Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Bom Kemarahan Yang Meledak


"Sepertinya suntik mati lebih bagus buat suami Anda. Dari pada hudupnya hanya menambah beban hidup Anda, dan Fifah tentunya." Cyra tidak mau berbasa basi lagi. Dia ingin meminta pertanggung jawaban dari Kifayat, atas perbuatanya.


"Ma... maksud kamu apa Cyra? Apa salah suami Mamah nggak bisa di maafkan? Sampe kamu meminta suntik mati?" tanya Daima, dengan terbata, dan wajah yang mengiba.


"Pilihanya hanya ada dua, suntik mati dan donorkan matanya buat Mommyku atau biarkan tetap hidup dengan kondisi seperti ini tapi suamimu harus tetap mendonorkan matanya untuk Mommyku. Mata Momy rusak dan Momyku sakit parah karena perbutan suami mu yang kurang ajar ini. Lalu Anda berbicara seolah kesalahan suami Anda adalah kesalahan ringan begitu? Anda sungguh tidak tau di untung Nyonya Daima. Seharusnya hukuman untuk suami Anda bukan ini saja, penjara, dan harta orang tuaku yang sudah suami Anda dan keluarganya termasuk Anda yang habiskan seharusnya dikembalikan juga dong. Tapi saya masih berbaik hati hanya meminta Mata dari suami Anda, lalu Anda bilang untuk memaafkan saja." Cyra sungguh kali ini benar-benar berbeda, cara berbicara dan cara menatap tidak seperti dulu yang selalu menunduk jangankan untuk membalas omongan Daima maupun Kifayat. Untuk mengangkat wajahnya pun dia sudah tidak bisa lagi. Kali ini bahkan dengan terang-terangan Cyra melawan setiap yang dikatakan Daima.


"Apa tidak ada piliha lain Ra? Mamah mohon. Mamah hanya ingin Papah tetap hidup siapa tahu ada keajaiban buat Papah." Daima tidak tega kalo harus menyaksikan suaminya disuntik mati.


"Mamah?? Papah?? Kalian bukan Mamah dan Papah aku. Nggak usah mengiba demi mendapatkan simpati. Dulu pun aku memohon pelindungan dari kalian tidak sedikit pun Anda dan suami Anda iba. Lalu Bagai mana dengan Momyku, apa Anda tidak ingat Momyku tidak bisa menikmati hidupnya yang berwarna karena perbuatan suami Anda. Nyonyah Anda pasti tau berapa persen suami Anda bisa bertahan untuk hidup? Tidak usah munafik Anda tentu tau berapa persen kemungkinan untuk sembuh dan juga Anda juga tau cepat atau lambat suami Anda akan mati juga. Lalu di mana salahnya kalo aku meminta mata suami Anda untuk Momyku?" Cyra tidak akan menyerah dia akan terus meminta mata Tuan Kifayat untuk ganti mata Momynya yang rusak karena ulahnya.


Nyonya Daima diam saja tidak menjawab pertanyaan Cyra yang lainya, karena memang ia sudah tidak ada cara lain. Semua ucapanya dibantah semua oleh Cyra dan parahnya lagi. Semua yang Cyra ucapkan adalah kebenaran.


Gini ajah Nyonya Daima, saya kasih waktu satu minggu silahkan kalian rundingkan dengan Fifah juga, biar anak Anda juga tahu segimana jahatnya Papahnya. Saya yakin kalo Fifah tahu semua kejahatan Papahnya,dia juga akan setuju dengan usul saya." Cyra berbicara dengan Daima tetapi sejak tadi pandanganya tetap tidak lepas dari pandangan Tuan Kifayat.


Sebenarnya bisa saja Cyra mendapat donor mata dari orang lain, terlebih uang Tuan Latif tidak terhitung, tetapi Cyra bersikeras ingin memberi pelajaran untuk Kifayat. Dia tidak mau melepas Kifayat begitu saja. Cyra akan terus meminta ganti rugi atas perbuatan laki-laki itu.


Kejam! Sadis! Begis! Yah, Cyra sudah tidak peduli lagi dengan penilaian orang-orang yang jelas dia ingin Momynya kembali seperti dulu walaupun harus membunuh Kifayat. Akan Cyra lakukan.


Setelah memastikan Nyonya Daima mengerti dengan tujuan Cyra datang ke sana. Cyra pun pamit undur diri. Di saat ia pamit pun Cyra tetap mengingatkan agar Nyonya Daima meminta pertimbangan pada Fifah, karean dia juga anak mereka perlu di ajak berundung.


Cyra pergi meninggalkan rumah itu, tetapi hatinya masih belum puas. Entah, Cyra begitu marah dan berubah menjadi sadis ketika membayangnkan Tuan Kifayat menyiksa Momynya. Cyra kesal kenapa Kifayat lemah seperi itu. Cyra ingin menampar, wajah laki-laki itu berkali-kali ingin membalas apa yang pernah mereka lakukan pada dirinya dulu.


Bahkan dirinya sampai membengkak akibat tamparan itu. Punggungnya, Tuan Kifayat siram dengan air panas sampai melepuh. Belum penyiksaan lainya. Dan juga Mommynya mengalami hal yang mungkin saja bisa lebih dari yang Cyra alami.


Cyra masuk mobil dengan wajah terlihat sekali penuh dendam. Belum Cyra menutup mobil dengan kasar. Baru kali ini Meta melihat Cyra melakukan itu semua, biasanya semarahnya Cyra ia masih ada senyum yang ramah dan perlakuanya tidak kasar seperti hari ini.


Hikkk... Hikkkk... Hiikkk...


Cyra justru menangis mendengar pertanyaan Meta. Cyra menggunakan kedua telapak tanganya untuk menutup wajahnya dan ia meluapkan semua kemarahanya dalam tangisnya. Cyra tidak tau harus bagai mana? Ia ingin marah, tapi sama siapa? Ia ingin membalas penderitaanya dulu. Tapi tidak bisa. Sungguh kemarahanya meluap-luap Cyra ingin menjerit senkencang-kencangnya. Memaki Tuan Kifayat, Nyonya Daima, Rania, dan Naqi. Di hati Cyra sungguh sangat sesak dengan semua ini.


Meta yang tahu Cyra sedang tidak baik-baik saja pun memilih diam menunggu Cyra sudah bisa mengontrol emosinya. Meta akui Cyra memang kuat dan memiliki pembawaan yang tenang, tetapi Cyra juga hanya manusia biasa yang mana ia memiliki sisi kelemahanya juga. Terlebih masalah yang dihadapi Cyra datangnya secara bersamaan. Masih mending Cyra kuat menghadapinya. Kalo yang lain belum tentu akan kuat dan mampu.


Meta melajukan mobilnya, sedangkan Cyra masih terisak dengan pandangan keluar jendela, tatapan yang kosong sudah sangat menggambarkan betapa beratnya bebanya saat ini.


Meta tidak membawa Cyra pulang. Melainkan membawa ke sebuah tempat yang cukup sepi.


Meta menghentikan mobilnya. Di tempat yang sepi.


"You mau marah, teriak, maki sama semua orang yang mempermainkan hidup you. Kalo mau keluarlah. Silahkan teriak, marah, maki-maki orang itu sampai kemarahan di dada you keluar. Setelah you lega. You kembali menjadi Cyra yang kuat dan tangguh. Tunjukan pada orang-orang yang sudah mengecewakan you bahwa you hebat. You bukan tandingan mereka." Meta membebaskan Cyra mau melakukan apapun asal ia bisa melepas kemarahan didadaknya. Meledakan Bom kekecewaanya.


Cyra pun keluar mengikuti saran dari Meta. Yah awal-awal Cyra menjerit dengan lantang, sampai bebrapa kali. Mungkin kalo ini buka tempat sunyi dan jauh dari pemukiman, Cyra akan di katai gila. Teriak-teriak tidak jelas dan juga akan ada yang menegurnya karena berisik. Untuk ini daerah sepi dan jauh dari pemukiman warga. Sehingga dugaan itu tidak terjadi.


"Tuan Kifayat laki-laki berengs*ek. Mati saja kau! Aku ingin liat kau mati. Aku ingin menamp*r kamu, m*mukul, menyiram dengan air panas, membuat matamu buta. Aku ingin membuat kamu sengsara." Cyra berteriak dengan makian untuk Kifayat.


"Naqi, kamu orang paling jahat nomor dua setelah Kifayat. Kamu memang tidak menyiksa fisikku. Tapi batinku kamu buat luka. Rania, kamu wanita tidak punya hati. Aku benci kalian, aku benci. Aku ingin kalian, hidup dalam penderitaan lebih sakit dari pada yang aku alami." Cyra kembali berteriak untuk Naqi dan Rania. Setelah itu Cyra kembali menangis menyembunyikan wajahnya di lipatan tanganyan dengan posisi ia berjongkok.


Meta masih membiarkan Cyra meluapkan semuanya. Meta pun ketika mendengar semua unek-unek Cyra ikut berkaca-kaca matanya. Meta berdoa untuk kebaikan Cyra. Kebahagiaan yang jauh dari orang-orang yang telah menyakitinya.