Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Permintaan Alzam


Naqi setelah mendengar ucapan Qari yang hampir seratus persen benar pun langsung terdiam dan memutuskan menyusul Cyra yang tengah sarapan bersama Tantri.


Naqi duduk di samping istri bocilnya, sementara Cyra selalu melayani Naqi dengan penuh sabar, di rumah maupun di mana pun makan harus diambilkan oleh Cyra.


"Jangan diambil hati, bukanya Mas yang bilang kalo Qari memang wataknya begitu. Harusnya Mas yang banyak ngalah," bisik Cyra menasihati Naqi agar tidak marah-marah masih pagi. Marahnya ditunda ajah.


"Iya aku juga heran sama anak itu satu, dulu Mamih entah ngidam apa kenapa jadinya bisa kaya dia," sungut Naqi tetapi masih dalam mode berbisik. Cyra hanya membalas dengan tertawa lirih.


"Qari, tidak ikut makan?" tanya Cyra, pasalnya Qari malah memilih duduk menemani Alzam.


"Tidak Kakak ipar, aku udah sarapan tadi sebelum kesini," balas Qari sekenanya. Sementara yang lain sarapan Qari memperhatikan Alzam terus. Seolah Alzam akan pergi kalo Qari berkedip.


"Nona, Anda jangan membuat saya takut," lirih Alzam yang tidak nyaman ditatap Qari tanpa kedip.


"Abis kamu ganteng," goda Qari, tak kalah berbisik. "Bisa kan panggilnya jangan Nona! Gimana kalo pangilnya sayang atau Ayang gitu, biar lebih romantis," beo Qari, justru dia senang ketika menggoda Alzam, tetapi Alzam lurus-lurus sajah sikapnya. Qari seolah mendapat tantangan baru untuk menaklukan hati Alzam.


"Nona, Anda jangan menamah beban fikiran saya. Saya lagi berjuang untuk sembuh. Jangan lah Anda tambah dengan sakit yang kain." Alzam bingung gimana caranya membuat Qari kembali ke sifat sebelumnya, jutex dan cuek. Alzam justru kurang nyaman ketika Qari berubah sikapnya menjadi seperti sekarang.


"Maksud kamu apa sih? Kamu nggak suka aku bersikap manis kaya gini? Ini tandanya aku sayang loh sama kamu." tanya Qari wajahnya sengaja di topang dengan kedua tanganya agar tetepa menatap wajah Alzam.


"Jujur, iya saya merasa kurang nyaman dengan sikap Anda." Alzam akhirnya mengungkapkan perasaanya.


"Ish... orang ada yang suka malah ketakutan, kamu itu aneh banget tau nggak Al, aku suka sama kamu. Aku pengin jadi istri kamu. Kenapa kamu malah takut. Lagian aku nggak mau makan kamu. Aku cuma mau hidup bersama kamu. Memiliki keluarga yang bahagia dan banyak memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan." Qari sangat antusias membayangkan memiliki rumah tangga yang harmonis bersama Alzam.


Sedangkan Alzam geli ketika mendengar Qari memimpikan rumah tangga bersama dengan dirinya.


"Liat tuh adik ipar kamu, mulai nggak waras," kekeh Naqi berbisik di telinga Cyra yang duduk di sampingnya, ketika mendengar impian Qari, menjadi istri Alzam.


Cyra langsung terkekeh mendengar candaan dari Naqi. yang mengatakan adiknya sendiri otaknya gesres.


Hust... Cyra meminta Naqi jangan berisik nanti Qari mendengar bisa marah lagi.


Naqi pun akhirnya mengikuti peringatan Cyra dan memilih melanjutkan sarapanya. Sementara Tantri kembali murung pasalnya mengira bahwa Alzam akan benar-benar menerima Qari sebagai istrinya. Tantri masih belum percaya dengan Qari, Tantri masih takut kalo nanti Abangnya menikah malah akan susah dan menderita karena perkataan Qari.


Setelah sarapan Naqi lebih dulu mengantarkan Cyra berangkat kerja, istrinya ini sekarang lebih sering kerja bahkan sabtu sama minggu pun masih dipakai untuk syuting. Hanya Cyra meminta jadwal syuting disamakan dengan kerja biasa jam delapan mulai kerja dan akan berakhir di jam empat atau kalo ada tambahan jadwal tidak lebih dari jam enam, itu semua agar ia tetap bisa berkumpul dengan keluarganya. Terlebih nanti kalo terlalu sibuk kakek akan protes dan menarik izin untuk syutingnya.


"Qari kamu buruan kerjain laporan itu, jangan ganggu Alzam terus, dia butuh istirahat! Kamu gangguin terus nanti dia nggak sembuh-sembuh mau kerjaan kamu tingginya segunung Fuji?" Naqi sebelum berangkat mengantar Cyra, lebih dulu mewanti-wanti adiknya untuk kerja, bukan malah ngegombalin Alzam terus.


Alzam tidak suka dengan cara Qari yang ia nilai terlalu bar-bar, selama ini memang Qari itu selalu berkata sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Termasuk sama Alzam dulu, awalnya Alzam memang sakit hati dengan ucapan-ucapan Qari, tetapi saking terlalu seringnya ia mendapatkan ucapan kasar atau hinaan dari Qari ia semakin kebal dan cuek bahkan tidak sekali pun sakit hati dengan ucapan itu. Namun setelah Qari mengungkapkan perasaanya pada Alzam dia semakin tahun bahwa Qari butuh bimbingan dalam bertutur kata. Ucapanya bisa sajah menyinggung lawan bicaranya yang belum terlalu mengenal dirinya. Alzam akan sedikit-sedikt mendikte Qari agar lebih sopan dalam menggunakan lisanya, dan jangan dibiasakan berbicara seenak hatinya sendiri. Karena lisa bisa lebih tajam dari pedang.


"Nona, bisa tidak Anda kalo berbicara itu mulai saat ini diperbaiki. Jujur saya tidak suka dengan gaya bicara Anda yang terlalu frontal," ucap Alzam begitu Qari kembali menatapnya.


"Ya memang aku kalo sama Naqi begitu, sudah biasa dari kecil, jadi susah buat rubahnya," jawab Qari dengan singkat, dan Alzam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata memang mengajak Qari untuk berubah sangat sulit, hidupnya yang terlalu enak menjadikan gaya bicara dan kelakuanya sesuka hati.


"Anda belum mencobanya, coba lah merubah diri Anda dari cara bertutur kata yang lebih sopan, lebih bisa menghargai orang lain. Bukan Anda bilang akan membuktikan bahwa Anda bisa mencintai saya. Coba buktikan dari diri Anda sendiri." Alzam akhirnya membuka tantangan buat Qari. Yah, mungkin kalo Qari bisa merubah kepribadianya dia bisa juga mempertimbangkan perasaanya.


"Jadi kamu mau menikahi aku?" tanya Qari antusias.


"Belum tentu, saya hanya mau menikah dengan orang yang bisa mengerti keadaan orang lain, dan bisa menjaga lisanya. Kalo ada wanita yang seperti itu kemungkinan aku mau menikah dengan wanita itu, tapi kalo tidak ada aku akan memilih menyendiri sajah. Fokus dengan masa depan adikku dan hidupku." Alzam menjawab lebih ke umum tidak hanya untuk Qari.


"Aku mau... aku mau buktikan itu. Aku pasti bisa buktikan sama kamu kalo aku pantas jadi pendamping kamu. Aku akan memperjuangkan kamu, sampe kamu mau nikahin aku." Qari sangat bersemangat menerima tantangan dari Alzam, tanpa dia tau bahwa tantangan yang dia anggap ringan justru tantangan tersulit bagi setiap orang. Merubah kebiasaan adalah tantangan terberat.


Alzam tersenyum getir mendengar ucapan Qari, dalam hatinya menangis. Kenapa meski Qari yang memperjuangkan cintanya, kenapa meski Qari yang ingin menjadi pendaping hidupnya. Di mana Qari adalah sosok wanita yang sempurna yang bisa mendapatkan laki-laki lebih dari dirinya. Alzam menarik nafas dalam dan menghenbuskan secara perlahan.


Sementara Qari dengan hati berbunga-bunga meninggalkan ranjang Alzam dan menuju sofa di mana di sana tumpukan map telah menanti untuk ia sentuh.


Setelah Qari fokus dengan timpukan map-map, kini gantian Tantri yang mendekat pada Alzam dengan lesu. Tantri menggenggam tangan Alzam dan Al menatap adiknya, seolah bertanya kenapa? Ada apa yang membuatmu sedih?


Tantri hanya menggeleng degan wajah masam. Al sedikit paham dengan maksud gelengan kepala dari Tantri.


Al menunjuk Qari dan Tantri langsung mengangguk. Yah mereka tengah berbicara dengan kode-kode agar Qari tidak mengetahuinya.


Al menarik tangan Tantri dan meletakanya di dadanya. "Abang hanya akan menjadikan kamu ratu di hati Abang," bisik Alzam untuk menenagkan Tantri yang sangat terlihat murung.


Sunyum manis terkembang di wajah Tantri, setidaknya ada rasa lega, karena Abangnya tidak akan menerima lamaran dari Qari.


...****************...


Berat Qari, Tantri menghalangi cinta kalian, sembari nunggu kelanjuatan usaha Qari yuk mampir ke karya bestie othor namany Neng syantik. Kuy kalian wajib mampir yah, jangan lupa tekan Fav, like dan komen, bawa juga kopi buat othornya biar semangat ngetiknya...