Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Semangat Untuk Alzam


"Sayang kita makan dulu yuk, pasti kamu belum makan kan? Kaka tadi beli makanan banyak untuk makan kita. Jangan sampai kamu mau jaga Abang Al malah nanti ikut sakit karena telat makan." Cyra merayu Tantri yang sejak tadi enggan meninggalkan Abangnya, walaupun untuk makan. Padahal makan juga hanya berjarak beberapa meter dari ranjang pasien.


Tantri melihat ke arah Alzam, dan Abangnya pun tersenyum. Menandakan ia tidak apa-apa kalo harus ditinggal sendirian.


"Abang, Tantri makan dulu yah."


Alzam pun mengangguk lemah. Dia memang belum diizinkan untuk berbuka puasa. Itu yang membuat Tantri tidak ingin makan, ia tidak tega apabila dirinya makan, tetapi Abangnya kelaparan dan kehausan.


Cyra menyiapkan semua menu makan malam meraka, agar Tantri dan yang lainya bisa mengambil makanan mana yang diinginkan.


"Al maaf yah kita makan dulu." Naqi mewakili yang lainya meminta maaf apabila membuat Al tergoda dengan makanan mereka, sedangkan Al masih puasa.


"Iya, silahkan Tuan." Alzam mengucapkan dengan suara sangat lirih. Mereka pun makan dalam damai.


Malam ini baik Naqi, Cyra dan Qari akan bermalam di rumah sakit. Mereka akan ikut menjaga Alzam sampai sembuh. Mulai besok Naqi berencana membawa laporanya ke rumah sakit. Bukan meminta agar Alzam mengerjakan laporan-laporan itu, melainkan ia akan mengerjakan kekacauan laporan siang tadi di rumah sakit, agar tetap bisa menjaga Alzam.


Apabila ada banyak yang menjaga Alzam, Tantri bisa beristirahat dan tidak terlalu cemas dan ketakuta melewati semuanya seorang diri.


Naqi tadi sudah menghubungi keluarganya, terutama Kakek. Naqi memberikan kabar sakitnya Alzam dan meminta izin untuk tidak pulang karena akan menjaga Alzam sampai sembuh.


Kakek pun mengerti keadaan Naqi dan Cyra yang memilih untuk beberapa hari ini akan tinggal di rumah sakit. Tidak mau kalah Qari pun melakukan hal yang sama. Qari ingin tetap memantau perkembanga Alzam.


Entah lah perasaan Qari sakit melihat Alzam dengan kondisi seperti ini. Sehingga sejak tadi Qari berubah menjadi orang yang sangat pendiam. Bahkan mungkin sepanjang sejarah Qari si wanita jadi-jadian menangis sampai terisak dan mengakibatkan suara yang paraw. Qari meminta Mamih mengirimkan pakaian ganti dan segala kebutuhan untuk dirinya, Abangnya dan juga Kaka ipar bocilnya.


Mamih pun mengerti dan tidak merasa keberatan ketika anak-anaknya memilih untuk sementara waktu tinggal di rumah sakit. Justru mamih senang karena itu tandanya mereka memang saling peduli dengan sesama.


Setelah makan malam Tantri pun langsung dengan gesit hendak merapihkan semuanya.


"Udah sayang, biar nanti Kaka saja yang merapihkanya. Tantri istirahat saja yah." Cyra menolak Tantri merapihkan semuanya, Cyra tidak tega melihat Tantri yang repot sedang kan ia paling kecil sendiri tapi paling sibuk dengan beres-beres.


"Enggak apa-apa Kak, ini Tantri udah biasa ko." Tantri menolak dan hendak membuang sampah-sampah bekas makan malam mereka.


"Kalo begitu kita kerjain bareng-bareng biar cepat selesai." Akhirnya Cyra mengalah. Memang mungkin Tantrinya yang sudah terbiasa mengerjakan kerjaan rumah sehingaa luwes untuk mengerjakan semuanya seorang diri. Tantri pun menatap Cyra dengan senyum hangat.


Qari yang melihat keakraban Cyra dan Tantri pun seolah hatinya terbakar. Sehingga tanpa sadar Qari sejak tadi menatap Cyra tanpa kedip.


"Sialan loe! Bawel banget," sungut Qari meninggalkan Naqi yang tengah duduk di samping Alzam.


Naqi duduk di samping Alzam. Yang sejak tadi irit banget bicaranya. Hanya diam, dan akan bicara bila diajak ngobrol.


Dalam hati Alzam masing menyesuaikan dengan kondisi fisiknya, biarpun ia sudah memikirkan secara matang keputusanya. Tetap sajah dalam hatinya masih ada rasa kecil hati dan merasa minder dengan kondisi fisik kaki barunya nya. Sehingga Alzam lebih banyak diam, belum rasa sakit yang ternyata lebih sakit dari bayanganya menambah ia menjadi lebih irit bicara.


"Ada yang dirasa Zam? Kalo ada sesuatu kamu bilang saja, jangan sungkan. Aku sudah anggap kamu seperti keluargaku jadi lain kali kalo ada apa-apa bilang saja. Aku nggak mau kejadian kaya kemarin terulang lagi. Jangan nutupin apapun dari aku. Tantri masih terlalu kecil untuk menerima ini semua sendirian. Dia sangat ketakutan seorang diri menunggu kamu di ruang operasi. Seharusnya masa-masa umur dia masih senang bermain dengan teman sebayanya, tapi Tantri hebat bisa selalu bersikap tegar meskipun hatinya meronta-ronta menahan semua bebanya." Naqi mencoba menasihati Alzam, agar jangan melakukan kesalahan seperti kemarin.


"Ia Tuan, saya meminta maaf. Saya pikir kami akan kuat menanggung ini semua. Ternyata kesiapan yang sudah saya rencanakan saja tidak bisa langsung menerima begitu saja kondisi ini. Apalagi Tantri. Saya tau betul dalam hatinya ingin menagisi kondisi aku, tapi dia memang gadis yang pandai menyembunyikan perasaanya sehingga dia hanya diam, karena tau kalo banyak bicara tangisannya tidak bisa diaembunyikan." Alzam mencoba terbuka dengan Naqi. Mungkin ketika berbicar diantara laki-laki akan saling mengetahui isi hatinya.


"Iya aku tau, aku sendiri melihat perubahan dalam fisik kamu ada rasa tidak terima dan menyayangkan keputusan kamu. Namun, aku berusaha memaklumi karena lebih baik mencegah dari pada setelah parah baru diambil tindakan, itu akan lebih sulit di terima oleh Tantri. Semoga sajah setelah kita-kita disini Tantri akan terhibur dan kamu juga segera menerima takdiri ini agar Tantri juga bisa merasakan hal yang sama. Kalian memiliki ikatan batin yang kuat jadi kalo kamu sedih Tantri juga ikut sedih. Berusaha ikhlas yah. Biar Tantri juga merasakan hal yang sama." Naqi menepuk pundak Alzam. Bukan tepukan keras seolah mengajak ribut, hanya tepukan lembut agar Alzam kembali bersemangat.


"Terima kasih Tuan, nasihat Anda akan saya ingat. Maaf kalo malah saya merepotkan Anda." Alzan merasa tidak enak, niatnya yang menyembunyikan sakitnya malah akhirnya diketahui oleh bosnya, dan langsung rela meninggalkan pekerjaanya dan membantu menjaganya.


"Tidak masalah, kerjaan bisa dikerjakan lain waktu, atau besok kalo kamu udah sembuh langsung bereskan kekacauan kantor." Naqi berusaha memberikan candaan pada Alzam agar tidak tegang.


Alzam menarik sudut bibirnya sehingga membentuk gari lengkung yang samar terlihatnya. "Jadi benar tuan, laporan kantor kondisinya kacau?"


"Ya itu karena asisaten kamu si Qari biang kerok, tapi nanti akan saya hukum untuk membawa laporan kesini dan dikerjakan disini. Biar sekalian jaga kamu. Makanya kamu harus bisa cepat sembuh buat kasih hukuman sama cewek jadi-jadian itu. Yang sudah membuat kerjaan kita numpuk." Naqi memberikan pacuan pada Alzam. Walaupun pacuanya untuk menghukum Qari.


"Saya janji akan cepat sembuh Tuan, saya juga disini sudah tidak betah. Bau obat dan aroma rumah sakit adalah bau-bauan yang paling aku benci. Namun malah sekarang bau-bauan itu harus aku hirup tiap hari." Alzam kini sudah banyak bercakap-cakap. Apalagi memang sikap Alzam yang pendiam.


Qari pun sejak tadi memperhatikan Alzam. Ia ingin melindungi laki-laki yang ada dihadapanya itu. Laki-laki yang sering membuatnya marah. Nafasnya Alzam sajah selama ini menjadi musuh Qari, tetapi aneh kenapa sekarang Qari justru merindukan nafas itu. Alzam bisa dibilang teman dari kecil Qari, tetapi karena Qari yang selalu membuat gara-gara dengan Alzam dan selalu mengusilinya. Alzam menjadi menjauh bukan karena marah dan kesal pada Qari hanya sajah Alzam tidak ingin melihat Qari marah-marah terus dengan Alzam.


Sekolah Alzam dulu yang selalu bareng sama Qari membuat Qari dan sering membuly Alzam. Hingga sekolah menengah atas mereka berasama, padahal Qari selalu mengancam pada Alzam untuk pindah sekolah tetapi laki-laki itu cuek sajah dan hal itu menambah sikap Qari semakin sebal dengan Alzam yang sejak dulu Qari panggil dengan sebutan Cupu.


#Othor mau promo ig yah, siapa tau ada yang mau pollow sok monggo (Onasih_Abilcake) Dm ajah nanti pasti othor polbek.


...****************...


Othor bawa bacaan yang keche nih, pastinya karya besti Othor namanya ka Julia. Kuy langsung dibaca yah, lagsung di fav, like dan komen. Kirim juga buga, atau kopi buat othornya, biar semangat nulis...