saraf, pembuluh darah, atau mengganggu fungsi organ, maka dokter akan mengangkat tumor. Metodenya bisa dengan terapi sinar laser atau prosedur bedah. Selain pengangkatan tumor, ada beberapa terapi untuk tumor yang dapat dilakukan oleh dokter, khususnya pada tumor ganas atau kanker, yaitu:


Kemoterapi, yaitu terapi untuk membunuh sel kanker menggunakan obat-obatan


Radioterapi, yaitu terapi untuk membunuh dan mencegah penyebaran kanker serta mengurangi ukuran tumor, menggunakan sinar radiasi tinggi


Terapi hormon, yaitu terapi untuk menghambat produksi hormon yang memengaruhi pertumbuhan jenis kanker tertentu, seperti pada kanker payudara dan kanker prostat


Imunoterapi, yaitu penggunaan obat-obatan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh melawan sel kanker


Kesembuhan penderita tumor tergantung pada jinak atau ganasnya tumor. Tumor jinak berpeluang lebih tinggi untuk sembuh setelah ditangani bila dibandingkan dengan tumor ganas. Sedangkan peluang kesembuhan tumor ganas tergantung pada stadiumnya. Makin tinggi stadium dan luas penyebaran kanker, makin sulit pula penyembuhannya.


Sebenarnya, ada beberapa pengobatan yang bisa dipilih wanita untuk mengatasi tumor yang tumbuh di dalam rahim, misalnya histerektomi. Namun, sayangnya tindakan ini dapat menghilangkan peluang hamil pada wanita, pasalnya dalam prosedur ini rahim diangkat seutuhnya." Sam menjelaska dengan sangat detail pengobatan apa sajah yang bisa Rania tempuh.


"Lalu jenis tumor Rania yang mana dan menurut loe yang paling aman dan masih memungkinka untuk hamil yang mana?" tanya Naqi semakin serius.


"Tumor yang Rania derita masih tergolong jinak. Maka itu, jika memiliki tumor rahim jinak dan masih mengharapkan momongan, tindakan miomektomi bisa jadi alternatifnya. Tindakan medis ini hanya akan mengangkat sel dan jaringan tumor pada rahim, tapi tidak mengangkat rahim seluruhnya. Karena tidak semua rahim yang diangkat, maka itu tindakan ini memberikan kesempatan agar yang mana Rania, bisa tetap hamil nantinya.


"Miomektomi perut? Bisa dijelaskan cara penangananya?" Tentu Naqi nggak paham dengan hal itu. Sehingga meminta Sam untuk menjelaskanya.


"Baiklah gue jelaskan, Miomektomi perut adalah operasi pengangkatan fibroid dengan membuka perut bagian bawah. Dokter akan melakukan pembedahan secara horizontal sepanjang 7,7-10 cm tepat di atas tulang pubis. Pembedahan juga bisa dilakukan dengan membuat sayatan vertikal, tepat dari bawah pusar ke bawah. Miomektomi perut dianggap cara yang baik untuk wanita yang mengalami tumor rahim atau fibroid rahim yang cukup besar, ada banyak jaringan fibroid, atau fibroid tumbuh di lokasi yang cukup dalam di rahim." Sam menjelaskan dengan cara paling mudah Naqi tangkap.


"Jadi paling aman dan kemungkinan tetap bisa hamil kita ambil cara terakhir?" tanya Naqi.


Sam mengangguk-anggukan kepalanya. "Masalahnya Rania menolak melakukan itu, dia parno dan masih terlalu takut untuk menjalankan oprasi," jelas Sam, yang telah lebih dulu menjelaskan semua pada Rania. "Tugas kamu merayu Rania, tapi dengan hati-hati. Perasaanya sekarang sangat sensitif."


"Gue pasti coba. Apapun akan gue lakuin buat kesembuhan Rania. Andai pun dia akan kehilangan kesempatan memiliki keturunan karena dampak terburuk dari sakitnya. Gue akan terima. Apapun itu, gue nggak akan ninggalin dia Sam." Naqi dengan yakin tidak akan meninggalkan kekasihnya itu.


"Bagus lah, Rania sebenarnya hanya takut kalo loe bakal ninggali dia, Qi."


"Ya sudah Sam gue ke kamar Rania, dulu mau nengok dia, sekalin memberi dukungan dengan semuanya." Naqi pamitan dan langsung menuju kamar rawat Rania.


Sam mengangguk lemah.


Naqi membuka pintu ruangan Rania, disana terlihat Rania yang tengah berbaring dengan lemah dan ditemani oleh asisten rumah tangga yang Naqi bayar khusus untuk menemani dan membantu semua kebutuhan Rania.


"Sore sayang," ucap Naqi sembari mencium kening Rania dan memeluknya. "Gimana udah ada perubahan atau masih sama kondisinya dengan kemarin-kemarin?" tanya Naqi berbasa basi.


"Udah mendingan yang, Sam udah menjelaskan sesuatu?" tanya Rania dengan cemas.


"Sam, aku justru belum ketemu dia. Rencananya habis dari sini aku akan menemui dia. Apa ada sesuatu yang Sam atau kamu mau sampaikan sama aku?" kelakar Naqi. Ia berusaha mencairkan suasana agar Rania tidak tegang.


Benar sajah tergambar senyum halus di wajah pucatnya.


"Tidak, aku pikir kamu langsung menemui Sam?" bela Rania.


"Oh, tidak aku langsung ke mari, rasanya kangen banget pengin liat kamu. Kenapa dari tadi dihubungi nomernya tidak aktif?" tanya Naqi, yang memang ia selalu mencoba menghubungi Rania, tetapi tidak aktif nomornya.


"Iya aku malas banyak teman-teman yang menanyakan kabar dan lain sebagainya, sehingga waktu istirahatku terganggu," jawab Rania sembari menunjukan poselnya yang ia sengaja matikan.


"Oh ya udah bagus malah, kamu jadi lebih bisa fokis untuk kesembukan kamu," puji Naqi sambil mengelus rambut hitam Rania. "Na, aku nanti pulang dulu ke rumah, agar Kakek tidak curiga, setelah itu aku akan kembali lagi kesini."


Raut wajah Rania langsung berubah masam. "Apa tidak ada kemungkinan aku akan diterima di keluargamu, kalo Kakek dan Mamih kamu sangat tidak menyukai aku," liri Rania.


"Hay... nggak boleh sedih begitu. Aku janji apabila warisan kakek sudah berpindah tangan kepadaku. Aku akan bawa kamu ke rumah itu ada restu maupun tidak ada. Aku akan tetap menjadi pelindungmu sayang." Naqi mengecup kedua tangan Rania yang semenjak tadi ia mainkan.


"Apa omongan kamu benar sayang, lalu gimanaistri kamu itu? Apa kamu akan tetap menceraikanya, tanpa memberikan apa pun?" tanya Rania dengan muka penasaran. Pasalnya Rania mengira bahwa Naqi bisa sajah mencintai Rania.


"Tenana sayang. Aku itu tipe laki-laki tanggung jawab, maka dari itu kamu nggak usah cemas. Aku akan tanggung jawab dengan semua ucapanku padamu, dan juga aku tanggung jawab karena dia istriku saat ini," balas Naqi.


"Ok, aku berusaha percaya sama kamu sayang." Rania merentangkan tanganya meminta sebuah pelukan hangat dari Naqi dan tentu sajah Naqi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Mereka pun saling berpelukan agar saling menguatkan.


Bersambung...


...****************...