Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Pertunangan Fifah


Setelah obrolan singkatnya Naqi bergegas ke kamar mandi, ia ingin mengguyur tubuhnya gerah dan panas. Terutama isi kepalanya yang panas seolah akan meledak.


Di luar Cyra ingin menyiapkan pakaian buat Naqi, tetapi ia ragu kalo suaminya akan menolak. Karena perasaan ragunya, sehingga Cyra hanya duduk di atas ranjang yang empuk dan memainkan jarinya. Kini nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah terlanjut masuk kedalam hubungan Naqi dan kekasihnya, Rania. Ingin berlari pun Cyra sudah tidak bisa. Kini Cyra hanya takut akan jatuh mencintai pada Naqi, apabila itu terjadi tentu masalah besar akan datang kepadanya.


Naqi keluar dari kamar mandinya hanya dengan mengenakan handuk yang terlilit di bawah perutnya, sedangkan bagian atas tubuhnya dibiarkan terlanjang. Tubuh Naqi yang altetis, menampakan perut yang menyerupai roti sobik membuat mata Cyra ternodai.


Cyra menundukan pandanganya, tantangan terbesarnya adalah tetap menjaga hatinya agar tidak jatuh cinta pada Naqi. Sementara perlakuan Naqi dan perbuatanya, selalu menarik Cyra untuk menyukainya.


Naqi mengambil pakaian di almarinya dan memakai pakaianya di kamar mandi. Naqi berusaha cuek sementara Cyra berusaha mati-matian agar tidak meliat kearah Naqi.


"Kamu belum tidur?" tanya Naqi dengan lembut, yang melihat Cyra masih duduk bersandar ditempat tidurnya.


"Belum, aku tidak bisa tidur. Masih merasa bersalah dengan menjadi orang ketiga diantara hubungan kalian," jawab Cyra dengan menunduk. Memang pada kenyataanya itu yang Cyra pikirkan semenjak tadi, sehingga ia belum bisa memejamkan matanya.


"Sudahlah, aku juga tidak sepenuhnya menyalahkan kamu. Aku mungkin yang sangat bersalah di antar hubungan rumit ini. Aku tetap menerima perjodohan ini, sementara kami sudah berjanji akan menikah dalam waktu dekat ini. Aku tidak rela apabila harta Kake jatuh ketangan orang lain. Yah, lebih tepatnya aku serakah." Naqi mengakui semua masalahnya berawal dari dirinya.


Andai sajah ia memiliki keberanian untuk menolak perjodohan ini, tentu masalah mungkin sajah tidak serumit ini. Lalu Cyra juga tidak terseret kedalam permasalahanya, sehingga ia tidak merasa menjadi orang ketiga.


"Tapi tidak sepenuhnya Mas salah, justru aku bersyukur karena Mas Naqi menerima perjodohan ini. Aku jadi bisa bebas, mungkin aku bisa mewujudkan cita-citaku." Tentu disisi lain Cyra merasa bersyukur dengan pernikahanya. Impianya bisa menjadi kenyataan. Andai dia menolak juga dengan pernikahanya dengan Naqi tentu ia masih menjadi bulan-bulanan keluarganya.


Naqi menoleh kearah Cyra, "Benar juga apa yang dikatakan Cyra andai aku menolak perjodohan ini, kasian nasibnya pasti makin mengenaskan," batin Naqi menatap iba Cyra.


"Mungkin sajah Tuhan mengirimkan saya sebagai jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan." Lagi, Naqi bergemuruh dengan isi hatinya.


Naqi menatap Cyra, dia selalu kagum dengan sifat Cyra, wanita yang sangat sederhana pasti beruntung laki-laki yang nanti menjadi teman hidupnya.


"Ya udah ayo tidur, udah malam juga, nanti malah tambah sakit. Belum sembuh juga kan lukanya?" tanya Naqi sembari merebahkan tubuhnya yang lelah dikasur yang empuk.


"Tadi dokter Sam bilang, untuk besok perbanya sudah bisa dibuka. Lukanya sudah kering ko." Cyra menceritakan apa yang Sam katakan.


"Syukur deh kalo sudah kering, tapi kalo sudah sembuh bukan berati kamu mengabaikan istirahat, tetap kamu harus tidur yang cukup." ujar Naqi sembari menari tangan Cyra agar mengikutinya tidur.


Sontak membuat Cyra jatuh hampir menindih Naqi yang sudah berbaring lebih dulu. Dada Cyra bergemuruh kencang. Ia tengah menahan agar menjaga jarak dengan Naqi, tetapi Naqi justru membuatnya semakin dekat, sehingga hatinya selalu tidak baik-baik sajah ketika berhadapa dengan suaminya itu.


Begitu pun Naqi dadanya tiba-tiba memompa darah dengan cepat. Panas, badanya kembali panas. Naqi menatap kedua netra Cyra dengan tajam. Sebelum akhirnya ia sadar dan mengalihkan padangan kelain arah. Menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskanya lewat hidung.


***


Malam ini adalah pertemuan antar keluarga calon suami Cyra yaitu Niko Hutama. Bisa dibilang pertemuan ini adalah sebuah pertunangan diantara keduanya.


Fifah dengan berpenampilan sangat seksi dengan bertujuan agar Niko semakin terpikat dengan kemolekan tubuhnya. Namun, yang terjadi justru Niko tidak mencintainya. Niko tentu lebih suka dengan wanita yang berpenampilan sopan seperti istrinya, Zoya. Bagi Niko, tetap cintanya tidak akan pernah terganti hanya Zoya perempuan satu-satunya yang mengerti dan bisa memahami dirinya.


Adai bisa memilih Niko lebih baik tidak memiliki anak dari pada harus menduakan Zoya demi mendapatkan keturunanya. Mereka bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Namun, Zoya bersikeras untuk meminta Niko menikah lagi dengan Fifah.


Sebenarnya Zoya juga tidak mau melihat Niko menikah dengan wanita lain, tetapi karena rasa bersalahnya tidak bisa memberika keturunan, ia rela terluka demi bisa melihat suaminya memiliki anak kandung.


Cinta Zoya pada Niko terlalu besar sehingga ia lebih mengorbankan perasaanya demi kebahagiaan suaminya.


Sakit, pasti sakit, tetapi Zoya sudah menyiapkan mental dan perasaanya jauh Sebelum ia meminta suaminya menikah lagi.


Dari malam pertunangan ini pernikahan Niko dan Fifah hanya berjarak satu bulan, tentu Fifah meminta perayaan pesta pernikahan yang fantastis. Ia ingin mengundang banyak tamu. Niko dan keluarganya tentu pasrah sajah. Biarpun Niko tidak menginginkan hal itu.


"Mas Niko mau makan apa?" tanya Fifah berusaha melayani calon suaminya, ketika mereka makan malam bersama.


"Apa ajah Fah." Niko menjawab dengan muka datar.


Fifah mengambilkan makanan dengan menu yang terkenal lezat. Fifah tak henti-hentinya mencoba mengakrabkan diri dengan Niko. Namun, Niko justru nampak enggan untuk terlalu diperhatikan.


"Apa aku bisa mencintai wanita ini, sedangkan sikap dan sifatnya sama sekali bukan kritera aku." Niko tampak bergumam dalam hatinya.


Berulang kalo Niko mencoba mencari kelebihan dari diri Fifah yang mungkin bisa membuatnya suka, tetapi justru Niko makin banyak menemukan ketidak cocokan dengan anak sulung Tuan Kifayat itu.


"Ah biarkan sajah, cinta atau tidak cinta, toh aku dan dia menikah hanya karena demi mendapatkan keturunan. Tugasku hanya menanam benihku di rahimnya selebihnya aku akan tetap hidup dengan Zoya, istri tercintaku." batin Niko, sudah tidak mau mengambil pusing dengan hubunganya nanti.


...****************...


#Jangan lupa mampir juga ke novel satu lagi aku yah ka...


'Beauty Cloads' ceritanya nggak kalah seru loh.


.