
Sarapan kali ini terasa lebih lama, hal itu karena mamih tidak sabar mau mengunjungi Naqi dan Qari.
"Pah, Nita mau izin sehabis sarapan mau lihat Qari di hotel, semalam Qari dan Naqi pada tidur di hotel, karena... (Mamih tidak melanjutkan obrolanya, karena bersangkutan dengan Rania. Di mana saat ini Rania juga tengah bersarapan bersama. Mamih tidak ingin membuat kesalah pahaman lagi, sehingga mamih mencoba menutup apa yang terjadi dengan keluarganya. Rania hanya menunduk dan menikmati sarapanya.) Hari ini ia juga akan menemui Adam, sehingga butuh banyak energi. Begitu kira-kira fikiran Rania.
"Pergilah urus semuanya, kamu tahu mana yang terbaik untuk anak-anakmu," jawab kakek, seolah ia tahu apa yang terjadi semalam. Yah, tanpa mereka tahu kakek memantau semuanya dari kamera pengintai yang terpasang di setiap sudut ruangan rumah ini. Tanpa mereka tahu asisten rumah pun mengadu pada tuanya. Tentu mereka mengadu bukan karena ingin mencari perhatian atau apapun itu. Mereka mengadu tidak lain karena memang kakek yang meminta mereka melaporkan apa yang terjadi di rumahnya.
Asisten rumah tangga tentu lebih patuh sama tuanya, dan mereka mengadukan semua yang mereka dengar dan juga tetesan darah dari hidung dan bibir Luson yang terdapat di lantai, dan tak hanya itu semua yang mereka dengar dan terekam dengan jelas dalam ingatanya di ceritakan dengan detail pada tuanya itu.
Malam tadi Luson tidak lama pun menyusul anak-anaknya pergi, kemana ia pergi? Entahlah yang jelas sampai pagi menyapa si Luson tidak kembali lagi.
Tuan Latif pun akhirnya memerintahkan security rumahnya untuk menghalau Luson apabila mau datang kerumahnya lagi. Pemilik rumah itu sudah tidak ingin rumahnya di datangi oleh anaknya sendiri. Latif awalnya membiarkan saja Luson datang kerumahnya mungkin niatnya akan memperbaiki hubungan dengan anak dan tentu dengan dirinya selaku orang tua tunggalnya.
Namun sepertinya harapan tinggalah harapan bertaun-taun kelakuanya tidak berubah dan mungkin saja tidak akan pernah berubah. Sehingga Latif mengambil keputusan seperti sekarang menutup pintu rumahnya dari Luson demi keluarga yang mau mematuhi peraturanya.
"Mamih, kakek, Rania mau izin nanti ada check up kerumah sakit," ujar Rania, ia pun ikut meminta izin untuk menemui Adam sesuai yang ia rencanakan semalam.
"Hari ini? Bukanya biasanya seminggu dua kali senin dan Rabu. Kenapa sekarang masih hari jumat kamu kerumah sakit lagi? Apa ada yang di rasakan lagi?" tanya mamih khawatir.
"Tidak Mih, kemarin dokter bilang kalo hari ini ada pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada lagi sel tumor yang tumbuh diorgan lain. Hanya melakukan check biasa, tidak ada yang bahaya," ujar Rania. Mencari ide untuk berbohong agar mamih maupun kakek tidak curiga.
"Tapi sopir keluarga mamih mau pake, kamu mau pake mobil sendiri atau gimana?" tanya mamih lagi.
"Gampang itu Mih, lagian taxi juga banyak kok, gimana nanti ajah kalo mau bawa mobil sendiri, kalo malas nyetir paling naik taxi," jawab Rania, agar mamih tirinya tidak terlalu mencemaskan dirinya. Ini yang tidak Rania sukai dari mamih tirinya terlalu baik. Sehingga ia merasa sangat terpojok dengan situasi yang tidak mengenakan. Merasa berhutang budi dengan kebaikan mamih tirinya.
"Ya udah kamu hati-hati yah. Kalo ada apa-apa bisa hubungi mamih," ujar mamih sebelum ia berangkat menemui anak-anaknya. Sebenarnya mamih tidak sebaik itu, dihatinya pun setiap ia berbicara dengan Rania. Ada perang batin yang menolak dengan sikapnya yang manis terhadap anak tirinya itu. Namun mamih juga rasanya tidak tega kalo mau mendiamkan Rania dan melampiaskan kemarahanya pada Rania, meskipun ia pantas menadapatkanya. Karena dia yang egois rumah tangga anaknya hancur. Dan justru ia adalah anak dari wanita lain. Mana harus tinggal satu atap dengan dia. Hatinya sama dengan wanita lain, teriris seperti Qari setiap melihat Rania. Namun lagi-lagi mamih berusaha menekan kemarahanya demi anak-anaknya agar setidaknya mencontoh dirinya, meskipun caranya gagal, alias di ikuti oleh anak-anaknya.
Mamih setelah berpamitan dengan papah mertuanya dan pastinya anak tirinya juga, langsung menuju hotel 'Tidur Nyenyak' udah tidak sabar ingin memarahi anak-anaknya yang bandel-bandel itu.
****
"Halloh kenapa Mom?" tanya Cyra begitu ia menekan icon telepon berwarna hijau.
"Mam... Mom... Ini I'm, Meta. You kemana ajah sama Naqi? Ngapain ajah enggak pulang? Udah mulai bandel yah, I'm kawinin you sama Mr Kim nanti," sungut Meta begitu Cyra mengangkat ponselnya. Yah Meta tahu bahwa Cyra sangat bermusuhan dengan Mr Kim.
Cyra pun buru-buru menjauhkan ponselnya dari telinganya. Mengamankan pendengaran dari amukan Meta. Yah, suara Meta sangat tidak di anjurkan buat kesehatan telinga.
"Apa... You tidur di hotel? Bareng predator itu?" tanya Meta bahkan di sebrang sama kedua bola matanya seolah berlomba akan lepas dari tempatnya.
"Iya lah, emang kenapa?" tanya balik Cyra yang sontak saja membuat Meta jantungan. Dadanya nyeri ketika mendengar jawaban dari Cyra.
"Ya ampun Ra, I'm enggak tau mau ngomong apa, tapi kayaknya gue mending nyusul loe bawa golok buat nyunat tuh laki-laki predator. Kesempatan banget emang tuh laki. Enggak bisa di kasih kesempatan dikit, langsung di terkam ajah. You lagi... Mau-maunya di ajah tuh laki tidur di hotel," omel Meta sembari memegangi dadanya yang sesak. Bahkan orang-orang yang ada di meja makan semua mengarahkan pandangan matanya ke Meta.
Ada perasaan takut terjadi apa-apa dengan Cyra terlebih nada bicara dan penggalan kata yang Meta ucapkan mewakilkan terjadi kejadian yang horor malam tadi.
Sambungan telepon di matikan secara sepihak oleh Meta, menambah kebingungan Cyra. "Perasaan apa salahnya tidur dihotel sama Naqi, kan aku juga tidurnya sama Qari," batin Cyra, setelahnya ia tidak peduli dengan apa yang Meta fikirkan, toh memang sudah biasa Meta ngomel-ngomel dan salah paha. Udah enggak aneh, justru yang aneh itu kalo Meta diam. Pasti kalo enggak ke sambet ya lagi sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Cyra dan Naqi, kenapa Meta sampai marah begitu?" batin Momy Ezah. Walaupun di dalam hatinya terus meyakinkan bahwa anaknya baik-baik saja tetapi tidak memungkiri kata-kata Meta barusan membuat fikiranya takut juga.
Meta memutuskan sambungan teleponya secara sepihak. Setelahnya jiwa ustadnya keluar. "Aku heran dengan anak muda jaman sekarang pada susah-susah banget dikasih tau yang halal dan haram. Udah pergi sama anak orang malah diajak nginep di hotel, bikin pagi-pagi enggak selera makan ajah," oceh Meta terus, tetapi mulutnya juga tidak berhenti bergoyang.
"Apa ini yang namanya tidak selera makan? Tapi habis dua piring," batin Fifah. Sebenarnya baik, mommy Ezra, mamah Mia, Fifah maupun Qila yakin kalo Meta hanya salah paham. Emang bawaan Meta dari dulu itu kaya gitu selalu cepat ambil kesimpulan sebelum memastikan kebenaranya. Tidak hanya itu dia selalu lebih heboh dari yang paling heboh. Sehingga orang-orang di rumah Cyra masih tergolong santai tidak begitu yakin dengan yang Meta khawatirkan.
"Mam tolong siapkan juga piso yang tajam. Biar aku sunat tuh laki-laki," ucap Meta. Dan mamah Mia pun mengikutinya menyiapkan piso paling tajam.
Sebenarnya mereka pengin ikut dan menonton ada adegan apa nanti, tetapi karena mereka juga sibuk sehingga akan membiarkan Meta menahan malunya sendiri. Kasihan juga kalo nanti Meta terlalu malu karena ditonton banyak pasang mata dengan dugaan yang asal-asal itu.
****
Qari mengernyitkan dahinya begitu melihat nomer yang ia tidak kenal. "Siapa yang telpon pagi-pagi, mana nomer baru," dengus Qari, wanita itu memilih mendiamkan ponselnya hingga tiga kali panggilan tidak ia jawab.
Namun lagi-lagi nomer yang tidak ia kenal dan tidak ada namanya itu kembali menghubunginya. "Siapa sih? Apa ada yang penting yah? Tapi ini nomer siapa?" batin Qari, bimbang antara memilih mengangkat ponselnya atau malah membiarkanya sampai orang di sebrang sana bosan sendiri dan mematikanya. Namun lagi-lagi otak kari mengatakan 'Mungkin panggilan itu adalah kabar yang penting'.
"Ha... Halloh," jawab Qari dengan terbata dan ragu. Yah, pada akhirnya Qari memutuskan mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal itu.
"Halloh Baby, gadis bar-bar kesayangan Deon," balas dari yang pemanggil dengan nada genit dan menggoda.
Deg! Jantung Qari seolah berhenti berdetak. "Dari mana laki-laki terkutuk itu dapat nomer aku," batin Qari bingung, kenapa bisa Deon menguhubunginya sementara Qari tidak merasa memberikan nomor ponselnya.