
Lampu indikator warna merah menyala menandakan Tuan Kiwayat sedang menjalani menanganan. Berbagai macam doa Mamah Daima dan Afifah rapalkan. Entah doa apa sajah, setidaknya ia meminta kepada Tuhan agar suami dan papahnya diberi kesehatan kembali.
"Emang apa yang terjadi Mah, kenapa Papah bisa seperti ini," tanya Afifah, jelas ia penasaran kenapa Papah tercintanya bisa tiba-tiba serangan jantung. Setahu Fifah apabila orang terkena serangan jantung pemicunya bisa disebabkan oleh emosi yang memucah sehingga jantung memompa semakin kencang dan aliran darah pun semakin cepat mungkin pembulu darah yang mengalami penyumbatan oleh lapisan lemak yang mengeras karena glukosa yang tinggi (diabetes).
"Mamah juga nggak tau sayang. Mamah sedang di kamar, biasa melakukan perawatan dengan para maid, dan tiba-tiba terdengar kegaduhan." Mamah bercerita kronologi kejadian barusan yang ia ketahui.
"Kalo gitu nanti kita coba liat dari CCTV yah Mah, apa yang sebenarnya terjadi dengan Papah." Pada akhirnya Afifah juga menenangkan Mamahnya karena ia tidak mau mamahnya ikut sakit apabila terlalu merasa bersalah.
Setelah menunggu sekitar tiga jam lebih akhirnya lampu indikator pun mati, hal itu menandakan bahwa proses oprasi telah berakhir.
"Alhamdulillah, oprasi sudah selesai Mah. Mudah-mudahan Papah cepat sembuh yah Mah," pekik Afifah dengan memeluk Mamah Daima dengan kencang. Rasanya bahagia luar biasa. Dokter yang menangani oprasi Tuan Kifayat keluar dan menjelaskan kondisi Tuan Kifayat setelah melakukan oprasi tadi.
Kini kondisi Tuan Kifayat masih belum sadar pastinya, dan masih diruang transisi bisa jadi satu atau dua jam baru dipindahkan keruang rawat. Semuanya tergantung dengan kondisi fisik tuan kifayat itu sendiri.
Untuk proses penyembuhanya sangat berpengaruh pada lingkunganya Dokter berkata agar Mamah Daima bisa menjaga emosi suaminya. Karena apabila Tuan Kifayat emosi dan kelelahan ia bisa mengalami serangan jantung yang kedua. Bisa sajah dikasus serangan jantung yang kedua kalinya Tuan Kifayat tidak akan tertolong lagi.
Mamah Daima dan Afifah pun saling berpandangan, rasanya bagai tersambar petir disiang hari. Kondisi Tuan Kifayat sekarang sangat lemah, kemungkinan besar tidak bisa bekerja lagi.
"Mah, Fifah hubungin Mas Niko (Calon suami Fifah) yah. Fifah harus kasih tau juga kondisi Papah sama Mas Niko juga," ucap Afifah meminta izin pada mamahnya.
"Oh iya sayang, kamu tentu harus hubungi Niko juga. Gimana pun dia harus tahu kondisi Papahmu," balas Mamah yang bahkan saking paniknya ia sampai lupa menghubungi calon menantu idamanya. Di mana Niko dimata Mamah Daima dan Afifah adalah laki-laki tanggung jawab dan perhatian. Tanpa mereka sadari Niko melakukan itu semua karena permintaan Zoya (Istri pertamanya).
Setelah meminta izin sama Mamah Daima, Fifah mendeal nomor Niko. Laki-laki yang kini mengisi penuh di dalam hatinya.
Satu kali masih belum diangkat, dua, tiga bahkan empat kali Niko belum juga mengangkat panggilan dari Fifah. Afifah masih berpikir positif mungkin sajah Niko masih sibuk pasti ia juga mengejar pekerjaanya agar bisa ambil cuti panjang diwaktu pernikahanya terlebih Niko adalah pemilik perusahaan besar pasti sangat sibut disaat-saat seperti ini.
"Gimana sayang, apa Niko belum menganggkap telpon kamu?" tanya Mamah Daima yang melihat wajah Afifah berubah murung.
"Belum Mah, mungkin Mas Niko tengah sibuk, sebentar lagi kita nikah pasti Mas Niko banyak kerjaan. Biar nanti Fifah kirim pesan sajah. Jadi begitu Mas Niko membuka ponselnya bisa baca pesan Fifah," jawab Afifah dengan mengembangkan seulas senyum tipisnya agar Mamah Daima tidak ikut memikirkan Niko.
Afifah pun akhirnya memutuskan mengirikan pesan singkat, di mana ia mengabarkan bahwa Papahnya yang sakit, dan meminta Niko ikut datang ke rumah sakit untuk menjenguk Papahnya.
****
Sementara Niko sendiri akhir-akhir ini banyak menghabiskan waktunya bersama Zoya wanita yang sangat ia cintai.
Lama-lama mereka memulai cum'buan lembut, dari yang hanya ber'ciuman dan bertukar saliva, dan kini mereka sudah terbuai dengan permainan yang semakin memabukan.
Kini penampakan mereka telah menjelma seperti Adam dan Hawa, ketika pertama kali diturunkan kemuka bumi, yaitu tanpa sehelai benang pun. Niko memainkan setiap inci tubuh mulus Zoya tak lepas dari permainan Niko. Tubuh Zoaya yang selalu candu untuk Niko mainkan, seolah ia tidak ingin ada lagi wanita yang bernasib seperti Zoya. Ingin Niko tentu hanya Zoya yang ia perlakukan seistimewa itu, tetapi takdir berkata lain. Ia dipaksa oleh keadaan harus memperlakukan Afifah nantinya sama seperti memeperlakukan Zoya. Namun apakah bisa Niko melakukan Afifah sama seperti Zoya. Untuk membayangka ia bermain ditubuh Afifah sajah masih belum terfikirkan, apalagi benar-benar melakukanya. Munkin Niko akan melakukan kewajibanya, tetapi tetap dalam bayanganya Zoya lah yang tengah ia puas'kan.
Ditengah-tengah permainanya, panggilan masuk. Niko sempat menghentika permainanha sejenak, dan melihat siapa yang berani mengganggu aktifitas mengasikanya. "Afifah, ngapain dia telpon malam-malam," gumam Niko, tapi ia enggan mengangkat panggilan dari calon istri keduanya. Niko justru kembali melanjutkan permainan yang sempat tertunda. Semakin kuat dan cepat ritme yang Niko mainkan seolah tak ingin dikalahkan oleh waktu. Niko dan Zoya terus mengalunkan suara-suara merdunya. Bagai sembuah Irama disebuah alunan lagu yang indah, suara itu terus bersahutan sampai lah dilengkingan panjang yang menandakan pemainan telah usai dan berakhir dengan keindahan duniawi, tetapi banyak juga yang menganggapnya kenikmatnya surga yang terdapat didunia. Entahlah yang jelas rasanya itu membuat seseorang candu, bahkan ingin selalu mengulang-ulangnya lagi. Seolah tidak ada permainan lain yang bisa menggantikan kenikmat'an itu.
"Terima kasih sayang, kamu selalu memberi kepuasan disetiap permianan kita, kamu memang nggak ada duanya," bisik Niko ditelinga Zoya yang masih terkulai lemas, menikmati sisa kenikmatan yang Niko berikan.
"Sama-sama sayang. Aku akan selalu berusaha memberika kamu yang terbaik, sehingga aku akan menjadi nomor satu dalam urusan kepuasan batinmu," balas Zoya dengan nakal. Yah Zoya memang wanita yang lemah lembut didepan orang-orang tetapi ia akan menjadi sesosok pemimpin yang handal ketika urusan memuaskan suaminya. Perinsifnya suami senang ia pun ikut senang, toh dia juga merasakan kepuasan yang setara ketika Niko mendapatkan kepuasan diatas permainanya.
"Ngomong-ngomong tadi siapa yang telpon sayang," tanya Zoya sembari memainkan jari telunjuknya diatas dada bidang suaminya. Ia memainkan jari telunjuk menulis asal, entah lah sepertinya Zoya sengaja memancing kembali, agar Niko mengulang permainan panas mereka.
"Fifah sayang," jawab Niko dengan enteng.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Zoya dengan wajah datar.
"Mana bisa ngangkat kalo permainan lagi berlangsung, yang ada nanti Fifah curiga. Bukan sampai saat ini Fifah belum tau setatus aku yang sudah beristri," jawab Niko dengan santai.
"Hmz... iya juga sih, kalo gitu coba kamu cek dan telpon balik barang kali ada yang penting." Zoya mencoba bersikap adil walaupun dalam hatinya masih ada rasa sakit, perih ketika harus membayangkan suaminya berdekatan dengan wanita lain....
Niko pun membuka ponselnya hendak menghubungi Afifah, tetapi ternyata disana ada pesan dari Fifah. Niko membuka pesan tersebut dan ia terkejut ketika mendengar kabar bahwa calon mertuanya sakit. Niko menunjukan pesan dari Afifah pada Zoya. Dan Zoya pun mengizinkan suaminya untuk menemani Afifah.
"Baiklah aku akan menemani Afifah, tapi sebelumnya aku pengin meminta bekal lebih, buat setok nanti disana," bisik Niko dengan mesra. Karena Zoya yang memang belum puas dengan hanya satu permainan akhirnya ia menyanggupi permintaan Niko.
Sebagai istri yang baik Zoya pun mengambil alih permainan. Satu jam telah berlalu akhirnya olahraga pun selsai. Niko bergegas membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan Zoya terkulai lemas setelah menjadi pemimpin senam irama barusan.
Niko keluar kamar mandi dengan wajah yang semakin fresh dan tampan terlebih ia sudah mendapatkan pasokan energi yang cukup sampai hari esok.
Niko melihat Zoya sudah terlelap dalam mimpinya. Ia membenarkan selimut istrinya agar tubuh polosnya tertutupi dengan rapat. Sebelum berangkat ke rumah sakit Niko lebih dulu memberikan kecupan mesra dipucuk kepala Zoya dan bibir sek'sinya.
"Terima kasih buat semuanya." Niko langsung menyambar jaketnya dan bersiap hendak kerumah sakit menemui Afifah.
#Elah Bang, sebentar lagi mau punya dua gawang, Ayang Naqi satu ajah belum bisa bobol loh Bang, Ajarin trik dan kocekanya bang biar Ayang Naqi juga bisa kaya Abang punya bekal energi khusus......