Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kejutan


Hari ini Qari benar-benar bisa membuat Naqi hari-harinya buruk, bahkan gelap gulita, dan juga tadi Qari sempat di lempar botol air mineral dan terkena tepat di kepalanya, sebab anak tengil itu dari tadi membahas pernikahan kakaknya, Rania. Di mana Naqi yang memang sedang tidak menyukai pembahasan pernikahan itu tentu menganggap bahwa ini adalah cara Qari untuk memperolok dirinya, tetapi karena mood Naqi yang sedang ancur dari tadi pagi, ia gampang sekali emosi. Bahkan hal sepele menjadi besar.


"Abang, coba sini Bang kamu lihat seragam kita yang akan di pakai besok pagi untuk menghadiri acara pernikahan kakak kamu. Kakek sudah menyiapkan semuanya, nanti kalau ke besaran atau kekecilan bisa di perbaiki Bang, ayo coba!!" ucap Mami ketika Naqi baru pulang kerja, sementara adik durjananya di samping mamih sudah tersenyum mengejek sembar mengedip-ngedipkan matanya dan juga tangan yang melambai-mlambai agar abangnya datang mencoba pakaian yang memang terlihat sangat bagus itu.


Naqi menatap penuh murka pada Qari, yang memang dia tahu bahwa adiknya tengah meledeknya. Adik durjanaya tidak takut atau kapok karena sudah di lempar botol air mineral, ia justru semakin giat untuk membuat abangnya dongkol.


"Enggak usah Mih, buang ajah pakaian itu," ucap Naqi, sembari kembali akan mengayunkan kakinya untuk menuju kamarnya.


Yah, entah kakek atau mamih dan Qari, hari ini kompak mengerjai Naqi, kalau ia tidak ingat ancaman Cyra mungkin dia saat ini sudah mengepak pakaianya dan pergi kabur untuk menghindari orang-orang yang membuatnya kesal.


Sementara mamih dan Qari, begitu melihat Naqi sudah hilang di telan pintu kamarnya terkekeh kompak. "Kamu apain Dek, kayaknya Abang marah banget," ucap Mamih yang ternyata sempat takut kalau Naqi akan mengamuk.


"Tidak ada Min, hanya di isengin dikit-dikit, dasar ajah Abang yang lagi PMS sehingga baru dipanggil ajah udah keluar tanduk," adu Qari, tapi sungguh ia terhibur dengan kelakuan abangnya itu. Sayang waktu dia untuk mengerjai Naqi hanya diberi waktu satu hari, coba seminggu, bisa-bisa abangnya bener-bener pindah ke pelanet lain.


Berbeda di rumah tuan Latif, yang mana masih santai, karena semua persiapan seserahan untuk pernikahan Naqi di kerjakan di gedung lain yang sengaja di sewa oleh tuan Latif, semua yang atur benar-benar kakek yang Naqi tuduh pilih kasih. Sementara Di rumah Cyra juga tengah sibuk mempersiapkan selamatan, sebagai doa yang baik untuk mengawali niat baiknya. Menikah untuk kedua kalinya dengan orang yang sama. Cyra dan yang lainya sedang sibuk, tetapi dalam hatinya tentu bahagia yang teramat, di mana ia akan kembali merajut pernikahan dengan laki-laki yang sama, mungkin Naqi pernah menyakitinya tetapi semuanya sudah Cyra maafkan dan Naqi juga sudah berjanji tidak akanĀ  membuat Cyra bersedih lagi.


Besok adalah hari bahagia untuk Cyra dan Naqi, serta tentu Adam dan Rania juga. Yah mereka akan menikah dengan waktu yang bersamaan.


*****


"Naqi... Abang... Sayang... ayo bangun!" Mamih entah sudah berapa kali memanggil putranya yang masih terlelap tidur itu karena dia semalaman hampir tidak bisa tidur, dia memikirkan Cyra, di mana ponsel dia malah tidak aktif dan hal itu membuat Naqi panik dan cemas. Pikiran buruk kalau Cyra sudah memiliki laki-laki lain memenuhi isi otaknya. Naqi terlalu takut kalau Cyra mendapatkan laki-laki lain selain dia, dan dia dibiarkan sendiri meratapi nasibnya dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Naqi di dalam sana yang mendengar kegaduhan dari balik pintu dengan terpaksa membuka kedua matanya, bahkan nyawanya langsung ngumpul seketika, karena aksi mamihnya. Laki-laki yang penampilanya sangat acak-acakan pun melirik jam di dindingnya.


"Astagah Mamih, ini masih jam lima kenapa begitu heboh sih, ucap Naqi sembari menyimbakan selimutnya malas menghampiri pintu dan membukanya, di mana di depanya mamih sudah siap akan menggedor lagi.


"Mih, ini masih jam Lima, apa mamih benar-benar ingin Naqi bunuh diri dengan semua kehebohan orang di rumah ini dengan pernikahan Adam itu," dengus Naqi yang tidak mau lagi menyebut nama Rania.


"Bukan itu sayang nanti ada persiapan lain dulu untuk datang kegedung makanya kamu sekarang mandi dulu. Di jamin acara ini itu tidak sesuai dengan yang kamu bayangin. Acara ini sepesial dan mamih rasa kamu juga akan menyukainya. " Qanita mendorong Naqi agar segera mandi, waktu sudah semakin siang nanti malah membuat yang lain pada saling menunggu. Bahkan Mamih sudah tidak mengizinkan Naqi untuk protes lagi.


Sedangkan Naqi yang di dorong paksa kekamar mandi langsung ngegerundel. "Apa-apan coba mamih minta aku buat siap-siap bangun sepagi ini. Mana ngantuk, baru tidur beberapa jam, malah mamih udah bangunin. Awas ajah kalo acara ini enggak bikin aku happy, bakal pindah rumah lagi aku," gerundel Naqi, dia berniat akan pindah rumah ke rumah Naqi di mana pertama menikah rumah itu ia tempati. Sembari ngegerundel Naqi tetap mrngguyur tubuhnya dengan air dingin, agar rasa ngantuknya hilang menguai.


Naqi memilih memakai kemeja batik yang dia punya, dari pada memakai baju seragam yang di siapkan oleh kakek, ia masih gondok dengan adiknya yang ngebahas seragam itu terus.


"Abang... Kok Abang pake baju itu sih. Ini bajunya udah di siapin oleh Kakek." Qari tidak terima abangnya pake baju yang beda sendiri, lagian apa sisahnya sih pake baju yang ada, malah kayak anak enggak diakui milik pake batik.


"Apa-apan sih loe, udah diem bawel banget, jadi adek juga. Duluan juga gue lahirnya, sok ngatur," dengus Naqi sembari mengunyah roti yang Qari sedang buat untuk sarapan sendiri.


"Abang... Itu roti aku," protes Qari sembari melotot. Bahkan Qari hari ini terlihat sangat cantik dengan polesan naturalnya. Siapa yang melihatnya pun tidak akan percaya kalau itu Qari yang bar-bar dulu waktu sekolah demen tawuran.


"Bikin lagi si, timbang roti doang," balas Naqi dengan cueknya tetap menikmati roti yang Qari buat.


"Bisa enggak sih kalian itu jangan berantem terus udah aki-aki sama nenek-nenek juga tapi pada berantem terus, malu sama anak tetangga enggak pernah tuh kelihatan berantem," omel Mamih, yang seperti tahu keseharian anak tetangga ajah, rumah ajah saling tertutup pager tinggi dan tertutup. Yakin deh nama tetangga ajah enggak tau, pake segala banding-bandingin anak tetangga.


"Kamu lagi Naqi kenapa enggak pake baju seragam yang disiapin Kakek. Pake baju itu! Kamu bikin gara-gara ajah pagi-pagi, mana penampilan kayak tukang palikir." Mamih tambah mengoceh, ketika melihat penampilan anaknya. "Ganti-ganti!"


Naqi pun dari pada pagi-pagi sarapan dengan pidato mamih memilih memakai baju seragam yang kakek siapkan meskipun rasanya ia tidak ikhlas memakai baju itu. Wajah Naqi langsung berubah ketika memakai baju itu. Yah, berubah masam.


"Demi bisa ketemu sama Cyra, Abang lakuin ini. Udah kangen banget Ra, empat hari enggak ketemu," batin Naqi membayangkan ia bertemu dengan kekasih hatinya. Harinya langsung cerah pasti. Setidaknya ada Cyra diacara yang membosankan itu, begitu pikir Naqi sehingga ia mau saja memakai baju yang ia benci.